Letter To My Albino

Letter To My Albino
Kebersamaan, Desir Angin Membawa Secarik Kertas


__ADS_3

Selama perjalanan menuju rumah, merek bertiga hanya diam, tidak berbicara sama sekali.


Saat dirumah pun begitu, Ela hanya mengucapkan terimakasih telah mengantarkannya ke dokter Yoku setelahnya ia langsung menuju kamarnya kembali.


Walau pintu katanya terlihat sedikit rusak, tetapi ia masih bisa menutup rapat pintunya dan menguncinya.


Ela langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur king lalu mengambil bantal untuk menutupi wajahnya sembari menangis.


...~•~●~•~...


3 minggu kemudian,


"Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. La ilaha illallahu wallahu akbar. Allahu akbar wa lillahil hamd."


"Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar walillaahil - hamd. Wasubhaanallaahi bukrataw - wa ashillaa. Laa - ilaaha - illallaahu wahdah, shadaqa wa'dah, wanashara 'abdah, wa - a'azza - jundah, wahazamal - ahzaaba wahdah."


Suara takbir pun sudah terdengar setelah selesai sholat isya. Semua masjid dan mushola pun berkumandang yang sama.


"Alhamdulillah, telah melaksanakan puasa selama 30 hari penuh," ucapan syukur dari mamah Nia.


"Iya alhamdulillah," ucap Ela diiringi senyuman manis lagi.


"Alhamdulillah, sih. Tapi Ela gak full puasanya, Aa liat Kamu kemarin makan di Cafe Crofel sama si Ryca," ucap kak Anir mencubiti pipi Ela yang semakin gembil.


Saat sedang asyik bercengkrama, mereka bertiga di kejutan oleh papa Roy yang baru saja pulang setelah beberapa bulan melakukan perjalanan bisnis.


"Assalamualaikum!" ucap papa sembari memberikan hormat serta hentakan kaki yang membuat mereka bertiga terkejut.


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh," ucap mama Nia seperti latah.


"Waalaikumsalam, aaaaa papahhh pulang," ucap Ela kesenangan.


Ela langsung memeluk papanya sedangkan kak nir mengambil tas papahnya dan menaruhnya di sofa.


"Papa kangen gak sama aku?" tanya Ela mendengakkan kepalanya ke atas.


"Kangen dong sayang," ucap papa mengelus kepala sang putri tercintanya.


"Gimana pah, puasanya lancar?"


"Gak terlalu mah," lirih papah Roy.


"Ih pasti papah banyak bolongnya ya, ih gak malu sama..." ucapan Ela pun langsung di potong oleh kakaknya.


"Sama siapa? Hah? Kamu aja bolong," potong kak Anir dengan cepat.


"Sama kakak lah, aku mah gak mau bangga diri aku sendiri," Ela membela dirinya sendiri.


"Astaga kalian ini," sahut mama meleraikan.


Begitulah kehebohan yang terjadi di rumah keluarga Ela, sedangkan di rumah Bimo.


...~•~[ Kediaman Keluarga Bimo ]~•~...


"Bunda, selamat idul fitri."


Sapa anak sematawayang yang baru saja pulang dari mushola komplek. Bimo tak segan datang dan menciumi pipi sang bunda kanan kiri.


"Bimo astaga gak malu apa? Ayah kamu liat tuh!" ucap bunda melepaskan pelukan sang anak karena merasa geli.

__ADS_1


"Eh?! kapan ayah pulang?" tanya Bimo.


Seketika wajahnya memerah dan saat pandangan sinis disertai aura dingin menyelimuti sang ayah tercinta.


"Baru aja sampai," ucapnya bernada penekanan.


"Hehehe, selamat idul fitri ayah," ucap Bimo meraih tangan sang ayah untuk memberikan kecupan dipungung tangannya.


"Aku masuk ke kamar dulu ya bunda, ayah."


Bimo pun langsung berlari menuju kamarnya dengan wajah tersipu malu.


"Huaaaa malu banget gua, haduh ancur deh reputasi gua di depan ayah!" gumam Bimo sembari mengacak-acak rambutnya.


Begitulah kisah yang terjadi di rumah Bimo, sedangkan di panti pasti berbeda suasanya dengan di rumah keluarga seperti mereka.


...~•~[ Panti Umma Lisa ~•~...


"Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. La ilaha illallahu wallahu akbar. Allahu akbar wa lillahil hamdu."


Para anak-anak panti ini mengembangkan lantunan takbir untuk menyambut hari raya idul fitri.


Tok..tok.. tok..


Ketukan pintu membuat fokus anak-anak panti semuanya bubar dan beralih ke arah pintu.


"Halo adik-adik,"sapa seseorang di depan pintu sembari membawakan tumpukankardus yang begitu banyak di hadanpannya.


"Siapa?" tanya umma dari dalam.


"Halo umma, selamat idul fitri ya," ucap seseorang pembawa kardus itu.


"Kakak apa itu?" tanya anak-anak panti menghampiri.


"Ini semua baju untuk kalian. Kalian pakai ya, siapa tau suka kan."


"Ada makanannya gak kak?" tanya Ruli kecil.


"Ada kok sayang, ini ada di kardus paling depan."


"Makasih ya, kamu sampai repot-repot kayak gini."


"Enggak kok umma, lagian aku juga ninggalin tempat ini tanpa pamit, jadi aku harus pamit kan di bulan yang suci ini."


"Iya benar. Kamu akan tinggal disini kan sampai sholat id besok?" tanya umma.


"Enggak umma, saya disini hanya seminggu jika umma berkenan."


mendengar perkataan itu, umma langsung mengiyakan perkataannya dan mereka pun membuka kardus-kardus itu bersama.


...~•~[ Kediaman Ryca ]~•~...


Ryca sedang duduk sendiri di balkon kamarnya sembari mantap kerlap kerlip kembang api, dan juga lampu-lampu obor yang di arak keliling perumahan.


Sepi? Tidak, Ryca tidak merasa sepi. Disini sangat ramai bahkan banyak teman-teman yang menyapanya dari bawah.


"Kak Ryca selamat idul fitri."


"KAK RYCA SELAMAT IDUL FITRI."

__ADS_1


Begitulah masing-masing tempat dan masing-masing keluarga untuk menyambut bulan suci ramadhan menjadi hari raya idul fitri.


Beragam cara memakai arti kata kebersamaan. Walau ada yang sendiri merayakannya, tetapi sekelilingnya sangat ramai.


...~•~[ Rooftop Rumah Ela]~•~...


Ela tiba-tiba saja perubahan suasana hati Ela berubah drastis. Ela tiba-tiba saja ingin sendiri dan akhirnya ia memutuskan untuk naik ke atas rooftof sembari melihat ke arah mega yang di penuhi gemintang tersusun rapih nan cantik.


Ela juga membawa secarik kertas dan pena untuk menuliskan sesuatu yang ada di hatinya.


________________________


Dear Valdo,


Aku sudah mengingat semuanya, aku adalah Rain yang sama yang pernah kau temui saat masih kecil dulu.


Aku juga tau kalau kau yang aku tabrak saat ingin pulang setelah ujian PTN waktu lalu. Aku juga menebak kalau kau adalah orang yang sama saat di pernikahan Shipa teman SMA ku dulu.


Aku merindukanmu, Valdo. Rivaldo Youkute, teman terbaik ku dan sahabat yang selalu aku rindukan.


^^^Dari aku,^^^


^^^Ela yang paling cantik.^^^


________________________


'Kamu kemana sih Do? Udah 4 bulan gak ada kabar. Apa iya singkong sibuknya kamu gak bisa pegang handphone lagi?' tanya Ela dalam hatinya.


Berharap Ado mendengar suara hatinya itu melalui jalur telepati. "Kita pasti memandang awan yang sama-"


"Tetapi kita mengapa tidak bersama?" ucap Ela yang bersamaan dengan seseorang di tempat yang berbeda.


"Ntahlah, kau harus sabar menunggu ya."


...~•~●~•~...


"Ela? Ela? Rain? Rain?" panggil mama Nia mencari keberadaan Ela.


"Aku di rooftop mah, kenapa?" jawab Ela ke arah ruangan yang ada di sampingnya.


"Astaga kamu ini, di panggil sama papah tuh."


"Kenapa emang?" tanya Ela sedikit lebih.


"Papa bawa cokelat banyak ternyata," bisik mama kegirangan.


"Hah serius mah? Ayok kita ke bawah."


Saat Ela beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba saja angin sangat kencang berhebus menyapu semua benda ringan di tiap tempat.


Syuut...


Kertas berisi tulisan itu pun ikut terbang terbawa angin entah kemana dan Ela tidak mengetahui hal itu.


Bersambung...


..."Wahai anila malam, bawalah salam ku untuknya. Untuk dia yang sedang menantikan keberadaan ku."...


...- Ado...

__ADS_1


__ADS_2