Letter To My Albino

Letter To My Albino
Ingatan Ela Kembali?


__ADS_3

Treeep...


Ela memainkan buku yang ia pegang, menarik dari kertas pertama hingga kertas terakhir.


"Eh?"


"Ada tulisan di pertengahan buku ya?" tanya Ela pada dirinya sendiri.


"Dear albino kecil." ucap Ela membaca judul yang tertulis di pertengahan buku.


Dear albino kecil,


Aku bertemu kamu di taman kemarin,


Aku melihatmu sedang si jahili teman-teman yang tidak suka denganmu, lalu aku menolongmu.


Walau aku mengenakan rok, tetapi itu tidak akan mengahalangiku untuk melindungimu.


Aku tidak suka jika kamu di nakali teman yang lain, aku akan melindungi hehehe.


Walau aku ini anak perempuan tetapi kakak Anir bilang, kita tidak boleh lemah. Melawan jika kita mau, maka dari itu aku akan menolongmu.


Besok aku akan menemui dirimu bersama kakak ku di taman kemarin kita bertemu.


^^^Juli 2005^^^


^^^Aku Rain paling cantik :)^^^


Begitulah isi tulisan yang ada di pertengahan buku milik Ela, tiba-tiba suara kemarin pun muncul kembali.


Tiiiiit...


'Hey! Kalian ini benar-benar ya!'


'Sini biar aku obati luka mu, jangan menangis ya.'


'Kamu baik sekali.'


'Tidak kok, aku hanya tidak suka ada orang yang menganggu mu.'


'Namaku Rain, namamu?'


'Aku Valdo.'


Bruk...


Ela pingsan kembali, setelah mendengar suara-suara aneh yang ada di kepalanya itu.


Mendengar hal aneh dari kamar sang adik, Kak Anir langsung membuka pintu kamar itu. Sayangnya pintu terkunci.


Mau tidak mau kakak Anir langsung mendobrak pintu kamar Ela. Mendengar kegaduhan di lantai 2 tepatnya di kamar Ela, Mama Nia pun berlari dari balkon menghampiri suara itu.


"Kenapa a?" tanya mama Khawatir.


"Aku denger suara jatoh mah, Rain dari tadi di panggil gak nyahut-nyahut."


"Mungkin itu buku kali A, siapa tau Rain lagi di kamar mandi kan," ucap mamah tidak ingin panik.


"Mah, aku gak mungkin salah denger. Aku tadi denger pas turun tangga dari tempat kerja aku, masa ia suara buku bunyinya bruk kayak orang jatoh gitu," jelas Kak Anir.

__ADS_1


"I-iya udah kita buka aja dulu."


Brak.. brak.. braak..


Pintu Ela pun berhasil di buka dan benar saja firasat sang kakak, kalau adiknya pingsan kembali.


"Mamah nyalain mobil dulu, kamu angkat adik kamu ya."


"Iya Mah,"


Kak Anir membalikan tubuh Ela dan kak Anir pun terkejut kala melihat adiknya seperti kemarin lagi.


epistaxis atau mimisan, itulah yang terjadi. Kak Anir membersihkan darah yang ada di hidung dan tangan Ela.


Barulah kak Anir menggendong sang adik dan membawanya ke dalam mobil.


Di dalam mobil,


"Mah emang dokter Yoku ada di puskesmas?" tanya kak Anir.


"Kita ke rumahnya aja, tadi mamah udah nelfon dia."


"Mamah tau rumahnya?"


"Iya, Mamah dulu pernah sekalipun sama dokter Yoku. Kami cuma beda jurusan saja, mamah di keperawatan sedangkan dia di Kedokteran," jelas Mama Nia sembari membawa mobil.


Mama Nia memang seorang perawat di rumah sakit terkenal dulu, sebelum Ela koma. Setelah kejadian itu, mamah Nia memutuskan untuk berhenti bekerja dan lebih fokus untuk mengurus anak-anaknya.


Kenapa mamah Nia tidak melakukan pertolongan pertama pada Ela? Bukan mama Nia tidak mau. Tetapi mama Nia lebih percaya ke dokter yang lebih ahli dalam bidangnya itu.


10 Menit kemudian,


Blam..


Greeekk..


"Masuk-masuk," ucap dokter Yoku.


Kak Anir pun menggendong Ela ke dalam rumah dokter Yoku dan membatingkan tubuh Ela ke atas Hospital bed.


"Dia pingsan lagi dokter," ucap kak Anir memandang khawatir.


"Huh.. adik kamu ini memang keras kepala ya," sahut dokter Yoku.


Setelah memeriksa Ela selama beberapa menit, Dokter pun menceritakan kondisi Ela saat ini.


"Sebenarnya Ela sudah sehat, tidak ada penyakit yang ia derita lagi. Hanya saja ia sedang berfikir tentang masa lalunya saat ia masih kecil dulu."


"Mungkin sebagian orang tidak akan mengingat masa kecilnya, tetapi sebagian orang juga masih mengingat kejadian masa kecil mereka."


"Apa itu berbahaya?" tanya mamah Nia.


"Tidak, tetapi jika kita tidak membantunya kemungkinan besar Ela akan mengalami hal ini berulang kali."


Pertanyaan demi pertanyaan pun di lontarkan oleh keluarga Ela ke dokter Yoku. Di saat yang bersamaan...


"WOY!!" teriak anak kecil.


"Udah sana pergi nanti kamu menangis lagi, mama.. mama," ledek anak kecil.

__ADS_1


"Siapa yang akan menangis? aku atau kamu? liat saja nanti! KAK ANIRR," teriak anak kecil ini.


"Kamu ini ya!! ayok pulang," ucap ibu-ibu datang menghampiri anak yang menganggu anak unik itu.


"Hay kamu terluka, sini aku bantu," ucap Ela sembari mengulurkan tangannya.


"Huaaa, kak Anir luka dia besar. Gimana ini?"


"Ayok kita ke warung ini dulu, biar nanti kakak yang obati."


"Tidak, tidak usah. Aku baik-baik saja kok," ucap anak kecil unik ini ketakutan.


"Hey, aku ini ingin membantumu, jangan takut. Kakak aku orang baik kok," jelas anak kecil ini sembari membopong anak unik.


"Sudah, duduklah dan ulurkan Kakimu. Aku akan membersihkan lukamu dulu," ucap anak itu mengambil air mineral yang di pegang sang kakak.


"A-aduh pedih sekali." raung anak itu.


"Sudah, sudah bersih."


"Sini kakak berikan obatnya." Kak Anir menarik pelan kaki anak unik itu.


"Kalau boleh tau siapa namamu?"


"Namaku Valdo," ucap anak unik ini.


"Wah namamu bagus ya, kenalkan aku Rain."


Percakapan singkat yang terjadi di alam bawah sadar Ela membuatnya mengigau sampai tiga kali.


"Ado."


"Ado."


"Ado."


Mendengar Ela mengigau, dokter Yoku memberikan penjelasan lagi.


"Mungkin ada seseorang yang sedang ia fikirkan. Mungkin juga berkaitan dengan masa kecilnya dulu."


"Iya, itu memang benar dok," jawab kakak Anir.


"Siapa?" tanya mamah Nia.


"Valdo, Rivaldo Youkute. Teman masa kecil Ela dulu ternyata satu kampus dengan Ela sekarang dan beberapa bulan ini Valdo menghilang entah kemana, bahkan dosen saja tidak tau dia kemana."


"Tetapi ibunya selalu menghubungi Kaprodi tentang perkembangan Valdo. Jadi hanya antara sivitas kampus yang tahu tentang kondisinya," jelas Kak Anir.


Mendengar nama lengkap dari Ado, dokter itu membulatkan matanya. Seperti tahu sesuatu tetapi tidak bisa terungkap langsung.


Setelah Ela sadar, Ela hanya diam memandang kosong entah kemana. Dokter Yoku pun menepuk pundak Ela membuat Ela sadar dari lamunannya.


"Hiks... hiks..." Ela tiba-tiba saja menangis dan dokter Yoku pun langsung memeluk tubuh Ela.


"Tidak apa, tidak apa. Dia baik-baik saja kok dia hanya sedang istirahat beberapa waktu saja. Jadi jangan khawatir ya," bisik dokter Yoku ke Ela.


Seketika itu Ela langsung terdiam dari tangisnya dan hatinya pun sangat-sangat tenang bahkan pikiran yang masih mengganjal pun hilang.


"Maksud dokter?" tanya Ela dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Nanti kamu tau sendiri."


Bersambung...


__ADS_2