
Mulut Qiao Qiao tiba-tiba mengeluarkan cairan merah segar, dia muntah cukup banyak bersamaan dengan ambruknya kedua tungkai kakinya. Wanita itu jatuh berlutut dengan mata membelalak ke arah Xue Zhan.
Matanya kembali ke waktu saat mereka berada di markas. Sebuah cangkir kaca terjatuh dengan cara yang cukup aneh. Dia sempat curiga tapi mengingat temannya juga tidak peduli, Qiao Qiao mengabaikan hal yang telah disadarinya sejak awal.
Cangkir itu jatuh jauh dari meja di mana tempat seharusnya dia berada. Antara dilempar atau tidak sengaja disenggol agar bisa jatuh sejauh itu. Dan juga dugaannya semakin kuat ketika melihat tikus di rumah bergerak seperti sedang kabur dari sesuatu. Dan itu pasti Xue Zhan. Sekarang firasatnya terjawab sudah dengan satu kenyataan bahwa kelalaiannya membawa petaka besar terhadap diri mereka sendiri.
Jiazhen Yan melepaskan tinju berapinya dengan kekuatan penuh, membuat musuhnya terpental sangat jauh dan mati seketika. Hidung pemuda itu berasap, seluruh tubuhnya dibakar oleh api yang terus membara.
"Heh! Berterima kasihlah kau mendapatkan tiket gratis ke neraka dariku!"
Kang Jian berhasil mengalahkan salah satu musuh, tapi dia lengah dan melewatkan serangan di balik punggungnya. Lawan hendak melukai Wen Qing.
Wen Qing menahan dengan menangkis, tapi itu saja berhasil dihindari oleh lawannya. Serangan berbalik dari bawah, menghantam tubuh pedang dengan sangat kuat.
Sebuah besi terpotong kemudian terlempar jauh, menancap di atas permukaan tanah dengan pantulan tampak bersinar di ujungnya.
Wen Qing terhenyak. Bilah pedang itu jelas bukan miliknya, tapi bagaimana bisa benda itu hancur padahal dia sendiri tidak melakukan perlawanan apa-apa. Tak lama lelaki itu jatuh berlutut mencekik tenggorokannya sendiri, meringis kesakitan hingga akhirnya terbaring menyamping masih mencengkram lehernya.
Dia mati. Kang Jian melihat ke sisi lain. Jiazhen Yan dan Xue Zhan bertahan di depan musuh yang telah kalah. Dia melihat muridnya dari jauh, tampaknya musuhnya sendiri akan kalah.
"Kau ..."
Qiao Qiao tak henti-hentinya memuntahkan darah. "Kau ingin menjadi pahlawan, bukan?"
Mulutnya masih terus berusaha berbicara walaupun darah bertambah banyak keluar dari tubuhnya.
__ADS_1
"Benar." Xue Zhan menjawab pasti, tanpa setitik pun keraguan di hatinya. Dia memerhatikan Qiao Qiao yang sebentar lagi akan mengembuskan napas terakhirnya.
"Jika kau seorang petarung sejati maka kau harus memenggal musuhmu dan mengakhiri penderitaannya. Itu akan menjadi kehormatan bagiku untuk mati oleh pedangmu daripada racun sialan ini," ujarnya tertahan. "Lakukan. Dengan begitu aku akan mengakuimu. Mengakui seorang iblis bisa menjadi pahlawan sesungguhnya yang berdiri di hadapan para manusia-"
Xue Zhan menelan ludah.
Dia tidak pernah membunuh, apalagi dengan cara memenggal. Jantungnya berdetak begitu kencang, sekujur tubuhnya lemas. Membayangkan pemandangan di mana adiknya dulu bahkan tanpa keraguan membunuh kakeknya Lin Yu Shan. Tatap mata yang begitu sekarat itu membuatnya merinding. Namun Xue Zhan tak ingin membiarkan Qiao Qiao menunggu.
Dia ingin diakui, meski oleh musuhnya sendiri. Dengan memberanikan diri Xue Zhan maju dan berjongkok di depan Qiao Qiao.
"Maafkan aku. Aku tidak bisa memenggalmu."
"Lalu kembali saja ke rumahmu, pakai gaun cantik dan berdandan setiap hari. Jadi perempuan saja sekaligus," nada bicaranya diselingi marah dan pemaksaan di saat yang sama. Xue Zhan mengeluarkan pedang dari gagangnya, menyentuh pundak Qiao Qiao.
"Selamat tinggal."
Tubuhnya ambruk, kepala Qiao Qiao bersandar di bahu Xue Zhan. Detik itu, Qiao Qiao kehilangan nyawanya.
Kejadian itu disaksikan oleh Kang Jian. Melihat muridnya itu, dia tak mampu lagi berkata apa-apa. Dia tumbuh dan berkembang sangat cepat, bahkan bukan hanya dengan temannya, dia juga memiliki tempat sendiri di hati musuhnya. Seutas senyum tipis terlihat, Kang Jian tak menyadari Wen Qing dan Wen Tian memerhatikannya.
"Aku melihat sesuatu dalam dirinya," ungkap Wen Tian dengan jujur. "Salah atau benar, kau adalah penunjuk arahnya. Kurasa berita tentang sang Petir Merah mengangkat seorang murid iblis adalah keputusan tepat. Hanya kau yang mampu menempanya menjadi pedang tajam, yang membela para manusia dari kejahatan."
"Aku berharap aku juga mampu untuk menempanya dengan baik."
Xue Zhan segera bergabung dengan yang lain, mereka berbicara sebentar sebelum akhirnya berlari ke arah di mana tiga musuh lagi pergi. Seharusnya dua orang di antara mereka adalah yang lemah dan tiga lagi sangat kuat. Berdasarkan dengan apa yang telah dilihat, Xue Zhan harus berhati-hati dengan tiga orang tersebut.
__ADS_1
Saat pergi ke markas musuh Xue Zhan sempat menghitung berapa senjata di tempat itu dan jumlahnya hanya delapan. Akan ada satu atau dua orang yang selamat dari racun tersebut.
Detik itu ketika mereka tiba di dalam goa berukuran besar, lima mayat bergelimpangan di pintu goa. Darah terciprat membasahi dinding dan lantai batu. Tidak ada yang berjaga di luar, di dalam pun beberapa wanita menepi di pojok sambil memeluk putra-putri mereka dengan menangis ketakutan.
Puluhan korban jiwa kembali berjatuhan. Menimbulkan penyesalan di hati Xue Zhan. Mereka masuk ke dalam, Xue Zhan menemukan seorang penjaga terbaring dengan tubuh penuh darah.
"Batu Elemen Penguasa Bumi ... Direbut. Seseorang dengan topeng aneh dan temannya berjubah hitam ..."
"... Orang itu, mereka-"
Tak terdengar suara lagi, tapi tangannya seolah-olah menunjukkan ke suatu arah. Xue Zhan meletakkan tubuhnya dengan pelan, dia menutup kedua mata orang itu lalu menyampaikan pada Kang Jian apa yang didengarnya.
"Batu Elemen Penguasa Bumi telah dicuri, Guru."
Tak hanya Kang Jian dan Jiazhen Yan, dua saudara kembar itu jauh lebih kaget daripada mereka
"Ti-tidak mungkin!"
Wen Qing berlari ke dalam goa, diikuti yang lainnya terkecuali Xue Zhan. Langkahnya berlari keluar dari sana, pedang di tangannya dia tarik, bersiap untuk bertarung melawan musuhnya.
Mereka telah membunuh lebih dari lima ratus orang hingga detik lagi.
Tidak ada ampunan baginya. Xue Zhan merasakan arti kehilangan seseorang. Tak terbayangkan jika seorang anak kehilangan kedua orang tua, saudara dan kakek neneknya sekaligus. Menjadi sepertinya sekarang, sebatang kara. Itu sangat-sangat menyakitkan. Dan musuhnya pantas mendapatkan balasan yang sama; dengan nyawanya.
Api yang membara di dalam dadanya seolah mengundang kekuatan tersembunyi yang perlahan bangkit oleh kemarahan itu. Mata itu bersinar bagaikan batu dengan kilauan berwarna merah darah. Langkahnya yang begitu cepat mengantarkannya pada dua orang itu.
__ADS_1
Si topeng aneh dan si jubah hitam.
"Topeng aneh itu ... Hanya dia satu-satunya yang menggunakan tombak tadi. Dia membuang senjatanya."