Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 51 - Babak Penyisihan II: Kerja Sama Tim IV


__ADS_3

Keahlian Xiao Rong adalah kekuatan kegelapan di mana dia mampu menggunakan benang-benang hitam yang dialiri kekuatan miliknya untuk menggerakkan sesuatu, Xue Zhan pernah melihat saat pertarungan sebelumnya dan merasa kemampuan itu mungkin bisa dia gunakan untuk mengumpulkan kembali poin yang hilang.


Karena itu dia terpikirkan satu cara dengan tingkat keberhasilan yang kecil di mana ada satu kemungkinan gadis di dalam tenda akan keluar saat musuh dalam jumlah banyak datang, tapi kemungkinan itu hanya lima puluh persennya karena kemungkinan lain gadis itu hanya diam meski mereka kedatangan empat musuh sekaligus-yang tiga di antaranya merupakan mayat yang dikendalikan oleh Xiao Rong.


Xiao Rong akan bertindak sebagai umpan sementara Xue Zhan fokus pada telur yang dijaga gadis di dalam tenda. Jika gadis itu tidak keluar dari tenda Xue Zhan harus menyerangnya di dalam markas dan besar kemungkinan akan ketahuan oleh dua orang di luar tenda. Di sisi lain jika Xue Zhan berpikir dengan jalan pikir musuh dia yakin di detik terakhir babak penyisihan mereka lebih memilih mempertahankan poin dibandingkan bertarung. Benar saja ketika musuh memperlihatkan diri di hadapan mereka dua orang itu menyuruh gadis itu pergi ke tempat persembunyiannya.


Bisa dibilang meski Xue Zhan sudah mempertimbangkan segala kemungkinan dia cukup beruntung tebakannya tidak meleset dan rencana mereka berjalan dengan mulus. Sekarang hanya tinggal kembali ke markas seperti yang dia janjikan dengan Xiao Rong secepat mungkin. Mereka akan kembali berkumpul di markas.


Di saat dirinya berpikir sudah berhasil selamat dari kejaran musuh Xue Zhan salah besar. Justru dia dikejar oleh musuh lain yang panik karena kekurangan poin dan menyerbu orang berkeliaran secara membabibuta. Xue Zhan merutuk di tengah pelarian itu karena dia tidak boleh membalas serangan lawan, buntalan kain berisi telur dipeluknya sambil menghindar gesit dari serangan segala arah.


Jantungnya berdetak begitu kencang, di hadapannya puluhan peserta berkumpul dan saling bertarung.


Mereka terhenti sejenak ketika melihat buntalan kain di tangan Xue Zhan, salah seorang di antaranya berucap masih dengan menebak-nebak.


"Apakah itu telur ...? Berikan pada kami, satu saja! Sumbangkan atau kau akan mati!"


"Enyahlah kau iblis dan serahkan telur-telur itu!"


"Tangkap dia jangan sampai lepas!!"


Xue Zhan berputar arah, dia tidak bisa kembali ke markas jika begini caranya. Dua belas laki-laki mengejar dari belakangnya. Beberapa sayatan tajam dari jurus lawan menghampiri punggungnya hingga Xue Zhan sesekali hampir terjatuh


Mungkin saat ini Xiao Rong juga mengalami hal yang sama, orang-orang ini kehilangan kewarasannya dan menggila membunuh peserta lain hanya untuk 50 poin.


Ketika sedang berlari Xue Zhan tersandung oleh sebuah kaki yang ternyata sengaja menunggunya lewat, dia keluar dari balik pohon dengan sebuah parang panjang di tangan.


"Berikan kami telur itu."

__ADS_1


Xue Zhan menoleh ke belakang seperti dikejar monster yang kini bertambah menjadi lebih dari dua puluh orang.


Lima menit lagi tersisa tapi situasinya benar-benar terpojokkan, Xue Zhan menendang tangan beberapa lawan yang datang. Buntalan kain direnggut, Xue Zhan mempertahankannya dan mencari jalan keluar tapi kini dirinya dikerubungi dari segala sisi.


Sejurus kemudian sesuatu meledak membuat mereka terpental termasuk Xue Zhan, di tengah dengingan di telinganya Xue Zhan meraba-raba dan kembali memeluk tiga telur itu.


"Siapa yang berani menyakiti rivalku? Siapa?! Mau kubunuh?!"


Lalu pancaran debu bermassa berat keluar melemparkan manusia-manusia itu ke segala arah, dua di antara mereka langsung pingsan di tempat.


Lun Ning mengamuk hingga urat di dahinya terlihat jelas dan matanya seolah tengah dibakar kobaran api besar. Para peserta mundur dan berlari terserempet satu sama lain tak berani berurusan dengan gadis berkekuatan badak itu.


Dia menoleh ke arah Xue Zhan yang terpana melihat otot di kedua bahunya yang lebih kekar daripada otot Xue Zhan sendiri, pemuda itu bergidik seram.


"Kau tidak apa rivalku tersayang?" Lun Ning mengulurkan tangan, alisnya bertaut dengan wajah melankolis dan entah dari mana sebuah sinar menyinari wajahnya yang membuat adegan itu semakin dramatis.


"Aku tidak kenapa-kena-"


"Tentu saja kau terluka! Ya ampun siapa gerangan berani menyakiti rivalku, ingin sekali kuputar lehernya!"


Xue Zhan memasang muka dongkol. Jelas-jelas Lun Ning yang membuatnya terpental tadi.


Sebuah bunyi lonceng besar terdengar dari kejauhan pertanda babak penyisihan kedua telah berakhir, Xue Zhan membuang napas lega. Mereka memperoleh 750 poin yang sebenarnya cukup besar dan setidaknya Xue Zhan bisa sedikit percaya diri saat menghadapi teman setannya itu.


"Tim kita aman," gumamnya sambil membuang napas, Lun Ning melompat girang sampai ketika Xue Zhan tiba-tiba menanyakan apa yang terjadi di markas dia terdiam kemudian menjawab dengan wajah tidak berdosa.


"Tadi seorang pemuda datang kesetanan ke markas dan bilang 'Mana Xue Zhan?!' lalu mengatakan ingin mematahkan leher kami. Aku bertarung dengannya dan tidak sengaja memecahkan dua telur dan satu markas kita, hehehe."

__ADS_1


Untung Xue Zhan ingat Lun Ning mempunyai otot besar yang bisa meremukkan tulangnya dan seketika mengurungkan niat menghukum gadis itu. Bagaimana pun mereka berhasil melalui babak penyisihan ini.


Dari arah belakang Xiao Rong berlari ngos-ngosan ke arah mereka sehabis melewati puluhan pertarungan dengan peserta yang mencari poin dengan begitu ganasnya, masih beruntung dia tidak mati dan menyumbang 50 poin ke tim lain.


"Aman?"


Xiao Rong sampai tidak sempat mengecek segel informasi miliknya dan akhirnya membuang napas lega.


"Tidak biasanya kau seberantakan ini."


Xiao Rong mencebik kasar, "Kau tidak sadar? Dua tim musuh yang kita curi telurnya mengejarmu dari belakang! Aku harus memastikan kau membawanya dengan selamat dan bertarung satu lawan dua dengan mereka. Mana tadi beberapa musuh juga mengeroyokku, hari yang sial."


"Ahahaha pantas saja kukira sebegitu mudahnya kabur dari mereka. Omong-omong terima kasih, kau sudah melakukan yang terbaik."


Xiao Rong dan Xue Zhan saling bertos satu sama lain, Lun Ning protes.


"Kalau aku?"


Keduanya saling menatap sampai akhirnya Xiao Rong berbicara dengan nada menjengkelkan.


"Kau sudah menjadi yang terbaik. Terbaik sebagai beban kelompok. Selamat." Dia menjabat tangan Lun Ning dan seperti sebelumnya peperangan di antara keduanya kembali tak terhindarkan hingga satu pohon tumbang dibuatnya.


Xue Zhan mengambil sebuah selendang dan bunga liar untuk dipakaikan ke dua orang itu.


"Ayo berkelahi, aku nikahkan kalian berdua."


"Hueekk!"

__ADS_1


__ADS_2