
Xian Shen berdiri tegap di hadapan Xue Zhan dengan sebelah tangan memegang pedang, ilmu pedang yang dipelajarinya di Lembah Abadi akan menjadi penentu kemenangannya kali ini. Xian Shen berhasil unggul, mengumpulkan tiga puluh poin saat ini dan tetap merasa tidak puas. Dia ingin mengumpulkan poin lebih banyak karena hal itu akan mempengaruhi babak penyisihan kedua nanti.
Sementara Xue Zhan telah melihat gaya bertarung Xian Shen sejak awal pertarungan. Bisa dikatakan dia memiliki satu keunggulan, kemampuan dalam ilmu pedangnya cukup menonjol dari aspek lain. Pergerakannya kaku tapi juga penuh perhitungan. Xue Zhan harus berhati-hati dengan serangan lurus berkekuatan penuh yang dilakukannya secara tiba-tiba, dua kali pertarungan melawan peserta lain, Xian Shen berhasil menang hanya dengan menggunakan jurus yang sama.
"Bersiap!" Tang Quan seperti biasa berteriak dengan nada tinggi menggema di seluruh ruangan, sebelah tangan terangkat sejajar kepala, lalu terdengar seruan yang diikutinya gerakan tangan ke bawah.
"Putaran keempat dimulai!"
Xue Zhan bersiaga, melihat Xian Shen tanpa aba-aba langsung menarik pedang tepat setelah pertarungan dimulai. Matanya terbuka, lalu sebuah serangan masuk dari arah depan. Xue Zhan menahannya, kakinya terseret ke belakang beberapa meter.
Xian Shen menarik kembali senjata dan melepaskan tebasan dari samping, miring melintang ke arah pinggang Xue Zhan. Xue Zhan tidak tinggal diam, dia menghindar untuk mengambil jarak selama dua detik, berusaha membalikkan dengan tebasan beruntun.
Ketika melihat musuhnya sekarang Xue Zhan masih mengingat bagaimana latihannya dengan Zhao Xuyang. Cara laki-laki itu memberikan tekanan dalam setiap gerakan yang membuatnya terintimidasi dan terseret arus pertarungan sehingga membuatnya sering kalah duel. Xue Zhan tidak ingin mengikuti tempo yang diciptakan lawannya, itu artinya dia harus melakukan serangan besar untuk menggoyahkan dinding pertahanan musuh.
Pertarungan masih berlanjut, tapi tampaknya Xian Shen tetap tak teralihkan. Dia menangkis belasan gerakan pedang yang datang dengan sempurna tanpa celah, hingga di detik selanjutnya Xue Zhan tersentak karena serangan yang telah diwanti-wanti keluar tanpa diduga.
Sebuah terjangan keras menghantam perutnya, membuat Xue Zhan terpental. Dia melompat, menyetabilkan keseimbangannya, mulutnya memuntahkan darah cukup banyak.
Sementara di hadapannya Xian Shen masih di posisi sama dengan pedang dijulurkan ke depan. Dia hanya menghantam perut Xue Zhan dengan gagang pedang. Namun dengan tenaga penuh, serangan itu cukup terasa menyakitkan.
Xian Shen memiliki mata yang cukup tajam, mampu melihat situasi pertarungan yang ditempuhnya dan mencari waktu terbaik saat musuh lengah untuk melancarkan serangan.
Waktu tersisa setengah lagi, jika Xue Zhan kalah Xian Shen tetap akan mendapatkan lima poin karena berhasil mengenainya. Satu-satunya kesempatan Xue Zhan untuk mendapatkan poin adalah mengalahkan Xian Shen dengan telak.
Xian Shen tidak terlihat ingin mengulur waktu lebih lama dan langsung maju dengan berani, menyerang Xue Zhan dari depan. Meski demikian dia tidak sembarangan bergerak. Pemuda itu tidak membuka celah, saat pertarungan kembali dilanjutkan Xian Shen melepaskan lebih dari tiga tebasan yang sulit dihindari.
Xue Zhan membalikkan ujung pedangnya ke bawah, mata pedang lawan berhenti di besi pedang miliknya. Xian Shen nampak mulai kelelahan karena menggunakan kekuatan berlebihan.
__ADS_1
Xue Zhan mengambil kesempatan itu dengan memberikan dorongan kuat ke depan, membuat pedang Xian Shen termundur. Xian Shen menarik diri, merasa lawannya juga tak akan diam saja berada di situasi terpojokkan.
Benar saja satu tebasan ditariknya, bukan serangan kuat dan seharusnya dia bisa menghindar dengan mudah.
"Pedangmu tak akan pernah meraihku."
Xue Zhan membuang napas berat, menggemerutukkan gigi, waktu hanya tersisa satu menit. Xian Shen bisa menang dengan mudah, lebih berbahaya jika dia menyerangnya sampai babak belur.
"Aku akan mulai serius, peraturan tidak mengatakan akan memberikan sanksi karena mencederai lawan dengan fatal, artinya aku bebas mengeksekusimu semauku."
Dia menghunuskan pedang ke depan.
Alisnya bertaut, sesuatu mengalir di pelipisnya. Darah.
Xian Shen menyentuh dahinya, sebuah garis tipis horizontal melukainya tanpa dia sadari.
"Apa-?" Napasnya tertahan, dia bahkan tak menyadari dirinya sedang terluka, tatapnya kembali menatap Xue Zhan. Terlihat kemarahan di kedua bola matanya, marah karena wajahnya menjadi sasaran. Xue Zhan tak lagi banyak bicara dan segera maju. Mereka hanya memiliki waktu kurang dari enam puluh detik untuk menentukan siapa yang menang dalam pertarungan kali ini.
Kedua kubu saling berhadapan, Xian Shen menarik pedangnya begitupun dengan Xue Zhan.
"Waktu habis!" teriak Tang Quan, melihat keempat beserta berhenti melakukan perlawanan. Namun Xian Shen dan Xue Zhan tidak kembali ke posisi mereka masing-masing. Matanya tertoleh ke dua pemuda itu, mencoba mencari tahu apa yang telah terjadi.
Tetes darah jatuh di lantai arena, pedang di tangan keduanya masih dalam posisi sama di sisi tubuh mereka masing-masing.
Xue Zhan melukai Xian Shen di bahu, serangan Xian Shen lolos mengenai dada Xue Zhan.
Tang Quan berdiri di tengah-tengah mereka, Xian Shen dan Xue Zhan kembali ke tempat masing-masing saling berhadapan. Menunggu lelaki itu menentukan.
__ADS_1
"662 mendapatkan 10 poin, 0 poin untuk peserta nomor urut 664!"
Tanpa diduga Ming Ming berhasil menang melawan Lao Bao Li, sedikit beruntung karena lawannya juga mulai kelelahan.
Xue Zhan masih menunggu keputusan untuk pertandingannya melawan Xian Shen. Tang Quan menjeda, mengamati kedua peserta secara detail.
"Nomor urut 665 dan 666 seri!"
Detik itu terjadi ketegangan di arena lantai satu.
"Tidak ada yang mendapatkan poin?" ujar Xian Shen berterus terang.
Tang Quan menoleh remeh ke arahnya. "Pemberian poin akan dihitung berdasarkan kuatnya serangan yang diberikan terhadap lawan."
"Nomor urut 666 mendapatkan 10 poin, 665 nol poin!"
Xian Shen nyaris memprotes, tapi ketika dia melihat lagi sejauh ini serangan pertama Xue Zhan sudah melukainya hingga berdarah. Begitu pun serangan kedua. Dia mencengkram gagang pedang, dadanya naik turun seakan tidak menerima, tapi tak terdengar protes dari mulutnya karena dia tahu Tang Quan tak segan-segan mengurangi semua poinnya jika dia membantah.
Xue Zhan menarik senyum, tidak percaya mampu unggul melawan Xian Shen. Dengan begini dia memiliki 25 poin terkumpul. Hanya perlu mencari 5 poin lagi, mungkin dia akan aman.
Tapi tak menutup kemungkinan dia juga masih akan terancam karena jika poinnya termasuk lima terbawah, meski dia sudah memenuhi syarat lulus Xue Zhan akan tetap gugur.
Selagi berpikir keras seorang gadis dengan rambut pendek sebahu pengguna tombak datang, menarik senyum terpaksa sembari berkata, "Aku ingin bertarung denganmu. Kau tidak keberatan?"
Xue Zhan mengulurkan tangannya untuk menyambut tangan Ming Ming.
Putaran berikutnya, dia akan bertarung kembali melawan gadis yang telah menang melawan Lao Bao Li, peserta dengan nilai poin tertinggi di arena lantai satu saat ini.
__ADS_1
Namun tanpa diduga seseorang lebih dulu menjabatnya, lebih cepat dari Ming Ming. Xue Zhan mengangkat wajah menatap Lao Bao Li telah berada di depannya seraya berkata, "Kau akan menjadi lawanku."
Tang Quan menaikkan sebelah alisnya, "Kelihatannya akan menjadi semakin menarik ...."