Letter To My Albino

Letter To My Albino
Apakah Dia Kembali?


__ADS_3

"Oh iya hari ini aku mau ke rumah Bimo ya Mah, pah. Aku di undang ke sana, bukan aku aja sih Ryca juga di undang."


"Yaudah hati-hati ya di jalan."


"Iya Mah pah."


Ela pun pergi menggunakan motor kesayangannya sembari memakai sebuah earphone untuk membuatnya fokus di jalan.


"Dimana kah? Kau yang dulu mencintaiku, kini kau telah berubah kau acuhkan diriku dan biar waktu yang merelakan setiap keping kenangan tuk hapus sedihku," Ela bernyanyi di sepanjang jalan.


15 menit perjalanan,


Ting.. nong.. ting.. nong..


"Masuk aja oy, udah kayak apa aja lo ini."


"Hehehehe."


Ela pun langsung memarkirkan motornya di garasi milik Bimo.


"Assalamualaikum," ucap Ela di depan pintu.


"Waalaikumsalam, sini masuk Ela. Di dalam juga ada Ryca tuh."


"Iya tante. Minal ‘aaidiin wal faaiziin," ucap Ela langsung menyambut tangan Bunda Bimo dan juga ayah Bimo.


"Bimo ini bisa-bisanya ya, ngegandeng 2 cewe cantik sekaligus," ledek ayah Bimo saat Ela berjalan menemui Ryca dan yang lain di taman belakang.


"Itu kan temen dari SD yah, makanya mereka akrab banget sampe sekarang."


"Oalah, awas nanti bund, si Bimo suka sama salah satu dari mereka. Kalo ke pincut dua-duannya gimana coba?"


"Hih.. ayah ini ngada-ngada aja."


...~•~[ Taman Belakang Rumah Bimo ]~•~...


"Halo guys, Minal ‘aaidiin wal faaiziin, Mohon di kasih kepastian jangan di gosting."


"Hehehe bisa aje lu wibu," ledek Bimo.


"Ih lo ini masih suasana lebaran jangan buat dosa gak boleh."


"Hahahaha kalian ini susah banget ya akurnya," sahut Ryca.


"Bimo tuh yang mulai duluan."


Seperti biasa, Ela selalu datang ke rumah Bimo untuk bersilahturahmi bersama keluarganya bahkan teman-temannya saat masih SD.


Tetapi kali ini Bimo mengundang teman-teman SD untuk bersilahturahmi bersama di rumahnya.


"Mo, mo. Gak nyangka gua lo di gandeng dua cewe sekarang," ledek Anton.


"Ngelunjak lu Ton."


"Ih sorry gua mah enggak," ucap Ela langsung menangkis ucapan Anton.


"Soknya lu ini La, La."


"BTW gua kangen Cila loh," ucap Anton sembari mengaduk-aduk kuah cuka di mangkuk.


"Cueeeee, cueee ada apa nih? Apa jangan-jangan?" tanya ledek Bimo.


"Enggak ***, gila lo ini. Gua tiba-tiba aja semalem mikirin Cila kayak ada apa gitu hahahah."

__ADS_1


"Jangan-jangan lo, laper lagi sama kejadian waktu itu," ledek Ela.


"Hahahaha, kejadian yang mana tuh?" tanya Ryca.


"Yang itu lah pokoknya, hehehe Ryca mah gak tau apa-apa masih polos."


"Hahahaha."


Percakapan hangat antar sahabat ini pun terjalin lagi setelah sekian lama tidak bertemu, formasi grup saat kejadian kala hujan waktu itu pun kembali.


Tepat pukul 13.00,


Ela berpamitan untuk kembali ke rumahnya dan Anton pun juga sama. Di perjalanan, Ela dan Anton beriiringan sampai akhirnya mereka berpisah di persimpangan tugu.


Ela dan Anton berpisah jalur, karena Ela ingin pergi ke suatu tempat dulu baru ia pulang.


"Beliin apa ya?" gumam Ela menatap jalanan.


"Oh iya, beliin kue aja kali ya."


Ela pun menepikan motornya di sebuah minimarket dekat universitas terkenal di kota ini. Tanpa basa-basi, Ela langsung mengambil 3 paket ramadhan dan langsung menuju ke kasir.


"Ini aja mba?"


"Iya."


"Totalnya 250 ribu."


"Ini mba," Ela menyerahkan uang pas.


"Uangnya pas ya."


Creeek..


"Iya terimakasih kembali."


Ela memperhatikan struk belanjaannya tanpa menghiraukan orang yang jalan tepat di depannya.


Bruk...


Bahu Ela menabrak seseorang berjaket cokelat dan seperti biasa, Ela hanya mengerutkan dahi sembari menatap tajam orang itu.


Padahal yang sebenarnya salah itu Ela tetapi ia menganut perempuan selalu benar dalam kondisi dan keadaan apapun.


"Jalan kok ya gak liat-liat sih!" gumam Ela kesal.


Tiiiiit....


'Argh, syial suara itu lagi!' ucap Ela dalam hatinya.


Untunglah saat suara itu datang Ela sudah duduk di atas motornya, dirinya pun hanya bisa menundukan kepala saja.


Sembari di topang kedua tangannya, Ela Perlahan-lahan menghilangkan suara bising yang ada di telinganya.


"Padahal gua dah inget semua tapi kok? Arggh kenapa gak ilang-ilang sih?!" gumam Ela.


Tap.. tap.. tap.. ~langkah seseorang.


Tiiiiit..


"SYIAL!"


"Kenapa malah makin sakit sih?! duh gimana ini mau bawa motornya?" gumam Ela.

__ADS_1


Tubuh Ela tetap bertahan seperti itu sampai ia merasa bahwa dirinya bisa menatap jalan kembali bahkan suara itu pun menghilang.


"Huh.. alhamdulillah," ucap Ela lega.


"Ayok kita berangkat sekarang Rain," ucap Ela kepada dirinya sendiri.


Perjalanan pun berlanjut, di tengah-tengah perjalanan Ela merasa dirinya sedang di ikuti seseorang entah siapa.


Yang pasti Ela mengendarai motornya itu dengan kecepatan tinggi untuk menghindari bahaya yang datang.


Deg..deg..deg..


'Jantung jangan berisik ya, diem dulu bentar aja.'


'Eh? Kalo di suruh diem berarti gua mati dong?! ih maksudnya gak gitu jantungku. Suaranya jangan gede-gede ya kita harus fokus ke jalan dulu ini,' ucap Ela dalam hatinya.


10 menit kemudian,


Ela langsung memasuki parkiran tempat ini dan langsung menuju kedalam. "Assalamualaikum Umma," sapa Ela dari luar.


"Waalaikumsalam," ucap umma menyambut kedatangan Ela.


"Umma, Minal ‘aaidiin wal faaiziin,maaf lahir batin ya," ucap Ela diiringi cipika cipiki.


"Oh iya umma, ini aku ada bingkisan untuk adik-adik disini."


"TEH ELA!" teriak Ruli kecil berlari langsung menemui Ela.


"Teh Ela aku kangen," ucap Ruli kecil menatap Ela begitu romantis.


"Aku juga," ucap Ela menyambut Ruli.


Ela dan Ruli kecil pun berpelukan layaknya kekasih yang tak pernah bertemu sekian lama. Ruli kecil memandangi wajah Ela sembari tersenyum malu-malu.


"Teh Ela, Minal ‘aaidiin wal faaiziin ya."


Ucap Ruli kecil mengambil tangan Ela untuk bersalaman. Ela hanya merasa lucu saat Ruli kecil tersipu malu seperti ini.


"Iya, Teh Ela juga ya," ucap Ela sembari mengacak-acak rambut Ruli kecil.


"Teh Ela ayok sini ikut aku," ajak Ruli.


Deg...


"Ruli, Teh Ela kan baru saja datang. Jangan langsung di ajak main geh, ngobrol - ngobrol dulu gitu biar kayak orang-orang dewasa," ucap umma.


Umma seperti sedang menyembunyikan sesuatu tapi Ela tidak memperdulikannya. "Ih umma, aku kan mau main juga sama teh Ela! ayok Teh Ela ikut aku," ajak Ruli kecil sembari menarik jari manisku.


"Iya, iya ayok sayangku." ucap Ela sembari melangkah mengikuti jejak Ruli kecil.


"Aku ikut Ruli sebentar ya umma," ucap Ela lagi ke umma.


"I-iya La."


Ela mengikuti Ruli terus sampai akhirnya mereka berhenti di depan taman belakang. Ada seseorang laki-laki mengenakan kaos berwarna hitam duduk disana.


Ela terpaku dan fikirannya pun langsung terbang kemana-mana. Bahkan semburat senyum pun nampak di wajahnya.


"Valdo?" ucap Ela walaupun sedikit bernada lirih.


Bersambung...


..."Bagaimana aku bisa berkata? Jika kau yang ku nanti tepat ada di hadapanku."...

__ADS_1


...-Ela....


__ADS_2