Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 71 - Taruhan dan Pilihan Ketiga


__ADS_3

Tubuh Jiazhen Yan bereaksi aneh. Pemuda itu terlihat seperti sedang berontak dari dalam.


"Aarrhgh!"


Xue Zhan mengeratkan pegangannya pada pedang, meyakinkan dirinya ini yang terbaik untuk menghadapi situasi kritis dan berjalan ke arah Hantu Penyair. Keselamatan teman-temannya dan misi ini adalah nomor satu, dia tidak bisa mempertaruhkan itu begitu saja.


Tangan Jiazhen Yan menutup sebelah matanya yang merah pucat, dia mengumpat mati-matian di tengah ketidaksadarannya.


"Jangan berani-beraninya kau bersekongkol dengan wanita iblis itu!"


Suara itu menggelegar di dalam hutan, Xue Zhan sama sekali tidak berhenti atau pun menoleh.


Dia melihat lebih banyak musuh berada di dalam Menara Giok Hantu, mereka adalah manusia mati yang dikendalikan di tempat itu. Jumlahnya bisa saja puluhan hingga ratusan.


Melihat reaksi Xue Zhan, pemuda itu semakin memanas.


"Zhan!" teriak Jiazhen Yan, Hantu Penyair memperkuat petikannya pada kecapi. Tak membiarkan pemuda itu berontak dan menggagalkan semuanya. Kini Xue Zhan adalah miliknya, tak henti-hentinya bibir merah itu tersenyum.


"Jika ingin menjadi pelayanku, maka letakkan pedangmu."


Xue Zhan benar-benar melakukannya tanpa membantah.


Pemuda ity semakin mendekat, sambil sesekali membuang napas berat.


"Aku akan mencabikmu habis ini!" lontar Jiazhen Yan kehabisan kesabaran, dia gagal melepaskan diri dari pengaruh musik kecapi Hantu Penyair, wanita cantik itu mempercepat gerakan tangannya dan membelenggu tubuh Jiazhen Yan dengan kekuatan dari kecapi tersebut hingga Jiazhen Yan kembali kehilangan kesadarannya.


Dia mengalihkan tatapannya pada Xue Zhan yang sudah berdiri persis di sampingnya.


"Keputusan yang tepat. Boleh kutahu namamu-"


Hantu Penyair melompat dari tempatnya, Xue Zhan tiba-tiba saja mengibaskan tangan kosong ke arahnya. Mata merah itu terlihat berubah dari sebelumnya.


"Menjadi pelayanmu? Satu-satunya pilihanku sekarang adalah bertarung bersama temanku sampai mati. Aku sudah bersumpah, sebagai pendekar yang akan mengorbankan nyawa untuk Kekaisaran dan menerima segala konsekuensi dari misi yang kujalani, aku tidak akan takut akan kematian!"


Pedang putih itu kembali ke tangan pemiliknya, Xue Zhan menghunus pedang ke arah Hantu Penyair.


Gerakan tebasan memutar selanjutnya membuat Hantu Penyair terhenyak, Xue Zhan mengubah tenaga dalam dan mengalirkan kekuatan pada besi pedang miliknya untuk memotong benang tipis yang tidak akan bisa dilihat dengan mata manusia.

__ADS_1


Puluhan benang kekuatan terpotong, melepaskan Jiazhen Yan yang seketika terlepas dari pengaruh musuh dan kembali mendapatkan kesadaran.


Dua tahun yang lalu Xue Zhan pernah mengalami situasi yang sama di mana Gurunya ditahan oleh musuh dan dia hampir kehabisan langkah. Xue Zhan mampu melihat kekuatan setipis itu dari lawan dengan kemampuan mata merah miliknya, benang-benang tipis itu mampu mengendalikan sesuatu dari jarak jauh semau penggunanya. Jika hanya mata manusia biasa akan sulit melacaknya.


Dia mengibaskan pedang ke samping, beberapa helai benang terjatuh. Xue Zhan berucap, "Dari awal petikan alat musikmu itu hanya pengecoh bukan? Irama yang sengaja kau buat untuk mengacaukan pikiran orang lain sebenarnya tak seberapa. Tapi benang-benang tajam ini adalah keahlian utamamu. Kau bisa menusuk orang yang bahkan berdiri sepuluh meter darimu walau tidak bergerak sejengkal pun."


Hantu Penyair berhenti memetik kecapi dan tak bisa mengelak lagi.


"Aku teringat dengan sesuatu," alihnya ketimbang melanjutkan pembicaraan sebelumnya.


"Cahaya Keenam pernah membicarakan tentangmu. Matamu begitu tajam sama seperti pikiranmu. Tapi tak kusangka kita akan bertemu secepat ini."


"Cahaya Keenam?" tanya Xue Zhan balik. Mengingat wanita kipas dengan rambut panjang itu, dia sangat garang dan bahkan mengancam akan kembali datang untuk mengincarnya. Mendengar nama Taring Merah akhir-akhir ini menimbulkan gelisah baginya.


Tidak bisa disangkal lagi, pergerakan kelompok penjahat itu semakin menjadi-jadi, bahkan dua minggu yang lalu sempat terjadi pembantaian di tempat jual-beli budak dan menewaskan setidaknya 78 wanita muda serta 104 anak-anak.


Tak terendus apa motifnya, tapi jika mereka hanya sedang mencoba mengacaukan dunia persilatan, itu tentu tidak bisa dibiarkan dan harus dianggap sebagai permasalahan serius.


Tidak ada pendekar bahkan perguruan terhebat mana pun mampu menghentikan Taring Merah. Markas mereka begitu tersembunyi. Ada yang mengatakan Taring Merah berada di sebuah pegunungan hutan yang menyerupai labirin, markas itu bisa berpindah-pindah.


Masuk ke sana saja sudah begitu sulit apalagi menemukan jalan keluarnya.


Sorot mata itu berkilat, "Aku tidak akan melepaskanmu habis ini."


Jiazhen Yan berdiri sejajar di sebelah Xue Zhan, pertarungan kembali terjadi begitu cepat. Keduanya dikepung oleh dua puluh lawan sekaligus. Xue Zhan melihat samar benang-benang tajam itu kembali datang dari kecapi musuh. Mencoba menjangkau keduanya ingin merobek tubuh mereka.


Jiazhen Yan tak bisa melihatnya sama sekali, keduanya saling memunggungi melindungi titik buta dan bertarung menghadang serangan dari bawahan Menara Giok Hantu dengan Xue Zhan fokus memutuskan benang milik Hantu Penyair dan Jiazhen Yan menahan serangan dari berbagai sisi.


Bunyi dentingan pedang, tangkisan serta tendangan tak habisnya terdengar bertubi-tubi. Xue Zhan berbicara di tengah pertarungan, "Ini tidak akan ada habisnya, mereka akan terus datang!"


Mereka semakin terkepung, Jiazhen Yan menyeru, "Singkirkan mereka semua!"


Jiazhen Yan memegang lengan Xue Zhan dan seenaknya menjadikan temannya pegangan, dia menendang dada musuh miring dan berputar hingga puluhan dari mereka jatuh terpental.


Xue Zhan dan Jiazhen Yan kabur melepaskan diri dari kepungan.


Hantu Penyair melebarkan netra matanya, memetik alat musik semakin kasar. Memanggil lima puluh lebih manusia mati itu untuk menyerang Xue Zhan dan Jiazhen Yan.

__ADS_1


Keduanya terperangkap. Puluhan musuh terbang ke atas mereka sambil mengangkat pedang. Tidak ada jalan keluar lagi.


"Tamat riwayat kita."


*


Seorang wanita cantik tengah duduk di atas patung angsa raksasa yang berada di kolam Istana Kaisar sambil menyesap tehnya dengan tenang. Gelombang kecil di permukaan air sekilas mengganggu kedamaiannya, benar saja dari arah belakang pengawal pribadinya berjalan tergesa-gesa sambil membawa timbunan kertas laporan.


"Tim Xiao Rong tidak mengirimkan kabar sejak tiga hari yang lalu, Yang Mulia!" paniknya langsung pada intinya. Sesaat Li Jia Xing menoleh pelan, menampakkan tatapan mata terganggu.


"Kau sedang memperdebatkan keputusanku?"


Du Xiaohua, nama wanita pelayan pribadi itu tak berani membantah lebih jauh.


"Ma-maafkan aku Yang Mulia, aku terlalu terbawa perasaan dan tidak memperhatikan ucapanku."


Li Jia Xing kembali menatap ke depan sambil menghabiskan teh yang hanya tersisa setengah.


"Aku sengaja tidak memberi tahu mereka tentang kesulitan misi tersebut, aku yakin mereka mampu menghadapinya ."


"Tapi ... Bukankah gadis itu sangat berharga bagi kita? Kita bisa mengirimkan pendekar elit untuk menyelematkannya. Apalagi yang mereka hadapi adalah Menara Giok Hantu."


"Aku ingin melihat seberapa hebat iblis sekaligus murid Kang Jian itu mampu bertahan, dia adalah seorang iblis yang sejak dulu lebih mementingkan rasnya sendiri daripada manusia. Itu adalah jati diri mereka sebenarnya."


Dia melanjutkan, "Aku bertaruh untuk dua kemungkinan. Pertama, apakah dia akan berlari sambil mencampakkan teman-temannya? Atau kedua, rela bermandikan darah untuk menggotong mayat teman-temannya?"


Jari putihnya meletakkan cangkir kembali ke piringnya, tersenyum sepintas. "Tapi hatiku memilih jawaban ketiga. Iblis itu akan kembali dengan membawa gadis itu bersama teman-temannya."


"Yang Mulia mempertaruhkan nyawa gadis itu dan jenius kita di tangan iblis sepertinya?"


Li Jia Xing tertawa.


"Menurutmu?"


Wanita itu berdiri menghadap Du Xiaohua yang tidak berani menatap wajah Kaisar Li. Ide dari wanita itu selalu saja nekat.


"Aku melihat sebuah ikatan erat di antara mereka. Tidak pernah melihat Anak dari Kegelapan itu bersikap lebih manusiawi sebelum bertemu dengan orang-orang bodoh seperti iblis itu dan dua temannya dari Kekaisaran Diqiu."

__ADS_1


Langkah anggun itu berderap melewati Du Xiaohua, Li Jia Xing berbisik di samping telinga wanita itu.


"Tapi aku khawatir akankah angin badai yang menerpa iblis itu, dengan membawa segudang marabahaya mampu menggoyahkan hati kecil Xiao Rong kita dan terus mempercayainya?"


__ADS_2