
Xue Zhan membalikkan badan dan di waktu bersamaan pula kedua tangannya melemparkan senjata rahasia dari balik jubah, kedua bola matanya terbuka lebar tak mempercayai musuh dapat mengetahui keberadaan mereka dalam jarak sejauh ini. Sementara itu suara tangis gadis di dalam Menara Giok Hantu telah lenyap bagai ditelan bumi.
Bukan pertanda baik bagi mereka. Musuh datang lebih cepat. Keempatnya sama sekali belum siap bertarung.
"Empat pemuda tampan sekaligus ... Tidakkah aku begitu beruntung malam ini? Ah, aku penasaran apakah kulit kalian bisa kujadikan benang untuk kecapi tersayangku? Suara yang dihasilkan pasti akan sangat merdu~"
Suara mendayu dari wanita hantu itu terasa menakutkan, Xue Zhan tidak pernah mendapatkan informasi bagaimana rupa dari sosok tersebut selain kemahirannya dalam bermain alat musik dan membunuh lewat irama. Tapi kini dia melihatnya langsung.
Wajah itu begitu cantik, memiliki bola mata kekuningan serta jemari lentik, tapi tubuhnya seperti telah terpotong-potong dan memiliki bekas jahitan. Di pergelangan tangan, kaki dan lehernya. Kulitnya pun seputih mayat. Dilihat berapa kali pun, kecantikan mukanya akan hilang oleh keseraman dari penampilannya.
Jubah besar wanita itu berkibar ketika angin kencang menerbangkannya dengan anggun, "Kalian datang jauh-jauh mempertaruhkan diri hanya untuk menyelamatkan seorang gadis bodoh? Yang benar saja!"
Semuanya bersiap dengan serangan pertama dari wanita itu. Namun Jiazhen Yan tiba-tiba merentangkan sebelah tangan menahan Xiao Rong dan Xian Shen.
"Sesuai rencana awal. Pergilah menyelamatkan gadis itu, kami akan urus wanita ini."
Dia melirik Xue Zhan yang juga membalas dengan anggukan.
"Aku cemburu para gadis itu ... Dia tak lebih dari gadis bodoh yang diselimuti ribuan keberuntungan!"
Xiao Rong dan Xian Shen perlahan mundur tanpa memalingkan muka dari Hantu Penyair. Saat mereka lari ke dalam Menara Giok Hantu wanita itu bereaksi marah dan langsung mengeluarkan kecapi, ketika dia mengibaskan tangan di udara kecapi itu muncul dari ruang hampa dan langsung berada di depannya.
Dia memetik dengan cepat sekaligus kasar, mengibaskan tangannya membuat angin tajam dari serangan kecapi itu mengarah pada Xiao Rong.
Jiazhen Yan meledakkan api di tubuhnya dan menghalau serangan wanita itu mentah-mentah, dalam keadaan terbakar mulutnya menyeru lantang. "Musuhmu adalah aku, Nenek Tua!"
"Be-beraninya kau menyebutku nenek?!" Hantu Penyair melotot gemas, ingin sekali meremukkan otak anak itu bagaimana pun juga.
"Bagaimana pun ini adalah tugas kami untuk menyelamatkan gadis itu. Kami tak akan membiarkannya mati begitu saja di tanganmu," tukas Xue Zhan dengan pandangan lurus ke depan membuat mata kuning itu bersinar terang.
"Tenang, tampan dan juga berkharisma ... Kau adalah tipeku, pemuda tampan. Boleh kutahu namamu?"
__ADS_1
Tengkuk Xue Zhan sampai merinding mendengar pujian itu, Jiazhen Yan menertawainya diam-diam.
"Lihat temanku. Belum pernah dipuji oleh perempuan, sekalinya dipuji malah oleh hantu nenek-nenek. Kasihan sekali."
"Diam kau sialan," gerutu Xue Zhan. Wanita itu kembali berbicara sambil memainkan rambut panjangnya. Wajah itu menyimpan beribu teka-teki dan maksud. Tak terbaca isi pikiran wanita itu di mata Xue Zhan. Dia menelan ludah, menyadari mata itu begitu menakutkan untuk dipandang.
"Seharusnya Kaisar Li menyerahkan orang yang lebih cakap dari kalian ... Gadis itu sangat berharga. Tapi kalian saja tak akan sanggup untuk menyelamatkannya, sayang sekali."
Tangan Hantu Penyair terhenti, dia menatap tajam sekaligus melotot sembari berkata, "Kau mengasihaninya? Lalu siapa yang mengasihanimu?"
"Aku tidak butuh rasa kasihan," balas Xue Zhan mengepalkan tangannya.
Daun mati dari salah satu pohon jatuh perlahan dari dahannya, mendadak daun itu bergerak terombang-ambing bersamaan dengan hilangnya Hantu Penyair dari hadapannya.
"Meski kau tipeku aku tak akan segan-segan membunuhmu. Kau lebih indah jika dijadikan patung atau diawetkan. Matamu yang semerah darah itu ... Aku benar-benar ingin mencongkelnya dan memasukkannya ke kaca untuk kukagumi setiap hari, hihihi."
Tawa melengking yang nadanya begitu tinggi membuat telinga siapa pun yang mendengarnya akan berdenyut perih. Xue Zhan berniat mendekat pada Jiazhen Yan, tiba-tiba dia merasakan seperti sebuah benang tajam melilit lehernya.
Darah menetes dari kulit leher Xue Zhan, benang tajam itu bisa memotong lehernya kapan saja. Jika itu terjadi Xue Zhan akan benar-benar mati.
"Apanya yang bertarung bersama-sama? Belum apa pun kau sudah mati sebelum bertarung. Bagaimana? Aku akan memberimu kesempatan hidup jika kau menjadi pelayanku, tentu saja kau pasti akan menerimanya bukan?"
Hantu Penyair mengeratkan lilitan benang tajam dri belakang, berbisik di telinga Xue Zhan begitu halusnya. Jiazhen Yan makin kesal.
"Lepaskan bocah ingusan itu. Pernah dengar jangan pernah bermain-main dengan api tidak?!"
"Daripada mengkhawatirkannya lebih baik kau mengkhawatirkan dua temanmu yang harus berhadapan dengan teman terbaikku, si Pemakan Bangkai Manusia. Jika aku mungkin aku masih sedikit bermain-main dengan kalian. Tapi dengannya aku yakin mereka tidak akan selamat walau hanya setengah jam. Hihihi."
*
Xiao Rong berlari mengiringi langkah Xian Shen yang berlari paling depan, begitu mengkhawatirkan Nona Wen yang suaranya telah lenyap dari pendengaran. Mereka kini berada di ruang tengah tak menemukan satu pun jalan untuk masuk ke ruangan bawah tanah.
__ADS_1
"Bagaimana ini?"
Xiao Rong berjongkok, memusatkan kekuatannya dan perlahan benang-benang hitam keluar darinya. Menyebar cepat ke dinding dan langit-langit Menara Giok Hantu.
Mata Xiao Rong terpejam, dia berkata, "Berikan aku lima menit. Aku akan mencari jalan ke bawah sana."
Dengan penglihatan menggunakan kekuatan gelap, Xiao Rong bisa melihat apa pun yang dilalui benang-benang hitam miliknya. Namun tubuhnya akan berada dalam keadaan tak sadarkan diri sesaat.
Mendengar Xiao Rong tiba-tiba meninggalkannya sendirian di sana, pemuda itu mundur ke tempat di mana Xiao Rong duduk bersila memfokuskan konsentrasinya sambil memejamkan mata. Xiao Rong sama sekali tidak merespon. Membuat Xian Shen mulai khawatir.
Dia melihat kanan kiri, merasakan sesuatu akan datang.
Dari balik lorong tikungan sesuatu menapak pelan. Kemudian dari dinding lorong terdengar bunyi ketukan 3 kali dengan cepat.
Satu ketukan ...
Xian Shen merinding sebadan-badan, dia mengguncangkan tubuh Xiao Rong tapi percuma saja. Bulu kuduknya berdiri semua, napasnya naik turun cepat. Dia berusaha menyeret tubuh Xiao Rong karena mulai melihat bayangan tubuh manusia di ujung lorong.
Dua ketukan pelan, suara itu makin dekat bersama bunyi tapak kakinya.
"Ti-tidak, oi, kau harus kembali. Musuhnya tidak hanya satu-! Aku merasakan kekuatan yang begitu besar dan hawa pembunuh yang sangat pekat."
Bau bangkai tercium sudah, Xian Shen hampir muntah karena tidak pernah mencium bau sebusuk itu.
Tiga ketukan hingga lima ketuanya selanjutnya, Xian Shen melihat sebuah kapak besar yang biasanya digunakan untuk memotong daging binatang. Senjata itu memiliki duri tajam dan bergerigi.
"Di-dia datang, matilah aku. Siapa pun-"
Sekarang benar kata Xue Zhan. Bukan dia yang membasmi musuh, malah musuh yang akan membasminya.
Ketukan terakhir. Hantu Penggerogot sudah berada di ujung lorong dengan menenteng senjata, terlihat seringai amat menakutkan dari wajahnya disertai aroma busuk bangkai.
__ADS_1
"Makanan sudah datang."