
"Assalamualaikum," salam dari mereka bertiga.
"Waalaikumsalam, siapa ya?" Tanya Intan saat belum melihat wajah siapa saja yang datang.
Deg!
"E-Ela? Valdo?" Ucap Intan gugup.
"Hay," sapa Ela.
"Kalian? Kok bisa disini?" Tanya Intan panik.
Jantungnya berdegup dan matanya berkaca-kaca, Ela selalu ada dia di setiap semua kejadian dan pasti selalu ada Valdo di setiap momen.
"Kalian?"
"Saya Umma Lisa, kamu bisa memanggil Lisa," ucap Umma.
"Tapi kalian tau saya dari mana?" Tanya Intan.
"Saya tau kamu dari Riky, Riky anak yang pernah saya urus saat ia masih berada di Panti."
"Riky ... Terimakasih telah datang."
"Jangan sungkan. Anggaplah aku ini ibu mu, sama seperti Riky, Ela, dan Valdo."
"Tenang aja, Tan, gua kali ini di pihak lo." Ela menyahut dengan senyuman manis.
Deg!
"Makasih ya Ela."
"Masama, BTW mana anaknya? Gua pengen liat," ucap Ela exaited.
"Lagi di periksa sama bidan tadi, karena semalem muntah habis nyusu," jelas Intan.
"Oh, yaudah deh-"
"Nungguin aku ya kakak-kakak cantik?" Sahut asisten bidan mendorong troli bayi.
Menaruh troli bayi tepat di samping ranjang sang mamah, Ela exaited melihat sang baby mungil.
"Wah, Cantik banget!" Ucap Ela tersenyum manis.
"Anaknya laki-laki. "
"Hah? Oh hehehe wah tapi mukanya cantik ya."
"Ih iya ganteng banget, boleh gendong?" Tanya umma ke asisten bidan.
"Boleh, ibunya membolehkan tidak?" Tanya asisten bidan tersebut.
"Boleh kok."
"Namanya siapa?" Tanya Umma.
"Kata Riky, namanya Brian Mateo Jaya." Intan memberi tahu namanya sembari tersenyum manis.
"Wah keren, ada nama turun temurunnya," sahut Valdo.
"Iya, bener."
Senyuman terukir di ruangan ini, serta obrolan hangat meliputi mereka.
...~•~[Rumah Riky]~•~...
Riky pulang dengan hati yang gundah, kepalanya berat sekali bahkan bibirnya bergetar entah karena apa.
Tap ... tap ... tap ...
Langkah demi langkah masuk ke perkarangan rumah, tangannya bergetar sebelum memegang tuas pintu.
Menunduk sembari menghembuskan nafas berat, Riky memberanikan diri membuka tuas pintu.
__ADS_1
Baru saja memegang gagang pintu, pak Jaya lebih dulu membuka untuk mencari Riky karena tak kunjung pulang selama seminggu.
Grek!
"Astagfirullahalazim, ya ampun Riky! Dari mana kamu? Bapak nyariin dari kemarin-kemarin," ucap pak Jaya ke Riky.
Tubuh Riky gemetar, air keringat pun mengalir di dahinya. Mengepalkan tangan karena menahan tangis.
"Huh ... maaf pak," ucap Riky lalu memeluk pak Jaya.
'Aneh, ada apa ini?' Batin pak Jaya.
Pak Jaya langsung merangkul pundak Riky ke ruang tamu. Duduk berhadapan namun tidak berbicara sedikit pun.
"Ada apa Ki?" Tanya Pak Jaya lagi.
"Maaf pak, aku mengecewakan bapak lagi." Riky mengakui dirinya salah.
"Ada apa?" Tanya pak Jaya dengan lembut.
"Intan melahirkan pak," ucap Riky tidak bisa menahan air matanya.
"Intan? Siapa? Dan melahirkan anak siapa?" Tanya pak Jaya sedikit terkejut.
Pikirannya sudah menebak tapi dia tidak mau salah duga. Riky harus menjelaskannya semua secara perlahan.
"Intan melahirkan anak Riky pak." Riky mengeluarkan surat tes DNA.
Deg!
Deg ... deg .. deg ...
Hati orang tua mana yang tidak hancur kala mengetahui anaknya seperti itu. Tapi pak Jaya sangatlah bijak.
"Huh ... jadi ini arti mimpi ku waktu itu," ucap pak Jaya masih memegang surat hasil tes DNA.
"Hah? Maksudnya?"
"Dan mungkin ini, ini adalah hadiah yang kau siapkan untuk bapak."
Deg!
Riky tersadar. Besok adalah hari ulang tahun bapak yang ke 65 tahun dan kado terindah yang pernah Riky berikan adalah ini. Cucu pertama pewaris toko Jaya.
"Tapi, bapak marah tidak? Aku belum menikah dengannya."
"Aku marah, aku kecewa. Tapi mimpi-mimpi yang telah aku dapat terjawab semua."
Riky memeluk pak Jaya, berterimakasih atas ucapannya.
...----------------...
Seminggu kemudian.
Riky menggelar pernikahan di masjid Panti Asuhan, acaranya sederhana namun sangat terasa sekali kehangatan disini.
Keluarga Intan terlihat tidak suka bahkan cenderung berwajah singut kala kata "SAH!" Terucap.
"Alhamdulillahirabilalamin."
Riky menc*um kening Intan sembari membacakan doa-doa khusus, yang pernah ia hafalkan dulu saat di kelas pra-nikah.
'Makasih ya Ki,' ucap Intan tersenyum bahagia.
"Akhirnya," ucap Valdo.
"Akhirnya apa?" Tanya Ela.
"Akhirnya kita ke resepsi pernikahan yang ke tiga kalinya." Valdo menggombal.
Brian saat ini di gendong oleh Ela dan Valdo karena keluarga Intan tidak mau menyentuh Brian sama sekali.
"Ih ganteng banget ya!" Ucap Valdo mengelus pipi Brian.
__ADS_1
"Iya bener ganteng banget, buku matanya lentik lagi." Ela gemas dengan wajah Brian yang imut.
"Nanti kita juga punya kok, kamu mau berapa?" Tanya Valdo membuat wajah Ela merona.
"Hah? Ih nantilah lulus kuliah dulu."
"Iya nanti pas selesai kuliah ya, kita buat." Valdo semakin jadi menggombal Ela.
Deg ... deg ... deg ...
'Ampun deh, jantung gue," ucap Ela menahan senyum.
Setelah selesai akad, kedua keluarga pun berfoto bersama di tempat yang sudah tersedia.
Lapangan Panti Asuhan Umma Lisa kali ini di sulap menjadi tempat pernikahan Riky. Walau sederhana, Riky dan Intan tetap bahagia.
Eh? Dan juga Brian pastinya.
"Brian buat gua ya!" Ucap Ela saat mendekati pengantin.
"Ih buat sana sama cowo lo." Riky meledek.
"Mau yang ini tapi, ya boleh ya," ucap Ela sembari mengelus pipi Brian.
"Hmmm, Val! Ela ngajak merid tuh, " ucap Riky ke Valdo.
"Nanti hey, belum lulus kuliah."
"Wah di tunggu ya undangannya," sahut Intan.
"Huuuu, gak seumuran nanti sama Brian anaknya."
"Ya gak apa-apa lah." Ela cemberut.
"Udahlah gua bawa dulu Brian ke dalem, disini berisik." Ela membawa Brian masuk ke dalam Panti.
...~•~●~•~...
Saat di dalam Panti, Valdo setia menemani Ela kemana ia pergi. Duduk bersandingan sembari menatap baby imut yang Ela gendong.
Cklek ...
'Siapa ini yang jadi paparazi?' Batin Ela melirik sekitar.
Cklek ... Cklek!
"Oby!" Ucap Valdo menemukan Oby di depan jendela.
"Ih si Oby, paparazi baru!" Ucap Ela menahan senyumnya.
"Hehehe," Oby hanya tersenyum saja dan menghampiri mereka sembari memperlihatkan hasil fotonya.
"Bagus kan?" Tanya Oby.
"Bagus sih, tapi bilang-bialng dong." Ucap Ela melihat foto tersebut.
"Kalo kasih tau gak bagus nanti hasilnya." Oby beralasan.
"Iya juga sih sebenernya. "
Mereka bertiga pun berbincang hangat di dalam sampai pengantin datang menghampiri. Mengambil Brian untuk di beri susu karena susu di botol sudah habis.
"Cie ... cie ... gak jomblo lagi!" Ledek Oby.
"Cepet nyusul. "
"Iya nanti nyusul," ucap Oby percaya diri.
"Sama siapa?" Tanya Valdo.
"Ada deh! Rahasia," ucap Oby membuat dua orang ini penasaran.
Bersambung...
__ADS_1