
Pov chat
"Saya sudah mendapatkan informasi yang kamu mau secara lengkap."
"Kirimkan saja," jawaban singkat dari kakak Anir.
"Dia juga terlibat kasus yang sama kayak kita Nir," jelas teman kak Anir.
"Kasus? Kasus apa?" tanya kak Anir kembali.
"Penggelapan dana perusahaan T."
Pov chat selesai
Kak Anir hanya bisa menyerengitkan dahinya saja sembari menatap layar komputer yang ada di depannya.
'Perusahaan yang aku bangun bersama papah menjadi korban dan tertuduh melakukan penggelapan dana. Apa mungkin ini juga merupakan manipulasi yang di lakukan oleh perusahaannya agar tidak tertangkap basah?' tanya kak Anir dalam hatinya.
...~•~[ Kamar Ela ]~•~...
Ting.. ting.. ting.. ting..
Notif dari handphone Ela terus berbunyi, Ela hanya bisa mentapnya saja. Dia tidak ingin membuka lagi handphone miliknya dengan harapan yang tak pasti.
Dreet... dreeet.. dreet
Tiba-tiba saja dering telfonnya berbunyi, barulah Ela mengambil handphone miliknya itu.
Ternyata itu telfon dari Rial. Rial ternyata sedang berada di Indonesia karena salah satu keluarganya ada yang kecelakaan.
Pov telfon
Rial : Oy Ela, apa kabar?
Ela : Alhamdulilah, gak begitu baik.
Rial : EHHH, gimana ceritanya udah alhamdulillah malah gak begitu baik.
Rial : lo kenapa hah? Lo sakit tah la? Lo sekarang di mana? gua lagi di Lampung.
Pertanyaan beruntun dari Rial membuat telinga Ela seketika pengang, tetapi suara yang sudah lama tidak ia dengar itu membuat Ela bersemangat.
Ela : lo itu gak bisa apa suaranya di kecilin dikit? telinga gua pengang tau!
Rial : heheheh ya maaf,
Rial : BTW abis lebaran nanti balik ke Lampung ya La.
Ela : kenapa emang?
Rial : gua mau ajak lo, ajak Raffa sama kawan gua ke pesta di Lampung Barat.
Ela : kapan?
__ADS_1
Rial : pokoknya abis lebaran lo kesini ya, biasanya warga di daerah itu sering menggelar tradisi 'sekura' pesta topeng, yang dilaksanakan setahun sekali pada bulan Syawal, atau pas saat Idul Fitri tiba.
Ela : Oh gitu, yaudah nanti gua ikut kesana. Kabarin aja gua nanti
Pov telfon selesai
'Hah... gua bakal balik ke Lampung nanti, tapi apa iya rasanya saat naik pesawat kemarin masih sama? Hari-hari yang gua jalanin sekarang jadi hampa, kosong," keluh Ela dalam hatinya.
Hari-hari berikutnya, Ela menjadi pribadi yang pendiam. Berbicara saja hanya sekedarnya, bahkan Bimo dan Ryca saja kebingungan.
Saat di kampus, Ela tetap datang ke gazebo tempat biasa berharap Ado menemuinya disana.
Tertawa seadanya dan menatap orang-orang disekitarnya dengan pandangan yang dingin. Itulah sifat yang muncul di diri Ela yang sekarang.
"Satu minggu lagi kita puasa, kita mau ngadain bukber gak nanti?" tanya Ryca.
"Belum juga puasa Re, udah mau buat agenda aja," sahut Bimo.
"Tapi boleh sih, mau kemana kita? Cafe crofel? Cafe awan? atau..."
"Panti Asuhan," sahut Ela.
"Nah boleh tuh, yaudah kita nanti agendain ke panti aja. Tapi panti mana ya?" tanya Ryca exaited.
"Panti Asuhan umma Lisa," sahut Ela lagi sembari membaca komik di tangannya.
"Nah iya boleh tuh, kangen juga aku sama umma Lisa," jawab setuju dari Ryca.
2 minggu kemudian,
"Kita mau beli apa?" tanya Ryca.
"Kita sumbangan berapa?" tanya Bimo.
"Berapa ya? Menurut kamu berapa La?" tanya Ryca ke Ela.
"Gua udah siapin buku sama pakaian layak pakai, untuk sumbangan uang terserah kalian aja nanti kakak Anir nitip juga," jelas Ela.
"Kalau mau pesen makanan nanti kita bisa pesen makanan di warung nasi kotak Emak aja," lanjut Ela lagi.
Ryca setuju dengan rencana Ela, begitu pun dengan Bimo. Setelah menyusun rencana dengan baik, Ela, Ryca dan Bimo mulai berangkat menuju lokasi.
Pertama, mereka ke rumah Ela untuk mengambil beberapa pakaian dan juga uang yang di titipkan kak Anir ke Mama.
Setelah itu, Mereka bertiga mulai berangkat ke rumah Bimo untuk mengangkat semua barang-barang itu menggunakan mobil.
...~•~[ Rumah Bimo ]~•~...
Di rumah Bimo, Ryca dan Ela menyusun semua pakaian itu agar rapih terlihat. Bimo membantu Bundanya untuk membuat kue yang akan dikirimkan ke panti.
"Kalian ngadain acara ini udah konfirmasi ke pemilik panti?" tanya Bunda.
"Sudah bunda, tadi pagi Ela sudah menenlfon pemilik panti."
__ADS_1
"Oh yaudah, jangan sampai kalian gak bilang ya."
"Sudah kok bunda ku sayang."
Tepat pukul 17.00
Mereka bertiga berangkat ke warung nasi kotak Emak untuk mengambil pesanan. Setelahnya barulah mereka menuju ke panti.
Selama di perjalanan, Ela hanya bisa diam memandang lembayung dari luar jendela mobil.
'Gua harap lo ada disana Do, di tempat kita sering bertemu.' ucap Ela dalam hatinya.
10 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di panti asuhan ini.
Terlihat jelas sosok Riky, umma dan anak-anak panti menyambut mereka bertiga dengan gembira.
Ela tersenyum saat melihat mereka, tetapi ukiran di bibirnya itu hanyalah paksaan semata. Karena Ela tidak menemukan seseorang yang ia cari.
Sesampainya di panti, Riky membantu Bo mengangkat semua barang-barang di mobil. Sedangkan Ela dan Ryca sedang bertemu umma.
Mata berbinar dari tubuh anak kecil bertubuh gembil itu pun terpancar jelas, karena yang ia tunggu selama ini pun akhirnya datang.
"Teteh Ela," ucap Ruli kecil menyodorkan kedua tangannya.
Ela hanya mengusap kepala Ruli kecil, tetapi Ruli kecil terus memanggilnya. Sampai Ela sadar kalau Ruli kecil ingin di gendong olehnya.
"Ruli, kamu ini jangan ganggu teh Ela dulu," ucap umma menegur Ruli.
"Aku kangen sama teh Ela," lirih Ruli kecil sembari memelukknya.
Melihat kejadian langka itu, Ryca dan Bimo hanya bisa mematung saja dan pikiran yang sama pun muncul di benak mereka.
"Sejak kapan Ela deket sama anak kecil?" gumam mereka berdua.
Ela hanya bisa menyeringai saja sembari berbicara dengan umma. Setelah buka bersama dan doa bersama berlangsung lancar, umma mengajak Ela untuk berbicara di taman belakang.
Sedangkan Ryca dan Bimo bermain bersama anak-anak panti yang mengemaskan. Bimo dari tadi memiliki perasaan yang aneh kepada orang yang membantunya itu ( Riky ) tapi dia pun tidak tau perasaan apa itu.
"Seperti pernah melihatnya tapi dimana ya?" gumam Bimo.
...~•~[ Taman Belakang ]~•~...
"Gea kemana umma? Sudah kembali ke tempatnya ya?" tanya Ela membuka pembicaraan.
"Iya, sebulan sebelum puasa Gea sudah kembali ke tempatnya dan terimakasih ya Ela kamu sudah mau berkunjung lagi ke sini."
"Iya umma terimakasih kembali. Aku, aku merindukan Ado umma. Dia sampai saat ini belum ada kabar," lirih Ela sembari menundukan kepalanya.
Umma mengusap pundak Ela sembari memberikan semangat untuk Ela.
"Dia pasti sebentar lagi kembali dengan keadaan sembuh. Pasti itu sudah pasti," ucap umma menenangkan hati Ela.
Bersambung...
__ADS_1
..."Jangan pernah merasa malu ketika hanya mampu memberi sedikit untuk bersedekah, karena selalu ada kebaikan dalam berbagi, tidak peduli seberapa kecil yang kamu berikan."...
...– Ali bin Abi Thalib...