
Ratusan meter dilampaui dengan kecepatan tertinggi, pepohonan hanya terlihat sekelebat pandang dan kakinya mulai kesusahan untuk berlari, dia tidak memiliki pilihan, jika berhenti sesuatu di belakang akan langsung menerkamnya, sampai detik itu suara melengking dari belakang masih mengintainya beringas.
"Apa itu?" batinnya.
Dia tidak berani melihat ke belakang karena terlanjur takut akibat kekuatan negatif yang amat besar dan bahkan membuat tubuhnya refleks berlari mengikuti insting bertahan hidup, alam bawah sadarnya mengatakan dia tidak akan selamat jika berurusan dengan mahluk itu.
Xue Zhan berlari semakin kencang menembus jarak ratusan meter hingga akhirnya dia mulai tidak merasakan lagi aura dari sesuatu yang mengejarnya sampai sejauh ini. Matahari mulai turun, Xue Zhan tidak melihat satu pun peserta karena dia begitu panik sepanjang perjalanannya.
Mahluk itu memiliki tinggi semampai, bukan manusia tapi seperti memiliki akal cerdas, tubuhnya menyerupai binatang namun Xue Zhan tidak pernah melihat bentuk itu di mana pun. Napasnya masih terengah-engah, Xue Zhan merapat ke sebuah pohon untuk menarik napas sejenak.
Malam turun dengan sempurna tanpa menyisakan sedikit pun cahaya di kota terbuang itu, Xue Zhan berjalan beberapa meter dan akhirnya menemukan sebuah pemukiman yang telah lama ditinggalkan.
Langit kelabu di atasnya membuat suasana di kota itu tampak mencekam, bendera usang dan robek berkibar saat angin badai datang menyapu debu di atas kota kumuh itu. Rumah papan yang telah rontok dimakan rayap berdiri kikuk dan mungkin akan langsung rubuh jika gempa datang.
Kakinya berjalan waspada menuju alun-alun dan tersadar bahwa dirinya tidak sendirian di sana. Seorang gadis muncul di depan Xue Zhan-entah dari mana asalnya dan menghadap ke arahnya seolah-olah sedang menantang nyalinya.
Pemuda itu membuka suara lebih dulu, "Jika kau berharap mendapatkan gulungan dariku maka kau melakukan hal yang sia-sia, aku tidak memilikinya sama sekali."
Gadis itu hanya menunduk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun akan tetapi setelah Xue Zhan berkata tiba-tiba tangannya merogoh sesuatu di balik jubahnya.
Tiga gulungan sekaligus.
"Mau bertarung denganku?"
Tentu saja Xue Zhan kaget tapi dia tidak menepis sesuatu bahwa gadis itu terlihat amat berbahaya.
Ketika dia sedang berbicara Xue Zhan hanya dapat melihat bagian bawah wajahnya. Gadis itu mengenakan caping bambu di kepalanya dipadukan dengan jubah putih panjang hingga menyentuh tanah serta beberapa jimat yang digantung di lingkar pinggangnya, tangannya yang lentik pun terlihat sangat unik. Terdapat sebuah ukiran tato berwarna putih yang tampak menyala di tengah malam yang gelap.
Untuk beberapa alasan Xue Zhan merasa asing dengan peserta ini, dia tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya apalagi jika menurut dugaannya gadis itu tiga sampai empat tahun lebih muda darinya.
__ADS_1
Kecurigaan itu dibaca oleh gadis tersebut ditambah lagi melihat lawannya tidak merespon tantangannya, lagi-lagi dia berbicara.
"Di sini siapa pun akan menjadi lawanmu. Jika kau tidak mau bertarung maka kau akan mati!"
*
"Cih, lagi-lagi berbuat seenaknya. Gadis itu memang menyebalkan seperti biasanya," gerutu seseorang yang berdiri terbalik di sebuah dahan pohon menyaksikan keduanya dari kejauhan, di bawahnya seorang wanita duduk merapat pada pohon sambil menyesap teh hangat yang dibawanya dari jauh.
"Justru ini adalah kesempatan untuk melihat seberapa besar dia berkembang."
Terukir senyum yang tidak bisa diartikan di wajahnya kala itu, membuat temannya yang laki-laki hanya mengernyit lalu mengangkat bahu.
*
"Rasakan ini!"
Xue Zhan memuntahkan darah sangat banyak, baru kali ini dia mendapatkan serangan sebesar itu dan kesulitan untuk menggerakkan satu jari. Seluruh tubuhnya dibuat remuk. Batinnya bertanya-tanya, siapa gerangan gadis itu? Perlahan wajahnya berubah begitu terancam.
"Siapa orang ini-? Benarkah dia hanya seorang anak kecil? Tidak mungkin dia seorang peserta, dia mungkin lebih hebat dari Yun Mei ataupun Jiazhen Yan, orang ini ... Panitia juga mustahil, seketat apa pun peraturannya panitia tidak akan menyakiti peserta apalagi dengan hawa membunuh sebesar ini ..."
Pemikirannya terjeda sesaat ketika melihat gadis itu kembali muncul, jalannya begitu perlahan sampai Xue Zhan mengira dia mungkin akan berbicara atau sekedar memperkenalkan diri. Namun salah dugaannya, gadis itu tak berniat basa-basi dan langsung menerkam selayaknya singa memburu kijang.
Dengan pedang di tangannya Xue Zhan menahan tapak kaki yang nyaris membuat tulang lehernya bergeser. Matanya terbuka, meski menginjak mata pedang yang tajam kaki tersebut sama sekali tidak terluka. Xue Zhan terdorong sampai pada akhirnya hasilnya tetap sama, tubuhnya kembali menghantam tembok sebuah rumah dan terlempar ke dalamnya.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Xue Zhan merasa terancam mati menghadapi musuhnya.
Bunyi gemerincing di kakinya mengingatkannya dengan bunyi lonceng, terus-menerus berulang, Xue Zhan berusaha menebak di mana gadis itu lewat bunyi lonceng tapi yang terjadi bunyi itu seolah-olah berasal dari segala arah.
"Siapa kau yang sebenarnya? Panitia tidak mengatakan orang sepertimu juga akan menjadi musuh kami di tempat ujian ini, lalu kau siapa?"
__ADS_1
Dadanya berdebar kian kencang ketika tiba-tiba lonceng itu berada tepat di depannya. Di dalam kegelapan gadis itu muncul dan membuat sekitarnya sedikit bercahaya oleh tato di tangan dan kakinya
"Kau sungguh ingin tahu?" tanyanya balik, sudut bibirnya terangkat cukup tinggi sehingga gigi taringnya terlihat jelas.
"Sayangnya aku tidak diizinkan untuk memberitahu identitasku. Hihihi. Sungguh disayangkan. Tapi ... Aku akan menikmati waktuku untuk bersenang-senang denganmu, pecundang."
Dalam sekejap mata satu serangan masuk membabibuta, Xue Zhan tidak bisa menepis satu pun karena teknik bertarung yang dimiliki gadis itu memiliki kecepatan mutlak, dia bisa melepaskan tiga serangan dalam satu detik. Tubuhnya melayang di atas udara setelah ditendang gadis itu hingga terlempar, lalu sekejap mata sebuah cahaya tipis jatuh dari langit, berputar cepat ke arah Xue Zhan yang masih melayang.
Satu rumah hancur lebur ketika tubuh Xue Zhan dihantam oleh cahaya putih tersebut, suara dentuman dahsyat terdengar hingga jarak puluhan meter, debu beterbangan di mana-mana disertai jatuhnya puing-puing kayu menimpa tubuhnya. Xue Zhan telentang dalam keadaan mengenaskan, satu serangan itu menumbangkannya, hidungnya mengeluarkan darah, mati rasa, sakit dan nyeri menggerogoti seluruh tubuhnya.
Dia mulai kehilangan kesadaran, berusaha menoleh ke samping dan hanya mampu melihat sepasang kaki gadis itu.
Terdengar suara remeh, "Kau masih saja pecundang seperti dulu, lemah, pembawa sial dan tidak berguna. Mati saja kau!" Nada bicaranya perlahan berubah dipenuhi emosi dan dendam.
Lalu sesaat gadis itu mencabut pedang, Xue Zhan dapat mendengar bunyi besi itu akan tetapi pandangannya mulai samar-samar.
"Aku akan membunuhmu!" Suara itu lantang berseru. Dia mengangkat pedang untuk membunuh Xue Zhan.
Sejenak hening menguasai, kini ujung pedang itu berada tepat di dahi Xue Zhan.
Xue Zhan yang sedang berada di ambang batas alam bawah sadarnya berbicara.
"... Pedang ini ... Ini milik adikku. Kau mencurinya? Ka-katakan di mana adikku, aku telah mencarinya ke mana-mana tapi ..."
Pedang itu bergetar karena tangan yang menggenggamnya gemetar.
" ... Mereka mengatakan bahwa adikku telah mati dimakan kobaran api."
Tepat setelahnya Xue Zhan tak sadarkan diri.
__ADS_1