Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 47 - Wajah Kekalahan dan Sebuah Surat


__ADS_3

Tersisa satu pertarungan lagi, Xue Zhan melawan Ming Ming. Pertarungan berjalan begitu sengit, gadis itu memang memiliki tinggi tubuh terbilang pendek tapi kelincahannya jauh di atas peserta rata-rata. Membuatnya unggul dalam beberapa pertarungan.


Xue Zhan tak mau melepaskan 10 poinnya untuk Ming Ming, bertahan semampunya dengan kekuatan yang mulai menipis. Mereka sudah bertarung berturut-turut tanpa istirahat panjang dan wajar saat ini kelelahan. Tang Quan seakan tidak peduli dan memaksa pertarungan tetap berlanjut.


Xue Zhan tetap fokus, di sisi lain Ming Ming jauh yang telah kelelahan mulai kesusahan mengendalikan tombak, kakinya huyung dan jatuh terduduk di lantai arena.


Melihat Xue Zhan ingin menyerang Ming Ming mengangkat tangan, "Aku menyerah." Pundaknya naik turun, keringat bercucuran di wajahnya, gadis itu tidak bisa memaksa ambang batasnya lagi atau dia akan pingsan dengan konyol di depan peserta lain.


Xue Zhan berhenti di tempat. Samar terlihat senyum di wajahnya merekah, dia berhasil melewati babak ini dengan perolehan sebanyak 45 poin. Tapi seperti sebelumnya, tidak menjamin posisinya aman karena masih ada 5 peserta dengan poin terendah yang akan digugurkan.


Arena lantai satu kembali penuh, lima belas peserta kembali ke sana. Beragam ekspresi terlihat, senang, takut, gugup, sedih juga kecewa. Xue Zhan menangkap satu wajah sombong di tengah para peserta, seperti biasa, dia terlalu congkak, orang mengambil jalannya sedikit saja langsung diteriaki.


Pengumuman nilai langsung dilakukan di sana. Mereka berbaris berdasarkan urutan. Xue Zhan di baris terakhir mendengar baik-baik saat Tang Quan dan Yong Guang menyebut perolehan nilai dari nomor urut 656 sampai 676.


Sekarang tiba ke gilirannya saat Yong Guang menyebut, "Nomor urut 666 dengan perolehan 45 poin! Lalu 667 dengan perolehan sebanyak 60 poin!"


Mata Xue Zhan melotot menatap Jiazhen Yan, teman laknatnya itu mendapatkan nilai sempurna. Dan paling tinggi di antara murid lainnya.


"Huhu menangislah, wajah iri dengkimu itu membuatku kasihan," ledek Jiazhen Yan kepadanya, kebetulan mereka bersebelahan dan Xue Zhan langsung menginjak kaki temannya.


"Aduh!"


"Ada apa di belakang?!" Tang Quan melihat ke arah Jiazhen Yan marah.


"Tidak ada, Senior." Xue Zhan berdalih, Jiazhen Yan ingin mengamuk tapi melihat tempat dia mengurungkannya.


"Cebol sialan ini."


Pengumuman tetap berlanjut hingga tiba di mana ketegangan bermula. Pengumuman peserta dengan nilai terbawah, walaupun mereka sudah bisa menebak nama-nama dengan nilai terendah tapi tetap saja ada beberapa peserta dengan perolehan nilai sama. Salah satu di antara mereka akan gugur.


"Nama peserta dengan nilai terendah adalah ..." Tang Quan membaca kertas tersebut, menggantungkan kalimatnya dan melihat ekspresi pemuda-pemudi di arena lantai satu. Pucat pasi.


"Gu Tao, Nam Yun, Yu Mei'er, Fang Quan, dan terakhir Ming Ming."


Sontak nama-nama itu membuat sebagian kaget, Ming Ming berhasil terpilih sebagai lima peserta bertahan di arena lantai satu dan perolehan nilainya lebih tinggi 5 poin dari dua peserta lain.

__ADS_1


"Ke-kenapa?"


Xue Zhan melihat tatapan penuh putus asa dari Ming Ming, membayangkan saat ini dirinya berada di posisi itu, terpaksa melepaskan impiannya untuk lolos dalam seleksi babak penyisihan pertama. Ini bukan tentang kalah atau menang saja. Tapi tentang kehormatan, impian, guru mereka dan nama perguruan yang mereka bawa. Kalah di babak penyisihan pertama terlalu menyakitkan untuk dibayangkan.


"Nama-nama yang telah dipanggil silakan keluar dari barisan dan tinggalkan tempat ini! Pulang ke tempat kalian dan katakan selamat datang di Ujian Pendekar Menengah satu setengah tahun lagi."


Penutupan dari Tang Quan sama sekali tidak terdengar ramah, lima peserta menelan pahitnya kekalahan, bahkan empat dari lima orang itu menangis, menutup pintu gedung dengan kekecewaan mendalam.


Xue Zhan menelan ludah.


Dia tidak ingin mengalami hal yang sama.


"Kalian melihatnya? Wajah-wajah kegagalan itu, bukankah sangat memilukan?" Yong Guang dengan suara lembutnya berbicara, menarik kembali perhatian lima belas peserta yang sedari tadi menatap kepergian lima orang tersebut dengan takut.


"Kalian bisa sampai di titik ini berkat usaha kalian masing-masing. Berhenti mengkhawatirkan kegagalan orang lain. Tegakkan kepala kalian dan melangkahlah ke depan. Tes ini mengajarkan kalian untuk mampu hidup dengan prinsip sendiri. Dalam pengabdian, misi adalah misi. Kesampingkan emosi kalian, rasa kasihan kalian, jika itu merusak peraturan yang telah ditetapkan. Kalian ada di sini untuk siapa?"


Tak ada yang menjawab.


"Untuk semua orang. Bukan hanya untuk satu atau dua individu. Bertarung lah seperti senjata yang memiliki nyawa, mengabdilah seperti manusia yang sedangjatuh cinta; kau tidak punya alasan untuk takut demi apa yang kau perjuangkan."


*


Pelayan mengantarkan makanan ke setiap kamar peserta, malam telah turun, sebentar lagi akan ada acara kecil-kecil di halaman asrama yang sangat luas. Bertujuan untuk menghibur para peserta setelah pertarungan panjang di babak pertama. Sampai detik ini, dari seribu peserta ada sekitar 250 peserta telah gugur dan dipulangkan ke kediaman atau Kekaisaran masing-masing.


Xue Zhan duduk di tepi teras atas yang langsung menghadap ke halaman luas, menyaksikan keramaian dari lantai atas sudah cukup untuk menenangkan diri.


Tapi ketenangan itu seketika sirna saat seekor setan mengusiknya.


Jiazhen Yan mengusap hidungnya, "Aku mencium bau-bau kemiskinan."


"Hais, setan ini lagi. Jauh-jauh sana, tubuhmu bau neraka." Jiazhen Yan melotot dan memutar kulit lengannya seperti ibu-ibu yang sedang memarahi anaknya.


"Aduduh, hei, tau sakit tidak?"


"Omong-omong Gurumu si Kang Jian itu mana? Bukannya sekarang Guru bisa menjumpai muridnya?" Dia melongok kanan kiri mencari orang yang dimaksudkan. Tidak terlihat, Xue Zhan sendiri tahu guruhya pasti sedang sibuk mengawasi jalannya Ujian Pendekar Menengah mengingat dia adalah bagian pengawas inti.

__ADS_1


"Ada dia."


Jiazhen Yan mengerutkan alis, "Di mana? Tidak kelihatan."


"Di ruangannya."


Sontak geplakan meluncur ke belakang kepalanya, Xue Zhan hampir terlompat.


"Bicara yang benar."


"Kau menyebalkan duluan. Guruku sibuk, memang gurumu sendiri?"


"Sudah kupecat."


Jiazhen Yan membalas lempeng. Xue Zhan mendecak sembari bertanya.


"Dua hari lagi babak penyisihan kedua, menurutmu pertarungannya akan seperti apa?"


"Tidak pasti, setiap tahun cara seleksi pasti berubah. Tapi yang bisa kupastikan, setelah ini akan dibentuk sebuah tim."


Xue Zhan mengangguk.


"Berharap saja kau tidak akan berhadapan denganku, cumi cebol. Kupatahkan leher kawan timmu. Hah, lebih baik aku tidur."


Ledekan Jiazhen Yan membuat kuping Xue Zhan panas, kawannya itu langsung masuk ke dalam kamar 666 dan menutup pintu. Sontak Xue Zhan berdiri sambil memaki, "Hoi, kau salah kamar! Yang kau masuki itu kamarku, setaaan!"


Teriakannya membuat burung-burung yang bertengger di atap asrama berterbangan.


Sejenak Xue Zhan teralihkan saat seekor burung elang terbang ke arahnya, dia mengangkat sebelah tangan. Mengambil surat di kaki burung tersebut yang kembali terbang.


Satu kalimat di kertas kecil itu membuatnya tersenyum.


'Selamat.'


Pesan dari Kang Jian untuknya, Gurunya itu tetap memperhatikan Xue Zhan meski dia tengah disibukkan dengan pekerjaan.

__ADS_1


"Terima kasih Guru, aku pasti tidak akan mengecewakanmu."


__ADS_2