Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 56 - Hutan Kabut Ilusi


__ADS_3

"Brengsek."


Gerutuan itu terus berlanjut setiap kali dirinya bertemu hal-hal menyebalkan, di tengah hutan bambu yang mulai gelap setelah matahari terbenam kabut asap muncul sedikit demi sedikit hingga memenuhi seluruh hutan tersebut.


Langkahnya tertahan sejenak, untuk beberapa saat Jiazhen Yan mencerna apa yang sebenarnya terjadi di sekitarnya. Kabut itu bergerak cukup mencurigakan dan mempunyai sesuatu yang mulai mengganggu konsentrasinya.


"Kabut ini ... Kabut ilusi?"


Ketika menyadarinya Jiazhen Yan baru berpikir untuk segera enyah dari sana tapi lagi-lagi kakinya terhenti disertai angin kencang yang menelusup lewat celah-celah bambu, menghadirkan suara gesekan yang terus berulang dengan menyeramkan. Tangannya terkepal, kemarahan yang biasanya tampak berapi di wajahnya kini berubah.


Menjadi kemarahan yang benar-benar serius.


Dia tahu kabut ilusi itu sedang mempermainkannya dan dengan seenaknya menggunakan wujud ibunya.


Ketika Jiazhen Yan memikirkan kembali cara bekerja Kabut Ilusi sendiri dia tersadar bahwa wanita itu terpanggil bukan karena kabut ilusi melainkan pikirannya sendiri. Hal yang membuatnya sedih begitu dalam akan langsung terlihat di depannya dan menjadi kelemahannya, itu lah keunggulan dari Kabut Ilusi. Membuat orang yang merasakannya akan terjebak di dalam rasa penyesalan, kesedihan dan kekhawatiran.


"Ini hanya ilusi, ini hanya ilusi, Kabut Bajingan ini ... Aku akan membunuh siapa pun yang menaruh perangkap sampai ini!"


serunya mencoba melampiaskan kekesalan.


Suara menggema dari depannya dan itu langsung membekukan bibir Jiazhen Yan hingga dia tidak mampu berkata-kata sampai beberapa menit.


"Kau tumbuh dengan baik anakku. Sudah makan? Apa tidurmu cukup? Kau tidak kesepian, bukan? Apa teman-temanmu memperlakukanmu dengan baik?"


Suara itu masih sama tidak pernah berubah.


Pertanyaan itu membuat Jiazhen Yan teringat akan semua hal yang terjadi bersama wanita itu, dia mundur sambil menggeleng pelan.


*

__ADS_1


Traang!


Bunyi pecahan kaca terdengar kencang, seorang tuan muda bangsawan baru saja menepis makanan dari ibundanya dengan kasar lalu memaki dengan nada tinggi.


"Berhenti bertanya!"


Dia juga ikut memarahi pelayan yang datang bersama ibunya tanpa sebab, berlari ke halaman rumah yang sangat luas lalu duduk sendiri di depan kolam dengan sebuah patung bangau di tengahnya.


Anak kecil itu menangis tapi dia berusaha menyingkirkan air matanya sambil mengumpat-umpat kesal mengapa dia harus menangis, orang-orang akan menertawakannya.


"Yan'er, kau tidak apa-apa?"


Seseorang menyentuh pundaknya dari belakang.


"Kubilang berhenti bertanya!" Jiazhen Yan menangkap balik tangan itu dan tanpa sadar api murni yang mengalir di dalam tubuhnya keluar secara tidak terkendali, begitu besar hingga dia membakar tangan wanita itu yang seputih salju. Lantas wanita itu meringis, tapi dia tetap tersenyum. Jiazhen Yan menepis kasar.


"Tidak usah bertanya apakah aku sudah makan, tentang teman-temanku, tentang apa pun itu. Aku benci padamu!"


Karena ketika ibunya bertanya, Jiazhen Yan hanya dapat memikirkan jawaban menyakitkan.


Tidak ada satu pun yang mau berteman dengannya, ketika dirinya berusaha bergabung anak-anak itu menjauh dan menyebutnya monster. Ibu dan ayah mereka menyeret anaknya jauh-jauh ketika Jiazhen Yan ingin bermain dengan mereka.


Saat kecil hal itu begitu membuat hatinya terluka. Jiazhen Yan mencari pelampiasan dengan berbuat onar dan bersikap seenaknya sehingga satu per satu orang makin membencinya.


Tapi dari sekian banyaknya orang yang membencinya, hanya wanita itu satu-satunya yang tidak pernah membencinya.


Wanita itu duduk di tepi kolam sambil menepuk puncak kepala Jiazhen Yan yang menggemaskan.


"Sebenci apa pun kau pada ibumu. Kasih sayang seorang ibu tidak akan pernah luntur, sayang. Ibu akan selalu menyayangimu. Percayalah suatu saat nanti kau pasti memiliki seorang teman yang begitu peduli padamu. Karena itu, tetaplah mengejar impianmu dan jadilah apa yang kau mau. Ibu selalu mendukungmu, ingat itu."

__ADS_1


*


Jiazhen Yan tersadar dari lamunannya, alisnya menyatu dengan tidak suka ke arah wanita itu. Dia hanyalah wujud dari kabut ilusi tapi terasa begitu nyata. Satu konsekuensi yang harus Jiazhen Yan tahu jika dia tidak segera melepaskan diri dari Kabut Ilusi ini dia akan terjebak selama-lamanya dan tidak memiliki kesempatan kembali. Cara untuk melepaskan diri adalah dengan membunuh lawan dari ketakutannya sendiri yaitu ibunya. Sebenarnya masih ada satu cara lagi tapi rasanya itu tidak mungkin sebab di sini hanya ada Jiazhen Yan sendiri.


Wanita di depannya mengenakan jubah putih gading berbalut sedikit merah dengan dua buah anting di telinganya berbentuk lambang klan Jiazhen. Rambutnya panjang sepinggang berwarna putih salju, dia memasang kuda-kuda bertarung dengan sebelah tangan di depan.


"Aku tidak sudi berhadapan dengan replika menyedihkan seperti dirimu," geram Jiazhen Yan menggenggam erat pedangnya.


"Cih, tidak kuduga kau ternyata sudah lebih tahu tentang ini. Inikah kelemahanmu? Seorang ibu? Ah, begitu klasik tapi aku menyukainya." Ketika mendengar suara ibunya berbicara dengan cara yang sangat memuakkan Jiazhen Yan ingin langsung menghabisinya. Dia menghancurkan keanggunan wanita itu.


"Mati saja kau binatang!"


Langsung saja tanpa ba-bi-bu Jiazhen Yan mengeluarkan tinju berapi ke arah wanita itu. Namun musuh lolos dengan mudah, Jiazhen Yan lupa bahwa wanita itu dulunya juga adalah petarung. Saat musuh menjelaskan semuanya menjadi semakin jelas.


"Tubuhku yang sekarang mungkin hanyalah ilusi tapi kau tetap akan berdarah terkena pedangku. Ingatan dan kekuatan milik ibumu akan terekam di ingatanku asal kau tahu. Aku tahu semua kelemahanmu, bocah bangsawan."


Tiba-tiba saja wanita itu menangkap tinjunya dan sebuah jurus elemen es keluar dari tanah serupa ombak, menghantam dadanya sampai Jiazhen Yan terpental. Dia hampir melarikan diri tapi cengkraman itu menahannya dengan cara yang mengerikan. Tidak biasanya Jiazhen Yan mudah terkena serangan tapi kali ini dia mengakui bahwa ilusi itu memang cukup kuat.


Ibunya berucap dingin, "Tidak pernah ada yang selamat setelah terkena kabut ilusi ini. Karena mereka bertarung melawan kelemahan mereka sendiri. Kau tidak akan mampu menanganinya."


Jiazhen Yan setengah membungkuk, darah menetes dari mulutnya, dia tertawa meremehkan.


"Ada orang yang jauh lebih kuat dari kau. Dan dia satu-satunya yang pernah mengalahkanku. Dia bodoh tapi juga tak pernah putus asa. Hanya mengalahkanmu aku tidak sanggup? Kau bercanda."


Pemuda itu bangkit. Kali ini dia akan serius untuk bertarung.


"Menyerahlah, kau hanya membuang-buang waktuku."


"Kau hanyalah rakyat, aku Rajanya. Berhenti mengoceh dan dengarkan titah Rajamu."

__ADS_1


Mata itu melotot ganas, mulutnya menyeringai penuh darah.


"Kau akan kuhukum mati dengan cara paling mengenaskan."


__ADS_2