Letter To My Albino

Letter To My Albino
Pertemuan 2


__ADS_3

"Ela?" ucap orang yang sedikit mencurigakan ini.


Deg!


Seketika Ela terdiam, matanya membulat dan sedikit berkaca-kaca. Seperti mimpi yang menjadi nyata, sosok yang ia tunggu kehadirannya selama dua bulan ini, muncul di hadapannya.


"Enggak, enggak. Ini mimpi," ucap Ela sembari menundukan pandangannya.


"Ini aku Ado."


"Gak, enggak. Ini mimpi kan?"


Tap ....


Valdo tiba-tiba saja menggenggam tangan Ela. Seketika Ela sadar kalau ini bukan mimpi, tetapi mimpinya sudah menjadi nyata.


"Valdo?" lirih Ela.


Ela langsung memeluk Valdo sembari meyakinkan lagi kalau ini nyata dan buka mimpi lagi.


Valdo mengusap rambut Ela yang begitu panjang dan halus. Wangi yang sama saat pertama kali mereka bertemu di pesawat pun masih sama terhirup.


Ela melepaskan pelukannya lalu memukul lengan Valdo sembari menangis. Entah berapa kali ia memukuli Valdo yang pasti rasa kecewa di hatinya tadi menghilang.


"Hiks ... hiks .... hiks .... Kamu kemana sih Val? Ngilang gak ada kabar?!"


"Jahat tau gak! Aku harus ngelewatin ujian semester sendiri, harus ngerjain tugas sendiri, dosen gak kasih tau kamu kemana. Kenapa baru balik? Kemana aja kamu?" unek-unek hatinya pun terungkap walau belum semua.


Namun rasa berat di hatinya sedikit menghilang. Akhirnya mereka bertemu kembali.


"Maaf ya, Ela. Aku baru kembali."


"Jahat! Hiks ... hiks ... hiks ...."


"Ikut saya sebentar yuk."


Sembari menggandeng tangan Ela, Valdo mengajaknya pergi ke suatu tempat yang baru dan tidak jauh dari panti ini.


Lapangan teduh dan banyak kursi, kursi berjejer di sepanjang lapangan.


Setelah Valdo merasa Ela tenang, Ela mulai bertanya kembali semua yang ada di kepalanya.


"KEMANA?" tanya Ela tetapi tidak menatap ke Valdo melainkan ke ujung lapangan.


"Maaf aku ngilang tanpa kabar, tanpa ada temen yang tau satu pun."


Ela mulai melirik ke arah Valdo sembari menopang kedua tangannya di dada.


"Saya ke ...."

__ADS_1


"Aku mau jawaban jujur dari kamu Val. Bukan alasan-alasan yang gak masuk akal."


"Hmmm, iya aku faham."


"Lanjut."


"Aku di Jakarta, berobat. Berobat luka-luka yang ada di badan aku. Kata dokter lebam di tubuh aku cukup parah jadi harus berobat jalan selama beberapa bulan."


"Yakin?"


"Iya, yakin."


"Kamu lagi gak tutupin sesuatu kan?"


"Maksudnya?"


"Ya aku gak tau, kan kamu yang tau. Seharusnya kamu yang jelasin," ucap Ela.


Sebenarnya Ela sendiri tidak tau apa yang ia ucapkan. Dirinya sendiri kebingungan kala memikirkan ucapannya, tetapi seperti Valdo faham apa maksud dari perkataan Ela.


"Hari itu, aku mendapat serangan dari beberapa orang. Mereka membabi buta menyerang aku, entah karena apa. Di jamur di bawah sinar matahari sore walau tidak terlalu panas tetapi itu cukup membakar kulit ku."


"Udah?" tanya Ela.


"Iya sudah."


Ela pun berpindah posisi duduk berhadapan dengan Valdo. Sembari menatapnya dangan serius, Ela memukul lagi lengan Valdo.


"Lo ini aneh ya, aku tau Val, yang jahatin kamu itu si Eja kan? Aku tau, aku punya buktinya. Dan kamu kenapa gak mau jujur sih sama aku? Kenapa kamu gak jujur aja kalau kamu ...." ucapan Ela tersendat di tenggorokan. Seperti kata yang tak ingin ia ucapkan harus terucap.


"Dari mana kamu tau?"


"Kak Anir punya buktinya Val. Kalau cuma sekedar berobat di rumah sakit Bandung juga banyak kok yang bisa rawat kulit lebam. Tapi apa iya harus sampai ke Jakarta ?"


"Apa iya harus sampai ngilang selama 3 bulan? Hah? Val, kalo gak ada Gea, Riky dan teman-teman aku yang lain, mungkin aku bisa gila Val."


"Kamu kan tau, aku bener-bener khawatir dan bener-bener bakal cari tau apa yang gak harusnya aku tau."


"Aku rela sakit berkali-kali demi inget siapa kamu! Aku rela bolak-balik rumah sakit demi bisa inget semuanya."


"Supaya apa? Supaya aku tau kalau kamu, kamu adalah tokoh utama yang selalu ada di setiap sudut mimpi aku."


"Dan aku, aku tokoh utama di awal cerita kamu dulu. Mungkin aku salah, tapi aku udahlah lupain aja. Yang jadi pertanyaan aku sekarang kamu kemana?"


Akhir monolog dari isi hati Ela selama ini pun selesai dan pertanyaan yang sama terucap kembali sampai ia dapat jawaban yang ia inginkan.


Valdo hanya menundukan kepalanya sembari menahan tangis mungkin. Tetapi setelah 5 menit Ela menunggu jawaban yang tepat, akhirnya Valdo kembali berbicara.


"Maaf La. Kamu mungkin sudah tau semuanya. Aku akan menjelaskan yang sebenarnya."

__ADS_1


...Kilas balik on....


Tepat sehari setelah aku di rawat di puskesmas, aku mendapatkan rujukan dari dokter Yoku untuk melakukan perawatan di rumah sakit daerah pusat kota.


Tetapi kata pihak rumah sakit, rumah sakit ini sedang penuh dan akhirnya aku mendapatkan surat rujukan lagi ke salah satu rumah sakit terkenal di Jakarta.


Ibu yang mengurus semua perlengkapan aku dan sesampainya di Jakarta, kata ibu, bis adi rawat di rumah sakit ini dengan tanggungan biaya yang cukup besar.


Untunglah dokter Yoku membantu biayanya. Setelah cek up, tidak ada masalah dengan kanker yang aku derita.


Kanker melanoma di tubuhku masih berada di stadium 0 dan belum terlalu parah. Tetapi kulit di tubuhku tepatnya di bagian dada hingga perut bawah mengalami iritasi.


Mau tidak mau harus melakukan perawatan lebih lanjut lagi dan harus melakukan perawatan jalan minimal 2-3 bulan.


Mau tidak mau aku harus kuliah secara daring bersama dosen pengampu dan izin sementara waktu untuk mengobati lukanya.


...Kilas balik off....


"Maaf jika aku menutupi semuanya. Aku tau kau pasti sudah tau semuanya sebelum aku menjelaskan. Tetapi kau hanya memastikan saja apa yang terjadi pada kondisi ku saat ini kan?"


"Jelas lah! Gua kehilangan semangat tau gak pas kamu gak ada. Bahkan saat bulan puasa kemarin aku berharap bisa ketemu kamu di panti umma. Tapi kamu tetep gak ada."


"Tapi kan sekarang ada gimana?"


"Ish Valdo!"


"Jadi apa kanker kamu berbahaya?" tanya Ela kembali.


"Belum terlalu parah, tetapi jika nanti aku mengalami gejala yang lebih serius, mau tidak mau harus menjalankan operasi."


"Jangan sampai parah ya. Pokoknya nanti kita beli sunscreen untuk kamu, terus kita beli vitamin untuk kamu terus pokoknya baju yang lengan pendek kasih aja ke siapa gitu, kalo gak di bakar aja."


"Terus nanti kita beli baju lengan panjang supaya kamu gak kena sinar matahari langsung."


"Khawatir banget sih?" goda Valdo.


"Ih Valdo aku serius loh ini."


"Hmm sejak kapan manggil Valdo? dulu kayaknya manggilnya Ado deh."


"Ya suka-suka."


"Dasar kamu ini."


"Oh iya aku punya sesuatu, tapi ini dari ibu. Aku juga gak tau ibu dari mana dapetin barang ini."


"Hah Apa?"


Valdo pun mengeluarkan sesuatu dari saku hoddie yang ia kenakan dan ternyata ....

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2