Letter To My Albino

Letter To My Albino
Buatan Seseorang Tersayang


__ADS_3

Keesokan paginya.


Ela sedang berada di dapur memasak makanan yang bisa ia masak. Hal ini sangat-sangat langka terlihat, karena Ela paling tidak suka memasak makanan di pagi hari.


"Ngapain?" tanya kak Anir.


"Emang gak liat?!"


"Tumben?"


"Dih, ngeledek!"


"Bukannya ngeledek, tapi emang bener kan kamu jarang banget masak tapi sekarang?"


"Aku sering masak ya kak!"


"Iya maksudnya kakak itu, kamu tumben masak pagi-pagi. "


"Untuk siapa?" tanya kak Anir lagi.


"Aku mau bawa bekel."


"Kamu atau untuk dia?"


Deg!


"No komen."


"Hmm bucin amat sih kamu La, aa juga mau ya masakan buat kamu."


"Boleh asal kakak bagi duit dulu ke aku, oke."


"Ya ampun, giliran doi kamu aja gak harus pake duit."


"Yaudah kalo gak mau."


"Mau berapa kamu?" tanya ya kak Anir sembari mengeluarkan dompet di kantungnya.


"50 aja."


"Yaudah nih," kak Anir langsung memberikan uang yang diminta Ela.


"Makasih aa baik hati."


'Pas ada maunya aja, baek-baek. Untung adek, kalo bukan udah aku buang kamu,' batin kak Anir meledek Ela.


Demi niat yang sudah ia buat sejak malam, Ela sangat senang memasak makanan di dapur. Begitupun dengan Valdo yang sedang membuat sebuah bekal untuk Ela.


Ibu Valdo sedikit kebingungan, karena Valdo sangat jarang sekali masak makanan berat di dapur dan biasanya Valdo hanya memasak makanan yang instan saja.


Tapi kali ini anak semata wayangya memasak makanan cukup enak.


"Tumben kamu masak pagi-pagi Do," ucap ibu menghampiri sang anak.


"Eh ibu, aku lagi masak makanan spesial nih."


"Untuk?"


"Hehehe yang pasti untuk dua orang yang aku sayang."


"Siapa?" tanya ibu sedikit menggoda sang anak, agar Valdo jujur akan di berikan ke siapa masakannya ini.


"Ibu dong. "


"Yakin?" tanya ibu lagi.

__ADS_1


"Hehehehe, ya untuk ibu sama Ela.


"Hmm kan, Emang masak apa sih?"


"Ada deh bu. Ibu duduk aja nanti Valdo siapin untuk ibu."


"Oke deh."


Ibu Valdo hanya bisa tersenyum saja melihat sang anak yang sedang kasmaran seperti dirinya saat masih remaja.


'Masa remaja memang paling indah ya, sama kayak aku dan mas dulu hehehe.'


Walau ibu Valdo di klaim tidak bisa memiliki anak karena ada sesuatu masalah di rahimnya, tetapi almarhum ayah Valdo setia menemani.


Dan keluarga kecil itu pun terasa lengkap kala Valdo datang di tengah-tengah keluarga mereka. Hingga ayah angkat Valdo meninggal, tetapi ibu Valdo setia menemaninya hingga saat ini.


'Aku memilih membesarkan Valdo sendiri karena aku hanya ingin kita sehidup hingga ke jannah. Bukan hanya sekedar sehidup semati,' batin ibu sembari melihat punggung sang anak.


'Dia sekarang sudah tumbuh dewasa dan hebat. Dua anak yang kuat, anak yang mengerti perasaan orang tuanya. Kita tidak salah pilih ya sayang,' ucap ibu Valdo sembari berkaca-kaca.


Namun dengan sigap ibu menghapus airmatanya agar Valdo tidak khawatir. 5 menit kemudian, Masakan yang Valdo masak di hidangkan dan di tata secantik mungkin.


2 piring dan 1 bekal. Makanan yang Valdo masak dengan sepenuh hati untuk orang tersayang.


"Mari bu kita sarapan pagi," ajak Valdo.


...~•~[ Rumah Ela ]~•~...


Tepatnya di dapur.


Ela masih memasak, entah apa yang ia buat karena wanginya sangat enak sekali.


Bahkan perut sang kakak sudah tidak bisa di kondisikan lagi tetapi Ela masih asik berkecimpung di dapur.


"Pagi, sayang-sayang mamah."


"Kamu ngapain Rain?" tanya mamah heran.


"Masak dong mah."


"Hah? Tumben."


"Udah mamah duduk aja, pagi ini aku yang masak sarapan untuk kita bertiga," seru Ela.


"Oh, oke-oke."


Mamah Nia pun duduk berhadapan dengan kak Anir, sembari memberikan kode, 'Tumben.' Kak Anir hanya menjawab dengan senyuman saja.


"Lagi kasmaran," bisik kak Anir.


Dan mamah Nia pun paham akan maksud sang kakak. 5 menit kemudian, Masakan Ela pun jadi.


Ela menghilangkan makanan ini ke 3 piring dan 1 bekal untuk dia bawa ke kampus.


Tek ....


"Ini untuk aa." Ela memberikan makanan yang sudah ia hidangkan dengan porsi cukup banyak.


Tek ....


"Ini untuk mamah." Ela memberikan sarapan untuk sang mamah tercinta dengan porsi sedang.


Tek ....


"Dan ini untuk aku," ucap Ela sembari duduk di kursi.

__ADS_1


Sarapan bersama ini sangat hangat sekali, dua keluarga harmonis sedang menyantap makanan di rumah berbeda.


...~•~●~•~...


Dan tepat pukul 07.30 WIB.


Ela berangkat menjemput Valdo, sesuai dengan janji mereka di chat kemarin. Valdo pun sudah menunggu di ruang tamu menanti sang kekasih hati menjemput.


Jika kalian tau bagaimana rasanya jatuh cinta, dan bagaimana ekspresi saat sednag kasmaran, begitulah wajah diantara dua insan yang sedang di mabuk asmara ini.


Tersenyum-senyum diiringi wajah memerah dan kadang tersipu malu dengan apa yang mereka fikirkan.


...----------------...


Sesampainya di rumah Valdo, Ela turun dari motornya dan berpamitan ke ibu Valdo lalu mereka berdua bergegas menuju kampus.


"Kira-kira hari ini masih demo gak ya?" tanya Ela ke Valdo.


"Udah enggak mungkin, tapi kita liat aja. Kalo misalnya masih aku mau ajak kamu ke suatu tempat." Valdo mengucapkan sebuah niat.


"Kemana?"


"Ada deh, kita liat dulu aja kalo masih demo kita pergi kesana."


"Berdua aja apa sama Bimo, Ryca?"


"Aku sih maunya berdua aja, tapi kalo mereka mau ikut ya gak apa-apa. "


"Oh oke."


...~•~●~•~...


Sesampainya di kampus, suasana kampus sedikit hening. Entah masuk atau tidak tetapi mereka tetap menunggu di gazebo seperti biasa.


"Do, kamu udah sarapan?" tanya Ela.


"Sudah, kamu?"


"Udah juga kok."


"Alhamdulillah bagus."


'Aduh, kalo udah sarapan berarti kasinya nanti dong pas jam makan siang,' batin ke dua orang itu.


Obrolan biasa pun membuat pagi mereka sedikit bahagia. Sampai akhirnya Bimo dan Ryca datang menghampiri.


Menunggu dan menunggu, akhirnya kelas pun di mulai. Belum ada berita apa yang terjadi kemarin tetapi mereka berempat sedang mencari Pian untuk mengorek informasi.


...~•~[ Kelas Desain Komunikasi Visual]~•~...


Valdo dan Ela memang sengaja mengambil bangku bersebelahan agar mereka bisa mengerjakan materi bersama.


Alasan yang sedikit masuk akal tapi aslinya karena mereka ingin bersama-sama terus setiap hari.


"Ok semuanya jangan lupa buat tugasnya secantik mungkin dan se kreatif mungkin karena kita akan membuat sebuah pameran di festival nanti." Dosen membuat sebuah perintah sebelum kelas berakhir.


"Maaf bu, izin bertanya. Tugas kali ini berkelompok untuk berapa orang bu?" tanya ketua kelas.


"Terserah kalian, bisa sendiri, bisa berkelompok minimal 3 orang."


"Baik bu, terimakasih informasinya."


"Baiklah kalau begitu kelas saya akhiri sampai bertemu di tugas selanjutnya. "


Kelas pun selesai, dan ini lah saatnya untuk Ela dan Valdo bertukar makanan buatan mereka sendiri.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2