Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 226 - Sekarat


__ADS_3

Xue Zhan mulai kehilangan kesadaran. Hanya terdengar suara geraman yang samar-samar, orang itu terdengar kesakitan dan juga putus asa menghadapi monster di dalam dirinya sendiri.


Sunyi melanda namun perlahan Xue Zhan dapat merasakan mata pedang yang dingin menyentuh kulit lehernya. Lalu detik selanjutnya, dia tidak bisa mendengar atau merasakan apapun lagi.


Di alam bawah sadar Xue Zhan, suasana hampa terhampar tanpa batas. Kegelapan itu tak berujung, meluas tanpa batasan yang jelas. Kegelapan menyelimuti segala sudut, menyerap cahaya dan menyebabkan segala sesuatunya terlihat kabur dan samar.


Di dalam kegelapan tak terhingga itu, terlihat sesosok iblis raksasa yang berbentuk tulang kerangka. Tingginya mencapai ratusan meter, menjulang dengan angkuh di hadapan Xue Zhan yang sedang berjuang untuk bertahan hidup.


Bayangan iblis tersebut menyelimuti ruang hampa yang tak berujung, memberikan kesan yang menakutkan sekaligus menekan.


Iblis Dosa berbicara dengan suara yang miris dan menyedihkan. "Kau terlalu naif, Xue Zhan. Kau terbunuh oleh tangan sahabatmu sendiri, meskipun kau sendiri adalah campuran iblis. Kau naif seperti manusia yang bodoh itu, benar-benar mengecewakan. Pantas saja Monster Tua itu menyebutmu bodoh. Dungu. Idiot."


"Terima kasih sudah mengejanya satu per satu tapi ini bukan urusanmu."


Xue Zhan menjawab kesal meskipun tahu saat ini tubuhnya sekarat dan terluka parah. "Aku tidak peduli. Dia adalah temanku. Tidak ada harga yang cukup untuk memutuskan hubungan pertemanan ini, bahkan jika dia sendiri membunuhku."


"Hahahaha kau mengingatkanku pada seseorang ..."


Suaranya menggelegar dengan cara yang mengerikan.


Iblis Dosa mulai menceritakan tentang seorang wanita iblis yang memiliki sifat yang hampir mirip dengan Xue Zhan. Wanita tersebut memiliki kemampuan untuk merasakan perasaan yang hampir sama seperti manusia. Meski berasal dari bangsa iblis, dia memperlihatkan sisi kasih sayang dan kepedulian yang jarang dimiliki oleh sebagian besar sesama iblis.


Iblis Dosa melanjutkan ceritanya dengan suara yang penuh dengan kegundahan. "Wanita itu adalah pengecualian di antara kami. Dia lahir dengan jiwa yang berbeda. Meski memiliki darah iblis yang mengalir dalam dirinya, dia selalu merasakan kebingungan dan pertentangan. Dia tidak ingin hidup dalam kegelapan dan kekejaman seperti sesama iblis."


Xue Zhan hanya diam, tidak sepenuhnya memahami mengapa Iblis Dosa tiba-tiba menceritakan tentang wanita iblis tersebut. Dan sifat asli iblis itu, entah baik atau buruk keduanya samar-samar.


Iblis Dosa menjelaskan bahwa perang kali ini tidak akan mudah dan Xue Zhan pasti akan berhadapan dengan musuh yang sangat kuat. Dia menawarkan kekuatan padanya, kapan pun Xue Zhan menginginkannya. Hal itu membuat Xue Zhan semakin bimbang atas apa yang terjadi.


Xue Zhan memandang Iblis Dosa dengan ketidakpastian yang terpancar dari matanya. Tawaran itu adalah yang dibutuhkannya, namun dia juga merasa ragu tentang konsekuensinya. Xue Zhan telah belajar dari pengalaman bahwa mengambil jalan pintas atau menggunakan kekuatan iblis tidak akan membawa kebaikan yang sejati. Dan dia sendiri tidak sepenuhnya percaya pada iblis busuk itu.


"Heh, kau mencoba mengelabuiku seperti yang sudah-sudah. Mana aku percaya."


Iblis Dosa melihat keraguan yang melingkupi Xue Zhan. Dengan tawa singkat dia berkata, "Aku tahu kau bimbang, Xue Zhan. Tetapi ketahuilah, kekuatan yang aku tawarkan adalah satu-satunya jalan untuk menghadapi musuh yang kuat kau bahkan tidak tahu apakah kekuatanmu sendiri cukup untuk menghentikan mereka."


Xue Zhan menarik napas dalam-dalam. Dia merenungkan kata-kata Iblis Dosa dengan seksama. Memang dalam perjuangan melawan musuh yang kuat, kekuatan iblis bisa memberikan keuntungan, tetapi apa artinya jika itu hanya mengaburkan hati nurani dan menjadikan dirinya mirip dengan musuhnya?


Di satu sisi kekuatan cahaya dari Taring Merah tak akan sanggup dihadapi dengan kekuatan biasa. Dia mulai ragu dan bimbang memilih keputusan.

__ADS_1


Xue Zhan membiarkan keheningan terisi dalam ruang bawah sadar mereka. Dia merenungkan kata-kata Iblis Dosa dengan seksama, mempertimbangkan konsekuensi dan arti sebenarnya dari setiap pilihan yang dihadapinya. Di antara kegelapan, ada getaran perlawanan yang tumbuh di dalam dirinya.


Setelah beberapa saat yang terasa sangat lama, Xue Zhan akhirnya mengangkat kepalanya dengan mantap. Tatapannya tajam memandang Iblis Dosa. "Aku memilih jalan ini sendiri. Aku akan melawan musuh-musuhku dengan kekuatan yang ada dalam diriku sendiri. Kekuatan yang tidak berasal dari kegelapan, melainkan dari kebaikan dan keinginan untuk melindungi orang-orang yang kusayangi."


*


"Ini benar-benar dia ... Apa yang terjadi padanya?"


"Dia masih bernapas?"


"Lakukan sesuatu!"


"Aku tidak tahu! Dia sama sekali tidak bernapas dan jantungnya berdetak sangat lemah!"


Keributan terjadi di antara kedua orang itu, selang beberapa saat salah satunya mengeluarkan sebuah obat yang diikat dengan jalinan emas dan botol hitam berkilat. Tangannya dingin saat mencoba membuka tutup botol itu.


Itu adalah obat Dewi Angin, obat yang dibuat oleh Li Jia Xing untuk menyelamatkan seseorang yang sedang berada dalam keadaan sekarat. Namun hanya ada dua kemungkinan yang mungkin terjadi saat meminum botol itu.


Hanya dua puluh persen orang tersebut selamat. Sisanya nyawanya melayang. Namun angka itu saja sudah cukup besar untuk menyembuhkan orang dengan luka berat. Li Jia Xing memberikan obat itu tepat di hari Xiao Rong diangkat menjadi tangan kanannya.


Darah bercampur obat menyatu dalam mulutnya, Xiao Rong membantunya dengan menaikkan sedikit kepala Xue Zhan agar obat itu masuk ke dalam tubuhnya.


Satu jam sebelum mereka menemukannya terbaring di tengah Gurun pasir ini, pertarungan dahsyat terjadi dan membuatnya berada di ambang kematian. Fenghuang dapat melihat bekas pertarungan yang mengerikan dan mayat seorang dari Cahaya telah terbujur tak bernyawa di tempat berbeda.


Namun meskipun Xue Zhan yang menenangkan pertarungan, mengapa dia juga kritis?


Xiao Rong yakin ada satu pelaku lagi yang terlibat. Namun yang membuatnya ganjil adalah mengapa orang itu membiarkan Xue Zhan tanpa membunuhnya. Untuk musuh sekelas Taring Merah, mereka tidak akan membiarkan jasad musuhnya tetap utuh. Sebaliknya mereka menghabisinya sampai ke kulit. Hal itu sering terjadi dan itu membuatnya berpikir keras di sela kerumitan yang memenuhi pikirannya.


Tubuh itu mulai dingin, Xue Zhan kehilangan kesadaran dan dia sama sekali tidak sadarkan diri.


Keduanya saling bertatapan sejenak. "Walaupun dalam keadaan hampir mati, aku sudah menepati janjiku. Jangan lupa tepati janjimu. Kau tahu kita datang ke tempat ini sampai hampir dikandangi beberapa kali. Gaunku sobek dan sayapku juga terluka." Fenghuang memperingatkan. Membuat Xiao Rong teringat akan perjanjian mereka sebelumnya sebelum tiba di gurun ini.


***


"Lari, cepat!!! Aaa tidak, gaunku!" Gadis dengan gaun merah berlari luntang-lantung dari kejaran prajurit kekaisaran Feng dan para pendekar tingkat atas yang sengaja diutus untuk misi penangkapan buronan yaitu mereka sendiri.


Ratusan anak panah diterbangkan ke arah mereka. Fenghuang beberapa kali terjatuh karena gaunnya yang tersangkut di akar-akar pohon dan kayu. Terdengar umpatan dan caci maki dari mulutnya. Gadis itu jatuh terjerembab dengan jidat menghantam tanah lebih dulu.

__ADS_1


"Sialaaan! Bantu aku!" Fenghuang terjebak. Temannya mengecoh kan lawan dengan melemparkan puluhan senjata rahasia, beberapa mati di tempat dengan cakram besi menembus jantung. Fenghuang bangkit dan menyusulnya buru-buru.


"Kau lupa menggunakan sayapmu?" sambut pemuda di sebelahnya, dia mengenakan caping bambu dan jubah abu-abu kusut. Membuatnya tak bisa dikenali oleh siapa pun.


Soalnya ketika Fenghuang berubah menjadi Phoenix, salah seorang pemanah handal menembakkan sebuah panah berapi yang membakar sayapnya. Dia berulang kali memulihkan diri namun serangan bertubi-tubi membuat mereka terpojokkan.


Setelah Fenghuang melarikan diri dari penjara bawah tanah, prajurit Kekaisaran mulai membanjiri Kekaisaran hingga ke pelosok-pelosok. Mereka berulang kali hampir tertangkap.


Berkat bantuan Xiao Rong, Fenghuang bisa kabur dari penjara dengan mudah dan tanpa ketahuan. Sebagai balasannya Xiao Rong memintanya membawanya ke seseorang yang telah dicarinya bertahun-tahun.


Fenghuang sendiri sebenarnya tidak tahu di mana si bodoh itu berada sekarang, dia hanya mengetahui satu hal bahwa Xue Zhan saat ini sedang menyelidiki Taring Merah. Satu-satunya cara untuk menemui Xue Zhan hanyalah dengan mengikuti jejak Taring Merah dan bertemu dengannya.


Fenghuang mengetahui satu hal soal Kekaisaran Feng, yaitu seorang ahli mata-mata bernama Qi Zhang yang tinggal di Teluk Ying.


Dan dari sanalah mereka mengetahui di mana keberadaan Xue Zhan.


**


Istana Kekaisaran Diqiu menjulang megah di tengah-tengah kota. Bangunan-bangunan indah terhampar dengan keanggunan yang tak tertandingi, mencerminkan kemegahan kekaisaran.


Jalanan yang tertata rapi dan taman-taman yang indah menambah kesan damai. Namun, di balik keindahan itu, terasa ancaman yang mengintai dalam setiap sudut.


Mata-mata bersembunyi di antara bayangan, mencari celah untuk mengintai setiap pergerakan. Pasukan kekaisaran berjaga dengan ketat di sekitar.


Yin Jiao, cucu Kaisar Ziran, melangkah dengan anggun di taman indah istana kekaisaran. Rasa waspada menghampirinya sejak beberapa waktu terakhir, karena ia mulai memperhatikan beberapa pelayan asing yang selalu tampak mengamatinya dengan tatapan yang tidak biasa. Hari ini, saat dia berjalan sendirian di antara deretan pohon bunga yang mempesona, mata Yin Jiao tiba-tiba menangkap gerakan mencurigakan.


Ada sosok pelayan yang berdiri di balik pepohonan, bersembunyi di balik kabut tipis yang melayang di udara. Yin Jiao mengencangkan tinjunya, mempersiapkan diri untuk menghadapi ancaman yang mungkin ada.


Dengan cepat, dia melintasi taman, berusaha menangkap pelayan misterius itu.


Namun, seolah-olah memahami rencananya, sosok itu menghilang begitu saja sebelum Yin Jiao bisa meraihnya. Seperti kilat yang melintas di malam gelap, dia menguap dalam sekejap tanpa meninggalkan jejak.


Yin Jiao terdiam sejenak, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Dia merasa seperti dalam perburuan yang sia-sia, dengan musuh yang misterius yang terus mengelaknya. Taman yang sejuk dan penuh bunga menjadi tempat yang penuh dengan ketidakpastian dan ancaman.


Hatinya berdebar kencang, dan dia merasakan adanya kekuatan gelap yang mengintai dari balik dinding istana yang megah. Apa yang mereka cari darinya? Mengapa mereka terus mengikutinya? Yin Jiao merasa harus mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, untuk menjaga keamanan dirinya dan kekaisaran yang dicintainya.


Dalam keheningan taman, angin berdesir lembut, membawa aroma bunga dan rahasia yang tersembunyi di balik tembok-tembok istana.

__ADS_1


__ADS_2