Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 37 - Cahaya Kelima


__ADS_3

Darah berdesir cepat di sekujur tubuhnya, Xue Zhan hanya bisa melihat bayangan sekelebat di mana Guru, teman dan pengawal kepulangan mereka berdiri di depannya. Dia menyerang ketiga orang itu, hingga akhirnya Xiao Rong berhasil mengenai tengkuk leher Xue Zhan dan membuatnya jatuh pingsan.


Malam harinya mereka berempat memilih berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalanan esok pagi dengan Xue Zhan yang masih belum sadarkan diri.


Api unggun menyala di tengah-tengah keheningan yang melanda sejak dua jam yang lalu. Baik Xiao Rong, Kang Jian bahkan Jiazhen Yan tidak tahu ingin membicarakan apa. Di saat seperti ini biasanya Xue Zhan yang berbicara banyak dan membuat obrolan mereka menyambung satu sama lain. Tapi tak terlihat tanda-tanda pemuda itu akan bangun.


Hanya bunyi kayu yang dimakan api terdengar, Kang Jian menarik napas dalam. Kepalanya terlalu keras berpikir sejak tadi, membuatnya sedikit pusing dan memilih untuk merebahkan diri. Xiao Rong juga tidur tak berapa lama kemudian. Menyisakan Kang Jian dan Jiazhen Yan yang masih terjaga.


"Apa tidak apa-apa dengan sesuatu yang dibawa Xue Zhan dalam dirinya? Dosa itu ... Tidak bisakah dimusnahkan?"


"Bisa," jawab Kang Jian, untuk sesaat Jiazhen Yan menoleh kepadanya untuk menanyakan caranya, tapi terlanjur, lelaki itu menjawab lebih dulu.


"Dengan membunuh pemiliknya." Hening menjeda tiga detik, Kang Jian kembali berbicara sesaat dirinya rebah menyamping, menatap Jiazhen Yan yang juga menatap ke arahnya.


"Jika pun ada cara untuk membunuh Dosa itu, Xue Zhan tetap akan mati. Dosa dan Xue Zhan adalah satu, mereka akan mati jika salah satunya dibunuh."


Tanpa sadar tangan Jiazhen Yan terkepal. Memalingkan muka, "Cih, bocah payah itu, sudah terlahir sebagai iblis mana punya mahluk jadi-jadian di dalam tubuhnya, kurang sial apa dia?" gerutunya.


Kang Jian tertawa paksa, mendadak dia terbangun ketika merasakan sebuah kekuatan ganjil di hutan tersebut. Langsung berada persis di dekat mereka memasang api unggun. Jiazhen Yan yang menyadari hal itu segera mematikan api unggun, musuh akan lebih mudah mencari mereka dengan satu-satunya cahaya api di tengah hutan itu.


Xiao Rong juga terbangun, "Percuma, sepertinya dia tahu kita ada di sini."


Ucapannya diiringi deru badai angin yang tiba-tiba melintas menggoyangkan batang pohon dan dedaunan, menambah kesan mengerikan di tengah hutan gelap gulita itu.


Sampai seseorang muncul persis di hadapan mereka.

__ADS_1


Sejauh yang Jiazhen Yan tahu, Kang Jian tidak pernah sekaget itu saat melihat musuh, bahkan musuh yang sepuluh kali lebih kuat darinya pun. Kang Jian lama tak bereaksi, tapi jelas terlihat di raut wajahnya kini bahwa lelaki itu masih belum pulih dari kagetnya.


Sosok bertopeng putih serupa cahaya yang disilang itu berjalan pelan-seolah dia sedang menapak di atas udara, kekuatannya mungkin bisa diimbangi dengan kekuatan dua orang Pedang Suci Kekaisaran Diqiu.


Dia adalah Para Cahaya dari Taring Merah, lebih tepatnya, Cahaya Kelima.


Namun bukan itu yang membuat lelaki berjulukan Petir Merah itu tidak bisa berkutik.


Namun jubah dengan lambang klan Kang yang menempel di tubuhnya saat ini, membuatnya begitu marah berkali-kali lipat, dengan tidak tahu dirinya orang itu muncul di hadapan Kang Jian setelah sepuluh tahun. Sejak perang berkecamuk dan menewaskan ratusan ribu jiwa tanpa ampun. Bukan hanya prajurit, bahkan kedua orang tua dan pengawal Klan Kang sendiri. Mati tanpa sisa dan hanya menyisakan dirinya.


Dan satu musuh yang menjadi pemicu perang dan matinya seluruh orang yang dia sayang.


Kang Ying. Lambang Ying Yang di jubahnya berkibar. Warna satu sisi yang seharusnya hitam diubah menjadi merah darah, menjadi pertanda bahwa dirinya lah dalang di balik tewasnya keluarga Kang Jian.


"Kau masih mengingatku? Tch, sebuah kehormatan. Kenapa memangnya kalau aku masih hidup? Kau takut?"


Mana mungkin Kang Jian takut dengan manusia itu, dia telah mencarinya sepuluh tahun dan tidak pernah bertemu. Dan sekarang, orang itu menunjukkan diri dengan suka rela. Kang Jian telah siap dengan pedangnya.


"Aku mencarimu seperti orang gila, sekarang sudah jelas apa yang akan kulakukan saat bertemu denganmu-"


"Tampaknya kita akan bertarung kembali seperti sepuluh tahun terakhir," ujarnya yang menjadi peringatan besar bagi Kang Jian. Dan juga seluruh Kekaisaran. Perang terdahsyat yang terjadi sepuluh tahun lalu akan kembali terjadi? Kang Jian tidak bisa menganggap itu sebagai sesuatu yang remeh.


"Tapi sekarang bukan saatnya."


"Apa lagi yang ingin kalian hancurkan?!"

__ADS_1


Kang Jian melangkah satu tapak, matanya melotot lebar dengan murka, tak bisa dibiarkannya lagi perang yang membunuh banyak anak-anak, orang dewasa dan bahkan lansia itu terjadi. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang lama untuk Kekaisaran pulih dari segala kerusakan dan kerugian, termasuk korban jiwa yang berjatuhan.


"Kau tampak begitu trauma ... Apa karena aku membunuh gadis itu tepat di depan matamu sendiri, hingga kau menyimpan dendam yang amat besar dan sepuluh tahun ini terus mencariku?" Suaranya dimainkan menjadi sangat menjengkelkan hingga Kang Jian merasakan telinganya seperti terbakar.


"Oh ... Atau karena gadis itu juga kau memutuskan untuk tidak menikah dan menutup hatimu rapat-rapat? Sungguh malang, aku menghancurkan hatimu sampai remuk ke dalam-dalamnya. Aku memang jahat," tawa di balik topeng itu dapat didengar Kang Jian. Dia bahkan bisa membayangkan wajah itu sedang mengoloknya.


Namun Kang Jian tahu, kekuatannya saat ini belum tentu mampu menandingi lelaki itu. Dia masih mempunyai Jiazhen Yan, Xiao Rong dan Xue Zhan. Bertarung dengan Kang Yin mungkin akan mengancam nyawa ketiga remaja itu. Kang Jian mengubur dalam-dalam keinginan untuk membunuh.


Akan ada waktunya di mana dia bisa membunuh Kang Ying, dengan tangannya sendiri. Sampai saat itu Kang Jian bersumpah dia akan terus hidup untuk membunuh lelaki itu.


Lelaki yang telah merenggut segala hal yang dia miliki. Keluarga, kekasih, dan rumah.


Sosok itu sempat mengintip ke belakang Kang Jian di mana seorang pemuda lainnya masih tidak sadarkan diri.


"Anak yang begitu berharga ... Dia sangat terang benderang, sama seperti Cahaya. Aku akan mengambilnya suatu saat nanti. Hingga waktu tiba, perang mungkin akan terjadi. Apakah kau siap merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya?"


Kang Ying berjalan mendekat. Xiao Rong dan Jiazhen Yan merapat membuat formasi pertahanan.


Lelaki itu kian mendekat dan mendekat, hingga tawanya mengalun mengerikan di gendang telinga.


"Sampai jumpa kembali, adikku tersayang."


Lalu langkah itu berhenti dan wujudnya memudar menjadi serpihan cahaya yang terbang di bawa angin.


Malam mengerikan itu berlalu. Setelah itu, tidak terlihat lagi ketenangan yang biasanya terlihat di wajah Kang Jian.

__ADS_1


__ADS_2