
"Sialan!"
Jiazhen Yan menendang kasar pintu besi yang menghalangi jalan, semua titik membawa mereka ke jalan buntu dan hanya ini satu-satunya yang mengantarkan mereka ke satu pintu setelah berjalan empat jam di dalam labirin bawah tanah. Namun sayangnya tempat paling ujung itu terkunci, mencoba berbagai cara pun tidak ada yang berhasil. Hanya berhasil membuat Jiazhen Yan patah hati.
"Pakai jurus Matahari Membelah Pedangmu itu saja," suruh Xue Zhan ikutan memanas. Bisa saja Hantu Penggerogot mengejar mereka dan jika itu terjadi tak ada tempat untuk melarikan diri lagi. Mereka sudah pasti dihabisi.
"Mana ada jurus Matahari Membelah Pedang, kau mengolok jurus klanku?"
"Makanya pakai otakmu yang sebesar biji kedelai itu untuk berpikir, bodoh! Hanya itu satu-satunya yang bisa membuka pintu ini-" suara Xue Zhan disela.
"Tutup mulutmu, kau lebih bodoh dariku. Tadi saat melawan Hantu Penyair kau menyebutku Leluhur Para Masalah, bukan? Busuk sekali, yang sering membawa masalah di sini adalah kau! Lihat, kau membuat Hantu Penggerogot itu marah dan akan mengejar kita hingga ke kerak neraka, belut berotak udang!"
Xian Shen menatap Jiazhen Yan dan Xue Zhan bergantian, mengerang kesal. Dia mengambil kipas kecil yang terselip di samping gadis yang terduduk tak sadarkan diri. Mengipas kedua pelaku debat itu, "Panas sekali di sini, kalian berdebat seolah-olah gelombang tsunami sedang naik dan akan menampar wajah guru kalian!"
"Buat apa kau kipas? Bukannya tambah dingin yang ada semakin panas!" bentak Jiazhen Yan, Xue Zhan menunjuk muka temannya dengan gelagat ingin meninjunya.
"Belut Berotak Udang? Berani sekali. Bagaimana bisa kau hidup tanpa ada orang yang mencekikmu hingga mati?"
Xian Shen mengalah. Pendekar sekelas Kang Jian saja tidak sanggup memisahkan dua cecunguk itu ketika sedang berdebat, dia mundur berharap ketua tim Xiao Rong membenturkan kepala dua orang itu secepatnya.
"Aku pernah mendengar tentang Dewi Bunga yang mengambil seluruh kecantikan dan keanggunan di dunia. Kalau kau mungkin menyerap semua kebodohan di muka bumi ini!"
"Kau—" Xue Zhan mengangkat sebelah tangannya, Jiazhen Yan juga melakukan hal yang sama.
Xiao Rong yang tengah berdiri sambil menyender di dinding mencebik, "Diam kalian berdua! Kita harus memikirkan cara agar keluar dari tempat ini, bukannya berdebat. Lakukan sana saat kalian menjadi pejabat yang kerjanya membual omong kosong."
__ADS_1
Segera saja Xue Zhan membalikkan badan menghadap Xiao Rong dan mengatakan dengan jelas, "Si Setan bermuka batu ini tidak mau menggunakan jurus Kodok Membelah Matahari-nya untuk menyelamatkan kita."
"Apa kau bilang? Sekarang malah jadi Kodok Membelah Matahari?!" Makin naik pitam setan itu.
Xue Zhan mengerutkan dahi, "Jadi? Kodok Menyembah Matahari? Kodok Merindukan Bulan? Kodok Menapaki—"
Satu geplakan meluncur deras mengenai jidat Xue Zhan, dia mengumpat marah.
"Aset berhargaku!" Tangannya mengusap jidat dengan kasar.
Gadis bermarga Wen terbangun oleh kehebohan yang dibuat Xue Zhan dan Jiazhen Yan, lantas saja Xian Shen berdiri paling pertama di hadapannya.
"Anda tidak kenapa-kenapa, Nona Wen? Apakah ada yang sakit? Aku sangat mengkhawatirkanmu dan berpikir tidak sempat menyelamatkanmu. Untung saja aku tidak terlambat dan berhasil menyelamatkanmu dengan dibantu tiga kawanku." Dia menampakkan kekhawatiran, membuat Gadis Wen itu risih dan kebingungan.
Jiazhen Yan mencebik, "Apa-apaan sifatmu itu, membuatku jijik saja."
Wen Zhiqiang adalah putri dari keturunan bangsawan Wen pendiri perguruan Alam Suci Surgawi yang terkenal dengan ilmu penyembuhan terhebat di Kekaisaran Feng. Ayahnya selaku Guru Besar di perguruan itu hanya memiliki Wen Zhiqiang dan adiknya sebagai keturunannya. Kehilangan gadis permata itu adalah pukulan berat baginya.
Xue Zhan berjongkok dan menatap wajah Wen Zhiqiang yang memalingkan muka dari mereka, ketakutan tapi tidak punya tempat untuk melarikan diri ke mana.
"Nona Wen, apa kau tidak berkeberatan untuk memberitahu kami. Siapa Anda sebenarnya dan apa yang menimpamu sehingga membuatmu lari ke hutan ini untuk bunuh diri?"
Gadis itu menutup mulutnya rapat-rapat. Enggan bersuara banyak.
Xue Zhan membalikkan pandangan ke belakang, menunggu Xiao Rong mengeluarkan suara.
__ADS_1
"Kami di sini membantumu. Apa yang kau takutkan? Kami menyelamatkanmu dari Hantu Penggerogot dan Hantu Penyair, berterima kasih lah setidaknya dengan memberitahu kami apa yang sedang terjadi." Bukannya membujuk Xiao Rong malah menekan gadis itu, hingga mulut yang sebelumnya ditutup rapat-rapat kini digembok.
"Kalian berdua, berhenti memaksa Nona Wen." Xian Shen menunjukkan ketidaksenangannya.
"Bakar saja dia kalau tidak mau bicara," kesal Jiazhen Yan mengeluarkan api di tangannya. Makin memperburuk suasana.
"Aish, aish, tiga perjaka kesepian ini tidak tahu cara memperlakukan wanita dengan baik. Maafkan para pecundang ini, Nona Wen. Mereka pasti membuatmu ketakutan."
Xian Shen memegang kedua pundak Wen Zhiqiang agar melihat ke arahnya.
"Kami tidak akan melukaimu. Tapi jika kau bersikeras bunuh diri aku yakin ada sesuatu yang buruk mengintaimu dan memaksamu melakukan hal ini. Kau masih memiliki keinginan untuk hidup, namun orang-orang itu membuatmu seperti ini ..."
Xian Shen menggeleng di tengah kekalutan yang melanda Wen Zhiqiang.
"Aku sungguh ingin membantumu. Jika mengembalikanmu pada keluargamu hanya akan membuatmu tersiksa, katakanlah. Tapi beritahu kami, mengapa? Kaisar Li hanya mengatakan kau menolak untuk dinikahkan dengan seorang laki-laki asing dan kabur begitu saja."
Cara Xian Shen memancing Wen Zhiqiang untuk bicara tak disangka cukup berhasil. Dalam hal menghadapi wanita, ketiganya mengaku kalah. Xian Shen yang paling hebat dalam hal ini.
"Itu tidak benar ..." Suaranya melemah sekaligus serak, wajah jutek yang dipertahankan sejak tadi berubah sendu dengan air mata.
"Ayah memang menjodohkanku dengan seseorang, tapi bukan hanya itu tujuannya."
Wen Zhiqiang menjelaskan setelah kematian mendiang neneknya, ayah ibunya berlaku seenaknya terhadapnya. Sikap baik dan berwibawa yang ditunjukkan di muka umum hanyalah pencitraan, Wen Zhiqiang diperlakukan seperti seekor binatang.
Dia dikunci dan dirantai di satu ruangan, dicekoki obat-obatan dan berulang kali kritis karena percobaan tersebut. Selama 16 tahun hidupnya, Wen Zhiqiang telah dikurung dalam kamar dan diikat dengan rantai.
__ADS_1
Ayahnya sering menyebutnya dengan sebutan 'wadah'. Selama enam belas tahun lamanya melakukan percobaan keji terhadap anaknya sendiri, akhirnya laki-laki bernama Wen Long berhasil menciptakan satu jurus terhebat itu.
Wen Zhiqiang meneteskan air mata, menunduk tak sanggup menjelaskan semuanya. Semua penderitaannya selama 16 tahun sangat menyakitkan untuk didikte ulang.