Letter To My Albino

Letter To My Albino
Hadiah Bermakna


__ADS_3

Di perjalanan.


"Kamu buat apa tadi La?" tanya Valdo.


"Rahasia dong, kalo kamu sendiri?" tanya Ela balik.


"Rahasia juga."


"Ish kamu ini!"


Valdo hanya bisa tersenyum saja melihat Ela cemberut saat berkendara. Membuat video seperti anak-anak muda jaman sekarang untuk disimpan sebagai kenangan di masa depan kelak.


30 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Valdo tepat pukul 17.00 WIB dan inilah kesempatan yang bagus bagi Valdo untuk memberikan hadiah yang ia buat untuk Ela.


"Ela?"


"Iya?"


"Kan rumah kamu udah deket nih, tinggal beberapa meter lagi dari rumah aku." Valdo berhenti sejenak.


"Ehm ... Terus?"


"Gak pake helm gak apa-apa kan? Kalo misalkan kamu ke rumahnya?" tanya Valdo.


Ela sedikit kebingungan dengan ucapan Valdo, seperti mutar-mutar tetapi Ela hanya menjawab ucapan Valdo dengan anggukan kepala saja.


"Kepala aku juga sakit pakai hem terus, ini mau aku buka helmnya."


"Lagiankan sebentar lagi sampai ke rumah." Ela melanjutkan bicaranya lagu sembari melepaskan helm.


Tek ....


Ela menaruh helmnya di tengah-tengah pijakan kaki, lalu bertanya lagi ke Valdo. "Emang kenapa Do?"


"Hmm coba kamu pejamkan matamu dulu," perintah Valdo.


"Untuk?"


"Udah nurut aja Ela sayang," ucap Valdo bernada merayu.


"I-iya iya iya."


Ela menuruti kemauan Valdo, menutup matanya diiringi degup jantung yang tidak karuan serta fikirannya terbang kemana-mana.


'Valdo mau ngapain sih?'


'Gua jadi parno dikit tapi kayaknya enggak mungkin deh, tapi kok gua deg-degan?'


'Duh Ela jangan overthiking, berfikir positif aja dulu sapa tau Valdo mau ...'


Belum sempat Ela melanjutkan ucapannya, Valdo tiba-tiba saja menaruh benda seperti mahkota di kepala Ela.


Dan lagi-lagi degup jantungnya semakin cepat, bahkan rasanya Ela ingin pingsan saat itu juga.


"Dah bukalah matamu," ucap Valdo sembari tersenyum.


"Udah?" tanya Ela sedikit ada rasa kecewa.


"Udah, coba liat ke kaca spion!"

__ADS_1


Ela melihat ke kaca spion dan betapa terharunya Ela melihat mahkota daun yang di rajut langsung oleh Valdo dengan penuh cinta.


"Cantik banget Do. Ini kamu yang buat?" tanya Ela.


"Iya dong, aku sengaja buat ini untuk kamu. Karena waktu itu aku liat di tv ada artis yang pake mahkota kayak gini."


"Walaupun gak mirip tapi aku puas bisa buat untuk kamu dan aku buahnya bener-bener pake hati yang paling tulus, di dalem sini." Valdo melanjutkan ucapannya sembari menunjuk dadanya tepat letak jantung berada.


"Ah ... astaga Valdo aku terharu, hiks ..."


"Ih jangan nangis atuh sayang," ucap Valdo membuka Ela.


Seumur hidupnya, ini pertama kali ia mendapatkan perlakuan spesial dari sang pujaan hati. Kali pertama mendapatkan hadiah penuh makna yang akan selalu ia jaga.


"Makasih ya Valdo," ucap Ela tersenyum manis.


"Iya sama-sama, udah sana pulang. Nanti kakak kamu ngomel lagi," ledek Valdo.


"Sebentar, Aku juga punya sesuatu untuk kamu!" Ucap Ela mengeluarkan benda dari ranselnya.


"Apa?"


"Tada!"


"Aku buat topi rajut, tadi di bantu sama anak-anak dan sebagian udah jadi sih. Terus aku lanjutin aja rajutannya dan ini aku buat spesial untuk kamu."


"Tapi maaf, aku buatnya gak full hasil buatan aku sen ...." ucapan Ela langsung di pungkas oleh Valdo.


"Wah bagus banget," ucap Valdo langsung memakai topinya.


Valdo langsung menggeser spion motor Ela dan berkaca sembari bergaya. "Ganteng ya aku!" ucap Valdo sembari menaruh lengannya di pundak Ela.


"Suka banget dong. Aku sangat-sangat suka!" ucap Valdo.


"Ish Valdo gombal!"


"Aku enggak ngegombal Ela, tapi bener aku suka, makasih sayangku."


Deg ... deg ... deg....


'Ih Valdo! Jangan buat gua salting brutal!'


'Sialan jantung gua mau lompat rasanya! Hmmmm,' batin Ela.


Tiba-tiba saja wajah Ela memerah dan tersenyum malu-malu. Rasa ingin berteriak, lompat-lompat kalau bisa jungkir balik di tempat.


Tapi Ela harus bergaya cool di depan sang kekasih hati, hanya senyuman malu-malu yang ia tampakan.


"Yaudah aku pulang ya!" Ucap Ela.


Selama perjalanan Ela tersenyum-senyum, mengarahkan spion ke wajahnya dan melihat betapa cantiknya ia.


...~•~●~•~...


Sesampainya di rumah, Ela baru bisa beratraksi sesuka hatinya. Setelah mengucapkan salam, Ela bernyanyi seperti orang kemasukan.


Tersenyum, berjoget membuat kakak, mamah dan papahnya kebingungan. Bahkan mereka membatin satu hal yang sama, 'Ketimpahan apa dia? Kan gak ujan?'


"Aku tak perlu, bahasa apapun untuk mencintai kamu sesuai janjikuuuuu!"

__ADS_1


"Aku tak pernah beristirahat untuk mencintai kamu sesuai janjikuuuuuuuuu!"


Ela bernyanyi tak memperdulikan suaranya seperti apa, tak memperdulikan siapa saja yang mendengarnya.


"Astagfirullah Rain! Sadar! Ketimpahan apa kamu?" tanya Kak Anir sembari menangkap wajah Ela dengan kedua tangannya.


"Ih! GANGGU AJA!"


"Kamu ini," ucap kak Anir.


"Ih AWAS NANTI RUSAK INI!" Ucap Ela langsung mengambil mahkota daun yang masih berada di kepalanya.


"Hmmm pantes, dapet hadiah baru lagi? Dari siapa?" tanya kak Anir.


"Kepo!" Cetus Ela sembari beranjak ke kamar.


"Kamu ini Nir, lagi jatuh cinta dia itu. Sama aja kayak kamu!" Ledek papah.


"Aku? Enggak, aku enggak kayak gitu kok," bantah Kak Anir.


"Hmmm gak ngaku," ledek mamah.


...~•~[ Kamar Ela]~•~...


Blam!


"Huaaaaa konichiwa minasan!" ucap Ela kepada semua benda di kamarnya."


Ela pun berjalan kembali menuju boneka paus putih yang berada di lemari transparan.


"Hai sayangku, aku punya benda yang dapat menemanimu."


Ela langsung menaruh mahkota daun itu ke atas tubuh boneka paus putih. Sembari tersenyum tersipu malu.


'Andai aja tadi gua di rumah, mungkin gua bakal jungkir balik, terjun payung jingkrak-jingkrak, nyanyi-nyanyi kek orang gila.' Ela membatin.


"Aaarrght salting brutal gua Valdoooo!"


"Heemm ... huuuh... heeemm ... huuuh..." Ela menarik nafas dalam-dalam.


2 Hadiah bermakna dari orang yang paling aku sayang selain keluarga membuat hidupku berwarna.


Bagaikan kanvas putih yang terukir dengan tinta hitam lalu di beri pewarna di tiap-tiap sketsa gambarnya.


Membentuk sebuah gambaran indah bermakna, bernilai tinggi dan tak akan pernah terulang kembali.


Di balik hilangnya ia selama dua bulan lebih, mengajarkan aku betapa pentingnya kata "sabar," kata "Penantian," dan arti lelahnya menunggu.


Mungkin dia yang lebih lelah karena menunggu aku selama 15 tahun lebih dengan drama yang penuh menghujam dirinya.


Tetapi ia masih tetap sabar menunggu, sabar dengan segala cobaan dan sekarang dia, dan aku menjadi kata kita.


Begitulah kisah aku hari ini, terimakasih kau selalu membuat hari-hari ku penuh warna juga dan Terimakasih kau mau mendengar keluh kesahku.


Aku Ela si hujan cantik punya Valdo seorang.


_______________________________


Itulah tulisan Ela di buku diary. Semua kebahagiaan, kesedihan bahkan ke gundahan yang ia rasakan di tuang kedalam sebuah buku kecil.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2