
"Bagi seorang pembunuh tidak ada kalah atau menang, yang ada hidup atau mati."
Bisik suara di dalam ruangan temaram terdengar jelas, seorang laki-laki dalam baju hitam dan topeng rubah menyentuh sebuah lukisan yang lima kali lebih besar dari tubuhnya sendiri. Pecahan kaca berwarna-warni membuatnya terlihat indah untuk dilihat, namun lukisan itu memiliki arti yang suram.
Dia memundurkan dirinya untuk dapat melihat lukisan tersebut dengan sempurna.
Sebuah pedang yang memiliki aura berbeda meski hanya menatapnya lewat lukisan. Seakan-akan memiliki nyawa yang utuh. Lelaki itu tak pernah bosan memandangnya setiap hari dan berharap dapat menyentuhnya langsung dengan kedua tangannya.
"Aku mempertaruhkan semuanya untuk mendapatkanmu ..." Dia mengelus pelan kaca itu. "Kau lebih terang daripada matahari."
Kedua pasang mata itu mengecil, semua rencananya telah matang.
"Sudah saatnya bergerak," bisiknya sembari membalikkan badan, jubahnya berkibar hingga dia sampai di pintu keluar di mana puluhan ribu orang menunggunya.
**
Di tengah markas baru Taring Merah, kekacauan melanda. Ratusan anggota kelompok melihat dengan kaget dan ketakutan saat seorang gadis muncul dengan kekuatan yang mengejutkan. Dengan gerakan lincah, dia menghancurkan bangunan dan benda-benda di sekitarnya dengan sinar cahaya yang meledakkan tempat tersebut.
Gadis itu adalah murid Chao Mi yang tewas tragis di markas lama. Dalam hatinya, dia memendam rasa sakit dan amarah yang mendalam, menyalahkan kelompok Taring Merah yang gagal melindungi gurunya.
Dalam tangannya dia menggenggam Batu Es, sebuah puskaa langit yang memberikan kekuatan dahsyat. Cahaya cemerlang dari batu itu mampu mengubah manusia menjadi es, menghancurkannya menjadi debu. Dengan kekuatan itu, dia mengamuk tanpa ampun, membalaskan dendamnya kepada siapa pun yang berani menghalangi jalannya.
Gadis itu terkenal serampangan dan tidak bisa mengendalikan emosinya yang seperti bom peledak. Dia tidak bisa menahan diri lagi dan ledakan cahaya keluar dari dalam dirinya, memicu ledakan energi yang mengguncangkan sekitarnya. Para anggota Taring Merah lainnya pun mengalami kejutan dan kegeraman atas tindakannya.
Dalam genggaman tangannya terlihat Batu Es yang memancarkan cahaya biru yang menakutkan. Dengan gerakan tangan yang penuh keputusasaan, gadis itu mengarahkan kekuatan Batu Es tersebut ke arah sebagian markas Taring Merah. Di hadapan semua anggota kelompok yang terkejut, serangan yang dahsyat itu menghancurkan bangunan-bangunan dengan mudahnya, mengubahnya menjadi tumpukan serpihan dan debu yang terlempar ke segala penjuru.
Aura dingin dan mematikan memenuhi udara saat Batu Es mengirimkan gelombang energi membekukan sekelilingnya. Anggota Taring Merah yang berada di dekat serangan itu terkejut dan berusaha menghindar, takut akan dampaknya yang mematikan.
Dalam sekejap, suasana di markas Taring Merah berubah menjadi kekacauan dan keputusasaan. Cahaya biru yang memancar dari Batu Es yang dipegang erat olehnya menyelimuti seperempat markas, memancarkan kekuatan es yang mematikan.
Seiring dengan serangannya, suhu sekitar markas secara drastis menurun. Udara yang semula hangat dan hidup, kini menjadi dingin menusuk tulang. Ratusan anggota Taring Merah yang berada di area tersebut merasakan hawa dingin yang membelenggu tubuh mereka.
Tiba-tiba, es mulai terbentuk di sekitar mereka dengan cepat. kekuatan es itu melahap sekitarnya dengan rakus. Orang-orang yang berada di dekat pusat serangan itu terpaku, terjebak dalam beku es yang mematikan.
Begitu cepatnya, mereka berubah menjadi patung es yang rapuh. Dalam keadaan terperangkap, tubuh mereka mulai pecah menjadi berkeping-keping es kecil yang tersebar di sekitar mereka.
Suara retakan es mengiringi pemandangan mengerikan ini, menciptakan suasana yang semakin menakutkan.
Anggota Taring Merah yang menyaksikan tragedi itu tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka terpaku, tidak mampu bergerak atau melarikan diri dari takdir yang sama.
Kerusuhan dan hancurnya separuh markas terasa semakin nyata saat pecahan es berjatuhan di tnah,
Namun, sebelum dia bisa terus melancarkan kehancuran, sosok misterius dengan topeng silang emas muncul dengan tiba-tiba. Dalam diam yang, sosok itu berhasil membungkam gadis itu, menyelamatkan markas dari kehancuran lebih lanjut. Kedua sosok itu saling menatap, satu penuh kemarahan dan keputusasaan, yang lain penuh dengan kebijaksanaan dan ketegasan.
"Hentikan jika masih ingin tulang tanganmu utuh."
Di tengah keheningan yang tercipta, markas baru Taring Merah terasa seperti tempat yang baru saja dihantam badai es. Kegelapan melingkupi ruang-ruang yang hancur, dan anggota kelompok merasakan getaran ketegangan yang tak terelakkan.
Sosok misterius dengan topeng silang emas berdiri tegak di depan gadis yang sedang mengamuk. Wajahnya tersembunyi di balik topeng yang memancarkan aura kekuatan yang menakutkan. Sosok itu berusaha menghentikan gadis itu demi keamanan kelompok namun niatnya tidak diterima dengan baik.
__ADS_1
Gadis misterius itu semakin mempertajam serangannya. Dengan gerakan yang lincah dan gesit, dia melawan dengan keras kepala. Setiap serangan dan gerakannya diiringi dengan kekuatan cahaya serta kekuatan es yang memancar dari Batu Es yang dipegangnya, menciptakan dentuman dan ledakan yang pecah di markas.
Pertarungan tak terelakkan terjadi antara keduanya. Serangan dan pertahanan mereka saling beradu dengan sengit. Tiap langkah mereka menghasilkan dentuman dan riak kekuatan yang mengguncang sekitarnya. Markas Taring Merah menjadi arena pertempuran yang hebat, dengan serangan yang meluncur ke sana-sini.
Namun, walaupun gadis misterius itu melawan dengan keras kepala, sosok dengan topeng silang emas tetap tenang dan mengendalikan situasi.
Gerakannya terukur dan penuh perhitungan, menghindari serangan gadis itu dengan kecepatan yang sulit diikuti lawannya. Gadis itu merasa diremehkan dan emosinya semakin menjadi-jadi.
Ketegangan dan kekuatan yang terpancar dari pertarungan mereka menciptakan atmosfer yang mencekam. Setiap pukulan dan serangan berdampak besar, mengguncang seisi markas. Suara benturan dan ledakan mengisi ruang dengan kekuatan yang luar biasa.
Anggota lain menyaksikan pertarungan antara dua kekuatan yang saling bertentangan, sementara atmosfer di sekitar mereka terisi dengan ketegangan dan takdir yang belum terungkap.
**
Mata pedang berkilau oleh pantulan sinar matahari, masih begitu pagi namun suasana di kota mendadak ramai. Kabar hilangnya batu Kekaisaran Bing menjadi ancaman besar yang akhirnya benar-benar terjadi.
Taring Merah tak memberikan kesempatan dan benar-benar akan menciptakan perang. Jatuhnya Batu Elemen Penguasa Bumi ke tangan musuh adalah masalah serius. Kini tak satu pun dari orang-orang Kekaisaran Feng dapat bernapas tenang. Termasuk Xue Zhan yang sedang mencari jalan keluar agar bisa segera sampai Ke Kekaisaran Diqiu.
Dia tiba-tiba menghentikan langkah dan mengambil langkah mundur sebanyak sepuluh langkah, raut wajahnya begitu terkejut karena dalam seketika angin kencang berhembus dan membuat puluhan orang terpental. Sebuah angin berpusar di tengah-tengah jalan kota hingga perlahan muncul sosok misterius dengan tudung hitam.
Dia berdiri di depan Xue Zhan, pandangannya tertuju pada pemuda itu.
Sudah jelas siapa yang diincar laki-laki itu, Xue Zhan menggerutu kesal. Dia sedang buru-buru dan ingin menemui Xiang Yi Bai untuk memberitahu semua yang didapatkannya. Tidak ada waktu untuk meladeni musuh lagi.
Namun sesaat Xue Zhan teringat akan pesan Nona Wen, dia harus berhati-hati dengan pria bertudung merah. Tapi gadis itu tak memberitahu lebih lanjut.
"Sedang buru-buru, iblis kecil?"
"Mengapa kekuatannya berbeda dari manusia biasa?" batinnya. Xue Zhan menampakkan sikap waspada dan belum merespon ucapannya.
"Satu orang tidak pernah cukup untuk menghentikan perang," ucapnya sembari menarik pedang dari balik punggungnya. "Namun satu orang saja cukup untuk menciptakan perang."
Alisnya bertaut kencang. Orang itu kemungkinan besar adalah anak buah Taring Merah, karena perang ini adalah rencana kelompok tersebut. Xue Zhan langsung menangkis pedang yang masuk dari arah depan, kedua senjata saling bertemu. Beberapa detik tercipta percikan api dari bilah besi yang bertabrakan. Walaupun dalam jarak sedekat itu Xue Zhan tetap tidak dapat membaca Seberapa besar kekuatan yang dimiliki lawannya.
Matanya hanya menangkap sebuah kekuatan aneh yang memenuhi seluruh tubuh itu. Dia bukanlah manusia.
"Kau mayat hidup dari Menara Giok Hantu?" Xue Zhan langsung kepada intinya. Pertahanan laki-laki itu sedikit melemah, mungkin karena terkejut sebelum akhirnya membalas lebih kuat.
"Aku suka matamu yang tajam itu."
"Mayat hidup yang bisa berbicara dan berpikir?"
Xue Zhan tidak mengerti lagi apa yang sebenarnya dipikirkan Taring Merah. Mereka sudah sejauh ini hanya demi memperebutkan pusaka langit. Membuat manusia mati kembali hidup dan memberikan pikiran kepada mereka.
"Lebih tepatnya sebuah roh yang mendapat tempat untuk kembali hidup."
Xue Zhan mendorong pedang lawannya. "Ternyata mereka menciptakan lebih dari satu jenis mayat hidup. Sialan."
Xue Zhan sempat melihat dua jenis mayat hidup dari markas Menara Giok Hantu. Yang satunya hanya mayat biasa yang bisa bergerak tanpa akal. Lalu yang kedua mayat yang dapat bertarung dengan dikendalikan oleh benang kekuatan milik Hantu Penyair.
__ADS_1
Sekarang mereka yang bisa hidup dengan diberikan roh. Setahunya hanya beberapa manusia di muka bumi ini yang bisa menciptakan mahluk seperti ini. Atau kemungkinan mereka telah mengumpulkan beberapa Pusaka Keajaiban Dunia dan mengkombinasikannya untuk menciptakan malapetaka.
"Kau salah jika menyebutku mayat hidup." Laki-laki itu mulai serius bertarung. "Aku adalah jiwa yang kembali dibangkitkan. Itu berbeda."
Sebuah kekuatan yang cukup kuat menghantam kepala Xue Zhan, pemuda itu menahannya tapi tubuhnya tetap terpental menghantam sebuah penginapan hingga tembus ke dalam. Xue Zhan terduduk dengan puing-puing kayu berjatuhan menimpanya.
Tidak pernah ada mayat hidup yang memiliki kekuatan sebesar itu. Dia memiliki kekuatan selayaknya seorang pendekar, daya pikir dan caranya berbicara semuanya benar-benar seperti manusia.
"Akan kuajarkan padamu bagaimana rasanya kematian."
Tangannya yang dipenuhi kekuatan gelap berubah wujud menjadi ujung tombak yang tajam, Xue Zhan menangkapnya tepat di depan jantungnya hingga sepuluh jarinya berdarah.
"Tidak perlu susah payah...." Dia mengangkat wajahnya dan langsung menatap sosok tanpa wajah itu. "Aku sudah pernah mati di Jurang Penyesalan."
Tinjunya terkepal dan mengenai wajah tanpa bentuk itu, kali ini sosok bertudung hitam yang terpental menghantam dinding penginapan. Beberapa tamu berlari ketakutan dari penginapan setelah melihat pertarungan tersebut, bahkan tak satu pun dari mereka berani ikut campur.
Xue Zhan melihat kesempatan saat lawan sedikit lengah. Dengan bergerak cepat dia menendang sebatang kayu yang ada di dekatnya, melayang ke arah lawannya dengan kecepatan yang mematikan. Kayu itu mendarat tepat di lengan pendekar tudung hitam itu hingga pecah, menghentikan gerakannya sejenak.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Xue Zhan melesat maju dengan serangan yang lebih kuat. Pedangnya berputar dengan cepat, menciptakan lingkaran cahaya yang memancar dari ujung pedangnya. Serangan-serangan itu datang bertubi-tubi, memaksa musuh bertahan dengan tangkisan dan sesekali terdorong menghancurkan sekat tiap ruangan.
Penginapan itu mulai hancur oleh pertarungan keduanya. Xue Zhan mau tak mau harus bertarung, dia tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan dikejar-kejar oleh sosok itu. Sejak awal Xue Zhan curiga dia sudah diikuti dan firasatnya benar tapi sering kali dia tidak merasakan hawa kehadirannya.
Tanpa mengulur waktu Xue Zhan langsung mengeluarkan serangan terakhir untuk mengakhiri pertarungan. Dia menebas kepala lawannya dan menusuk tepat di jantung, dua serangan sekaligus membuat laki-laki itu terjatuh bersimbah darah.
Di saat yang sama lawannya mengayunkan pedang di atas kepalanya. Xue Zhan pikir itu hanya serangan nyasar namun dia salah.
Sosok itu mengincar tanduk di kiri kepalanya, walau hanya terkena di ujung, darah mulai menetes dari kepalanya.
Sosok bertudung di depannya telah mati namun dalam sekejap Xue Zhan melihat sekelebat bayangan di dekatnya yang kabur lewat jendela. Dia mengikutinya dan melihat sosok itu mirip dengan tudung hitam itu.
Pemuda itu membalikkan badan dengan tatapan bingung, musuhnya sama sekali tidak berniat membunuhnya.
Lalu mengapa dia mengincar tanduknya. Xue Zhan meraba kepalanya, seharusnya tanduk itu sudah cukup tertutup oleh rambut dan topengnya. Dia merasakan bagian ujungnya yang berdarah.
Bagian paling ujung tanduknya menghilang. Kemungkinan besar sosok tadi mengambilnya saat terpotong, Xue Zhan mendecih kesal.
"Apalagi yang mereka incar habis ini?" Bisa-bisanya Xue Zhan tidak bisa menebak apa yang sebenarnya mereka rencanakan.
"Sebenarnya untuk apa tanduk itu?"
Gerakan Xue Zhan terhenti sejenak. Ingatannya kembali ke beberapa tahun silam sebelum Lin Yu Shan wafat.
Sehari sebelum kedatangan sekelompok Taring Merah ke desanya, seorang laki-laki sempat mengunjungi rumah mereka dan meminta darah Xue Zhan.
Kedua tangannya dingin seketika. Darahnya adalah apa yang mereka inginkan.
Xue Zhan lagi-lagi membiarkan musuhnya bergerak lebih cepat mencapai tujuannya. Dia menggeram. "Sialan!"
Namun emosinya segera teredam saat seseorang datang dengan sebuah kertas berisi catatan. Xue Zhan menerimanya sambil mengerutkan alis.
__ADS_1
"Catatan kerugian penginapan?"
Dan semakin frustrasi lagi pemuda itu dibuatnya.