
"Valdo?" ucap lirih Ela dari depan pintu taman belakang.
Raut wajah senang, bahagia atau apalah itu terlihat jelas bahkan matanya berkaca-kaca saat melihat laki-laki berkaos hitam duduk di meja taman.
"Ayok Teh Ela sini kita main sama kak Eja."
Deg...
"Eja?" gumam Ela.
"Kak Eja? jangan-jangan dia Eja yang sama, sama yang di ceritain umma," lanjut Ela lagi dalam gumamnya.
Ela menghampiri Ruli kecil dan Eja yang berada di meja taman, dengan raut wajah khawatir Ela mendekati mereka.
"Eja?"
Deg.. deg.. deg..
Terlihat raut wajah panik dari Eja dan raut wajah khawatir dari Ela. Saat netra mereka saling menatap, Eja langsung membuang mukanya ke sembarang tempat.
'Oh iya, kak Anir belom ngejelasin semua apa yang dia dapet tentang Eja, ih dasar kak Aniiirrr,' umpat Ela dalam hatinya.
"Ngapain lo ada disini?" cetus Ela.
"Gua cuma balik sebentar," jawab Eja bernada lirih.
"Dimana Valdo?"
Pertanyaan Ela membuat mata Eja membulat dan jantungnya pun berdegub kencang. Eja takut kalau apa yang sudah ia lakukan dulu ke Valdo sampai terdengar di telinga Ela.
"Saya juga tidak tau," jawabnya.
"Kenapa gak tau? Sebentar lo yang waktu itu ngejegat gua sama Valdo di kampus kan?" tanya Ela.
Namun tidak ada jawaban sama sekali dari Eja. Pertanyaan demi pertanyaan pun muncul, memenuhi isi kepala Ela.
"Lo tau kan dimana Valdo? Apa yang membuat lo benci sama Valdo? Ja, gua tau apa hubungan lo sama Valdo. Tapi apa yang membuat lo sampai sejahat itu sama Valdo?"
Ela melontarkan sebagian isi pertanyaan yang memenuhi kepalanya itu. Bahkan Eja sampai tidak bisa menjawab sama sekali pertanyaan beruntun itu.
"Gua, gua minta maaf ya sama lo atas waktu itu gua udah ganggu kalian."
"Terus?!"
"Gua bener-bener gak tau Valdo ada dimana, gua juga lagi nyari Valdo," jawab Eja sedikit sedih.
"Untuk apa? Untuk lo siksa lagi?"
Eja hanya diam matanya terbelalak seolah-olah Ela mengetahui kelakuannya beberapa waktu yang lalu.
Rasanya hati Ela sekarang sedang membara, mungkin jika ini animasi atau komik buatannya, pasti asap panas ada di kepalanya.
Ela mengepalkan tangannya, ia ingin sekali mengamuk saat itu, menghantam wajah Eja dengan sekali pukul.
Tapi niatnya di urungkan karna anak-anak panti ada di dekat mereka, bahkan Ela berkali-kali menghembuskan nafas secara kasar.
"Gua peringatin satu hal sama lo ya Ja, jangan pernah lo sentuh Valdo lagi dengan tangan lo. Karna dia milik gua, kalo sampe gua tau lo ngelakuin hal yang sama lagi. Gua gak akan segan-segan untuk berbuat lebih ke lo. Remember it!"
__ADS_1
Ela membisikan ucapan itu tepat di samping Eja, jadi hanya dirinya dan Eja lah yang tau apa ucapan Ela.
Ela langsung pergi dari panti ini dan ia juga berpamitan ke Umma kalau ia akan pulang sekarang.
Pikiran Ela berkecamuk, matanya berkaca-kaca dan hatinya pun masih membara. 'Andai tadi gak ada Ruli dan yang lain, mungkin dia sudah kuhajar habis-habisan!' batin Ela saat di perjalanan.
Tring... tring... tring...
"Siapa sih yang nelfon?" tanya Ela.
...~•~[ Tepi jalan ]~•~...
Ela langsung menepikan motornya di pinggir trotoar, lalu mengangkat telfon itu yang ternyata dari Rial.
"HALOOOO," teriak Rial dari telfonnya.
"Apa woy! gak usah teriak-teriak."
"HEHEHEHE, SORRY GUA LAGI JALAN NAEK MOTOR GAK PAKE HELM JADI GUA TERIAK AJA BIAR LO DENGER. GUA LAGI DI JAKARTA MAU JEMPUT RAFFA, LO MAU GUA JEMPUT GAK? TAPI NANTI, GUA AMBIL MOBIL DULU YAK," tanya Rial sembari teriak cukup kenang.
"Iya, iya."
"NANTI SERLOK YA!"
"Iya Rial," jawab Ela santai.
"Yaudah tunggu aja oke, udah ya bye."
"Bye," jawab Ela sembari tersenyum.
"Dasar orang ini gak berubah sifatnya," gumam Ela mematikan ponselnya.
Ela pun melanjutkan perjalanannya lagi ke rumah. Sesampainya di rumah, Ela langsung menemui sang kakak di kantornya.
Tok..tok..tok..
"Aa, buka aku mau masuk."
"Masuklah," ucap kak Anir dari dalam.
'Pasti dia ngomel nih satu, dua..' ucap kak Anir dalam hatinya sembari menatap arah pintu.
Grek..
"Kak Anir kita semalem itu punya janji kan tapi kok kakak gak bangunin aku sih untuk bilang sesuatu tentang Eja tapi kakak malah diem- diem aja sampe pagi tadi."
"Tiga.. Benerkan," gumam Kak Anir.
Ela mengomel seperti sudah tidak ada lagi tanya baca yang bisa di tuliskan. Kak Anir sudah bisa menebaknya dan tebakannya pun benar.
"Kan kamu lupa jadi Aa gak mau ingetin kamu lah, ngapain."
"Huh... kan Aa jahat sekarang sama aku, aku sebel banget ih!"
"Yaudah cepetan kasih tau sekarang. Nanti kalo Rial kesini aku malah gak bisa denger apa yang kakak dapet," lanjut Ela lagi.
"Rial? Siapa?"
__ADS_1
"Temen SMA aku. Dia mau jemput aku, kita mau ke Lampung bareng, ke pesta topeng."
"Oalah yang kata kamu tadi pagi itu?"
"Iya Aa, yaudah cepetan."
"Jadi gini," Kak Anir mulai menjelaskan.
Tek..
Kak Anir membuka laptopnya dan membuka sebuah artikel tersembunyi dan rahasia yang berhasil di bobol oleh teman kak Anir.
"Ini artikel dua tahun lalu, pas kamu SMA. Papah sama Aa pernah buat perusahaan sebelum papa berhasil mendirikan perusahaannya yang sekarang."
"Ini adalah data dari beberapa perusahaan penggelapan dana yang terlibat. Dari beberapa data ini ada satu perusahaan yang gak dikenal bahkan datanya aja gak ada di seluruh artikel yang ada di Indonesia."
"Kami curiga tapi selama dua tahun ini kami tidak berhasil menemukan siapa pemilik perusahaan ini. Sampai akhirnya kamu meminta bantuan ke Aa."
"Dan dari situlah Aa tau kalo Eja adalah dalang dari kejadian dua tahun yang lalu."
Kak Anir pun selesai menjelaskan, sebagian yang ia dapatkan. Ela hanya menyeringitkan dahinya, karena bukan ini jawaban yang ia mau.
"Huh.. Perusahaan, aku kira ada yang jauh lebih penting," ucap Ela.
"Ada Aa belum selesai."
"Apa?"
"Eja kakak kandung Ado," ucap kak Anir langsung di potong lagi oleh Ela.
"Udah tau Aa," pungkas Ela.
"Sabar Aa belum selesai. Makanya dengerin dulu sampe selesai Rain."
Ela hanya mengangguk layaknya anak kecil yang sedang di nasihati oleh sang ibu.
"3 bulan yang lalu, tepatnya saat Ado menghilang. Liat lah rekaman CCTv dari rumah gedung tinggi di sudut lapangan."
"Ini adalah bukti kalau Eja yang melakukan pengania-yaan terhadap adiknya sendiri."
"Dan saat ada 2 orang pulang dari Musholah, mungkin, mereka langsung melarikan diri."
Mata Ela terbelalak dan hatinya sakit sekali saat melihat kejadian yang cukup brutal di matanya.
Seperti dejavu.
Ela menangis saat melihat kejadian yang sempat ia saksikan langsung di depan matanya. Tidak, itu hanya sebuah mimpi yang nyata terjadi.
"Ja-jadi Ado ngilang gara-gara ini ya?" tanya Ela dengan suara sedikit serak.
"Sekarang kondisi Ado gimana Aa?"
"Aa sudah melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib. Di bantu oleh kepala rukun tetangga dan 2 orang yang melihat kejadian itu."
"Sekarang mereka sedang memproses laporan yang kak ajukan. Jadi kamu tenang aja Ado pasti baik-baik aja kedepannya."
Bersambung...
__ADS_1