Letter To My Albino

Letter To My Albino
Manis


__ADS_3

Bisa di bilang makan malam bersama ini seperti layaknya double date, tetapi ini tidak di sengaja dan spontan saja acaranya ini terbentuk.


Selama makan malam, mereka fokus pada makanannya masing-masing. Hanya ada suara sendok garpu terhentak di piring, hingga makan malam selesai.


"Wah alhamdulillah kenyang. "


"Alhamdulillah. "


"Mau makan desert?" tanya kak Anir.


"Hmm gak usah kak, udah gak muat kantongnya kak. Udah full," ucap Ela.


Valdo dan Kak Anir hanya tersenyum kala mendengar ucapan dari Ela.


"Ele liat tuh," ucap Gea menunjuk sesuatu yang berada di luar.


"Ih nama gua Ela bukan Ele!"


"Udah sama aja, tuh liat dulu buru!"


Ela menengok ke arah luar dan ternyata kue balok coklat lumer cocok untuk makanan penutup malam ini.


Ela hanya tersenyum saja, tidak mengucap "mau," atau "tidak," dan kak Anir sudah tau apa artinya itu.


5 menit kemudian.


Makanan yang sama pun datang beberapa porsi.


"Hmm, bilang aja lu mau Ele."


"Mana ada! Gua gak bilang mau atau enggak loh, orang gua cuma liat doang."


"Tapi lo makan."


"Ya mubazir kalau gak di makan, iya kan Val." Ela meminta pembelaan dari Valdo.


"Iya Ela."


Sedangkan kak Anir hanya bisa tersenyum melihat tingkah adiknya di luar bersama orang lain.


Tak ingin berlama-lama di tempat ini, mereka pun berangkat kembali setelah makanan penutup habis.


Perjalanan pun sudah normal dan tidak terlalu macet lagi. Hanya 10 menit mereka menempuh perjalanan dan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


...~•~[ Rain's Cafe ]~•~...


Tek ....


Kak Anir membuka pintu Cafe dan mengajak mereka masuk ke tempat ini.


"Gelep amat," ucap Gea.


"Lampunya baru di pasang di ruang ini aja."


Ctek ....


"Oalah."


"Jadi ini Rain's Cafe, " ucap Valdo.


"Iya Val, walau belum terlalu jadi tetapi ini udah perfect sih," ujar Ela.


"Katanya barang yang kamu bawa mau di pajang disini Rain," ucap kak Anir.


"Ah iya, aku lupa ambil lagi, minjam kunci kak."


"Mau aku temenin?" tanya Valdo.


"Gak usah Val, kamu di sini aja."

__ADS_1


Tap ... tap ... tap ...


"Sebenernya sayang kalo di taro disini tapi, sesuatu yang kita buat akan menjadi sebuah karya jika orang lain melihatnya."


"Hoam, susah lagi."


Tek ...


Blam!


pip ... pip ....


"Hmm? Ayok kita bawa masuk," ucap Ela memegang kanvas yang tertutup kain putih di tangannya.


Ela pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam Cafe. Tetapi saat hendak menaiki tangga Ela melihat sosok bayangan hitam melewatinya.


"Kak Anir?" Ela memanggil dan menghampiri bayangan tersebut yang berada di ujung Cafe.


Menaruh lukisannya di kursi panjang tamu, dan dengan perlahan Ela menuju ke samping Gang kosong Cafe.


"Siapa?" tanya Ela lagi.


"Baaa!"


"UWAAAA!"


Bruk!


Deg ... deg ... deg ... deg ...


Ela terjatuh karena terkejut. Karena suara yang begitu menggema di keheningan malam, kak Anir, Valdo dan Gea pun menghampiri Ela yang masih tersungkur di tanah.


"WOY!"


"Aa!" panggil Ela dengan suara ketakutan.


"Baaa!"


"Ehehehehe, Baaa, hehehehe baaaa!"


'Astaga kira orang jahat ternyata OGJ toh. Mana mukanya hitam banget lagi, wajar kalo Rain teriak,' ucap kak Anir dalam hatinya.


"Sudah jangan disini mainnya pergi sana, jangan ganggu disini ya." Kak Anir mengusir orang itu.


Di waktu yang bersamaan saat Valdo memapah Ela, Valdo mengucapkan ke khawatirnya ke Ela.


"Pantes lama banget, kamu di gangu sama OGJ toh."


"Enggak di ganggu. Tapi aku tadi itu ngeliat ada bayangan hitam di ujung, aku pikir ada maling, makanya aku ngedeket. Eh ternyata malah OGJ."


"Kayaknya kalian harus sewa satpam sih," sahut Gea.


"Kayaknya iya. Nanti aku bilangan ke kakak."


"Kaki lo emang sakit La?" tanya Gea lagi.


"Sakit banget, kayaknya keseleo deh."


"Hmmm, kira gua kesempatan dalam kesempitan," ledek Gea.


"Heh mana ada!"


"Udah, udah. Nanti saya panggilin tukang urut langganan ibu ya, supaya kaki kamu cepet sembuh."


"Gak, gak, gak! Gak usah. Aku gak suka urut-urut sakit tau!"


"Iya sakit, tapi cepet sembunya Ela."


"Tuh dengerin kata pangeran lo, Ele," ledek Gea lagi.

__ADS_1


"Ih! Nama gua ini Ela bukan Ele!"


Perdebatan pun tidak henti-hentinya terulang di tengah-tengah mereka. Bahkan Valdo saja sampai kewalahan mendengar Perdebatan mereka.


...~▪︎~...


Setelah mengusir OGJ tersebut, mereka semua masuk kembali kedalam ruangan sembari membawa kanvas berkain putih di tangan Ela.


"Ini emang mau di taruh dimana?" tanya kak Anir.


"Itu, di ujung dekat ruangan ku nanti."


Ela sudah menaruh empat lukisan kecil disana,dan lukisan berkain putih itu pun berada tepat di tengahnya.


"Lah ini samping sini juga ada lukisan berkain putih lagi. Emang ini apa?" tanya Gea.


"Nanti kita bukannya setelah peresmian Rain's Cafe ini," ucap Ela.


"Dan Valdo, kamu harus hadir pokoknya. Aku maksa."


"Iya, insyaallah aku datang."


"Kapan peresmian Cafe ini?" tanya Gea lagi.


"Dalam waktu 3 hari kedepan."


"Wah H-3 peresmian. Kok masih kosong? baru ada kursi depan sama di sini aja."


"Iya karena masih pemasangan lampu dan listrik di stabilkan baru bisa masuk semua barang-barang," jelas kak Anir yang hanya di jawab anggukan saja oleh Gea.


"Nanti kamu dateng juga ya Ge, biar sekalian aku ngenalin kamu ke mamah sama papah."


"Hah? I-iya, iya. Kalo aku bisa, aku datang kok."


"Bisa, bisa. Nanti Valdo jemput."


"Hah? Gak mau. Lo aja sana sama Valdo, gua sih ogah."


"Iya saya juga gak mau, orang saya mau bareng sama Ela geh."


"Nanti saya jemput."


Deg ... deg ... deg ... deg ...


Rasanya jantung Gea kala itu berdebar, seperti ingin lompat dari tubuhnya.


Gea tidak menyangka bahwa dirinya yang begitu dingin ke pria bisa di buat meleleh layaknya eskrim yang terkena sinar matahari.


Bahkan senyum pun jarang sekali ke pria lain selain Riky, Valdo dan bapak angkatnya. Selebihnya ia hanya memasang wajah juta seperti tidak kenal.


Walau itu sepupunya pun, Gea berpura-pura tidak tau dan terlihat cuek dalam kondisi apapun.


"Muka lu merah banget kek kepeting rebus," ledek Ela.


"Mana ada! Enggak kok."


Ela dan Valdo hanya bisa tertawa saja melihat kejadian itu karena sangat langka. Karena mereka berdua tidak pernah melihat Gea berwajah seperti ini.


"Manis ya hari ini, kayak coklat ini," ucap Ela benada meledek Gea sembari memakan cokelat yang di berikan Valdo kemarin.


"Ngeledek?!"


"Enggak kok, emang coklat mah manis ya kan Val?" Ela meminta pembelaan.


"Iya cokelat manis tau rasanya."


Sedangkan Kak Anir hanya bisa tersenyum kecil melihat mereka berdebat kecil.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2