
"Bagaimana kau menuduhku membunuh saudaraku sendiri?" Ziran Zhao muntab, bagaimana tidak, dia dan Kang Jian memiliki ikatan erat, semua orang juga tahu akan hal itu. Dia selalu mempercayai Kang Jian. Mustahil baginya melakukan hal seperti itu terhadap seseorang yang sudah dianggapnya sebagai saudara.
"Namun bukti berbicara lebih jujur dari mulut manusia."
"Aku tak memiliki alasan untuk melakukan hal itu!" tegas Ziran Zhao, matanya mulai memerah akibat marah.
"Tentang kematian Xiang Yi Bai juga masih dalam tanda tanya besar. Berita tentang kematian Ketua Agung Dunia Persilatan itu seperti dipaksa tenggelam, tanpa ada sesiapapun yang melakukan investigasi terhadap kematiannya, semua orang seakan bungkam saat aku membicarakannya. Padahal sudah hal wajar jika kematian Batara Pedang Suci dikorek hingga ke akar-akarnya. Bukankah ini hal yang ganjil?"
"Mengapa jenius-jenius ini tewas dalam tanda tanya besar ... Dua puluh tahun yang lalu Anda menitipkan Batu Elemen Penguasa Bumi kepada Batara Pedang Suci, lalu dia tewas bunuh diri di Jurang Penyesalan. Sekarang Anda menitipkan seorang iblis pada Petir Merah, Kang Jian dan dia juga tewas bunuh diri di sungai terkutuk. Semua demi menjaga apa yang Anda titipkan, Yang Mulia. Ini sangat aneh dan membuatku tak bisa tidur nyenyak siang malam ..."
Jiazhen Wu tak segan-segan membuatnya terpojokkan. Ziran Zhao mengeratkan kepalan tangan, hingga akhirnya lelaki di depannya kembali berujar.
Semua pelayan, prajurit dan beberapa petinggi yang berada di dalam ruangan hanya bisa terkejut mendengar pemaparan Jiazhen Wu.
"Maafkan aku, Yang Mulia. Kebenaran tetaplah kebenaran. Aku akan terus mencari informasi ini. Banyak tanya yang terus muncul tanpa jawaban. Meskipun kau mengirim utusan untuk membunuhku lambat laun pasti akan ada orang lain yang akan melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan. Mencari tahu siapa dalang di balik ini semua."
Jiazhen Wu berbalik badan diikuti pelayannya. Meninggalkan Ziran Zhao terdiam setelah disengat sesuatu yang menyakitkan. Satu sahabatnya mulai mencurigai bahwa dia adalah pelakunya.
Beberapa pasang mata menatap bingung ke arah Ziran Zhao, lelaki itu bangun mengibaskan jubahnya dan pergi dari sana dengan hati gusar.
**
"Sudah ku bilang aku tak akan ke sana!"
Pemuda di dalam kamar penuh kekuatan kegelapan berteriak lantang, wanita yang berdiri di ambang pintu menutup mata sambil menarik napas. Sudah hampir satu jam membujuknya tapi kepalanya lebih keras daripada batu dan tak mudah dibalikkan.
"Yang Mulia boleh mengirimku ke Gunung Qin, tapi jangan sekalipun mengirimkanku ke Kekaisaran Diqiu."
"Kau pasti sangat ingin mengunjungi makam temanmu, bukan?"
Sesaat pemuda bermata gelap itu terdiam, dia masih enggan membalikkan badan untuk menatap Li Jia Xing. Kedua tangannya mengepal erat, bahunya naik, dia terdiam saat wanita tersebut mengungkit masa lalu.
__ADS_1
"Kau bilang kau berubah bukan karena kematiannya. Tapi semua itu sangat jelas. Aku telah merawatmu semenjak kecil, aku mengenalmu seperti ibumu sendiri."
"Jangan bawa-bawa ibuku," sergah Xiao Rong menatap Li Jia Xing dengan mata dingin. Anak itu semakin sulit ditentang, sudah berapa kali Li Jia Xing membutuhkan bantuannya untuk kepentingan dengan Kekaisaran Diqiu namun pemuda itu langsung menolaknya terang-terangan dan bahkan menaikkan intonasi.
"Tiga tahun yang lalu keluarga Tuan Muda Xian Shen dibantai."
"Apa?" Dia kaget satu detik dan langsung menyadarinya, Xiao Rong berusaha bersikap biasa saja. "Lagipula bukan urusanku."
Xiao Rong berhenti mencari tahu tentang teman-temannya sejak hari itu dan menolak kembali ke Kekaisaran Diqiu. Banyak yang bilang dia seperti es berjalan, begitu dingin dan kejam. Sebagai tangan kanan Kaisar Li sudah berapa nyawa tewas di tangannya.
Tapi masa lalu terus menggentayanginya dan membuat sikapnya semakin kasar dari waktu ke waktu. Hal itu sebenarnya turut membuat Li Jia Xing prihatin.
"Aku membutuhkan kemampuanmu. Bisa saja di tengah jalan Taring Merah datang dan membunuhku? Jika itu terjadi, kau tak akan memiliki kesempatan hidup lagi. Ketentuan mutlakku adalah alasan mengapa kau diizinkan hidup di antara para manusia. Jika aku mati digantikan pemimpin baru dan mereka menyuruh semua orang membunuhmu, aku yakin kau tak akan selamat."
Pemuda itu tak bergeming.
"Xue Zhan adalah murid dari muridnya sahabatku. Aku ingin mendatangi makamnya. Jika kau bersikeras menolak maka aku akan membawa Hu Yong bersamaku."
"Aku ikut."
Li Jia Xing yang hampir meninggalkan kamar tersebut berhenti dan menarik senyum.
"Bersiaplah, besok kita akan memenuhi panggilan Kaisar Kekaisaran Diqiu dan berkunjung ke makam iblis kecil itu."
**
Perkumpulan orang-orang penting di istana Kekaisaran Diqiu berlangsung mewah seperti biasanya. Xiao Rong mengenakan pakaian formal dengan jubah hijau yang senada dengan pakaian para utusan dari Kekaisaran Feng. Li Jia Xing berjalan di depannya dengan anggun dan kadang membuat para lelaki tak berkedip oleh kecantikannya.
Wanita itu sibuk berbincang dengan tamu lainnya, Xiao Rong memutuskan untuk menyendiri di tempat yang lebih sepi. Melihat lalu lalang di sekitar dan berharap tak ada yang mengenalinya. Sayangnya dia salah, seorang gadis berjalan mendekat.
"Senang bertemu denganmu, Tuan Muda Xiao."
__ADS_1
Senyum di wajah yang cantik itu terlihat amat dipaksakan.
Xiao Rong memalingkan muka enggan menjawab. Hal itu membuat Yin Jiao kikuk.
"Apakah aku mengganggumu?"
Yin Jiao tak tahu lagi harus bagaimana sampai Li Jia Xing menghampiri mereka berdua memutuskan kecanggungan itu.
"Percuma berbicara dengan batu es, Nona Yin. Pengawal ku ini tak suka bicara."
Yin Jiao kelihatannya ingin menyangkal, seingatnya pemuda itu masih terbilang baik meskipun ketus.
"Apa yang ingin Anda sampaikan, Nona Yin? Tenang saja, meskipun kehilangan kemampuan berbicara anak ini masih memiliki kemampuan untuk mendengar." Li Jia Xing tersenyum sambil memegang bahu Xiao Rong dari belakang. Membuat pemuda itu terganggu dan langsung menepis kedua tangannya.
Yin Jiao berpikir sejenak sebelum akhirnya menggeleng walau dia ingin sekali mengatakan sesuatu. "Ti-tidak ada, maaf mengganggu. Aku pergi dulu," ucapnya.
*
Lilin-lilin menyala di depan sebuah papan peringatan, seorang pemuda tampan duduk bersimpuh di depannya sambil menyatukan kedua telapak tangan, berdoa untuk dua orang yang namanya tercantum pada papan tersebut, Ayah Ibunya.
Setiap tahun di hari yang sama Xian Shen selalu datang ke tempat ini untuk memperingati kematian kedua orang tuanya. Tempat sederhana itu terlihat seperti gazebo yang ukurannya lebih besar, merupakan sebuah bangunan di ujung kediaman pamannya yang hanya terbuat dari lantai dan atap tanpa dinding sehingga bisa langsung melihat ke luar yang dihiasi oleh danau buatan dikelilingi hutan. Setiap pilar diterangi oleh obor api dan ratusan lilin menyala di lantai.
Hari ini tepat tiga tahun setelah kematian keluarganya, Xian Shen menjadi yatim piatu dan diasuh oleh pamannya. Meskipun diperlakukan baik oleh keluarga baru dia tak akan mendapatkan kasih sayang yang sama dari keluarga aslinya terutama ibunya. Kesedihan meluap, air mata turun di pipi putih pemuda itu di sela doanya. Bahunya naik turun.
"Aku benar-benar anak yang tidak berguna. Aku selalu membangkang dan tidak berbakti pada Ayah dan Ibu. Setelah kalian pergi aku selalu menyesali apa yang tidak kuberikan pada kalian semasa hidup."
Xian Shen tidak memiliki arah tujuan lagi. Dia kehilangan semangat hidup. Sosok Xian Shen yang awalnya ceria telah berubah menjadi muram dan pesimis. Satu per satu orang meninggalkannya, pakaian pemuda itu berantakan sama seperti wajahnya. Ketampanannya yang selalu diagungkan para gadis mulai surut.
Dengan penampilan berantakan seperti itu dia tak lagi dikagumi. Xian Shen terpuruk dalam kesedihannya.
Angin malam berhembus di selasar kediaman, hingga menyapu api lilin dan membuatnya bergerak. Hawa dingin nan pekat mencekik leher Xian Shen kala itu, dia tak berani bergerak karena mulai waspada. Sebagai seorang pendekar muda dia bisa mengenali berbagai hawa dan tingkat berbahayanya. Yang kali ini mendatanginya termasuk berbahaya.
__ADS_1