Letter To My Albino

Letter To My Albino
Eja Berulah lagi


__ADS_3

"Pegang tangannya!" perintah orang itu.


Tiba-tiba saja kedua tangan dan kaki Ado di tahan oleh orang-orang tidak dikenal. Karena mereka semua memakai topeng bak maling yang ingin merampas harta berharga.


Tubuh Ado kini terikat di sebuah tiang yang berada di lapangan, berhadapan dengan matahari terbenam.


Crek!


Walau matahari sore tidak terlalu panas tetapi tetap saja itu akan membakar kulitnya. Tubuh Ado sudah terikat di sebuah tiang tanpa sehelai baju.


Ado hanya bisa merasakan pedih karena paparan sinar matahari itu dan lengkungan garis di sudut bibir seseorang itu pun terlihat jelas.


"Kenapa kamu ngelakuin ini ke saya Ja?" Tanya Ado yang pasrah dengan tubuhnya saat ini.


"Kenapa? Lo masih nanya Kenapa?" Tanya Eja kesal.


"Saya bener-bener gak ngerti kenapa kamu selama ini benci sama saya? Apa yang telah saya lakukan sampai kamu sebenci ini sama saya?" Pertanyaan itu terlontar juga dari mulut Ado.


Setelah sekian lama Ado memendam pertanyaan itu dalam fikirannya, akhirnya Ado dapat menanyakannya langsung secara empat mata.


"Lo tau gua ngelakuin semua ini karena apa? Karena gua mau lo Mati! Gua mau lo lenyap dari pandangan gua," jelas Eja sembari menyeringai.


Ado hanya bisa diam, matanya membulat seketika. Entah apa yang ada di pikiran Ado tetapi yang pasti dia sangat-sangat terkejut atas apa yang Eja lakukan.


"Apa saya pernah berbuat jahat kepadamu?" tanya Ado.


"Tidak," jawaban singkat dari Eja.


"Lantas apa yang membuat kamu ingin saya mati?"


"Karena lo, karena lo! Semua impian gua hancur!"


Lapangan ini memang sepi, jarang ada orang yang melewatinya. Eja dari awal sudah merencanakan aksinya ini, menyuruh bawahannya untuk melakukan survei lokasi.


Agar rencananya berjalan mulus. Eja benar-benar kejam, ia layaknya algojo yang sedang mengeksekusi seorang pidana mati.


Menggunakan gesper besar yang sudah di siapkan di dalam mobil, Eja mulai beraksi.


Syuut...


Traap... tak..


Alunan gersper itu mengenai tubuh Ado hingga beberapa kali. Tubuh Ado yang begitu putih kini berubah warna menjadi warna merah tua.


Warna tubuhnya itu muncul kala terkena paparan sinar dan juga sentuhan dari gerper yang di alunkan Eja.


Ado benar-benar sudah tidak berdaya lagi, terlihat jelas beberapa kali ia memuntahkan dar*h segar.


...----------------...


Tidak ada yang bisa di lakukan oleh bawahannya, mereka hanya menyaksikan betapa brutalnya bos mereka saat mengeksekusi seseorang.

__ADS_1


Bahkan asistennya saja tidak tahu apa permasalahan yang terjadi antara Ado dengan Eja. Yang pasti Eja kali ini seperti di rasuki setan sehingga ia bisa berbuat seperti itu.


Di ujung jalan dekat lapangan.


"Ahahaha iya, gak nyangka dapet kotak nasi mana dua lagi," suara seseorang dari ujung gang lapangan.


"Bos ada seseorang yang datang," asistennya mengingatkan.


Eja melemparkan gersper itu ke tanah sembari berucap, "Kita mundur!"


Eja dan rekan-rekannya pun pergi meninggalkan Ado yang sudah tidak berdaya di sebuah tiang besar.


"Wah gila! Mobil jeep ijo gitu yang gua mau tau gak," ucapan samar-samar masih bisa terdengar oleh Ado.


"Oh, bagus sih tapi lo tau gak..." ucapan warga itu terpotong kala melihat seseorang di ikat di sebuah tiang besar.


"Eh, itu orang itu masih hidup ga?"


"Mana?"


"Itu di tiang lapangan."


"Astagfirullahalazim, ayok kita tolongin."


Kedua warga itu mendekati Ado dan terkejut saat melihat dar*h berceceran dimana-mana serta warna merah yang terukir tubuh Ado.


"Astagfirullahalazim, mas? Mas?"


Ado masih mendengar hanya saja ia tidak punya tenaga untuk menjawabnya, salah satu warga pun berlari kerumah pak RT untuk memberi laporan.


Bruk...


Tubuh Ado jatuh ke tanah, dan dengan sigap warga tersebut membopongnya ke tempat yang lebih aman.


...----------------...


"Diamana? Ini kok gak ada di lapangan?" tanya pak Rt.


"Itu pak mereka sudah di gardu sepertinya."


"Astagfirullahalazim, kasih minum, kasih minum ayo cepet."


Pak Rt dan Bu Rt membantu menyadarkan Ado kembali, memberikan minum serta mengompres tubuhnya.


"Kalian liat ndak siapa yang ngelakuin ini?" tanya pak Rt panik.


"Tadi kami hanya melihat mobil Jeep berwarna hijau tua sama dua motor metik," jelas warga yang memapah Ado.


"Haduh, haduh... jangan sampai kampung kita kena masalah besar cuma karna saya gak bisa jaga warga saya. Ayo cepat kita cari pelakunya," perintah Pak Rt kepada warganya.


"Astagfirullahalazim pak, ini mah yang kemarin di gebukin itu di depan gang perbatasan kita ini," jelas bu Rt saat melihat jelas wajah Ado.

__ADS_1


"Hah? Yang bener bu?" ucap pak Rt panik.


"Iya pak, ini nak Valdo anak bu Yo. Rumahnya gak jauh emang dari gang ini, kalau gak salah rumah kedua dari ruko itu."


"Oalah iya, yaampun kayaknya anak ini memang jadi target inceran orang jahat ya. Yasudah ayo kita bawa dia ke rumahnya," perintah Pak Rt lagi.


"Udah langsung kita bawa ke puskesmas aja pak, kasian kalo di bawa ke rumahnya lagi."


Pak Rt dan satu warga membawa Ado ke puskesmas terdekat menggunakan motor Ado. Sedangkan warga lain menjemput ibunda Ado dengan menggunakan kendaraan lain.


Wajah ibu Ado seketika panik dan ia pun bergegas pergi dan meninggalkan rumahnya begitu saja.


Anak semata wayangnya lagi-lagi tertimpa masalah berat, entah apa tujuan orang-orang itu mengincar dirinya.


...~•~●~•~...


Di puskesmas, Ado di periksa cukup lama dan dokter sedikit terkejut karena penyakit yang hampir sembuh kemarin pun aktif kembali.


"Terimakasih pak sudah mengantarkan anak saya ke puskesmas saya benar-benar berhutang budi," ucap ibu Ado ke pada warga serta pak Rt.


"Ini memang tugas saya bu untuk melindungi para warga saya dari segala kejahatan, tetapi masih saja banyak kejahatan yang mengincar."


"Saya berjanji akan memperketat lagi penjagaan di kampung kita dan ibu juga jangan khawatir karena ini kejadian terakhir yang terjadi," lanjut pak Rt lagi.


"Iya pak terimakasih, terimakasih."


Setelah pak Rt dan 2 warga pergi, dokter yang mengecek kondisi Ado saat ini pun keluar dari ruangan.


"Keluarga Valdo?"


"Iya saya ibunya dok."


"Bisa ikut saya ke ruangan sebentar?"


Ibu Ado mengikuti dokter dari belakang menuju rungannya. Sesampainya di ruangan berAC itu, Dokter pun menjelaskan kondisi Ado sekarang.


"Luka lebam di tubuh Valdo sangat banyak bu, kami harus melakukan beberapa pemeriksaan lagi untuk mendapatkan hasilnya."


"Karena sepertinya tubuh ananda Valdo terkena cambukan benda berat seperti gesper atau pun tali tambang."


"Dan kami juga menemukan sel lama yang aktif kembali di tubuh Ado, karena kami melihat warna merah yang ada di tubuhnya sangat tidak wajar," lanjut dokter itu lagi.


Seketika itu ibunya hanya bisa menitihkan airmata dan membatin, 'Apakah aku akan kehilangan orang yang paling berharga di hidupku?'


Hiks.. hiks...


"Heemm ... dokter apa bisa Valdo sembuh kembali?"


"Hanya 50% kemungkinan Valdo bisa sembuh karena imun tubuhnya sedang melemah dan bisa saja sel yang aktif kembali itu menyebar luas dengan cepat," jelas dokter.


"Tolong sembuhkan anak saya ya dokter, apapun yang terjadi tolong sembuhkan dia," pinta ibu Ado membuat hati dokter itu tersentuh.

__ADS_1


Bersambung...


..."Harta yang paling berharga bagi orangtua bukan rumah mewah, tanah yang luas ataupun emas perak yang tak terbilang harganya. Tetapi harta yang paling berharga bagi mereka adalah anak."...


__ADS_2