
Jalan berdebu dilintasi oleh kereta dengan dua kuda yang mengangkut berbagai bahan makanan di atas gerobak kayu. Satu pengendara di tengahnya memelankan laju kereta kuda saat hampir sampai ke pintu gerbang putih perak penuh ukiran.
Di pintu gerbang itu sendiri, walaupun terlihat hanya seperti pintu biasa terdapat sebuah mantra pelindung yang hanya bisa dibuka oleh penjaga. Sang pengemudi kereta kuda menundukkan kepala, dia memakai caping bambu sehingga sebagian besar wajahnya tertutup oleh bayangan. Sejenak bunyi derap tapal kuda berhenti, sementara itu dua penjaga pintu gerbang mulai mendekat dan berbicara.
"Ada keperluan apa?"
"Mengantarkan kain pesanan, tuan."
"Tunjukkan pelat baja." Orang itu meminta dengan ketus, si pengemudi mengeluarkannya dari balik pakaian lusuh. Salah satu dari penjaga menariknya dan mengecek dengan teliti sebelum akhirnya dia mengangguk sembari memberikan jalan.
"Kau boleh masuk," suaranya. Kereta kuda kembali berjalan pelan dan memasuki perguruan Lembah Abadi.
Sebelum sampai ke pusat perguruan mereka akan melintasi jalan perbukitan yang lumayan panjang, hingga akhirnya sampai di sebuah lembah raksasa yang dipenuhi berbagai bangunan, arena latihan luas, perpustakaan, aula penting dan berbagai jenis tempat lainnya. Sebagai perguruan besar, Lembah Abadi memang sangat megah dan istimewa.
Kereta kuda berhenti sejenak saat pemandangan Lembah Abadi mulai terlihat di depan mata. Si pengemudi kereta kuda menarik caping pelindung dan mendekapnya di dada, melihat Lembah Abadi seluas mungkin yang membuatnya bernostalgia. Dia pernah beberapa kali berkunjung ke tempat ini untuk formalitas dan urusan selama menjabat sebagai Ketua Agung Dunia Persilatan.
Lembah Abadi memang seistimewa yang dulu dia perkirakan, mereka bertambah maju dari waktu ke waktu. Banyak bangunan yang bertambah dan semakin tinggi, beberapa tempat yang berubah dari ingatan terakhirnya dan juga jumlah murid yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan.
Hembusan angin sejuk menerbangkan baju lusuhnya. Terasa sedikit guncangan dari belakangnya hingga Fenghuang keluar dari dalam gerobak sambil mengomel kesal.
"Bau busuk, hiisssh."
Fenghuang mencium bau badannya sendiri dan hampir muntah. Padahal dulu selama menjadi phoenix siapa pun dapat mencium bau harum tubuhnya. Tapi sekarang bangkai siput pun lebih wangi daripada tubuhnya. Gadis itu menepak-nepak pakaian.
Xue Zhan keluar dari timbunan kain yang memang sedikit berdebu, mungkin karena disimpan di dalam gudang bertahun-tahun.
Sebelum masuk ke dalam Lembah Abadi, Xue Zhan mempelajari teknik mengubah penampilan dari Xiang Yi Bai untuk mengurangi kemungkinan buruk saat mereka masuk ke dalam. Sebenarnya teknik mengubah penampilan bukan sebuah jurus, hanya teknik biasa yang membutuhkan berbagai alat dalam praktiknya.
__ADS_1
Dengan teknik ini seseorang bisa mengubah penampilannya menjadi lebih tua, lebih muda, lebih jelek dan bahkan lebih tampan atau cantik.
Xiang Yi Bai tak mau mengambil resiko mereka dipenggal hidup-hidup karena ketahuan menyusup, dia tahu betul perguruan ini tidak pernah segan-segan menghukum siapa pun yang melanggar peraturan.
Xue Zhan batuk-batuk sejenak hingga tiba-tiba berhenti ketika melihat pemandangan luas di depannya. Sesaat terkunci dengan Lembah Abadi yang rasanya telah begitu lama dia tinggalkan.
Pemuda itu tersenyum sedih. Melihat jalan perbukitan ini dan juga melihat dua orang sedang berjalan penuh canda tawa. Dia merindukan laki-laki yang sudah seperti seorang ayah baginya, Kang Jian. Bagaimana Kang Jian berusaha membuat lelucon yang sebenarnya tidak lucu untuk menghiburnya, atau ketika dia kehabisan bahan lelucon Kang Jian membelikan manisan buah untuknya.
Xue Zhan bukan hanya merindukan sosok Kang Jian, namun juga kenangan-kenangan bersamanya. Berita bahwa Kang Jian bunuh diri di sungai terkutuk Lembah Abadi tetap membuatnya terpukul. Xue Zhan masih ingat betul bagaimana ketika semua orang menghakimi dan menjatuhkan hukuman mati padanya dan hanya Kang Jian satu-satunya yang berada di sisinya.
Dia mengorbankan banyak hal hanya untuk menyelamatkan Xue Zhan. Kepercayaan, reputasi kehormatan, dan pekerjaannya. Semuanya.
"Ada apa?" Fenghuang bertanya. Heran kenapa tiba-tiba iblis belangsak itu memasang tampang murung.
"Aku hanya teringat dengan seseorang."
Terjadi keheningan sejenak sebelum akhirnya terdengar suara berisik dari kejauhan, Xue Zhan dan Fenghuang yang panik langsung mencari tempat bersembunyi sebelum mereka ketahuan. Xiang Yi Bai kembali melanjutkan perjalanan ke dalam perguruan.
Setelah lengkap berseragam baru mereka bisa bernapas lega. Fenghuang dan Xue Zhan terpaku menatap Xiang Yi Bai yang masih merapikan pakaiannya. Laki-laki itu menoleh risih, mata sipitnya memandang sedikit mengecam.
"Apa-apaan muka kalian itu?"
"Jadi ini ya, Ketua Agung Dunia Persilatan rasa pembantu." Fenghuang bersuara. Xue Zhan mengatup mulutnya rapat-rapat. Dia memang sering tidak sopan dengan gurunya, tapi kali ini saja dia tidak mau membuat kesal laki-laki itu.
"Guru masih terlihat berwibawa walaupun dengan pakaian seadanya." Xue Zhan mengacungkan jempol.
"Heh puji lagi aku. Nanti akan kuajarkan teknik rahasia Perguruan Gunung Pohon Seribu," sahut Xiang Yi Bai senang. Xue Zhan bersemangat. "Guru memang yang paling terbaik."
__ADS_1
"Ssstt ..." Fenghuang yang memiliki pendengaran paling tajam mendengar suara perbincangan dari luar asrama. "Kita harus bergerak."
Xue Zhan berjalan paling depan, diikuti oleh Fenghuang dan Xiang Yi Bai menyusul dengan santai di belakang.
Hingga beberapa saat berjalan melewati berbagai bangunan dan keramaian, mereka tiba di sebuah tempat yang nampaknya sedang dikunci.
Tempat itu adalah Aula Leluhur Abadi, tempat di mana Tetua ke-45 mengembuskan napas terakhirnya tepat di hadapan Xue Zhan lima tahun yang lalu.
Xue Zhan tersentak saat tiba-tiba seorang murid menegur mereka.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
Dia menatap Fenghuang, Xue Zhan dan Xiang Yi Bai yang memakai pakaian yang sama.
"Sepertinya aku tidak pernah berjumpa dengan kalian ..." Tampangnya mulai curiga.
"Ka-kami pelayan baru di sini."
Orang itu nampak berpikir sampai terdengar suara panggilan dari sebelah kiri.
"Hei, kau dipanggil ke ruang perpustakaan!" sahut Kakak Perguruan orang itu. Dia segera mendecak dan memalingkan pandangan.
"Baiklah, baiklah. Aku ke sana. Oh ya, untuk kalian karena masih baru aku hanya memperingatkan untuk tidak mendekati Aula Leluhur Abadi. Ada sanksi berat bagi yang berani masuk ke dalam."
"Ada apa dengan Aula Leluhur Abadi?"
"Pernah terjadi pembunuhan di dalam yang membuat nyawa salah seorang leluhur Lembah Abadi melayang. Tempat ini sekarang menjadi pertanda bahwa ancaman bahkan bisa berasal dari dalam perguruan. Kalau kau mencari Aula Leluhur Abadi, sekarang tempatnya sudah dipindah ke sebelah timur. Cukup lurus saja mengikuti jalan di depan. Aku pergi dulu."
__ADS_1
Xue Zhan menatap kepergian pemuda itu dan Aula Leluhur Abadi kemudian, tempat itu terlihat terbengkalai dari luar dan letaknya juga memang sedikit terpojokkan sehingga jauh dari pengawasan.
Mana mungkin larangan itu mempan baginya. Tujuan mereka memang adalah tempat ini. Tempat di mana semua perkara dimulai.