
...~•~●~•~...
"Dulu kita pernah naik pesawat bareng kan?" Tanya Valdo sembari menggandeng tangan Ela.
"Iya bener."
"Dari kota yang sama ke tempat tujuan yang sama juga dan sekarang kita naik pesawat bareng lagi." Valdo menggandeng tangan Ela sembari tersenyum saat menatap wajah Ela
"Iya bener Val, hehehe."
'Tidak akan aku lepaskan kembali genggaman tanganmu ini,' batin mereka berdua.
Pesawat pun akhirnya lepas landasan tepat pukul 09.30 dari Bnadung menuju Lampung.
'Kali ini aku menemaninya untuk kembali ke tempat asalnya, bertemu dengan ibu mertua ku ... eh maksudnya ibu kandung Valdo dan juga ayah kandung Valdo.'
'Aku tidak sabar, melihat kampung halaman mu. Menjelajahi kota ini bersama sembari mengulang kisah pertama kali kita bertemu,' ucap Ela sembari menatap jendela pesawat.
'Entah mengapa hanya dia yang membuat bibirku selalu menarik garis naik keatas dan akan tetap terus naik hingga wajahku memerah seperti sedang sakit.'
'Hanya dia, Valdo. Rivaldo Youkute yang membuat ku tergila-gila dengannya. Laki-laki unik pertama yang pernah membuatku jatuh cinta hehehe,'
'Haduh Ela tolong dong kontrol jantungnya ini. Jangan sampe lompat cuma gara-gara ini orang.'
"Hayo mikirin apa?" Tanya Valdo.
Ela pun tersadar dari lamunannya dan detak jantungnya malah semakin cepat karena Valdo.
"Enggak, enggak kenapa-kenapa. "
"Orang aku nanya mikirin apa? Kamu malah jawab enggak kenapa-kenapa. Hehehe dasar aneh," ucap Valdo mengelus kepala Ela.
"Eh hehehehe, aku lagi mikirin .... Kamu."
"Kenapa mikirin aku? Kan aku ada di samping kamu."
"Entah, aku mau mikirin kamu aja, kenapa kamu suka sama aku gitu."
"Kamu mau tau?" Tanya Valdo diiringi anggukan langsung oleh Ela. "Because you, my angel."
Bagaimana jantung Ela? Aman atau tidak? Sudah pasti tidak jawabannya.
Wajah Ela memerah dan dengan cepat Ela langsung bersembunyi di balik lengan Valdo sembari tersenyum-senyum.
"Ya ampun jantung aku gak aman," gumam Ela saat menyembunyikan wajahnya.
...~•~●~•~...
Mereka pun akhirnya tiba di kota tujuan.
Memesan taxi untuk langsung ke kampung halaman Valdo. Menemui pamannya untuk meminta kunci rumah nenek.
"Assalamualaikum pakcik!" salam Valdo saat tiba di rumah sang paman.
"Waalaikumsalam. Aih mak! Ado datang."
Bersalaman dengan paman dan bibi Valdo, Ela pun mengobrol dengan keluarga asli Valdo.
Mereka sangat hangat sekali saat menyambut kedatangan Ela dan Valdo, bahkan desa ini pun masih terjaga alami. Banyak sawah dan jalan ke rumah ini pun sangat-sangat jelek.
"Ini siapa?" Tanya Minan.
"Ini Ela, calon Ado." Valdo menjawab dengan lantang.
__ADS_1
"Ya ampun, kamu udah punya tunangan ya. Masyallah cantik betul." Minan sedikit terkejut dan tak menyangka, Valdo datang kembali sudah membawa calonnya.
Ela hanya tersenyum malu saja mendengar dirinya di bilang cantik oleh Minan (bibi) Valdo dan tersipu malu saat Valdo bilang dirinya adalah calon Valdo.
"Emang kalian mau ke rumah Andung?" Tanya Minan.
"Iya Minan, Ado mau ke lamban Andung. Mau bebersih rumah."
"Yaudah tunggu bentar ya, minan cari dulu kuncinya." Minan pun masuk ke dalam rumah.
Kali ini pakcik lah yang menemani Valdo dan Ela. Mengobrol bersama sebelum berangkat ke rumah Andung (nenek).
"Nah, ini kuncinya ya. Ini juga makanan untuk kalian disana. Minan gak bisa ikut soalnya minan mau bantu makcik masak hajatan."
"Iya minan, makasih."
Setelah memegang kunci rumah Andung dan juga mendapatkan sedikit buah tangan dari minan, Ela dan Valdo pergi ke rumah Andung menggunakan ojek desa.
"Pakcik, Ado ke rumah Andung dulu ya."
"Iya, hati-hati."
"Pergi dulu ya pakcik," ucap Ela.
"Iya hati-hati."
"Aih ... gak kerasa Ado sudah punya calon ya," gumam pakcik sembari masuk ke dalam lamban.
...~•~●~•~...
Di perjalanan menuju rumah nenek Valdo, mereka di suguhkan pemandangan yang sangat indah, permadani sawah terlihat cantik terpampang nyata di kanan kiri jalan.
15 menit perjalanan.
"Wah." Ela berdecak kagum memandang rumah lama.
Rumah lama khas Lampung ini berdiri kokoh dan rumahnya sangat megah terlihat.
"Ini bangunan kapan Val?"
"Ini bangunan tahun 72 yang lalu dan alhamdulillah masih berdiri kokoh."
"Wah hebat ya orang jaman dulu ini. Padahal ini bahan dasar kayu loh, tapi gak krropos sama sekali."
"Ada kok yang keropos, nih di bagian pintu sama di lantai deket dapur." Valdo menunjukan bagian yang keropos.
"Wah iya, tapi rumah ini keren banget Val."
"Kita bisa ke sini kapan aja, kalau pas liburan."
"Serius kamu?" Tanya Ela.
"Iya serius."
Valdo dan Ela pun bekerja sama membersihkan rumah ini, bermodalkan sapu, kemoceng dan lap, mereka saling bahu membahu.
...~•~●~•~...
1 jam kemudian.
Akhirnya pekerjaan rumah selesai juga dan sudah tidak ada lagi debu yang mengganggu disini.
"Habis dari sini kita kemana?" Tanya Ela.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?"
"Hmmm aku bingung ... aku ikut kemana aja deh, asal sama kamu hehehe," ucap ela bernada menggombal.
"Hmmm, kamu ini gombal terus ya."
"Siapa? Aku gak gombal geh."
"Oh iya, rumah tante kamu dimana?"
"Di Bandar Lampungnya, kamu mau kesana?"
"Boleh yuk."
"Yaudah, besok kita kesana."
Valdo dan Ela duduk berdampingan sembari memandangi pemandangan desa yang sangat sejuk ini.
Membuka bekal yang di berikan Minan tadi, makan bersama hanya berdua saja yang pasti.
Kali ini tidak ada gangguan yang terjadi, entah nanti sore atau pun besok pagi.
...~•~●~•~...
Keesokan harinya.
Valdo dan Ela berkunjung ke rumah tante Arista. Mereka sampai di rumah tante Arista tepat pukul 12.00 WIB.
Tante Arista menyambut mereka dengan banyak suguhan makanan, mulai dari makanan basah, hingga makanan berat.
"Ela itu suka makan, jadi jangan heran kalau tante masak sebanyak ini," ucap tante Arista ke Valdo.
"Iya tante, kalau kami jalan bareng juga gitu. Ela suka ngemil, aku udah gak heran lagi."
"Ih ya ampun kamu ini perhatian banget ya, beruntung banget ya Ela."
"Saya tante yang beruntung miliki Ela."
"Jadi kapan kalian akan nikah?"
Deg!
"Uhuk!" Ela seketika tersedak makanan yang sedang ia kunyah.
"Hati-hati makannya Ela," ucap tante dari ruang tamu.
"Nanti tante, masih ngumpulin dana."
"Wah, cepetan jangan lama-lama. Karena kadang cewe itu butuh kepastian hehehe, tapi juga jangan sibuk kerja terus."
"Kenapa tante?"
"Karena kalau kalian sama-sama sibuk di dunia kerja dan gajih kalian cukup banyak, cewe itu kadang gak perlu laki-laki lagi."
"Masa iya tante?"
"Iya, ini buktinya tante sendiri."
"Hah? Oh hehehe." Valdo sudah tidak bisa berka-kata lagi setelah mendengar pernyataan dari tante Arista.
'Ya gitulah tante, standarnya udah terlalu tinggi jadi kadang gak mentingin laki.' Ela membatin saat mendengar obrolan Valdo dan tante Arista.
Bersambung ....
__ADS_1