
Pusaran angin berderu kencang di dalam sebuah goa raksasa yang ditempati oleh ribuan jenis siluman burung dan serangga. Rintik air terjun panas mengeluarkan energi kekuatan murni yang berbahaya, uap kabut putih tebal mengelilingi seekor siluman burung dengan bulu yang indah.
Mata merah Phoenix tak henti-hentinya mengamati situasi di depannya, dengan kekuatan yang kembali penuh burung phoenix itu menjadi tak tertandingi. Dia mengibaskan sayap, jarum-jarum raksasa tanpa wujud berterbangan kencang membelah udara dan menembus jantung enam siluman laba-laba sekaligus. Dua belas lainnya terpental ke dinding tanpa ampun, mereka masih dapat bergerak dan menyerang kawanan burung lainnya di dalam goa.
Akhir-akhir bencana di luar Air Terjun Panas semakin intens, sering terjadi gempa besar dan susulan yang mengakibatkan longsor. Hal itu menyebabkan beberapa siluman kehilangan tempat tinggal dan mulai merebut wilayah kekuasaan lain. Termasuk siluman laba-laba ini. Mereka memiliki enam kaki dan tujuh mata, setiap helai bulu kasar yang tumbuh di tubuh mereka sama tajamnya seperti pisau. Cairan dari mulut mereka jauh lebih berbahaya dari siluman ular.
Untuk saat ini siluman laba-laba termasuk penguasa di luar, mereka akhirnya memaksa tinggal di dalam goa tersebut dengan cara bertarung dan menjadi penguasa.
Ribuan burung terbang berputar di atas kepala sembari mengeluarkan suara melengking. Beberapa yang berusaha menghalangi laba-laba raksasa dari membunuh kawanan burung langsung tewas. Siluman laba-laba memiliki kemampuan unik di mana bulu tajam mereka dapat terbang dan menusuk lawannya meskipun dalam ketinggian seratus meter.
Kekacauan itu membuat seorang pemuda yang telah menghabiskan waktu dua tahun lebih di dalam goa Air Terjun Panas keluar dari sarangnya.
Bulu matanya bergerak, telinganya perlahan-lahan mendengar pergerakan tersebut. Saat kelopak matanya terbuka, cahaya merah muncul di tengah kegelapan goa tempat tinggal Cicak Loreng yang saat itu hanya dihuni oleh dirinya sendiri. Dia bergerak dalam kegelapan, mata tersebut mengintai para laba-laba di luar goa yang akan menghancurkan Air Terjun Panas.
Raja Laba-laba memakan buas burung raksasa berwarna hijau yang memang tidak memiliki kemampuan terbang seperti yang lainnya. Di dalam goa, mereka sama sekali tidak berbahaya.
Langkah pemuda itu semakin cepat hingga akhirnya dia muncul di balik air terjun panas.
Tatapan mengintimidasi itu membuat para laba-laba berhenti sejenak, seakan mencari tahu apakah sosok itu adalah sang penguasa wilayah. Dia memiliki energi menyeramkan yang amat besar, aura di sekitar tubuhnya seperti perlambangan Yin dan Yang. Energi baik atau jahat keduanya menyatu di dalam tubuh yang dapat menampung kekuatan yang begitu besar.
__ADS_1
Fenghuang hendak membunuh Raja Laba-laba, tindakannya terhenti saat menyadari pemuda itu telah bangun dari tidur panjangnya. Terakhir kali melihat pemuda itu dia tidak setinggi sekarang, otot-otot terlihat di tubuhnya, wajahnya bertambah semakin tampan untuk ukuran seorang manusia. Sesaat Fenghuang terdiam menyadari perubahan kekuatan yang amatlah besar itu.
"Apakah mungkin seorang manusia bisa mendapatkan kekuatan sebesar ini hanya dalam jangka waktu tiga tahun?" batinnya, bahkan dirinya juga merasakan aura menyeramkan yang sempat mengganggu kawanan laba-laba. Mata merah itu tajam, membuat beberapa laba-laba lemah mundur melarikan diri dari Air Terjun Panas.
Dia terlalu acuh untuk memeriksa sekitar sampai tak menyadari bahwa Cicak Loreng telah menghilang dari dalam goa tersebut, hanya menyisakan anak-anaknya yang baru berumur 10 tahun ke bawah. Lantas Fenghuang diam tak bergeming karena begitu terguncang.
"Laba-laba busuk ini, tidak bisa melihatku bermeditasi sebentar," umpatnya dengan intonasi suara yang lebih berat. Dia melangkah di atas air memunculkan lingkaran gelombang kecil.
Xue Zhan berlari mengejar Raja Laba-laba yang berada di tengah goa. Langkah anginnya bertambah cepat dari waktu ke waktu, Fenghuang pernah melihat gerakan tersebut beberapa tahun yang lalu.
"Gerakan itu ..." Mata burung itu mencoba mengenalinya, Xue Zhan bergerak sangat cepat dan intens, namun pola gerakan itu seharusnya tetap sama.
" ... Langkah Memintas Awan milik Perguruan Lembah Abadi?"
Langkah Memintas Awan itu diturunkan ke murid-murid Lembah Abadi yang harus memenuhi syarat tertentu. Tak sembarangan orang dapat menguasai gerakan tersebut karena tingkatannya yang terbilang tinggi.
Xue Zhan mendapatkan kitab Langkah Memintas Awan dari peti mati yang ditemukan di dalam goa. Membutuhkan waktu satu tahun lebih untuk menguasainya sampai Xue Zhan dapat menggunakannya dengan lancar.
Raja Laba-laba berada di depan matanya dikelilingi oleh sembilan laba-laba lain, Xue Zhan melompat tinggi dan melemparkan puluhan senjata rahasia yang terbuat dari tulang tajam milik Cicak Loreng yang dibunuhnya.
__ADS_1
Benda itu menancap di mata para laba-laba, mengakibatkan kegaduhan yang lebih besar karena laba-laba tersebut buta dan menabrak satu sama lainnya. Dalam posisi di atas udara Xue Zhan mengeluarkan satu jurus.
"Cakar Phoenix Petir."
Lima bayangan phoenix hijau muncul di balik punggungnya, mereka turun menyerbu para laba-laba, menyerang dari segala sisi dengan kecepatan seperti kilat. Satu per satu laba-laba mati, bahkan ada yang terpotong menjadi beberapa bagian. Xue Zhan mendarat di atas tanah, berhadapan satu lawan satu dengan Raja Laba-laba yang kelihatannya marah melihat kawanannya terbunuh begitu saja.
"Di sini bukan tempatmu, laba-laba jelek."
Mulut berlendir penuh racun terbuka disertai suara menggema, tepat setelah Raja Laba-laba berjalan cepat ke arahnya hendak menyerang. Xue Zhan menyilangkan kedua tangan di depan dada setengah berjongkok.
"Gerakan Keenam, Tikus Tanah Penghancur!"
Raja Laba-laba yang sedang mengincar Xue Zhan kehilangan keseimbangan oleh karena guncangan di bawah tanah. Sesuatu bergerak tepat di bawah kakinya dan tiba-tiba muncul.
Xue Zhan tiba-tiba keluar dari bawah tanah padahal barusan berdiri di depannya. Sang Raja Laba-laba terkena pukulan telak di rahangnya dan terpental menghantam batu runcing. Namun dia masih dapat berdiri.
Laba-laba hitam raksasa itu marah luar biasa, dia memanggil laba-laba lainnya yang langsung menuruti Sang Raja untuk menghancurkan Xue Zhan. Laba-laba yang tadinya mengacaukan seisi goa dan membunuh kawanan burung berbalik menyerang Xue Zhan secara bersamaan.
Bisa dibilang ada sekitar empat puluh laba-laba berukuran paling kecil seperti rusa sedang mengincar ke arahnya. Yang paling besar bahkan bisa mencapai ukuran satu rumah, yaitu rajanya sendiri. Xue Zhan mundur sejenak, berlari ke sebuah pilar batu dikejar-kejar para siluman tersebut.
__ADS_1
"Kita lihat apakah dia sanggup mengalahkan semua laba-laba itu sendirian," ujar Fenghuang kecil, merasa sedikit terhibur menyaksikan pertarungan di depannya.
**