Letter To My Albino

Letter To My Albino
Pertemuan kak Anir 2


__ADS_3

Ela mengejar Gea ke taman belakang dan menanyakan bagaimana dirinya bisa bertemu dengan sang kakak.


Gea pun langsung menceritakan semuanya dan setelah penjelasan selesai, Ela langsung bertanya tanpa basa-basi.


"Apa kak Anir udah ngelamar lo?"


"Belum."


"Oke, berarti lo mau jadi kakak ipar gue."


"Lah ya gak gitu Ele!"


"Ma-maksud gua belum itu, enggak, eh ih apaan sih Ele!"


"Nama gua Ela bukan Ele."


"Panggilan sayang dari gua."


"Oke fix lo terima lamaran kak Anir," ucap Ela langsung berlari menuju tempat bermain.


"Hadeh! Ele! Dasar, kenapa ketemu lagi sih?" tanya Gea diiringi wajahnya memerah.


Tidak lama kemudian, Kak Anir datang menemui Gea sembari duduk tepat di sampingnya tanpa duduk berhadapan dengan Gea.


"Gimana? Kamu mau ketemu sama mamah, papah saya?" tanya kak Anir.


"Belum. Aku juga belum bilang ke ibu sama bapak."


"Nanti, setelah saya menemui kamu ke orang tua saya baru saya akan bertemu dengan orang tua mu langsung. Sembari membawa keluarga ku juga."


"Untuk apa?"


"Melamarmu di depan seluruh keluarga."


Deg ... deg ... deg ... deg ...


'Dasar orang ini, ucapannya manis sekali. Jangan sampai wajahku memerah.'


"Bagimana?" tanya kak Anir lagi.


"Baiklah."


"Bagus, kau yang bilang bukan 'jalani saja dulu,' dan akhirnya kita sering bertemu sekarang."


"Kamu mau ikut saya sama Ela ke Rain's Cafe?" tanya kak Anir menatap Gea mas tertunduk.


Gea hanya menganggukan kepalanya saja tanpa berucap sedikit pun. Wajah gea tertutup oleh rambut yang tergerai panjang.


Kak Anir reflek menyeka rambutnya ke belakang daun telinga dan terlihatlah wajah cantik Gea.


"Kau ini. Rambutmu menutupi kecantikan mu tau!"


Deg ... deg ... deg ... deg ...


'Dasar orang ini, malah membuat jantung ku semakin berdebar.'


"Kau tidak suka dengan rambut panjangku?" ucapan itu keluar tanpa aba-aba dari bibir tipis Gea.


"Aku suka, apa pun itu yang ada di dirimu aku suka."


Saat Kak Anir dan Gea sedang mengobrol mesra, Valdo pun datang dan di sambut hangat langsung oleh Ela.


"Morning Valdo."


"Morning too Ela."


"Udah lama ya?" tanya Valdo.


"Enggak kok. Aku baru aja, eh enggak juga sih hehehe, ya sekitar 10 mentang yang lalu lah."

__ADS_1


"Oalah. Emang mau ngapain kita ke Rain's Cafe?"


"Ada sesuatu yang mau aku tujukan ke kamu, ini suprise pokoknya. "


"Hmmm, apa tuh? Aku jadi kepo."


"Liat aja nanti."


...~•~[ Taman Belakang ]~•~...


"Saya gak nyangka kita bakal ketemu di tempat ini," ucap kak Anir.


"Emang kamu lupa? Kan saya waktu itu bilang kalau saya pernah tinggal disini waktu kecil."


"Oalah iya. Aku faham sekarang."


"Sedangkan kamu? Apa karena Ela yang ngajak kamu ke sini atau kamu emang udah tau tempat ini?"


"Saya udah jadi donatur tetap selama 6 tahun di tempat ini. Walaupun dulu masih memakai nama papah, tetapi itu malah menjadi inspirasi saya untuk menyumbangkan harta jika berlebih."


"Dan itu juga bukan berlaku untuk saja saja. Tetapi untuk Ela juga," lanjut kak Anir lagi.


Gea terkagum dengan keluarga mereka yang begitu tinggi akan kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama makhluk.


"Jadi kau ke sini karena?"


"Valdo. Aku menghubungi adik mu, malah tidak ada kabar. Jadi aku kesini untuk membantu Ela melindungi Valdo dari kakaknya.


"Tetapi saat kami sampai, Kakaknya lebih dulu bertemu dengannya dan kata Riky, hubungan mereka sudah membaik."


"Riky? Siapa?"


"Teman kami juga, satu panti yang sama."


"Oalah, bukan kekasihmu?" tanya kak Anir langsung menebak.


"B-bukan, bukan."


'Orang ini. Ingin sekali aku berteriak entah mengapa. Tetapi imejku harus terjaga.'


Mata-mata pun memperhatikan mereka berdua yang sedang berbincang di taman belakang.


Siapa? Siapa lagi kalau bukan Ela dan Valdo. Mereka memperhatikan Gea dan kak Anir dari lantai dua ruang bermain anak.


"Mereka sangat canggung ya?" ucap Ela.


"Iya, mungkin karena mereka baru saja bertemu."


"Mungkin."


Setelah obrolan antara pasangan masing-masing, Akhirnya mereka pun bersiap diri untuk melanjutkan perjalanan ke Rain's Cafe.


Ela, Kak Anir, Gea dan juga Valdo sudah berkumpul di lobby untuk berpamitan ke umma karena mereka berempat akan pergi sekarang.


Layaknya pergi jauh ke sebuah kota selama berhari-hati, Ela dan Gea masih tetap adu argumen saling lempar ejekan demi ejekan.


Kak Anir hanya tersenyum, dan berbicara dalam hatinya, 'Pas sesuai dengan karakter Ela. Baguslah kalau merek bisa akrab lebih awal.'


Belum saja mereka pergi, tiba-tiba ada sebuah mobil jeep hijau yang tak asing di mata kak Anir datang dan parkir tepat di samping panti.


Kak Anir pun langsing mengerutkan dahinya. Entah ia kesal karena perusahaannya yang hampir jatuh kemarin atau karena kasus perundungan yang di alami Valdo.


"Assalamualaikum," sapa Eja memasuki lobby Panti.


Deg!


'Orang ini?' ucap Eja dalam hatinya.


Wajah terkejut pun nampak jelas, karena Eja pasti tau siapa dia. Siapa yang sedang berada di depannya dan siapa yang memulai hal buruk itu dulu.

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


"Maaf ya umma Eja batu kembali."


"Iya gak apa-apa. Kamu dari mana emang?"


"Ada urusan umma kemarin. Gak bisa di tinggal jadi baru sekarang deh bisa dateng lagi."


"Gea juga disini?" tanya Eja saat melihat Gea.


"Iya," jawab Gea dengan wajah sedikit mengerut.


"Kamu mau ke mana Val? Rapih amat?"


"Mau jalan dong hehehe."


"Hmmm, Mentang-mentang."


Saat percakapan singkat itu terjadi, tiba-tiba saja kak Anir mendapatkan telfon dan langsung mengangkatnya sembari pergi dari lobby.


...~•~[ Parkiran Panti ]~•~...


Pov telfon.


"Halo?"


"Ada apa Nir?"


"Dia disini!"


"Dia siapa? Dimana?"


"Orang yang kita incar. Nanti saya serlok."


"O-oke, oke."


Pov telfon selesai.


Kak Anir pun langsung mengirimkan alamat dia sekarang dan dengan sigap orang yang di telfon kakak Anir tadi bergerak menuju lokasi.


20 menit kemudian.


Obrolan hangat pun terjadi di antara Eja, umma, Ela dan Gea. Walau Ela masih berwaspada terhadap Eja karena ucapannya saat di kampus waktu itu.


Tetapi ia masih bisa menutupinya dengan wajah riang yang ia tampakan.


"Gak jadi pergi tah kita?" tanya Gea.


"Ngapa? Lo ini gak sabar ya mau jalan sama aa kan?"


"Ih bukan, kan nanti kalo ke maleman gak asik."


"Asiklah aneh, malah gak kena macet kita."


"Iya sih."


Tidak lama kemudian


Wiu ... wiu ... wiu ....


Wiw ... wiw ...


"Wah umma ada pak pulici," ucap Viko kegirangan.


Deg ... deg ... deg ... deg ...


"Tumben?"


Deg ... deg ... deg ... deg ...

__ADS_1


'Pasti ini kak Anir,' ucap Ela dalam hatinya.


Bersambung ...


__ADS_2