Letter To My Albino

Letter To My Albino
Extra Part


__ADS_3

Tap ... tap ... tap ...


Ela menemui kakaknya untuk bertanya beberapa hal yang ada di isi kepalanya.


"Kak!" Panggilnya.


'Sudahku duga dia akan datang dengan cepat,' ucap kak Anir.


"Kenapa La?"


" kemarin waktu kakak mengantarkan Valdo, Kakak mengantarkan Valdo ke mana? Dan kenapa rumah Valdo sekarang kosong?"


"Kakak nyembunyiin sesuatu dari aku kan?!"


"Kakak bohong atas kesembuhan Valdo kan? Kakak bohong karena Valdo sebenernya belum sembuh kan?"


"La ..."


"Aa! Aku tau kalau Valdo itu mengidap kanker melanoma, walau stadiumnya masih kecil tetapi setelah pengangkatan kanker stadium awal, kemungkinan kena setelahnya itu ada kak!"


"Dan kakak bohong sama aku! Aku cuma mau tau aja Valdo ada dimana? Dia gak akan ngilang lagi kan setelah hari itu?"


"Iya enggak, dia baik-baik aja." Kak Anir menjawab dengan penuh rasa cemas ke sang adik.


"Jadi Valdo sekarang dimana kak?" Tanya Ela lagi.


"Valdo ada di rumah sakit Jakarta, aa yang antar dia kesana bersama ibunya sehari setelah kita pulang dari Lampung."


"Huh .... oke, makasih atas informasinya."


Tap ....


Kak Anir menangkap tangan Ela dan langsung bertanya kembali.


"Mau kemana?"


"Ke kamar."


"Yakin?"


"Iya." Ela langsung melepaskan tangannya secara paksa dan pergi menuju kamarnya.


...~•~●~•~...


Bruk ...


Ela membanting tubuhnya ke kasur sembari menangis sejadi-jadinya. Ela tidak menyangka kali kedua kejadian ini terulang kembali.


Ela bukannya tergila-gila karena cinta tetapi ada rasa yang tak bisa ia ungkapkan jika ia harus di tinggal lagi entah sampai kapan.


"Hiks ... hiks ... hiks ..."


...----------------...


Tepat jam 12.00 malam, Ela pergi dari rumahnya menggunakan motor kesayangan. Ela meminta Bantuan pada Bimo hari itu dan Bimo pun meminta Ela datang kerumahnya.


Sesampainya di rumah Bimo, Ela menceritakan semua yang terjadi, mulai dari di pesisir pantai, rumah sakit hingga Valdo tak ada kabar seharian.


"Mungkin dia pulang kampung," ucap Bimo dengan tenang.


"Mo! Kata kak Anir, kak Anir bawa Valdo ke RS di Jakarta." Ela langsung bilang inti dari semua pembicaraannya.


"Lah ya ngapa gak ngomong?"


"Ini gua barusan ngomong."


"Tolong bantuin gua ya Mo, tolong banget, kita ke Jakarta sekarang."


"Bisa aja, tapi nanti pas jam 3an kita berangkat soalnya jalan sepi gua takut kita kena begal kalau berangkat sekarang. "


"Yaudah basing, tapi intinya gua minta bantuan lo."


"Iya, Ela."


"Dah sekarang lo masuk tidur sana di kamar gua. Biar gua tidur di ruang tengah, gua mau nonton piala dunia."


"Oke, makasih ya Mo."


"Iya, dah sana masuk. Inget gak usah overthiking."


Ela memberikan hormat sebelum masuk ke dalam kamar Bimo, lalu menutup pintu.


Blam!


"Gua harap Valdo baik-baik aja," gumam Ela berjalan ke ranjang.


Ela menatap dua bingkai foto di atas meja. Bingkai pertama foto kelulusan SMP Bangsa, dimana ada Ela, Ryca, Anton, Bimo dan Cila.

__ADS_1


Sedangkan bingkai foto yang kedua, foto wisuda mereka tahun lalu. Dimana ada Ela, Ryca, Anton, Bimo, Valdo dan Pian.


Senyuman lebar serta topi toga terlempar ke atas, membuat Ela membayakan betapa bahagianya mereka saat masa itu.


Bisa selalu berdua tanpa ada halang rintang dan juga ada sedikit sedih di dalamnya. 'Semoga kali ini kau tidak akan pergi lama ya Val.' Ela mengajukan permintaan sembari mengusap bingkai foto wisuda itu.


...----------------...


Tepat pukul 05.00 dini hari, Ela terbangun dan rencana mereka tadi malam langsung gagal seketika.


"Hoam, Bimo! Ini dah jam 5 ayok bangun!" Ucap Ela membangunkan Bimo.


"Bentar 5 menit lagi," ucap Bimo masih terekam matanya.


"Ih Bimo nanti jalan di Jakarta macet, malah nambah lama kita nyarinya!"


"Iya, iya bentar."


"Cepetan Bimoooo!!!"


"Iya Ela bentar 5 menit lagi."


"Awas aja 5 menit lagi gak bangun, gua berangkat sendiri pake motor gua!" Ancam Ela ke Bimo.


"Iya-Iya." Tetapi sepertinya ucapan Ela itu masih terambang di alam bawah sadar Bimo.


Karena hingga pukul 05.30 Bimo tak kunjung bangun juga. Akhirnya Ela bertekad berangkat sendiri menggunakan motornya.


Menutup pintu rumah Bimo secara pelan-pelan, Ela mulai menghidupkan motornya setelah jauh dari rumah Bimo beberapa meter.


Jalanan memang sepi tapi tak apa, dengan kekuatan doa, Ela pasti terlindungi. Walaupun Ela melewati jalan yang cukup rawan, Ela berhasil melewati tempat itu hingga matahari bersinar terang.


Sang fajar telah menghasilkan gelapnya jalan, gelapnya fikiran dan juga gelapnya hati.


...~•~●~•~...


Sesampainya di perbatasan, Ela berhenti untuk menelfon Pian. Agar membantunya dalam pencarian rumah sakit yang di maksud kak Anir kemarin.


Pian terkejud saat melihat lokasi yang Ela kirimkan. Pian tak menyangka kalau Ela senekat ini dan sudah sampai di perbatasan.


Tanpa konfirmasi lagi ke kak Anir, Pian langsung menyusul Ela menggunakan mobilnya.


Pian selalu meminta lokasi terdiri agar ia bisa segera bertemu dengan adik temannya itu.


...~•~●~•~...


Pian langsung meminta Ela untuk menaruh motornya di rumah saudaranya yang ada di sini lalu pergi bersama menggunakan mobilnya.


Ela dan Pian mengunjungi setiap rumah sakit besar dan mewah untuk bertanya, "adakah pasien bernama Rivaldo Youkute?"


Dan hampir 5 rumah sakit mereka sesuai tapi tidak ada satupun yang tau bahkan tidak ada daftar namanya disana.


Ela semakin terlalu dalam fikirannya sehingga Pian mencari cara untuk menenangkan fikiran Ela.


Makan bersama di salah satu warteg tempat Pian dan Kak Anir makan dulu, Ela terpaksa memakan makanan ini walau sebenarnya ia tidak nafsu sama sekali.


Di tengah makan siang ini, Pian memiliki sebuah ide dan sebuah informasi kecil.


"Kalau gak salah dulu lo pernah di rawat juga di RS Sehat Sentosa. Coba kita kesana mungkin aja ada salah satu namanya di rawat disana," ucap Pian.


"Kenapa lo gak ngomong dari tadi sih kak?"


"Ya gimana? Gua baru di cas, wajarlah gua ngelag dari tadi." Pian beralasan.


"Iya juga sih, yaudah yuk cepetan abisin makannya."


Ela begitu bersemangat saat mendengar ucapan Pian tadi dan setelah mereka selesai makan siang bersama, Pian dan Ela langsung pergi ke RS sehat sentosa.


Perjalanan cukup lama karena Jalanan sudah mulai padat bahkan kemacetan jalan pun sudah terjadi sehingga perjalanan mereka sedikit terhambat.


"Gimana ini?" Gumam Ela.


"Sabar, sabar. Gua tau jalan pintas deket sini kok."


...~•~●~•~...


akhirnya setelah berhasil melewati kemacetan jalan yang cukup panjang, Ella dan Pian berhasil sampai di rumah sakit yang mereka tuju.


Ella langsung berlari ke dalam dan bertanya ke petugas tentang nama yang ia cari.


"Permisi mba, saya mau nanya pasien atas nama Rivaldo Youkute ada?"


"Baik, tunggu sebentar ya kak. Saya periksa dulu," ucap petugas rumah sakit begitu lembut.


Petugas langsung mencari nama Rivaldo dan ternyata benar dugaan Pian. Rivaldo ada di rumah sakit ini namun ...


"Pasien atas nama Rivaldo Youkute ada di rumah sakit ini dengan riwayat penyakit kulit dan pernah di rawat selama sehari full."

__ADS_1


"Pernah di rawat? Maksudnya?"


"Disini pasien bernama Rivaldo sudah di pulangkan Tepat jam 12 siang tadi. Tapi di sini juga tertulis rujukan."


"Ada info rujukan ke mana gitu mba?"


"Maaf kak, disini tidak tertulis dimananya. Tetapi yang pasti pasien bernama Rivaldo Youkute telah mendapatkan surat rujukan."


"Huh ... makasih ya mba."


"Iya sama-sama."


Ela keluar gedung rumah sakit dengan wajah lesu, bahkan dirinya seperti dulu lagi. Ela yang begitu kuat dan gagah seketika di buat hancur oleh satu satu orang yang ia anggap baik.


Ela terduduk di tangga pintu masuk sembari menundukan kepalanya karena kepalanya semakin memberat.


Tiba-tiba saja seseorang laki-laki datang menghadap Ela. Tadinya Ela mengira laki-laki itu adalah Pian tapi ternyata Ela salah.


Yang menghampirinya buka lah Pian melainkan Anton yang sedang berada di rumah sakit yang sama karen ia sedang menjenguk Cila.


"Ela?"


"Ayok Yan kit-" ucapan Ela terpotonga kala melihat wajah yang tidak ia suka itu.


"Lepasin tangan gue!" Ela langsung menepisnya dengan kasar.


"Mau apa lo?" Tanya Ela sudah tidak bisa ramah lagi dengannya.


"Abis jenguk Cila. Dia sakit kena DBD."


Ela tidak merespon ucapan Anton dan pergi begitu saja ke arah luar gedung rumah sakit.


Anton masih mengejarnya hingga akhirnya hal itu terjadi.


"Ela tunggu, tunggu bentar." Anton memanggil Ela sembari mengejarnya.


"Apaan sih lo?!"


"Lo ini kenapa sih La?"


"Kenapa? Lo ngaca sama apa yang udah lo lakuin ke Valdo!"


Deg!


"Cuma karena Valdo lo segitunya gak suka sama gua?"


"Cuman? Lo mikir gak? Lo udah ancurin dunia gua gitu aja dan setelah itu lo ketawa di atas penderitaan orang!"


"Dan iya! Gua emang gak suka sama lo! Apa lagi gua harus anggep lo sahabat? Gak! Lo buka sahabat gua!" Ucap Ela menekan.


"Gua gak pernah ketawa di atas penderitaan orang La! Tapi dia yang mau dan gua menang! Itu aja," ucap Anton dengan santainya.


"Hah? Menang? Lo itu pecundang Ton! Kenapa sih lo gak suka banget gua deket sama Valdo?! Kenapa?" Tanya Ela lagi.


"Karena seharusnya yang ada di posisi Valdo itu gua bukan orang aneh itu!"


"Orang aneh? Lo yang orang aneh! Gua kira lo temen gua, tapi ternyata lo musuh! Musuh terbesar gua, inget itu!"


"Kenapa? Kenapa gua musuh lo? Gua suka sama lo La, apa itu salah?!"


"SALAH! Yang seharusnya lo suka itu CILA! dan bukan gua!" ucap Ela begitu tegas.


Mata Ela mulai berkaca-kaca, entah apa yang terjadi tapi Pian menyaksikan itu dari jauh.


"Hiks ... hiks ... hiks ... Yang gua mau bukan lo! Tapi Valdo dan Valdo!" ucap Ela sembari menangis.


Ela memukuli pria yang ada di depannya lalu terjatuh ke tanah sembari menangis sejadi-jadinya..


"Sekarang lo PERGI DARI HADAPAN GUA DAN GUA GAK MAU KETEMU SAMA LO LAGI, INGET ITU!"


"Gua minta maaf La, itu cuma ..." ucapan laki-laki itu langsung di pungkas oleh Ela.


"Apa? Cuma apa? GUA BILANG LO PERGI DARI SINI SEKARANG ATAU GUA PANGGIL SATPAM UNTUK GERET LO PERGI?!"


"O-oke, oke."


Anton pun pergi meninggalkan Ela sendiri disana dan terlihat juga Ela menopang tubuhnya sendiri untuk dapat berdiri dan berjalan walau sedikit terhuyung.


...----------------...


Dari kejauhan, seseorang juga melihat kejadian itu sembari membatin, 'kejadian ini sama seperti di dalam mimpi.' (Ada di eps Permainan Kecocokan)


...~•~●~•~...


'Dan setelah hari itu, hari-hari ku sama seperti dulu. Disini ramai tapi masih terasa sepi, banyak canda tawa tapi aku tidak tertawa.'


'Banyak hal yang lucu tapi tidak membuatku tersenyum.'

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2