
Seperti biasa saat pagi esoknya menjelang sebanyak 426 peserta telah berkumpul di sebuah lapangan luas di mana lima orang laki-laki berdiri di atas panggung dengan tegap sambil memandang ke arah mereka, penampilan mereka cukup aneh-mengenakan baju serba tertutup dan penutup wajah seperti masker berwarna hitam dengan lubang udara di kedua sisi, wajah-wajah yang keras dan juga disiplin itu membuat para peserta gugup secara tidak langsung.
Satu orang yang berdiri di tengah akhirnya angkat bicara setelah tiga menit keheningan tanpa ada sambutan atau basa-basi seperti sebelumnya.
"Baiklah! Untuk babak terakhir dan yang akan menjadi penentu kalian sebagai seorang pendekar tingkat menengah kalian akan melewati satu babak yang dinamakan Tiga Hari Menentang Matahari!" serunya begitu keras, melihat ke area peserta yang nampak bertanya-tanya terhadap maksud dari nama yang dia sebutkan barusan.
Mulutnya mengeluarkan suara, "Tiga Hari Menentang Matahari adalah ujian bertahan hidup dengan tingkat kesulitan tertinggi di ujian ini! Jangan meremehkannya jika tidak mau gagal dan sebaiknya bersiap menjadi satu dari 200 orang yang lolos di antara 426 dari kalian!"
Sontak pernyataan tersebut menghadirkan hiruk-pikuk di antara peserta yang merasa tidak terima kalau hanya 200 peserta yang diloloskan, itu artinya hanya setengah dari mereka dan kesempatan selamat hanyalah lima puluh persen saja.
Xue Zhan teringat dengan perkataan Kaisar Li dan lagi-lagi ucapan wanita itu benar, Ujian Pendekar Menengah bukanlah ujian yang mudah, tidak hanya dibutuhkan kemampuan melainkan juga keberuntungan untuk bisa lolos di dalamnya.
"Tidak ada peraturan khusus di dalam babak ujian kali ini! Tidak ada poin atau pembagian kelompok, kalian harus bertahan hidup tiga hari dengan cara apa pun tanpa perbekalan dari panitia. Kami akan memberikan gulungan yang disebar secara acak, ada yang dapat dan ada yang tidak. Gulungan itu akan menjadi bukti kalian lulus. Kalian akan ditempatkan di sebuah desa terbuang, jadi bisa dipastikan kalian bebas bertarung semaunya. Siapa pun yang tidak memegang gulungan di tangannya dinyatakan gugur! Hanya itu saja, pembukaan selesai."
"Me-mereka serius?!" Seorang peserta kelihatan tidak siap, bukan hanya dia tapi juga peserta lain yang nampaknya akan protes tak lama lagi. Namun laki-laki itu bersikukuh bahwa tujuan dari ujian ini untuk melatih mental mereka untuk medan pertarungan sebenarnya, agar mereka tidak gagap saat dihadapkan pada di situasi yang sama.
Selama beberapa saat Xue Zhan menoleh ke arah Jiazhen Yan, temannya bergumam, "Aku harus memenangkan ini." Tangannya menggenggam kalung itu.
Xue Zhan tersenyum, ternyata Jiazhen Yan juga memiliki orang yang berarti di dalam hidupnya dan berjuang untuk orang tersebut meski orangnya telah tiada.
Dia juga ingin berjuang sekeras Jiazhen Yan, matanya kembali ke arah panggung dan menyimak apa yang disampaikan sampai ketika empat laki-laki di sebelah kanan kiri lelaki pembicara berjongkok mengaktifkan sebuah segel raksasa.
Sebuah selubung melingkar mengurung para peserta di atas langit disusul asap kehijauan menyebar cepat membuat mereka terbatuk-batuk.
__ADS_1
Cahaya dari mantra aktif lalu dalam sekejap mata empat ratus lebih peserta pingsan di tempatnya.
"Bayangkan kini kalian sedang dalam sebuah perjalanan misi hidup atau mati dan membawa sebuah surat penting dari Kekaisaran. Tidak ada kata mati! Kalian harus tetap berjalan walaupun kaki patah dan kedua tangan buntung, misi adalah misi. Kerahkan semua yang kalian miliki untuk itu!"
Xue Zhan tidak dapat mendengar lagi, efek asap itu sangatlah kuat dan membuatnya ikut tumbang tanpa tahu apa yang terjadi selanjutnya.
*
Kicauan burung, suara aliran sungai yang deras serta bunyi dedaunan di pepohonan yang ditiup angin lembut. Sinar matahari jatuh di atas dahinya dan mulai terasa memanas saat akhirnya Xue Zhan tersadarkan diri, matahari sudah berada persis di atas kepalanya.
Dia terbangun di sebuah tempat asing yang sangat-sangat sunyi dan amat mencekam, matanya mencoba melihat kekuatan manusia tapi tak ada satu pun yang berhasil dilacak. Membuatnya seram, berpikir benar-benar dibuang di kota yang ditinggalkan dan sendirian di sana tanpa ada yang menyelamatkannya.
Dia mengecek sekitar dan tidak menemukan gulungan seperti yang dikatakan oleh panitia, ini gawat, sejauh ini Xue Zhan tak menemukan satu pun manusia dan mungkin saja di sekitarnya ada begitu banyak siluman dan binatang buas.
Manusia itu sudah mati. Namun bagaimana bisa kelopak matanya masih bergerak-gerak dan tulang jarinya yang dagingnya sebagian telah dimakan belatung dapat menangkapnya lumayan kuat. Mulut wanita itu telah sobek hingga ke dahinya, dia bersuara seperti bunyi derak kayu, membuat mata Xue Zhan semakin membesar.
Dalam sekejap mata mulut itu ingin memakan kaki Xue Zhan, pemuda itu menendang dan jatuh terduduk menghadap mayat tersebut. Penampakan mengerikan itu semakin jelas.
Wanita itu buntung, tubuhnya telah terpotong sampai perut hingga usus dan organ dalamnya keluar, dia merangkak meraih Xue Zhan yang masih begitu kaget dengan apa yang dilihatnya.
"Se-sebenarnya apa yang terjadi padamu...?" Napasnya tercekat, kasihan dan juga takut. Wanita itu tak menjawab, tidak seperti manusia yang mampu berbicara, hanya bergerak-gerak mengikuti instingnya sendiri. Tangan tersebut kembali meraih Xue Zhan, dia tidak menyingkirkannya sama sekali.
"Apa aku bisa membantumu Nyonya?"
__ADS_1
Masih saja dia mengajaknya berbicara walau nampaknya percuma. Tubuh kurus kering penuh darah dan hampir membusuk itu semakin mendekat, Xue Zhan memegangi pundak mayat itu.
"Kau tersiksa? Apa pun yang menimpamu, kau pasti tidak ingin mengalami hal ini ..." Dia tampak menyesal mengatakannya, "Aku minta maaf, mungkin hanya ini satu-satunya caraku menyelamatkanmu."
Xue Zhan mengeluarkan belati dari sakunya, tangan wanita itu memegang lengannya dan bergerak lemah hendak menggigitnya. Sebelum itu terjadi Xue Zhan menggorok leher wanita itu, sampai dia benar-benar berhenti bergerak dan menggeletakkannya di atas tanah berumput.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada kota ini?"
*
Dua orang dengan pakaian panitia pelaksana Ujian bertopeng berdiri di atas dahan tinggi, hawa kehadiran mereka sangatlah kecil menandakan keduanya bukanlah Pendekar Menengah lagi, satu tingkat lebih tinggi di atasnya. Sedang memperhatikan gerak-gerik Xue Zhan.
"Mayat yang itu lupa disingkirkan. Apa tidak apa-apa? Dia mungkin saja terkena gigitan," oceh orang di sampingnya dengan waspada.
Mereka menyimak apa yang dilakukan Xue Zhan sejenak, "Murid Kang Jian, huh? Dia sangat menjanjikan. Mata merahnya itu ... Aku yakin dia bisa melihat kita jika maju semeter saja."
Sejurus keduanya terdiam sejenak melihat peserta nomor 666 itu bukan kabur dari sana agar mereka segera menyingkirkan mayat tersebut. Dia melakukan tugas yang seharusnya mereka lakukan; membunuh mayat tersebut.
"Di-dia memenggalnya di kepala? Apakah dia tahu cara membunuhnya? Permasalahan ini adalah rahasia Kekaisaran dan tidak mungkin baginya untuk tahu. Bahkan pendekar tingkat atas seperti kita tidak semuanya tahu tentang isu ini-"
Temannya masih menganalisis sembari tersenyum penuh makna, "Benar dugaanku. Dia memiliki mata yang sangat tajam. Serahkan mayat itu padanya. Kita kembali dan langsung membuat laporan daripada kehadiran harus ketahuan oleh peserta lain. Khususnya anak itu." Matanya menatap Xue Zhan dari kejauhan dan tidak disangka di saat yang bersamaan Xue Zhan mengangkat wajah dan menoleh ke arah mereka.
Hanya terlihat dedaunan yang jatuh, Xue Zhan mengerutkan alis.
__ADS_1
"Sepertinya aku melihat sesuatu-? Mungkin perasaan ku saja." Dia menutup mata mayat tersebut dan menguburkannya dengan layak.