
...~•~[ Panti Asuhan umma Lisa ]~•~...
Pukul 22.00 WIB
Semua anak-anak sudah masuk ke kamarnya masing-masing, hanya ada Umma dan seseorang yang membawakan kado tadi sore untuk adik-adik kecil disini.
Seseorang itu sedang duduk di ruang tamu, membaca koran di tengah malam sembari meminum teh hangat buatan umma.
Umma menghampiri seseorang itu sembari membawakan sebuah kotak antik kecil berwarna cokelat tua.
"Umma boleh berbicara denganmu sebentar?" tanya umma mendekatinya.
"Boleh umma, ada apa?" tanyanya melipat koran dan menaruhnya di samping.
"Aku ingin sekali berbicara denganmu lagi seperti dulu, aku ingin menyampaikan sebuah pesan yang disampaikan oleh Almh. nenek mu dulu," ucap umma.
"Maksud umma?"
"Aku tidak tau apa isi hatimu Ja, umma hanya bisa membesarkan mu dengan kasih sayang yang terbagi banyak untuk anak-anak lainnya."
"Umma tidak bisa fokus ke satu anak saja, tetapi umma tau perkembangan dari kalian masing-masing anak," lanjut umma lagi.
"Umma," lirihnya.
"Aku ingin bertanya satu hal dahulu sebelum kamu membuka kotak ini, apakah boleh?" tanya umma menatap Eja.
"Bo-boleh umma."
"Apa yang membuat membenci Valdo? Padahal saat ini hanya dia satu-satunya keluarga yang kamu miliki, apakah kamu cemburu karena umma terlalu memperhatiikannya?"
"Kalau memang iya, aku meminta maaf tulus dari hati," lanjut umma lagi.
Mata umma pun mulai berkaca-kaca dan Eja hanya bisa menundukan kepalanya saja sembari mengenggam tangannya sendiri.
Raut wajah kesal, raut wajah dendam seketika muncul saat umma menyebutkan nama Valdo yang bukan lain adalah adik kandungnya.
"Aku membenci Valdo bukan karena umma," ucap Eja sembari tertunduk.
"Lantas hal apa yang membuatmu membenci Valdo?"
"Karena Valdo adalah penyebab kematian Mamah, kebangkrutan perusahaan papah dan entahlah umma aku tidak tau," jelas Eja ke umma.
Umma hanya bisa terdiam, terkejut? Tidak, umma sudah tau semua. Hanya saja umma sedang menyelami isi hatinya, karena Eja anak yang keras kepala.
Jika ia di tanya dengan nada yang keras maka Ia pun akan melakukan hal yang serupa dan sudah di pastikan tidak mendapatkan sebuah jawaban.
"Aku membenci Valdo. Aku dulu memang ingin memiliki adik laki-laki tapi sayangnya aku tidak berdoa untuk Mamah. Agar bisa di sisi aku selamanya dan sayangnya aku juga tidak berdoa seperti itu ke papah."
"Mamah meninggal karena melahirkannya dan banyak orang bilang kalau dia anak penyebab semua hal itu."
"Kamu ingin tahu satu hal yang penting?" tanya umma ke Eja.
Menatap penuh dengan harapan dan ketika Eja menjawab, "Apa itu?" Umma pun langsung memberikan kotak antik milik mendiang sang nenek.
"Bukalah, ini kuncinya."
Umma memberikan sebuah kalung berliontin kunci yang pernah di pakai Valdo dulu saat masih kecil.
'Sepertinya ini kalung yang pernah Mamah pakai dan kalung ini juga sepertinya pernah Valdo pakai,' ucap Eja dalam hatinya.
Dahinya mengerut penuh tanda tanya dan wajah penasarannya pun muncul membuat umma semakin ingin tahu isi hati Eja sebenarnya.
__ADS_1
Krek.. krek..
Tap..
Kotak antik itu pun terbuka, surat demi surat dan foto foto lama pun ada disana.
"Bacalah, jika kamu ingin bertanya akan aku jawab. Tetapi setelah selesai membacanya."
"Umma? Ini?"
"Ini adalah kotak yang di berikan oleh nenekmu dulu saat kita bertiga datang di hari pemakaman ayahmu," jelas umma.
Tap.. ~ menaruh kotak di atas meja.
Srekk..
________________________
Cucu oma yang paling tampan,
Aku menyimpan semua foto-foto kenangan uyut mu saat ia masih muda dulu,
Lihatlah, bukan kah dia sama seperti adikmu?
Jangan memarahi Valdo ya, itu bukanlah sebuah kutukan. Hanya saja itu gen turun-temurun yang di wariskan dari uyutmu.
Aku berharap kamu menyangi Valdo terus selamanya dan aku juga selalu menyayangimu.
^^^Oma, 2002^^^
________________________
Surat pertama, kertas berwarna cokelat tua yang sudah lusuh dan terdapat satu foto yang terselip di kertas tersebut.
________________________
Cucuku, mungkin kau marah. Mungkin kau kesal, mungkin kau sedih.
Tetapi kau harus bangga karena kau dapat hidup dengan baik. Orang tuamu bersusah payah untuk menghidupimu karena mereka tidak ingin kau membawa penyakit yang sama.
Ibu mu meninggal bukan karena melahirkan Valdo, tetapi ibumu meninggal karena melawan kanker melanoma yang stadium 4.
Para dokter berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan keduanya. Namun ibumu lebih mengalah karena dia tidak mau di kehidupan selanjutnya akan merepotkan ayahmu.
Ibumu juga berpesan kepadaku, mungkin aku tidak bisa hidup terus bersamanya (Eja, Valdo dan Rio) tetapi aku akan selalu ada mengawasi kalian dari tempat yang tidak terlihat.
Jaga adikmu, jaga keluarga kita ya. Jangan sampai keluarga kita pecah, aku mempercayakannya kepadamu Eja.
Begitulah pesan yang ibumu sampaikan, aku akan selalu menyayangi kalian berdua
^^^Oma, 2000^^^
________________________
Surat kedua yang di baca Eja berwarna biru muda dan di dalamnya terdapat sebuah foto keluarga saat masih muda.
'Sepertinya ini foto Oma saat muda bersama uyut dan juga saudara perempuan Oma yang tinggal di Batam.' ucap Eja saat melihat fotonya
__ADS_1
...----------------...
"Jadi, selama ini aku sudah jahat ke Valdo? Menuduh dirinya yang tidak bersalah selama bertahun-tahun, Apa dia akan membenciku sekarang?" gumamnya.
"Dimana Valdo sekarang umma?" tanya Eja sembari memegang surat dan kertas foto.
Tangannya gemetaran, matanya berkaca-kaca dan fikirannya pun entah kemana.
Terbesit di fikirannya akan kejadian beberapa bulan yang lalu. Bak seorang iblis dirinya menyiksa sang adik yang tidak bersalah.
Dendam yang dibuat karena ucapan orang-orang yang ia telan mentah-mentah membuatnya terkubur dalam implusivitas gelap.
"Umma tidak tahu Valdo berada dimana, sejak beberapa bulan yang lalu dia menghilang bahkan teman satu kelasnya pun tidak tau keberadaan Valdo."
Deg..
'Apa mungkin dia tiba-tiba saja menghilang karena aku? Karena waktu itu?' Eja bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Seperti mulai frustasi akan kehidupan yang dia jalani selama ini, Eja hanya bisa menunduk sembari mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
Umma hanya bisa menenangkannya, mengusap pundaknya dan menarik Eja ke dalam pelukan hangat yang biasa umma berikan sewaktu ia kecil.
Tringg.. triingg.. ~telfon kantor tiba-tiba berbunyi.
"Siapa yang menelfon malam - malam seperti ini?" tanya umma.
"Biar aku saja umma yang mengangkat."
Tak..
"Halo," suara seseorang di balik telfon itu.
...----------------...
Keesokan harinya,
Suara takbir terdengar dimana-mana, mungkin terdengar di segala penjuru bumi.
...~•~[ Kediaman Keluarga Ela ]~•~...
Pukul 05.00 WIB
"Ayok mah, nanti keburu ramai masjidnya," Teriak Ela dari luar.
"Iya sayang sebentar, Kak Anir sudah berangkat?"
"Sudah mah."
"Oke, kita berangkat sekarang."
Grek.. ~menutup pintu.
Krek.. krek.. ~ mengunci pintu.
...~•~[ Panti Asuhan Umma Lisa ]~•~...
Semua anak-anak panti memakai baju kompak berwarna putih di hari raya idul fitri ini. Teriring senyum manis di antara anak-anak itu.
Raut bahagia terpancar jelas saat perjalanan ke Masjid terdekat, sembari membawa sadjadah dan juga mukena (untuk sebagian perempuan) di atas tangannya masing-masing anak.
"Ayok duduk yang rapih ya semuanya, jangan berisik saat di Masjid," perintah umma ke anak-anaknya.
__ADS_1
"Siap umma."
Bersambung...