
Pagi itu, mereka masih mengisi perut sebelum melakukan perjalanan panjang. Paling cepat mereka bisa sampai ke sana tiga hari. Mengingat keadaan Kekaisaran Feng yang belum stabil, ada kemungkinan mereka menemui banyak penjahat dan musuh berbahaya.
Selain itu Kang Jian juga mengatakan bahwa mereka sedang menunggu seseorang yang akan menuntun mereka ke Sungai Ning. Seperti biasa, hari-hari dengan dua bocah berisik itu membuat kuping Kang Jian berdengung. Seperti sedang berdiri di depan mayat yang sedang dikerubungi lalat. Seberisik itu.
"Oi, Zhan, aku memanggilmu dari tadi. Tuli apa?"
protes Jiazhen Yan, alisnya bertaut dan tangannya dia tarik ke atas. Siap menjitak kepala Xue Zhan kalau lagi-lagi dia tidak mendengarnya.
"Apalagi, anak setan ini. Diam dulu, aku sedang makan. Nanti sendoknya malah masuk mataku," balas Xue Zhan juga ikutan memprotes.
"Aku tidak bisa tidur gara-gara yang kau katakan semalam. Dan juga ada beberapa yang ingin aku tanyakan."
Xue Zhan tidak membalas, tapi matanya kini terkunci pada seorang wanita dengan jubah biru lusuh dan topeng rubah merah. Jalannya begitu kaku, dan dari dalam jubahnya itu bisa terlihat jelas dia membawa pedang besar di dalamnya. Wanita itu berjalan menuju mereka dan langsung duduk tanpa basa-basi.
Kang Jian yang sudah mengetahui bahwa wanita itu adalah orang yang dikirim sebagai utusan Kaisar Li tidak heran lagi.
"Perkenalkan namaku Ma Shu. Salah satu mata-mata Kekaisaran Feng, demi kelancaran misi aku akan mengatakan langsung bahwa aku tidak akan pernah membuka topengku. Kita akan berkerjasama dalam misi rahasia ini, untuk itu mohon bantuannya."
Dia menunduk sangat sopan, tutur katanya juga jelas dan langsung ke intinya. Xue Zhan mendapatkan sedikit gambaran tentang wanita itu. Lugas, tegas dan disiplin.
Kang Jian memperkenalkan dirinya dan dua orang bersamanya, mereka berbicara sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk segera bergerak. Mengingat tidak ada banyak waktu lagi untuk bersantai-santai.
Selama empat jam perjalanan Ma Shu tidak banyak berbicara dan fokus dengan jalan di depannya. Dia berjalan dengan kecepatan tinggi, kaki Xue Zhan sampai hampir terlepas demi menyeimbangkan langkah mereka. Kang Jian pasti bisa menyamainya, Jiazhen Yan pun tidak terlihat terbebani.
Meski begitu Xue Zhan tidak ingin langkah mereka berhenti karena dirinya. Dia lebih memilih melewati batas kemampuan sampai tulangnya serasa akan patah daripada menghambat perjalanan.
Kang Jian sempat menoleh ke belakang dan menyadarinya, dia sempat bertanya. "Apa kau masih sanggup? Kita beristirahat sejenak kalau kau mau."
"Tidak apa-apa Guru. Aku masih sanggup melanjutkan."
__ADS_1
Hingga enam jam berikutnya terlewati, kaki Xue Zhan seperti akan patah. Langkahnya mulai tidak seimbang, bukan hanya dia melainkan Jiazhen Yan sendiri. Yang membuat mereka tercengang adalah wanita topeng rubah bernama Ma Shu itu sama sekali tidak terlihat kelelahan. Napasnya saja masih berembus teratur, tanpa tersengal-sengal.
Dia sangat mengerikan, pikir Xue Zhan saat itu.
"Kita berhenti dulu sebentar, kebetulan ada sebuah sungai dengan aliran air jernih di sini," usul Kang Jian, baru ketika lelaki itu mengatakannya Ma Shu berhenti. Dia duduk di batu besar tepi sungai, agak berjauhan dari mereka dan tidak mengatakan apa-apa, hanya meminum air sungai. Menunggu mereka selesai.
Xue Zhan menarik napas sangat dalam. Dia menopang kedua tangan di lutut, pandangannya jatuh pada bebatuan di pinggir sungai. Matanya masih terbuka, keringat membanjiri pelipis dan sekujur tubuhnya. Berlari sampai ke tulang-tulangnya, mungkin itu dapat menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya sekarang.
Namun satu hal yang mengejutkan baginya, Xue Zhan berhasil berlari sejauh ini dan tidak tertinggal jauh dari Kang Jian dan yang lain. Itu adalah pencapaian terbesar Xue Zhan saat ini, dan itu membuatnya bangga.
Kang Jian mulai prihatin namun anak itu tersenyum, tersenyum penuh kebahagiaan sembari mengacungkan jempol.
"Aku berhasil ..."
Kang Jian tahu Xue Zhan berusaha mati-matian untuk mengimbangi langkah mereka, dia baru ingin menarik senyum. Tapi sesuatu terjadi.
Tubuh Xue Zhan jatuh tergeletak di atas tanah, Xue Zhan akhirnya pingsan tak sadarkan diri. Jiazhen Yan yang paling panik saat itu langsung menjerit, "Hei cumi-cumi, jangan pingsan dulu! Kasihan rumputnya kau jepit!"
"Zhan'er, kau tidak apa-apa?"
Kang Jian mendekat. Dia lebih khawatir saat Jiazhen Yan memukul-mukul pipi Xue Zhan keras demi membangunkannya, mencoba menghentikan juga percuma. Si pawang api itu mana mau dengar. Dia seperti sedang membangunkan mayat dari dalam kubur, Xue Zhan yang sebenarnya belum pingsan sampai pingsan sungguhan dibuatnya.
*
Bunyi cicitan burung pelintas dan aroma pagi buta yang sejuk bersama bau hujan. Xue Zhan terbangun, kesadarannya perlahan kembali. Ketika dia membuka mata dirinya sedang digendong oleh Kang Jian di punggungnya. Mereka tetap melanjutkan perjalanan, Xue Zhan dibawa oleh Kang Jian.
"Eh, apa yang terjadi?"
Kang Jian melirik dari samping sambil memberitahu, "Kau kelelahan dan pingsan ..." Dia sedikit berbisik karena takut ada setan yang mengamuk, "kau pingsan gara-gara ditampar."
__ADS_1
"Pantas saja pipiku sakit sekali seperti dicium kelabang. Bengkak begini." Dia memegang pipi sembari menoleh ke belakang, Jiazhen Yan menatap balik dan menjulurkan lidah setengah mengejek.
"Laknat manusia satu ini. Tolong turunkan aku, Guru. Aku ingin memukulnya."
"Jangan. Kau belum bisa berjalan dengan baik. Kau mungkin belum terbiasa melakukan perjalanan sejauh ini-"
"Karena itu aku ingin membiasakannya, Guru."
"Kalau kau pingsan lagi?"
"Tidak akan! Aku berjanji."
"Hah ..." Kang Jian membuang napas gusar, muridnya itu bersikeras, dia tidak sampai hati menolaknya.
"Jangan memaksakan dirimu. Kau mungkin menganggap ini sebagai latihan fisik, tapi ingat di depan kita masih ada sesuatu yang lebih berat, jangan sampai kau kelelahan saat menghadapi musuh, itu akan menjadi kesalahan yang sangat fatal. Paham?"
Kang Jian hanya bisa mendengkus, di saat murid lain harus diingatkan untuk terus latihan dan tidak bermalas-malasan, lain cerita dengan muridnya ini. Kalau tidak diingatkan untuk berhenti, Xue Zhan bisa berlatih 7 hari 7 malam, minimal sampai dia pingsan. Mungkin saja sekarang Kang Jian sudah mendapatkan julukan lain selain Petir Merah yaitu Guru yang Paling Khawatir.
Xue Zhan mulai berjalan sendiri, bersebelahan dengan Jiazhen Yan. Terkadang mereka terdengar ribut, tapi ketika Kang Jian melihat ke belakang mereka akur. Mereka melalui jalur air menggunakan perahu untuk mencapai tempat tersebut, mengikuti aliran sungai. Sampai tiba-tiba serangan datang dari hutan di kanan kiri mereka berempat.
Jiazhen Yan tidak sengaja terkena salah satu serangan di pundaknya.
"Duri Landak ini ... Racun di dalamnya bisa membuatmu pingsan sampai tiga jam. Keluarkan racunnya segera!" perintah Ma Shu tegas. Xue Zhan membantu Jiazhen Yan di tengah gempuran serangan di kanan kiri. Kang Jian melindungi mereka dengan teknik pertahanan Petir Merah yang mampu menghancurkan puluhan duri sekaligus.
Tak jauh di depan, sesosok berdiri di sebuah jembatan kecil sungai. Tersenyum ketika melihat mereka sampai. Mengangkat tangannya, spontan serangan terhenti.
"Maaf, kami mengira kalian musuh. Sekaligus untuk menguji kekuatan kalian. Rupanya benar kalian, aku tidak meragukannya lagi." Wajahnya tertutup oleh tudung jubah, tapi jelas dia adalah seorang lelaki uzur, terlihat dari cara jalannya dan tongkat di tangannya.
"Ikutlah denganku."
__ADS_1