
Setelah bertarung melawan Serigala Pembunuh dan berhasil mengalahkannya, Tang Yin dan Tang Yun bersama dengan penduduk desa yang lain berusaha untuk memperbaiki desa yang hancur akibat pertempuran tersebut. Mereka bekerja keras membersihkan reruntuhan dan memperbaiki bangunan yang rusak.
Sementara itu, lelaki sepuh yang dipercaya di desa tersebut mengambil inisiatif untuk mengamankan bawahan Serigala Pembunuh yang berhasil mereka tangkap. Dalam upaya untuk menjaga keamanan dan mencegah kemungkinan serangan balasan, lelaki sepuh memasung mereka dengan tali yang kuat.
Dia mendengarkan pendapat dan pandangan Tang Yin dan Tang Yun, serta melibatkan penduduk desa lainnya yang memiliki pemikiran yang beragam.
Setelah mencermati situasi secara menyeluruh, mereka menyadari bahwa ada dua pilihan utama yang harus dipertimbangkan. Pertama, mereka dapat menyerahkan bawahan Serigala Pembunuh kepada pihak berwajib dan membiarkan hukum berlaku pada mereka. Kedua, mereka dapat memberikan kesempatan kepada bawahan tersebut untuk memperbaiki diri. Terlepas dari semua perbuatan yang dilakukan adalah kesalahan murni Serigala Pembunuh yang kini telah tewas. Pengikutnya hanya menjalankan perintah laki-laki itu.
Tapi tetap saja ada yang tidak satu suara dan menginginkan keadilan dengan membunuh mereka semua.
Setelah desa berhasil dipulihkan sejauh mungkin, Tang Yin, Tang Yun, dan lelaki sepuh berkumpul untuk membahas nasib bawahan Serigala Pembunuh yang dipasung. Mereka memahami bahwa tindakan yang diambil terhadap mereka harus adil dan sesuai dengan kebijakan yang telah mereka sepakati.
Dalam beberapa jam setelah penyerangan terakhir, desa mulai diperbaiki di beberapa titik yang hancur. Sementara itu Xue Zhan membawa dua orang bawahan Serigala Pembunuh bersamanya ke dalam sebuah ruangan tertutup.
Bukan tanpa alasan dia mengejar Serigala Pembunuh, Xue Zhan memiliki dugaan kuat bahwa kelompok tersebut memimpin beberapa kelompok pembunuh lainnya dan melihat bahwa ketua mereka-si Serigala Pembunuh memiliki sebuah tato cahaya yang sama seperti orang-orang Taring Merah yang terdapat di belakang telinganya.
Dua orang duduk gemetar dengan seluruh tubuh diikat dengan tali. Mereka semakin gelisah ketika sosok dengan topeng putih di depan mengangkat sebuah kepala tanpa badan dan meletakkannya di atas meja tepat di sampingnya. sepasang mata putih pucat menatap melotot ke arah keduanya seakan-akan dipenuhi kemarahan, padahal Serigala Pembunuh itu telah tewas beberapa jam yang lalu.
Di tangan sosok yang kini menekan keduanya dengan hawa pembunuh.
"Mana yang lebih penting, kepala ini atau nyawa kalian?"
Pertanyaan berat itu keluar baru dua detik, namun mereka langsung menjawab tanpa keraguan.
"Nyawa kami!"
"Bagus."
Xue Zhan berjalan di atas lantai kayu yang berderit berisik, tapak kakinya semakin mendekat hingga dia berhenti di depan salah satu pria bawahan Serigala Pembunuh.
"Mana yang lebih penting, nyawamu atau sekutumu?"
Mulutnya terbungkam.
"Di saat-saat seperti ini apa kau melihat mereka akan datang dan menyelamatkanmu?"
Mereka berdua membisu.
"Kau hanyalah bagian kecil. Nyawamu tidaklah sepenting itu. Kau takut ketika kau memberitahu soal mereka, mereka akan membunuhmu?" suaranya terjeda. "Kau masih punya kesempatan untuk kabur ke tempat terpencil dan memulai semuanya dari nol."
Xue Zhan memberi penekanan. "Beritahu aku soal mereka."
"Tu-tuan, apa yang anda maksud? Mereka? Kami hanyalah bawahan Serigala Pembunuh! Ketua kami sudah tiada dan sebelumnya kami juga sudah memberitahu semua informasi tentang kelompok ini--"
Xue Zhan membalikkan kepala Serigala Pembunuh menghadap belakang, memperlihatkan tato cahaya yang bahkan masih bersinar saat pemiliknya telah meninggal.
"Ini apa?"
Keduanya memikirkan alasan dengan keras, keringat dingin bercucuran di seluruh tubuh.
Tak pernah menyangka pemuda itu mengendus aroma bangkai meskipun mereka telah menguburkannya ke tanah dalam-dalam.
"Itu hanyalah tato biasa yang digunakan pembunuh ataupun perampok. Tidak ada yang istimewa..."
__ADS_1
"Mana yang lebih penting, nyawamu atau sekutumu?" Xue Zhan akhirnya kembali mengulangi pertanyaannya dan langsung memojokkan keduanya.
"Pikirkan baik-baik jawabanmu. Kau masih bisa selamat dari mereka, tapi tidak dengan musuh yang ada di depanmu sekarang."
Seketika mereka merinding.
Xue Zhan menarik pedang, pria itu mengangkat wajah buru-buru dengan wajah pucat pasi.
"Tu-tunggu!"
Mereka saling menatap untuk sejenak hingga akhirnya salah seorang mengeluarkan suara.
"Kau benar-benar akan melepaskan kami?"
"Aku tidak pernah melanggar perkataanku sendiri."
Jawaban itu sedikit membuat keduanya percaya, "tapi bagaimana dengan kami? Mereka akan memburu kami sehabis ini."
"Aku akan menyebarkan berita bahwa Serigala Pembunuh dan antek-antek dibunuh. Kalian bisa pergi dengan bebas, tapi ingat jika kita kalian membuat kekacauan aku akan datang untuk membunuh kalian."
Terjadi keheningan sebelum akhirnya jawaban yang diinginkannya keluar.
"Kami mengalami bangkrut selama beberapa tahun belakangan, karena harus berurusan dengan kelompok pembunuh lain dan terus diburu oleh pendekar aliran putih. Kami akhirnya mencari perlindungan dan jaminan, Taring Merah menawarkannya untuk kami."
Temannya memotong cepat,
"Aku tidak begitu setuju dengan keputusan Ketua. Taring Merah adalah tingkat lain dari kejahatan, tapi dia tidak mau mendengarkan dan menerima kekuatan dari Cahaya Pertama. Tapi semua sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi bubur."
"Informasi dan lokasi pusaka-pusaka berharga. Serigala Pembunuh memiliki koneksi besar di Kekaisaran Feng dan bisa dibilang dia bandar informasi benda berharga."
Tak heran, 100 Pusaka Keajaiban Dunia merupakan pusaka yang sangat berharga dan memancarkan kekuatan mistis. Setiap pusaka memiliki kekuatan unik yang dapat memberikan pengaruh yang luar biasa bagi siapa pun yang menguasainya. Oleh karena itu, kelompok penjahat seperti Taring Merah sangat menginginkan 100 Pusaka Keajaiban Dunia tersebut untuk sesuatu yang lebih besar dari itu.
Perebutan dan perselisihan untuk mendapatkan 100 Pusaka Keajaiban Dunia menjadi sumber konflik dan pertumpahan darah yang melibatkan kelompok-kelompok penjahat tersebut. kelompok penjahat saling bersaing dengan gencar untuk mengumpulkan seluruh pusaka, dan tak segan menggunakan kekerasan serta manipulasi untuk mencapai tujuan mereka.
Terlihat dari wajah dua bawahan tersebut, mereka melihat jelas konflik yang terjadi saat mereka terlibat dengan perebutan pusaka berharga. Perselisihan tersebut mengakibatkan pertumpahan darah di berbagai tempat di seluruh dunia. Pemilik pusaka atau kelompok yang berusaha melindungi pusaka dari serbuan mereka menjadi target utama. Banyak aksi kekerasan yang dilakukan, termasuk serangan terhadap markas, penculikan, pembunuhan, dan pengkhianatan di antara anggota kelompok. Beberapa teman akrab mereka tewas dan pemimpin mereka tidak peduli, selain mementingkan keuntungan bagi dirinya sendiri.
"Mereka memang mengincar pusaka itu," gumam Xue Zhan sembari mencengkram pedangnya. Lagi-lagi langkahnya semakin tertinggal.
"Berapa banyak pusaka yang dicarinya?"
"Aku tidak ingat-"
Xue Zhan mengangkat pedang, mata senjata itu langsung bertemu kulit lehernya yang tipis. Pria itu memundurkan wajah refleks sambil menelan ludah.
"Sa-sangat banyak, Tuanku."
"Seberapa banyak?"
"Aku benar-benar tidak tahu tapi dari informasi yang kudapat barang-barang itu adalah bagian dari 100 Pusaka Keajaiban Dunia."
Pedang di tangannya perlahan turun, Xue Zhan berpikir panjang. "Apa Batu Elemen Penguasa Bumi juga bagian dari 100 Pusaka Keajaiban Dunia?"
"Sepertinya iya."
__ADS_1
Xue Zhan benar-benar tahu tujuan mereka sekarang, sudah jelas mereka menginginkan seluruh pusaka itu. pusaka matahari bukanlah kekuatan biasa, dia membutuhkan sangat banyak kekuatan lain untuk dibangkitkan dan 100 Pusaka Keajaiban Dunia adalah jawabannya.
"Ada yang bilang ..."
Temannya yang satu lagi mengeluarkan suara dan sedikit tertahan.
"Ssshhtt!" pria di sebelahnya menyuruhnya diam. Xue Zhan berjalan ke hadapannya lalu berkata, "lanjutkan."
"Hanya dengan dua pusaka Batu Elemen mereka bisa membangkitkan sesuatu. Yang disebut sebagai Kebangkitan Pertama."
"Ada berapa tahap untuk membangkitkannya?"
"Tiga kalau aku tidak salah-"
"Cukup! Kau terlalu jauh!" Pria itu menghardik keras. Xue Zhan mengarahkan tatapannya ke arah pria itu. Sementara yang tadi berbicara kembali bersuara.
"Kau hanya ingin selamat sendiri, sialan! Jika mereka mencapai tujuan dan sesuatu yang buruk benar-benar terjadi, kita juga mungkin akan mati! Percuma saja kau selamat hari ini, ke depannya mereka menggunakan kekuatan besar untuk menghabisi kita semua!"
Seruan memaki itu seketika membuat lawan bicaranya terdiam begitu pun Xue Zhan. Dalam beberapa saat Xue Zhan memasukkan kembali pedang ke dalam tempat semula dan berbicara. "Kau tahu di mana markas mereka?"
"Markas baru aku tidak tahu. Namun markas lama berada di bagian Utara Dongyang. Di terowongan bawah tanah yang berada di sepanjang aliran sungai terbesar di tempat itu. Ikuti saja, kau akan bertemu dengan tempat itu."
Markas Taring Merah di Dongyang adalah sebuah tempat yang penuh misteri dan ancaman. Terletak di tengah hutan yang lebat dan dikelilingi oleh air terjun, markas ini dirancang secara strategis untuk menjaga keamanan dan kerahasiaannya. Pendekar tingkat tinggi yang terlatih dengan baik menjadi penjaga utama markas ini, menambah tingkat bahaya bagi siapa pun yang berani mendekat.
Ketika seseorang memasuki wilayah markas Taring Merah, mereka akan dihadapkan pada medan yang penuh dengan rintangan dan jebakan yang dirancang dengan licik. Pohon-pohon raksasa dan tumbuhan liar yang menjulang tinggi juga bisa menjadi jebakan maut, membuat tempat itu sulit untuk dimasuki.
Ada beberapa rumor yang mengatakan bahwa erdapat jalan setapak yang berkelok-kelok, dipenuhi dengan perangkap jebakan yang dapat menyebabkan cedera serius atau bahkan kematian.
"Dongyang?" Pemuda itu mengulang bimbang. Tujuannya sebenarnya adalah mengunjungi Teluk Ying dan bertemu seorang ahli informasi. Xue Zhan mulai memikirkan langkah apa yang selanjutnya dia ambil. Melihat Taring Merah sudah bergerak secepat ini dia berniat pergi langsung ke Dongyang sebelum terlambat. Memang ada beberapa informasi yang perlu dicarinya dan si pemilik informasi mungkin memiliki jawaban untuk itu. Dia memutuskan untuk pergi ke Dongyang dan baru akan mengunjungi Teluk Ying.
Setelah memutuskannya Xue Zhan tampaknya terburu-buru pergi ke sana, gerakannya terhenti ketika kembali terdengar yang sedikit menekan yang berasal dari pria yang sejak tadi menentangnya.
"Hati-hatilah, markas lama masih dihuni sejumlah anggota Taring Merah, mereka masih beroperasi di sana. Lain kali aku mendengar kabarmu, kuharap itu bukan kabar kematian."
Bukan tanpa alasan dia memperingatinya langsung, kehadiran pendekar tingkat tinggi yang menjadi penjaga markas membuat situasi semakin berbahaya. Mereka adalah pendekar yang sangat terlatih dalam seni bela diri dan memiliki keahlian luar biasa dalam pertarungan. Kecepatan, ketepatan, dan kekuatan mereka membuat mereka musuh yang tangguh dan mematikan. Meskipun markas lama, Setiap sudut markas dijaga dengan ketat oleh para pendekar ini, siap untuk melumpuhkan siapa pun yang berusaha memasuki atau mengancam keamanan markas.
Keduanya terkejut karena Xue Zhan mengambil pedang dan menebas mereka secara cepat. Keduanya memaku sambil menahan napas, perlahan-lahan melihat tali pengikat terlepas dari tubuh mereka.
Mereka hampir tidak percaya benar-benar dilepaskan. Selama ini keduanya tidak bisa mempercayai bahwa masih ada seseorang seperti Xue Zhan, terutama setelah bertahun-tahun hidup dalam lingkungan yang penuh dengan kebohongan dan pengkhianatan.
"Aku sudah cukup dengan informasi dari kalian, sisanya akan kutangani sendiri."
Xue Zhan menatap mereka dengan tegas, kebebasan yang diberikannya bukanlah hadiah tanpa syarat. Dia memperingatkan mereka untuk tidak sekali-kali melanggar kepercayaan yang telah diberikan. Dan dia tidak akan ragu-ragu untuk menghadapi mereka jika mereka melanggar perjanjian ini.
"Jalani hidup kalian dengan baik," ucap Xue Zhan dengan suara tegas. "Pergilah dari sini bersama orang-orang kalian dan jangan pernah tunjukkan diri lagi."
Bawahan Serigala Pembunuh itu terdiam sejenak, mereka saling pandang, mencermati wajah Xue Zhan untuk mencari tanda-tanda kebohongan, sambil mewaspadai mereka kembali dikejutkan oleh tebasan cepat seperti sebelumnya, tetapi tak ada yang ditemukan.
Terdengar suara keduanya sebelum Xue Zhan angkat kaki dari tempat tersebut.
"Terima kasih atas kemurahan hatimu tuan."
**
__ADS_1