Letter To My Albino

Letter To My Albino
Lembayung Berdialog


__ADS_3

...POV RYCA...


Setelah selesai menelfon Bimo, Ryca meletakan handphone miliknya di atas meja.


Keluar menuju balkon rumah sembari memandangi pemandangan kota yang sangat padat.


Ryca merupakan anak asli keturunan Indonesia . Hanya saja setelah ayahnya meninggal, sang ibu menjadi TKW di Australia dan Ryca harus tinggal bersama neneknya.


Bahkan Ryca harus tinggal di panti sampai kelas 2 SD. Entah apa yang terjadi di dalam keluarganya, yang pasti setelah lulus SMA Ryca pergi ke Australia menemui sang ibu dan mbak kandungnya.


Membuka Cafe ala-ala makanan khas Indonesia dan juga penyajiannya sangat cantik sekali.


'Sudah setahun aku meninggalkan Indonesia,' ucap Ryca dalam hatinya.


Kejadian ini setelah Ryca pindah ke Australia sekeluarga.


'Apa kabar dia disana?'


'Apa kau merindukan aku?'


'Apa kau memiliki rasa yang sama kepadaku?'


'Wahai tuan pemberi harap, Izinkanlah aku masuk kedalam hidupmu.


Izinkanlah aku menari bersama indahnya suaramu, senyummu bahkan tawamu.


Wahai tuan yang selalu aku kagumi, kapan kita akan bersama? Jika tidak bisa bersama...


Tidak apa, aku akan lebih memilih kau bahagia dengan apa yang kau pilih.'


Tulisan yang begitu menyentuh hati, tertuang dalam sebuah buku harian kecil berwarna Matcha.


...~•~●~•~...


Puk ...


Temukan pundak dari sang mbak yang menghampirinya.


"Kenapa Re?"


"Gak apa-apa mbak."


"Mikirin Bimo?"


"Hmm? Enggak kok," ucap Ryca bohong.


"Udah jangan terlarut-larut dalam sebuah muara perasaan. Nanti kau akan tenggelam."


"Aku gak ... Huh ...."


Entah apa yang ingin Ryca ucapkan. Yang pasti dia kehabisan kata, kehabisan suara dan hanya nafas saja yang mampu di hembuskan.


"Lantas, mengapa kamu masih ingin menetap disana?" tanya mbak Ryca.


"Entahlah, aku juga tidak tau."


"Kau hanya terbiasa dengan perasaan yang kau tanam, namun aku pastikan kau sudah tidak lagi memiliki rasa itu."


"Walaupun aku merasakan hampa dan seperti ada uap di dada, apa itu bukan sebuah rasa yang nyata?" tanya Ryca membantah.


"Iya, sudah jelas. Itu bukan lagi perasaan murni untuk dirimu sendiri. Tetapi kau hanya terbiasa dengan apa yang selalu kau rasa."


"Layaknya kegiatan lomba, kau terus berusaha mencari tau apa yang ada di depan sana sampai akhirnya kau mendapatkan jawabannya. "


"Lalu bagaimana dengan ...?" ucapannya terpotong kembali.


Bak benang kusut yang mengelilingi kepala Ryca, Ryca hanya bisa terdiam memandang ke bawah balkon sembari bertanya-tanya pada dirinya.


'Apa mungkin aku hanya sekedar rasa terbiasa?'


'Aku tidak mengerti. Aku kacau, aku hancur, mungkin. Jika aku melepaskan mereka.'

__ADS_1


Dan sepanjang hari Ryca hanya berdamai dengan perasaannya. Mencari fakta mengejutkan bahwa sebenarnya Bimo pernah memiliki rasa ke sahabatnya.


Entah siapa yang memberi tau, yang pasti Ryca mengetahui hal itu.


'Jangan sampai kami terpecah belah cuma karena satu ungkapan.' Ryca membatin.


Mengapa awan hari ini tidak ada? Bahkan asap awan putih saja tidak nampak di langit biru.


Langitnya nampak cerah bahkan cahaya biru bak lautan terlihat jelas di mataku.


'Dengan kata lain, aku merindukan dirimu.'


...~•~●~•~...


Keesokan harinya.


Ryca sudah harus kembali ke Indonesia menggunakan pesawat serta membawa 2 koper cukup besar.


"Kamu yakin gak mau tinggal disini aja?" tanya sang ibu.


"Enggak bu, Reca harus kuliah di Indonesia. "


"Yang bener kuliahnya ya!" sahut sang mbak.


"Iya mba, yaudah kalo gitu aku berangkat ya bu."


Muach ...


Perjalanan menuju bandara di mulai. Ryca menatap jalan disini, tempat dia akan pulang kembali nanti tetapi entah kapan.


'Aku pasti kembali,' ujar Ryca dalam hatinya.


...~•~●~•~...


Bandara internasional.


"Thank you mr. Tom," ucap Ryca kepada supir pribadi ibunya.


"Yeah, I will be back soon."


Sembari mendorong koper masuk ke dalam bandara, Ryca melontarkan sajak monolog dalam hatinya.


'Awan hitam gelap menyapu bersih cahaya di nastabala, diiringi belenggu dalam hati yang membingunkan dan pertanyaan-pertanyaan mengelilingi isi kepalaku.


'Apa yang harus aku lakukan dengan perasaan ini? Apa aku harus mengungkapkan perasaan ini?'


'Kumohon berdamailah kepalaku agar kau tidak terbawa arus panjang menyelimuti badanmu, memasrahkan tergoresnya hatimu mematahkan mentalmu dan mengacak-acak segala aktivitas mu.'


Pembawaan yang tenang dan raut wajah cenderung teduh, tetapi Ryca yang sebenarnya bukanlah begitu.


Ryca memiliki pribadi sedikit tertutup, tidak terlalu suka mengumbar cerita ke orang lain. Bahkan kalau bisa hanya dia yang tau perasaannya saat itu.


...~•~[ Dalam Pesawat]~•~...


"excuse me, Miss."


"Yes sis, is there anything we can help you with?"


"I want to ask where is the G 10 seat?"


"Let me show you!"


Ryca mengikuti pramugari yang akan menunjukan tempat duduknya.


Saat sampai di nomor tempat duduk yang ada di tiketnya, tempat duduk Ryca berada tepat di sebelah jendela pesawat.


Namun sayangnya Ryca paling anti duduk di samping jendela akhirnya mau tidak mau Ryca meminta bertukar tempat duduk dengan pria yang sudah menduduki tempatnya.


"Permisi mas, eh .... excuse me sir!"


"Yes, can i help you sis?"

__ADS_1


"Hmm ..."


'Duh apa ya bahasa inggris nya tukeran tempat? Lupa lagi!' batin Ryca kebingungan.


"Hmm ... barter seat boleh?"


'Lah kok barter seat sih Ca? Haduh ngerti enggak ini orang ya?' batin Ryca masih kebingungan.


"Boleh kok kak," ucap Pria itu langsung pindah tempat ke kursi sebelah jendela.


'Hah? Sumpah demi apa? Orang ini bisa bahasa indonesia?'


"Sir? You can speak Indonesia?"


"Yes."


"Saya Raffa, asli orang Indonesia. Tinggal di jakarta."


"Wah, bagus. Aku Ryca tinggal di bandung, tapi keluarga aku di sini semua."


"Kok bisa?"


"Mom, kerja disini dan mbak aku juga kuliah disini."


"Wah, terus kenapa kamu pulang ke Indonesia?"


"Aku kuliah di Indo, kebetulan juga hati saya masih tertinggal di Indonesia. "


"Hmm, your lover?"


"Ehm, belum tapi masih dcari dulu bener apa enggaknya."


"Hah? Masih di gantung? Astaga kasian banget cantik-cantik di gantung."


Percakapan ringan pun terjadi di antara mereka berdua hingga pesawat pergi meninggalkan bandara.


Perjalanan Ryca kali ini tidaklah membosankan, karena ada seseorang yang mengajaknya berbicara tentang banyak hal.


menambah sedikit pengetahuan bahkan bisa di bilang rasa nyaman sebagai pemantik pun ada di antara mereka.


'Andai Bimo sepeka orang ini, mungkin aku sudah bersama dia sejak lama.'


Ryca mentap jendela disamping pria itu. Terlihat jelas semburat warna oranye tepat mengelilingi laju pesawat ini.


'Apakah lembayung ini sedang bermonolog?'


'Bermonolog tentang perpisahannya dengan awan terang menjadi gelap? Perpisahan yang begitu terlihat indah jika di nikmati namun sakit jika kau rasakan.'


'Lembayung yang kita lihat adalah senja di ujung ufuk sana. Berpisah dengan suryanya menjadi gelap gulita. Akankah kisah ku berakhir bahagia dengannya?'


'Atau hanya sekedar coretan tinta di buku ini saja?' tulisan Ryca pada buku kecil miliknya.


Bersambung ....


_______________________________


Autor


Halo Minnasan!


Apa kabar? Maaf ya aku baru update. Udah hampir 5 hari ternyata aku gak update.


Maaf ya semuanya.🙏


Aku benar-benar lagi sibuk banget kemarin ngurus acara di kampus jadi gak kepegang sama sekali deh tulisan ku ini.


Sampe-sampe di keluarin dari grup tulisan kemarin karena aku sudah hampir 7 hari gak menulis🤣


Tapi sekarang aku udah kembali. Aku janji nanti aku bakal crazy up tapi blm tau kapan. Tunggu aja ya Minna.


Oke see you minna.

__ADS_1


Terimakasih telah mendukung karya-karya ku😇


__ADS_2