Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 86 - Makam di Pembatas Jurang


__ADS_3

Tetes air mata Xiao Rong jatuh ke kedalaman jurang tanpa dasar itu, bahkan hanya setetes air saja hancur terpecah oleh angin kencang di dalamnya. Apalagi Xue Zhan di dalamnya. Dia mengepalkan tinju dan menghantamnya di batu tebing sembari berteriak.


"Manusia jahanam! Kenapa orang-orang seperti kami harus menerima perlakuan keji ini dari kalian?!"


Xiao Rong lebih mengerti apa yang selama ini Xue Zhan rasakan. Sejak kecil diasingkan dan dibenci ribuan manusia yang setiap hari menyanyikan lagu kematian untuknya. Hidup dalam takdir yang berat dan mencoba untuk terus merangkak di bawah kaki manusia, memohon untuk hidup diperlakukan dengan layak.


Tapi manusia itu mencabik-cabiknya. Xiao Rong menangisinya, bagaimana mereka menikam dan menyayat temannya dengan buas. Kedua tangannya gemetar hebat, kebencian di dalam dadanya menyebar. Xiao Rong berjanji tak akan memaafkan siapa pun yang membunuh Xue Zhan hari ini.


"Kau bajingan!" Xiao Rong memukul Jiazhen Yan yang hanya terjatuh di atas tanah. Dia meninju wajah pemuda itu berkali-kali, tidak ada satu pun yang dibalas Jiazhen Yan saat itu.


"Kau membiarkannya mati di depan kami, kau sampah! Bukankah sejak awal kau yang paling bertekad menyelamatkannya, tapi kau melihatnya mati begitu saja dan membuangnya ke jurang! Aku tidak sudi menganggapmu sebagai temanku. Sampai mati sekalipun!"


Dia membenturkan kepala Jiazhen Yan ke batu, Xian Shen menahannya.


"Tenangkan dirimu, dia masih temanmu. Kau sama saja seperti orang-orang itu!"


"Bukankah kau juga sama?! Sejak awal kau membenci iblis sepertinya! Tidak usah bersikap sok suci!"


Xiao Rong yang amat murka tak tahu lagi bagaimana cara melampiaskannya, agar dunia tahu semua yang terjadi di tanah ini tidak adil.


Xue Zhan tidak bersalah, Xiao Rong berani memotong kedua kaki dan tangannya jika dia salah. Tapi orang-orang itu langsung menghakiminya hanya karena dalih Xue Zhan seorang iblis. Membenarkan semua tuduhan itu, karena bagi mereka ini adalah kesempatan yang tepat untuk melenyapkan Xue Zhan.


"Kenapa kau malah mengungkit hal lama, sialan?" Xian Shen juga terjebak dalam emosinya, dia menendang perut Xiao Rong dengan lutut. Lalu pertengkaran hebat terjadi. Saling memaki dan menyalahkan, hingga kelelahan dan hanya melukai diri sendiri.


"... Maafkan aku."

__ADS_1


Baik Xian Shen maupun Xiao Rong sama-sama menoleh ke arah Jiazhen Yan yang terduduk dalam penyesalan, mengingat kembali detik di mana dia kehilangan temannya itu.


Sesuatu bergerak begitu cepat lebih cepat dari angin, semua orang hanya menangkap bahwa saat itu Jiazhen Yan melepaskan tangannya dari Xue Zhan. Padahal pemuda itu tak akan pernah melepaskan temannya itu dan menyerahkannya pada Jurang Penyesalan yang tidak tahu seberapa berharga pertemanan mereka.


Jarang sekali Jiazhen Yan meminta maaf pada Xue Zhan, tapi sekalinya dia meminta maaf, temannya itu sudah tidak ada.


Tetes air mata jatuh, Jiazhen Yan mengulanginya sekali lagi. "Maafkan aku. Maafkan aku ..."


"Sekarang sudah terlambat, dia tidak akan mendengarkan permintaan maafmu. Dia sudah mati, sudah jelas bukan? Kau sendiri yang melihatnya!" Xiao Rong yang begitu marah mengeluarkan seluruh kekuatannya.


Hal itu membuat batu jurang hancur seketika. Xian Shen menarik kedua temannya yang sudah gila untuk ke sisi batu yang aman. Melihat bagaimana kepingan batu besar jatuh ke dalam jurang disambar angin dari bawah dan hancur menjadi debu.


Xiao Rong memalingkan muka, tidak ada lagi yang ingin dikatakannya, dia berjalan menjauh.


Suaranya terdengar parau, langkah kakinya berat meninggalkan Jurang Penyesalan yang menjadi tempat peristirahatan terakhir temannya.


Sosok yang membawa sedikit cahaya pada malamnya yang gelap. Berkat Xue Zhan, Xiao Rong belajar tentang arti ikatan. Di mana dia bisa berbagi kesedihannya dan menukarnya dengan canda tawa. Saat dirinya tersadar, hari-hari menyenangkan itu sudah tidak ada lagi.


Kepergian Xiao Rong disusul oleh Jiazhen Yan yang membalikkan badan. Menyesali berbagai hal yang mengakibatkan nyawa temannya terenggut. Dia tidak bisa lagi kembali ke Lembah Abadi ataupun pulang ke rumahnya. Jiazhen Yan tidak tahu lagi bagaimana dia menghabiskan hidupnya yang perlahan menggelap.


"Saudara Yan, aku sama sekali tidak membencimu." Xian Shen berujar pelan meski pemuda itu tak menanggapi dan masih melanjutkan perjalanannya sempoyongan. Luka di seluruh badannya tak lebih sakit dari hatinya sekarang.


"Aku berharap keajaiban benar-benar ada," bisiknya pelan, langkah Jiazhen Yan tertahan sejenak. Dia kembali berjalan dan menghilang dari Jurang Penyesalan. Dan tidak ada yang menyangka setelahnya jenius Lembah Abadi itu akan menghilang dari dunia persilatan bertahun-tahun.


Hanya tersisa dirinya sendiri. Xian Shen berlutut di pembatas jurang, mendengarkan suara angin dan menganggapnya seperti tawa dari pemuda itu.

__ADS_1


"Aku tidak tahu mengapa aku bisa mengikutimu sampai sekarang," ujar Xian Shen tersenyum bodoh walaupun itu hanya membuat air mata kembali turun membasahi pipinya.


"Yang aku tahu saat itu kau memiliki hati yang baik dan aku ingin sekali menjadi bayanganmu. Aku tidak pernah mendapatkan teman yang benar-benar mau memahamiku. Mereka berteman denganku karena uang dan status sosialku. Semuanya munafik."


Meski hanya bicara pada angin, Xian Shen tidak peduli dan masih melanjutkan.


"Tapi aku melihat ketulusan sebenarnya darimu. Saudara Zhan, aku berharap jurang ini akan selalu menjagamu. Beristirahatlah dengan tenang, aku pasti akan mengorek habis-habisan pelaku yang membuatmu berada di situasi ini. Sampai saat itu tiba ..."


Xian Shen menghentikan kalimatnya, pukulan tak terlihat membuatnya kesakitan.


Suaranya bergetar, "Aku lupa mengatakan terima kasih padamu. Aku mengenal siapa dirimu dan keluargamu. Kami berutang banyak pada jasa ayah ibumu, saat pembantaian klan Xian hanya dia satu-satunya yang membantu ... Ketika semua saudara dan kerabat memalingkan muka dari kami," tangisnya.


"Aku tak akan melupakan kebaikan kalian sedetik pun. Karena itu akan membalasnya dengan mengungkap semua yang terjadi hari ini. Dengan itu kau bisa beristirahat dengan tenang."


Dia mundur menyeka air mata dengan punggung tangan. Menstabilkan deru napasnya, sesaat kemudian mencabut pedangnya. Xian Shen mengukir sesuatu di sebuah batu berukuran sedang di pembatas jurang yang masih berlumuran darah Xue Zhan. Dia mengikatkan tali putih di batu tersebut. Memandangnya beberapa menit dalam sunyi.


Kalimat itu bertuliskan, 'Di sini Xue Zhan beristirahat.'


Nama yang dituliskan dengan mata pedang itu ditatap lama olehnya, hingga akhirnya Xian Shen berdiri.


"Entah bagaimana aku harus melanjutkan hidupku. Mungkin aku akan tetap mengabdi pada Kekaisaran dan menjalani hukumanku. Tapi aku senang bisa bersamamu hingga akhir hayatmu."


Dia mengangguk, "Aku pamit dulu, kawanku. Lain kali aku akan ke sini. Dan mungkin ... Mencari dua teman kita yang sudah pergi duluan."


Xian Shen tersenyum. Menunduk, membalikkan badannya lalu pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2