
Setelah hari kebahagiaan dan banyak lika-liku kehidupan menyerang mereka, tidak ada lagi gangguan jahat yang datang menganggu.
Walaupun misteri kotak hitam belum terungkap dan penyelidikan masih berlanjut, tetapi Pian sudah tau siapa yang meneror Ela.
Tetapi Pian belum ingin memberitahu karena orang yang meneror Ela belum sepenuhnya menganggu kehidupan Ela lagi.
...~•~[ 3 Tahun Kemudian ]~•~...
Hari ini tepat bulan Juli.
Ela, Valdo, Bimo, Ryca dan Anton resmi lulus dari kampus yang memakan banyak biaya serta banyak drama ini.
Ela lulus bermodalkan bakat walau pun IPK yang ia dapat tidak terlalu tinggi, begitu pula dengan Valdo.
Bimo lulus bermodalkan IPK cumloude walau sebenarnya skill di jurusan yang ia tempuh selama 4 tahun ini tidak masuk ke dalam kriterianya.
Sedangkan Ryca sama seperti Bimo hanya saja Ryca memang memiliki skill yang cukup di akui.
Sedangkan Anton lulus bermodalkan usaha serta uang agar bisa lulus dengan cepat.
"Alhamdulillah, akhirnya kita wisuda. Walaupun banyak drama ya," ucap Ela merangkul Valdo.
"Iya bener, alhamdulillah."
"Terus kalian bakal lanjut ke mana?" Tanya Bimo ke Valdo dan Ela.
"Kita di tawarkan kerja di salah satu media perusahaan pembuat animasi dan komik disini. Kebetulan cita-cita kami juga sama, iya kan?" Jelas Valdo diiringi tanya ke Ela.
Ela hanya menganggukan kepalanya sembari tersenyum manis. Ela tidak menyangka hubungan yang ia jalin bersama Valdo sudah menempuh 4 tahun setengah.
'Aku akan menunggu ucapanmu waktu di acara pernikahan kak Anir.' Ela mengucapkan harapan di dalam hatinya.
"Ayok kita foto dong, buat kenang-kenangan."
"Nah itu ada kak Pian," ucap Ela lalu memanggil Pian untuk meminta bantuan, "KAK!"
Pian berhenti sembari menoleh siapa yang memanggil tadi. "Eh kalian, wah selamat ya!"
"Makasih kak Pian," ucap mereka berempat kompak.
"Ada apa nih?" Tanya Pian.
"Minta tolong ya kak, tolong fotoin kami berlima," ucap Ela memberikan kamera.
"Okeh baiklah, sini, merapat-merapat."
"Oke satu, dua, tiga."
Ckrik!
"Ganti gaya geh."
"Satu, dua, tiga."
Ckrik!
...~•~●~•~...
Intinya hari itu, menjadi hari terspesial bagi tiap-tiap orang yang merayakannya, merayakan kelulusan diiringi acara ulang tahun keponakan yang menggemaskan.
Ela sudah memiliki dua keponakan. Keponakan pertama bernama Gean Vie D'naisy berusia 2 tahun dan keponakan kedua bernama Valela Vie D'naisy berusia 6 bulan.
"Val dateng ya ke acara ulang tahun Gean," ajak Ela.
"Wah boleh tuh, beli kado dulu ya," ucap Valdo mengajak Ela membeli hadiah spesial.
__ADS_1
"Iya, ayok."
Sembari bergandengan tangan, Ela dan Valdo melihat barang-barang unik di mall ini. Banyak mata melihat mereka, seperti aneh, unik tapi nyata.
Si kulit putih dengan si kulit cokelat sedang bersanding, memilih pakaian dan juga mainan yang lucu.
"Kamu udah dapet?" Tanya Ela.
"Udah, ini." Valdo menunjukan mobil-mobilan yang bisa transformasi menjadi robot serta boneka lucu.
"Kok boneka?" Tanya Ela.
"Ini untuk Valela, dan ini untuk Gean."
"Oalah, biar gak cemburu ya?" Tanya Ela meledek.
"Iya, kayak kamu yang sering cemburuan." Valdo menggoda Ela.
Ela hanya tertawa kecil, tersenyum manis sembari mengambil tangan Valdo untuk merangkul dirinya.
Setelah membayar pakaian, boneka dan juga mainan, Ela dan Valdo bergegas ke tempat lokasi ulang tahun.
"Mana onty belum dateng," ucap Gean cemberut.
"Sabar sayang, onty Ela lagi di jalan." Gea menenangkan sang anak sulung.
"Paling lagi sama Valdo dia itu," ucap kak Anir santai.
"Iya namanya juga anak muda," sahut papah dari dalam.
"Opa, onty Ela lama," ucap Gean merajuk.
"Sabar, onty Ela lagi di jalan sama uncle Valdo."
"Uncle Valdo juga dateng?" Tanya Gean.
Walau Gean masih sangat balita, tetapi bicaranya sangat lancar, ejaan yang dia ucapkan terdengar jelas walau kadang sedikit sulit di pahami.
15 menit kemudian.
Ela dan Valdo datang, membawa kado cukup besar untuk keponakan tersayang.
"Maaf ya sayang, onty dateng terlambat."
"Hehehe onty Ela, makasih."
"Iya sama-sama."
"Ini dari uncle, selamat ulang tahun Gean," ucap Valdo memberikan kadonya.
"Wah, mamah atu mayak kado hehehe," ucap Gean tersenyum bahagia.
Bernyanyi bersama, memotong kue, menyuapi satu persatu orang membuat suasana perayaan ini sangat hangat sekali.
Diiringi obrolan ringan antar keluarga, tetapi Ela kali ini tidak tau apa yang sedang dibicarakan oleh kak Anir, papah dan juga Valdo.
Percakapan mereka sedikit serius, bahkan cenderung tegang, seperti sedang diskusi di gedung DPR.
"Mah, papah sama kak Anir ngomongin apa sih?" Tanya Ela penasaran sembari menggendong Valela.
"Gak tau mamah juga, coba kami ikut nimbrung sana." Mamah menyuruh Ela ikut pembicaraan.
"Aku udah coba tapi kata kak Anir ini percakapan khusus laki-laki. Aku kan lakik juga," ucap Ela sembari meminum es teh.
"Ele, Ele. Kamu itu bukan lakik seutuhnya, tapi kalo pas malem baru jadi lakik," ledek Gea.
__ADS_1
"Hehehe, lakik." Ela mengangkat tangannya.
"Oh iya, jadi kerjaan kamu gimana?" Tanya mamah.
"Alhamdulillahirabilalamin lancar mah, aku juga satu tempat sama Valdo dan satu kerjaan." Ela menjelaskan pekerjaan yang akan di mulai besok.
"Emang kerja dimana La?" Tanya Gea.
"Di salah satu media perusahaan pembuat animasi dan komik disini," jelas Ela.
"Wah, buat komik perjalanan kisah kamu tuh La, bagus kayaknya."
"Udah, tapi masih proses. Belum nemu yang pas gitu, gimana kedepannya." Ela merangkai kata tentang apa yang ada di fikrannya.
"Oh, udah berpaa persen?"
"Baru 45% karena itu baru sketsa aja, belum pewarnaan, sama teksnya. "
"Spill judul bolehlah, kan kita keluarga nih. Siapa tau nanti aku bisa bantu promosiin ke tempat kerja." Gea penasaran.
"Iya La bener tuh kata Gea."
"Hmm, aku malu kalo di ucap sekarang," Wajah Ela memerah.
"Ayok dong spill judulnya," pinta Gea.
"Hmm judulnya, My Albino (Aku tuliskan surat rindu untukmu disana.)" Ela sedikit malu-malu dengan karyanya sendiri.
"Wah kayaknya khusus banget ya mah untuk someone," ucap Gea ke mamah.
"Ya namanya juga yang muda bercinta." Mamah ikut meledek.
"Ih mamah, Gea. Aku malu tau!"
Ela menutupi wajahnya yang memerah. Tidak lama kemudian para laki-laki perkasa keluar setelah obrolan tegang terjadi.
Kembali mengobrol bersama dan bermain bersama dengan ponakan-ponakan, cucu dan mantu.
...~•~●~•~...
Kilas balik saat Valdo dan Ela berbelanja di mall.
Tidak hanya sudut mata saja yang memandang. Tetapi ada satu orang yang mengintai mereka dari tadi.
'Sial kali ini gua bener-bener gak bisa miliki apa yang gua mau!' Batin orang tersebut sembari meremas baju di balik patung.
Puk ... puk ... puk ...
Deg!
Tepukan pundak melayang ke orang tersebut. Ternyata mas-mas yang berjaga di sana dari tadi memperhatikan gerak-gerik orang ini.
"Maaf mas, kalo mau ngelap jangan di baju ini ya mas. Ini baju keluaran baru, harganya cukup mahal. Kalau memang mas mau beli silahkan tapi tolong ya mas jangan buat lecek bajunya," tegur SPG disini.
"Ahahaha iya mas, maaf. Saya beli deh bajunya, yang ini."
"Tolong notanya ya mas," ucap orang yang mengintai Ela dan Valdo.
Wajahnya seketika memerah malu, takut kepergok sedang mengintai dan takut ketahuan kalau dialah biang yang meneror rumah Ela dengan kotak hitam.
Srek ....
"Ini mas, mas bisa langsung ke kasir 2 ya." SPG itu memberikan notanya.
"Makasih."
__ADS_1
'Sial! Untuk apa gua beli baju ini hah? Gamis lagi, siapa coba kawan gua yang pake gamis?' Batinnya sembari menuju ke kasir.
Bersambung ....