
Babak Penyisihan Kedua akan dilakukan selama setengah hari tepatnya hingga malam datang oleh sebab itu setiap tim harus tetap berhati-hati.
Di jalan Xue Zhan bertemu beberapa mayat yang dicabik-cabik oleh siluman serigala dan mereka sendiri sempat dikejar-kejar sekawanan binatang itu. Xiao Rong berhasil mengumpulkan 100 poin dan Xue Zhan sendiri 150 setelah merebut sebuah telur diam-diam di markas musuh dengan penjagaan lemah.
Sore sebentar lagi usai berganti malam mencekam di hutan itu, bunyi-bunyi jangkrik terdengar menggema berulang kali menambah kesan mengerikan di dalam gelapnya malam.
Xue Zhan mengintai di balik batang pohon besar setelah sebelumnya dia sepakat untuk datang ke arah sumber cahaya terdekat di mana sebuah tenda markas berdiri sendiri di tepi sungai. Dua orang tampak berjaga bergantian di luar dan di dalam.
"Kita hancurkan saja?" tanya Xue Zhan, Xiao Rong terlihat ragu karena dua musuh itu terlihat cukup kuat bahkan salah satunya mungkin sudah berusia dua puluh tahunan. Tentu ada perbedaan kemampuan di antara mereka.
"Seharusnya kita sudah aman, kita punya total 700 poin saat ini. Jangan sampai kita berdua mati dan malah mengurangi poin."
Xue Zhan membalikkan pergelangan tangannya dan membuka mata lebar, terkejut bukan main. Segel informasi menunjukkan angka -300 poin. Lalu angka 700 berubah menjadi 400 poin.
Belum sampai di sana angka di pergelangan tangan Xue Zhan kembali bergerak. Tulisannya menunjukkan angka -100 dan dengan cepat 700 poin berkurang menjadi 300 poin saja.
Ini mimpi buruk yang membuat kaki Xue Zhan dingin seketika, tidak tahu apa yang terjadi di markas tapi Xue Zhan mulai menebak dua telur direbut dan markas nerkea mereka dihancurkan musuh. Dugaan bahwa salah satu peserta terkuat datang ke markas mereka cukup menjawab kekacauan itu.
Baik Xue Zhan dan Xiao Rong telah pergi begitu jauh dari markas, kembali ke sana mungkin tidak akan sempat karena durasi hanya tersisa satu jam lagi. Keduanya mulai frustrasi, sudah sejauh ini berlari untuk mengumpulkan poin dan semuanya hancur begitu saja.
Xiao Rong menggemerutukkan giginya.
"Antara Jiazhen Yan, Yun Mei atau pendekar kuat lainnya yang datang, mungkin pertarungan telah terjadi di sana lalu si bodoh Lun Ning tidak sengaja menghancurkan markas. Sialan."
Dia menendang dedaunan kesal. Xue Zhan berusaha untuk tenang di situasi tersebut, matanya menilik ke markas musuh yang sempat mereka intai.
"Kita tetap fokus untuk mengumpulkan poin. Markas ini adalah sasaran kita selanjutnya."
Xiao Rong berucap tak mungkin." Mengumpulkan poin dalam satu jam tidak semudah itu. Kita membutuhkan enam jam untuk mengumpulkan 250 poin. Mengembalikan 150 dalam waktu satu jam sangat mustahil."
"Memang kau akan diam saja menunggu kekalahan dan pulang menyerah pada impianmu? Semua peserta di sini mempertaruhkan impiannya. Keluarkan sedikit lagi tenagamu, kita lihat kalah atau tidak setelah berusaha sampai titik terakhir!"
__ADS_1
Suara Xue Zhan yang meninggi membuat musuh hampir menyadari kehadiran mereka. Keduanya bersembunyi di balik pohon yang gelap.
"Bagaimana caranya? Dua orang itu sangat kuat. Aku saja tidak yakin bisa menang, salah satunya yang dewasa memiliki kekuatan di atas rata-rata. Temannya adalah jenius dari sekte Gunung Kabut Biru," bisik Xiao Rong. Xue Zhan juga tahu tanpa Xiao Rong memberitahu.
Diadu secara fisik mereka berdua sudah pasti kalah. Hanya dua orang berjaga di depan markas tapi tak menutup kemungkinan satu orang lainnya berada di sana.
"Jika mereka meletakkan dua orang hebat di sana maka artinya telur mereka juga disimpan di markas itu ..."
Xiao Rong menatap Xue Zhan yang bergumam sangat kecil.
"Berpikir, berpikir, berpikir. Apa yang bisa kulakukan untuk 150 poin yang hilang ..." Dia menengok kanan kiri cepat.
Xue Zhan berkonsentrasi menajamkan pendengarannya. Meski hanya sedikit dia dapat mendengar suara dari dalam tenda markas. Dua menit memastikan Xue Zhan mendengar suara napas yang begitu samar.
"Ada seseorang lain di dalam markas. Seorang gadis, kekuatan di dalam tubuhnya sangat lemah dan dia terluka, tidak begitu banyak bergerak tapi dia sangat waspada ..."
Xue Zhan mulai mengumpulkan situasi yang dilihatnya. Mengambil celah yang mungkin dapat diambil di tengah situasi genting.
Dia menoleh ke belakang dan melihat tiga mayat di belakang mereka.
"Mendapatkan ide?" Xiao Rong bertanya penasaran karena dia sendiri buntu.
"Ini akan sedikit berbahaya dan kemungkinan gagal juga besar. Tapi kita harus mencobanya."
"Bagaimana?"
*
Dua peserta yang umurnya di atas 18 tahun menengok kanan kiri, posisi mereka aman karena telah mengumpulkan 600 poin secara cuma-cuma setelah membunuh peserta yang nekad menyerang markas terlihat dari beberapa mayat yang tewas di hutan itu.
Di tengah kegelapan malam yang mencekam seseorang muncul di balik semak-semak, bukan hanya seorang melainkan empat orang sekaligus.
__ADS_1
Kedua orang itu bersiap-siap namun juga kelihatan ragu untuk menyerang. Empat lawan dua, mereka bisa saja kalah. Satu dari dua orang itu mengangkat tangan memberikan isyarat.
Tepat di waktu yang sama gadis di dalam tenda bergerak, diam-diam merangkak dan menjauh dari tempat itu membawa tiga telur ke persembunyian berupa goa di dekat markas, menunggu sampai dua rekannya berhasil membunuh musuh.
Xiao Rong memainkan jarinya, benang hitam menempel di tubuh ketiga mayat. Dia menyalurkan kekuatan ke tubuh mayat itu sehingga musuh menyangka tiga mayat itu adalah manusia hidup. Setidaknya rencana pertama berhasil, mereka telah menakuti lawan dengan cara mengelabui menggunakan mayat dan memaksa si 'gadis di dalam tenda' keluar.
"Oh, ternyata hanya sendirian, heh?"
Kedua peserta itu menyadarinya, tampak kesal dipermainkan Xiao Rong yang tersenyum penuh arti sembari bersiap-siap. Dia tidak perlu bertarung serius dan hanya perlu menghindar selagi musuh belum tahu rencana mereka sebenarnya. Memberikan waktu untuk Xue Zhan melakukan peran paling penting.
Gadis dalam balutan gaun merah muda berlari di atas genangan air dan masuk ke dalam goa di balik air terjun. Napasnya berantakan, dia menyandarkan diri pada dinding batu. Tenaganya hampir habis dan dia nyaris pingsan. Saat ini gadis itu mendapatkan bagian paling penting dalam kelompok untuk mempertahankan tiga telur hingga waktu berakhir.
Dengan kekuatan yang habis gadis itu tidak bisa merasakan jelas pergerakan musuh di sekitarnya.
Beberapa saat dia tersentak melihat seseorang yang berdiri di depan goa, seluruh tubuhnya tertutup bayangan sehingga yang terlihat hanyalah siluet hitam. Derasnya air terjun membuat gadis itu tidak bisa mendengar suaranya dengan jelas.
"Musuh telah pergi. Kembalilah ke markas."
Antara ragu dan bimbang, gadis itu langsung menurut karena dia juga takut berada di tempat gelap.
Matanya melebar dan ketika gadis itu berniat mundur sosok itu langsung bergerak cepat dan pergi meninggalkannya sendirian.
"A-apa itu tadi? Apa aku berhalusinasi-?" Napasnya sempat berhenti tiga detik, dia mencari-cari tiga benda yang disembunyikan dalam buntalan kantung kecil dan benda itu telah raib darinya.
"Tidaak!" jeritnya histeris, cukup kencang sampai dua orang anggota timnya menyadari dan langsung mengejar ke tempat gadis itu berlari, Xiao Rong menarik napas lega karena tidak perlu terlibat pertarungan lebih jauh karena Xue Zhan berhasil melakukannya tepat waktu
Dia menoleh ke segel informasi, senyum tipis terlihat di kedua sudut bibirnya.
"Rencana kami berhasil."
Setiap merebut satu telur lawan mendapatkan 150 poin. Kertas segel di tangannya menunjukkan angka yang lumayan besar, 750. Waktu tersisa sepuluh menit. Xiao Rong segera mencari Xue Zhan untuk memastikan musuh tidak mengejarnya dan menjaga telur tetap aman sampai akhir babak penyisihan selesai.
__ADS_1