Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 39 - Perang 10 Tahun Lalu


__ADS_3

Bayangan api peperangan yang menggelegak membakar seluruh Kekaisaran, pertumpahan darah berhari-hari tiada henti dan hancurnya banyak hal dalam penyerangan terakhir yang menjadi lembar penutup kehadiran ras iblis, kala itu, perang menjadi momok menakutkan. Semua warga menutup pintu mereka rapat-rapat dan berakhir dibantai di rumah mereka.


Bukan hanya satu rumah, melebihi dari puluhan ribu rumah dan jutaan jiwa melayang akibat serangan yang digencarkan para iblis saat itu.


Ada beberapa dugaan yang bermunculan. Serangan iblis tidak akan sebesar itu tanpa dorongan besar di belakangnya. Bermacam-macam asumsi menjadi pembicaraan panas, tapi dari sekian kabar hanya satu yang sering terdengar saat itu;


Dua orang petinggi Taring Merah terlibat di dalam perang-atau lebih tepatnya disebut sebagai pembantaian massal itu.


Mereka adalah Dai Zhen-petinggi sekaligus satu dari tiga pendiri Taring Merah dan bawahannya saat itu, Kang Ying.


Kekhawatiran memuncak dan tak kunjung menemui titik temu. Lalu seseorang menyampaikan kenekatannya,


"Aku akan pergi untuk mengambil kepala mereka," ucap lelaki sepuh itu sembari menatap patung raksasa di depan sana, membayangkan pemuda gagah berani itu mengatakannya untuk yang kedua kali. Semangat jiwa muda yang membara di hatinya memang telah lama padam. Namun ketika dia melihat ukiran patung dirinya di masa muda, lelaki itu kembali merasakan gelegak yang sama.


Di tengah guncangan yang melanda seluruh Kekaisaran, Zhao Xuyang berangkat menuju medan tempur seorang diri dengan hanya mengandalkan satu pedang, dia bertarung hingga titik darah penghabisan.


Di tengah pertarungan sengit itu ribuan Pahlawan di markas Taring Merah juga bertarung, dia datang paling terakhir dan menjadi satu-satunya laki-laki yang bertahan. Keberuntungan sekali dalam seumur hidupnya muncul, Zhao Xuyang membunuh petinggi Taring Merah Dai Zhen yang kelelahan bertarung melawan ribuan pendekar sebelumnya.


Akibat jatuhnya pendiri Taring Merah kelompok itu mengundurkan diri dan ras iblis melemah, kemunculan satu pahlawan juga mengubah prajurit yang semula lemah menjadi begitu kuat. Karena mereka percaya, selagi ada pahlawan mereka menang. Perang 35 hari melawan ras iblis berakhir dengan kemenangan manis. Ras itu berakhir, disegel, dibunuh, dibakar, ditikam, bahkan dikubur hidup-hidup. Tanpa ada satu pun yang tersisa dari keturunan tersebut.


"Lalu di sinilah aku," ujarnya dengan nada bicara pelan. "Keberuntungan sekali seumur hidup itu membuatku dikenal banyak orang, bahkan hingga ke empat Kekaisaran besar. Para wanita mengerubungiku, gelar kehormatan tersemat di wajah dan tubuhku. Namun ..." Kalimatnya tertahan di ujung bibir, "Aku tidak pernah merasa pantas untuk itu. Aku selalu memalingkan muka setiap melihat patung tersebut."


"Aku datang ke medan perang untuk mengakhiri penderitaan manusia. Tidak menjadi seorang pahlawan hebat yang dikenal dan diagung-agungkan. Itu adalah tugas berat, asal kau tahu," Sejenak tahap matanya teralihkan pada Xue Zhan yang diam dalam bisu. Merasa ambisinya menjadi pahlawan mulai keliru.


"Aku diturunkan ke berbagai medan perang. Dituntun untuk menang dalam segala kondisi. Aku adalah lambang keberanian kata mereka, jadi aku memaksa diriku untuk tidak bertemu dengan kekalahan. Sejak hari itu ... Hariku berubah suram. Aku membiarkan temanku terbunuh agar aku menang. Menghukum mati istriku yang melanggar peraturan, menyiksa anak-anakku, mengabaikan keluargaku. Aku buta kehormatan."


Xue Zhan dapat mendengarnya. Suara yang menahan sesak di dalam dadanya, lelaki itu membuang napas. "Aku menyadarinya saat aku telah kehilangan segalanya."


Zhao Xuyang menutup kisahnya dengan senyum di wajah tuanya, untuk sementara Xue Zhan menatap lelaki itu.

__ADS_1


"Aku tidak melihat Anda sebagai orang yang telah kehilangan segalanya," bantahnya.


"Tapi aku mengakui bahwa menjadi seorang pahlawan artinya harus menyerahkan seluruh jiwa dan raga untuk mengabdi. Walaupun harus membuang orang-orang di sekitarmu. Tapi di satu sisi kau berhasil menyelamatkan senyuman orang banyak. Kau menyelamatkan seorang ayah agar anaknya tidak menjadi yatim, menyelamatkan seorang anak agar sepasang suami istri tidak kehilangan anak mereka."


"Mungkin apa yang Anda lakukan di masa lalu membuat Anda menyesal, tapi bukankah di sisi lain ada hal baik yang terjadi?"


Lelaki itu tersenyum, "tidak pernah ada orang yang mengatakan begitu," gumamnya begitu kecil. Angin siang membelai wajah keduanya dengan lembut.


"Setiap orang yang mendengarkan ceritaku memaksaku untuk memaafkan diriku sendiri dan menatap ke depan. Meski sampai bertahun-tahun aku gagal, aku tetap menyesali banyak hal yang terjadi di masa lalu."


"Tapi kau benar. Ada hal baik dan hal buruk yang terjadi. Itu adalah hal lumrah yang sering terjadi di kehidupan. Tergantung cara menerima kondisi itu."


Xue Zhan pernah mendengar nasihat dari Kakeknya, dia mengutarakannya, "Hal buruk yang terjadi itu akan menjadi buruk saat kita berpikir itu adalah sesuatu yang tidak termaafkan. Tergantung cara kita memandangnya, entah sebagai tembok tinggi yang menghalangi jalan, batu yang membuat tersandung, atau bahkan tangga untuk naik ke atas. Bukankah penyesalan itu juga pengalaman? Meskipun buruk, tapi banyak hal berharga yang bisa diambil."


Zhao Xuyang merasa dia sedang berbicara dengan orang seumuran dengannya.


Kini dia begitu terkejut saat mengenal Xue Zhan lebih jauh.


Mulutnya berbicara tanpa berpikir dua kali, "Hei, sepertinya aku mulai menyukaimu."


Xue Zhan mengibaskan tangan di depan dada, "Ahahaha aku hanya mengulang nasehat dari kakekku. Beliau sudah tiada, tapi dia adalah orang yang sangat bijak."


"Begitu. Ah, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Zhao Xuyang," ucapnya mengulurkan tangan. Xue Zhan menatap sesaat dan menyambut antusias, "Xue Zhan! Panggil dengan sebutan apa pun. Aku harus memanggil anda seperti apa? Paman Zhao? Kakek?"


"Kakek sepertinya lebih cocok untukku. Hahahah."


"Haha baiklah. Kakek Zhao sekarang masih menjadi pahlawan?" tanyanya.


"Aku sudah lama berhenti dari itu." Zhao Xuyang membuang pandangan kembali ke patung tersebut, "Tapi jika kau ingin tahu, saat ini aku menjabat sebagai salah satu Dewan Sembilan," sambungnya yang kontan membuat Xue Zhan membeku.

__ADS_1


Bagaimana bisa dia bertemu orang sepenting laki-laki ini di atas bukit dan berbicara layaknya dengan kakeknya sendiri. Itu membuatnya sedikit panas dingin. Tapi cara laki-laki itu berpakaian juga tidak menampakkan bahwa dirinya berada di kasta golongan elit.


"Kaget? Hahaha. Kau pasti lebih kaget saat kubilang aku sering melihatmu latihan akhir-akhir ini di bukit ini. Jarang sekali ada yang datang kemari selain diriku."


"Ja-jadi selama ini Kakek Zhao melihatku berlatih?!" kagetnya, "Aish, memalukan sekali latihan payahku. Sudah dua bulan, guru bilang aku masih belum meningkatkan lingkaran tenaga dalam. Masih tersendat di lima lingkaran. Fisikku juga tidak berkembang banyak, aku ketinggalan banyak dari temanku."


Zhao Xuyang menaikturunkan alisnya, "Benarkah?" Tanpa permisi dia mengecek denyut nadi Xue Zhan, memeriksa bagian dalam tubuhnya dan merasakan aliran kekuatan yang cukup besar. Dia menarik senyuman tipis.


'Kau sedang berpura-pura lemah atau gurumu yang sedang menipumu?' batinnya.


"Kau murid Kang Jian, ya?"


"Benar, Kakek Zhao."


"Ada begitu banyak kesalahan dalam latihan mu. Selagi aku punya banyak waktu, aku bisa membantumu meningkatkan kekuatanmu itu."


Xue Zhan membuka matanya.


"Sungguh?" Dia masih terheran-heran. Diajarkan langsung oleh pahlawan hebat dan juga anggota Dewan Sembilan, itu adalah keberuntungan yang jarang terjadi. Xue Zhan langsung mengambil kesempatan itu.


"Dengan segala hormat aku menerimanya!"


"Kau berlatih untuk mengikuti Ujian Pendekar Menengah tiga bulan lagi, bukan?"


Xue Zhan mengangguk dengan mata penuh kobaran api. Zhao Xuyang tertawa geli, benar-benar semangat jiwa muda.


"Jangan katakan apa-apa pada Gurumu. Ini menjadi rahasia kita." Saat itu Zhao Xuyang kembali tertawa melihat respon Xue Zhan.


Di dalam hatinya dia berbicara, 'Seandainya aku memiliki seorang cucu mungkin dia sedikit lebih muda dari anak ini ...'

__ADS_1


__ADS_2