
Semua peserta memiliki nomor urut masing-masing yang akan menjadi identitas selama mengikuti ujian. Saat nama Xue Zhan dipanggil, dia mendapatkan angka yang cukup unik, 666. Jiazhen Yan 667. Setiap dua puluh orang dipanggil ke ruangan tertutup, belum ada yang menjelaskan apa yang akan mereka lakukan, Xue Zhan dan Jiazhen Yan berjalan beriringan. Melihat kedua puluh orang yang berjalan sebaris dengan mereka juga memasang wajah gugup.
Namun masing-masing dari peserta itu tampak siap dengan kekuatan mereka. Dua puluh orang masuk ke sebuah ruangan seperti arena yang terdiri dari dua lantai. Setiap lantai diawasi oleh dua pendekar menengah yang akan menjadi pengarah.
Hanya bunyi tapak kaki terdengar menggema di atas lantai, ruangan itu sunyi. Terdengar perintah dari salah satu pengawas, "Nomor peserta 656-666 akan tetap berada di lantai ini, selebihnya pergi ke lantai atas ditemani rekan saya!"
Jiazhen Yan dan Xue Zhan saling bertatapan, mereka terpisah. Jiazhen Yan mendecak sambil berlalu mengikut rombongan sementara Xue Zhan tetap di tempatnya bersama sepuluh orang.
Satu pengawas di depan berdiri tegap dengan kedua tangan terkunci di belakang. Raut wajahnya terlihat kasar, tampak jelas dia tidak begitu suka berbasa-basi apalagi beromong manis. Ketika dia membuka suara, hampir setengah peserta terlonjak karena suara besarnya yang menggelegar membuat kuping berdenging.
"Kalian peserta Ujian Pendekar Menengah apakah merasa sudah siap dengan segala rintangan serta musuh yang akan kalian hadapi?!"
"Siap, Senior."
"Yakin?!" teriaknya sembari mengelilingi kesepuluh peserta dengan aura mengintimidasi, dia berhenti di satu titik di mana seorang gadis pendiam menunduk tanpa menjawab perkataannya.
"Jawab!"
"Si-siap Senior!"
"Di babak penyisihan pertama ini semua orang adalah musuh kalian, tidak ada teman, tidak ada rekan. Kita saling berkompetisi bukan menjalin silaturahmi. Karena itu apa pun yang terjadi jangan memberi ampun. Buang jauh-jauh simpati kalian, bayangkan saat ini kalian sedang dalam sebuah misi penting dalam menyelamatkan kehidupan orang banyak dan harus berhadapan dengan satu musuh."
__ADS_1
Tapak kakinya menjadi satu-satunya suara di tempat itu, hingga derapnya berhenti di depan seorang peserta. Matanya melotot beringas, dia mendekatkan wajah sambil berseru lantang, "Jadilah binatang yang egois, yang mencabik-cabik mangsanya tanpa ampun!"
Xue Zhan memundurkan wajah, dia dapat melihat dekat sorot mata pemburu yang membuatnya begitu tertekan hanya dengan tatap mata. Lelaki itu belum memperkenalkan diri, tapi dia orang yang sangat suram sekaligus kejam.
"Baik ..." Napas Xue Zhan tersendat hingga hanya terdengar suaranya seperti bisikan kecil, dia menelan ludah hingga akhirnya lelaki itu menarik diri dan kembali ke posisi awalnya di depan mereka semua.
"Namaku Tang Quan, aku akan menjelaskan ketentuan dan persyaratan di babak penyisihan pertama ini. Pastikan kalian mendengar baik-baik karena aku tidak akan mengulangi untuk kedua kali! Paham?!"
Serentak sepuluh peserta menjawab.
Babak penyisihan pertama memiliki aturan yang sederhana tapi juga sulit. Setiap sepuluh peserta dalam satu arena akan saling berduel untuk memperebutkan poin. Syarat untuk lolos babak penyisihan pertama adalah mencapai 30 poin, satu kali menang akan mendapatkan 10 poin yang artinya harus menang duel sebanyak 3 kali jika ingin lolos.
Semua peserta yang kalah akan bertarung kembali dengan yang kalah dari peserta dari lantai lain, lawan akan dipilih berdasarkan jumlah poin mereka. Itu artinya dua puluh orang baik dari lantai satu maupun dua masing-masing memiliki kesempatan untuk saling bertarung. Lima orang dengan poin terendah dinyatakan gugur tanpa syarat.
Tang Quan melemparkan pandangan ke kanan kiri, merasa semua peserta sudah paham dengan apa yang disampaikannya.
*
Yong Guang menarik tangan dari atas ke bawah, menjadi pertanda bahwa pertarungan pertama telah dimulai di arena lantai dua.
Jiazhen Yan melawan Chyou Heng, dua peserta dipilih secara acak.
__ADS_1
Jiazhen Yan tidak bersiap-siap sama sekali, berbeda dengan Chyou Heng yang tingginya hanya sebahu Jiazhen Yan. Kelihatan heboh di atas arena, memamerkan kekuatannya yang memang bisa bilang lumayan. Cahaya hijau terang muncul di kedua tapak tangannya, pemuda itu memasang kuda-kuda bertarung, memfokuskan perhatiannya ke depan. Kelihatannya akan menjadi penyerang pertama yang maju.
Mulutnya begitu gatal ingin mengusik, "Jadi kau anak pewaris kekuatan api murni itu? Cih, aku sedikit iri dengan kekuatanmu. Tapi bukan berarti kau bisa menang mudah dariku!"
Chyou Heng terkenal dengan sifat iri dengki dan suka mengoceh walau tubuhnya pendek dari murid kebanyakan. Sehingga banyak yang mengejeknya kurang gizi, tapi pemuda itu menunjukkan kebolehannya dengan memperlihatkan satu jenis kekuatan terbaik yang dikuasainya. Kekuatan elemen air, Tinju Naga.
"Aku akan mengalahkanmu dalam waktu semenit!"
Tantang Chyou Heng membuat para gadis di lantai kedua terpukau dengan kata-kata kerennya, tentu saja dia sedang membayangkan tatapan memuja dari para gadis itu melihat sisi gagah beraninya. Chyou Heng membenarkan rambut cepaknya yang berantakan tertiup angin, tak habis-habisnya mengoceh seperti burung perkutut.
"Tidak, semenit terlalu lama. Tiga puluh detik! Lihatlah kekuatan asli klan Chyou! Pastikan kau tidak melewatkannya!" teriaknya menarik tangan membentuk kepalan tinju dengan kekuatan penuh tanpa berpikir dua kali, Chyou Heng seperti yang diduga maju lebih dulu ke arah Jiazhen Yan.
Delapan peserta menyaksikan kehebatan serangan yang terjadi di tengah arena. Pengawas yang bernama Yong Guang terkesima melihat kekuatan besar yang baru saja keluar di tengah arena. Jiazhen Yan pasti tak mampu menahan serangan sebesar itu sepenuhnya, paling tidak dia menerima luka.
Kepulan asap menipis, lalu tiba-tiba membludak oleh cahaya merah di tengah-tengah arena seperti peledak. Mementalkan tubuh Chyou Heng hingga punggungnya tertabrak dinding besi, memuntahkan darah dengan mata melotot seram. Melihat monster yang tiba-tiba saja menyerang, padahal jelas-jelas Jiazhen Yan tidak bergerak.
Dalam waktu lima belas detik sejak pertarungan dimulai, Jiazhen Yan menumbangkan Chyou Heng dalam serangan satu detik. Membuat delapan peserta bergidik ngeri membayangkan mereka akan menjadi lawan pemuda itu berikutnya.
Sosok Jiazhen Yan keluar dari kobaran dengan sebelah tangan terangkat penuh oleh api merah. "Siapa lagi yang mau menjadi lawanku?" ucapnya dingin, terlihat berbeda dari dirinya biasanya.
Yong Guang menarik senyum simpul.
__ADS_1
'Murid ini bukan hanya kuat tetapi juga pintar membaca situasi, dia tahu babak ini adalah babak yang bersifat individual dan langsung menekan peserta lainnya agar tidak ada yang berani melawannya.'