
Brugh!
"Aww!" lirih Ela sembari mengusap lengannya.
"Aduh sakit," lirihnya
Ela mulai menatap sekelilingnya, ruangan ini seperti ia kenal dan Ela pun mulai bangkit dari duduknya. Benar ruangan ini ia kenali karena ini adalah kamar tidurnya sendiri.
"Jadi tadi cuma mimpi ya? Kok kayak nyata sih? Tapi gak mungkin lah ada orang yang sekejam itu sampai menyiksa orang dengan membabi buta," gumam Ela masih terpaku di tempat.
Ela menatap sebuah buket bunga tulip putih yang ada di atas meja belajarnya. Sembari menyeringitkan dahi Ela pelan-pelan menuju ke arah mejany.
"Sebentar, gua belum mandi ya?" tanya Ela kepada dirinya sendiri saat tak sengaja melihat dirinya di depan cermin.
"Hahahaha astaga jorok banget ih, udah 34 jam gua gak mandi hehehe," Ela meledek dirinya sendiri di depan cermin
Dreet.. ~ menarik kursi belajar.
Sreek.. ~ mengambil buket bunga.
"Heeeemmm, wangi banget bunganya."
"Padahal gua gak terlalu suka sama semua bunga kecuali bunga yang gua tanam sendiri di taman belakang rumah. Tapi bunga ini cantik banget," gumam Ela memandangi buket yang ada di tangannya.
"Eh? Ada suratnya ya."
Sreek.. ~ menaruh bunga di meja.
_______________________________
...Hai Rain,...
...Minal ‘aaidiin wal faaiziin, mohon maaf atas kehilangan ku saat ini. Aku tau aku salah tetapi semoga kita akan bertemu lagi nanti ya....
...Di tempat kita pertama kali bertemu. Aku merindukanmu dan surat yang kamu berikan secara tidak sengaja waktu itu aku sudah menerimanya....
_______________________________
"Siapa yang ngirim ini ya?"
"Rain? Cuma Valdo yang tau nama kecil gua Rain. Apa mungkin dia?" tanya Ela sembari menatap langit yang begitu cerah.
"Tau lah, mau mandi dulu. Badan udah bau bener."
...~•~[ Ruang Keluarga Rumah Ela ]~•~...
Tap.. tap.. tap..
"Pagi mah, pagi pah," sapa Kak Anir saat baru turun dari tangga.
"Pagi sayang," ucap mama sudah berada di dapur.
"Pagi," ucap papa di ruang keluarga ini sambil membaca koran di pagi hari.
"Kita gak ada agenda mau pergi kemana gitu?"
"Gak tau tuh, tanya papah aja coba."
"Ya pah, kita gak ada agenda pergi kemana gitu?" tanya kak Anir lagi
"Tanya adik kamu aja coba, siapa tau dia mau balik ke Lampung lagi sekalian jalan-jalan."
"Oh iya, mana dia mah? Belum bangun tah?"
"Belum, tapi kayaknya lagi mandi deh soalnya ada suara gayuran air gitu."
"Hmmm,"
Percakapan hangat di pagi hari membuat suasana damai sekali. Di temani kopi dan teh hangat berdampingan dengan roti bakar buatan mamah Nia tercinta.
__ADS_1
...~•~[ Panti Asuhan Umma Lisa ]~•~...
"Pagi umma," sapa Eja diiringi anak-anak kecil di belakangnya.
"Pagi umma, pagi umma, pagi umma."
"Pagi sayangnya umma."
"Ayok duduk yang rapih dulu ya, kita akan sarapan pagi. Ayok duduk yang rapih," ucap umma merapihkan anak-anak yang ingin sarapan pagi.
Memangnya di panti ini tidak anak remaja? Ada, mereka di tugasnya memasak untuk anak-anak kecil dulu karena anak-anak lebih banyak dari mereka yang remaja.
"Ini, di kasih ke temannya dulu yang paling ujung ya," ucap kakak cantik memberikan mangkuk sarapan.
Anak-anak panti ini pun memberikan makanan ke teman lain secara estafet dan setelah mendapat makanan semua, mereka pun makan bersama dan tidak lupa juga berdoa sebelum makan.
"Kamu gak sarapan Ja?" tanya umma menghampiri Eja yang berada di Ruang tamu.
"Saya gak biasa sarapan pagi umma."
"Oalah, mau umma buatkan teh?"
"Tidak usah umma, saya sudah minum air putih hangat tadi."
"Yaudah deh, nanti buat sendiri aja ya di dapur."
"Iya umma."
"Bagaimana? Kamu sudah menemuinya?"
"Sudah umma, dia sebentar lagi akan kembali."
"Kapan dia akan kembali?"
"Aku juga tidak tau umma, dia hanya memberi tahukan kalau dia akan segera kembali."
"Huh.. jadi yang ada di telfon waktu itu dia? Baiklah kalau begitu."
"Iya umma."
Umma sedang menenangkan Eja sembari mengusap pundaknya dan menarik Eja ke dalam pelukan hangat yang biasa umma berikan sewaktu ia kecil.
Tringg.. triingg.. ~telfon kantor tiba-tiba berbunyi.
"Siapa yang menelfon malam - malam seperti ini?" tanya umma.
"Biar aku saja umma yang mengangkat."
Tak..
"Halo," suara seseorang di balik telfon itu.
"Iya dengan siapa?" tanya Eja bernada tegas.
"Ini siapa? Dimana umma?" tanya seseorang di balik telfon itu.
"Ada perlu apa? Umma sedang istirahat."
"Dan kamu siapa?" tanya seseorang di balik telfon itu lagi.
Deg.
'Suara ini,' lirih Eja dalam hatinya.
"Sa-saya Eja, ada yang bisa saya bantu sampaikan ke Umma?" tanya Eja lagi.
Jantung berdegup kencang dan cepat, entah perasaan apa yang ia rasakan tetapi jantungnya seperti mau copot kala itu.
"Tolong sampaikan ke umma satu pesan ini ya, jangan khawatir aku baik-baik saja disini."
__ADS_1
"Iya, lo dimana? Gua mau ketemu sama lo boleh?"
"Iya boleh, tapi nanti ya."
Tut.. tut.. tut..
Sambungan telfon pun langsung dimatikan dengan cepat. Eja masih mematung di tempat itu dengan raut wajah kebingungan.
Dia bingung antara perasaannya itu. Entah itu rasa bahagia atau rasa ketakutan yang menyelimuti tubuhnya yang cukup gagah.
...Flasback off....
...----------------...
...~•~[ Kediaman Ela ]~•~...
"Hoaam, Pagi mah, pagi pah."
"Nah ini baru bangun," ucap kak Anir dari ruang makan.
"Ya kenapa?"
"Pagi juga sayang."
"Pagi juga Rain papa."
"Pah, kita gak mau kemana gitu ya kan?"
"Pertanyaan kamu ini aneh, pap bingung mau jawabnya."
"Aneh gimana, perasaan aku enggak loh."
"Ya aneh lah Rain. Kamu ngomong 'Kita gak mau kemana gitu yakan?' antara mau nanya kita pergi kemana sama tersirat kata gak usah kemana-mana ya," ucap kak Anir menjelaskan.
"Hehehehe iya juga ya."
"Kamu emang mau kemana?" tanya papah Roy.
"Aku mau ke Lampung nanti kalau jadi."
"Kalau jadi? Emang ada apaan?"
"Rial ngajak aku ke Lampung, katanya dia mau ngajak aku ke pesta topeng (Sèkura) biasanya di adakan 1 syawal gitu."
"Oh di Lampung Barat ya biasanya?" tanya kak Anir.
"Iya, tapi gak tau jadi apa enggaknya."
"Kenapa Emang?"
"Rial masi di Amerika. Belum terbang ke Indonesia," jelas Ela lagi.
"Yaudah tunggu in aja pasti nanti juga dateng kok."
"Iya, oh iya mah? Siapa yang kasih buket bunga itu mah?"
"Gak tau mamah juga, orang pas kita pulang udah ada di depan pintu masuk, ada suratnya juga lagi."
"Mamah Baca ya?" tanya Ela penasaran.
"Iya mamah baca dikit," ucap mama sembari tersenyum-senyum.
Tatapan kak Anir begitu penasaran. Sembari menyipitkan matanya berlagak tatapan tajam ke arah mamah dan Ela.
Ela yang melihat kakanya sepertinya hanya bisa meledek sang kakak dengan raut wajahnya saja.
Bersambung...
..."Sebuah buket bunga pertama yang aku suka walau aku tidak tau siapa pengirimannya."...
__ADS_1
...-Ela...