
Pelabuhan Merak.
"Lo ini La kayak ****** tau gak tidurnya," ledek Rial.
"Ngelunjak lo ini Yal."
"Lah iya, orang telfon lo bunyi dari tadi gak di angkat-angkat, sampe kita sampe di merak aja lo gak bangun-bangun."
"Padahal tadi ada yang duel loh di kapal seru," ucap Rial.
"Iya tah?"
"Iya. Sekarang kita makan dulu ya, nanti baru kita ke Bandung anterin Ela."
"Okey."
Raffa mencari warung makan di pelabuhan untuk menganjal perut mereka sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing.
Saat di Rumah Makan, Ela baru sadar ada 10 panggilan tak terjawab dan pesan yang sudah mencapai 999+.
"Silahkan di makan nona dan tuan yang cakep," ucap pelayan membawakan makanan mereka.
Tek ....
Aaaa ....
"Eh! Baca doa dulu Rial."
"Lah iya lupa."
Setelah makan kurang lebih 15 menit, mereka masih sempat mengobrol di tempat ini sembari menurunkan nasi.
"Dah yuk."
~•~[ Dalam Mobil ]~•~
"Kita ke Bandung kan?" tanya Rial.
"Yoi, lets go to Bandung."
Perjalanan pun berlanjut ke Bandung tepatnya mengantarkan Ela pulang ke rumahnya.
Ting ... ting ... ting ....
"Banyak bener yang ngechat Ela ini ya," ledek Raffa.
"Iya, tumben biasanya gua gak pernah sampai 999+, tapi ini sampe 999+."
"Artis mah beda sih," ledek Rial lagi.
"Hahahahaha."
Ela pun membuka pesan yang sudah menumpuk itu. Pesan pertama dari grup kampus berjumlah 800 pesan, pesan kedua dari Kak Anir hanya berjumlah 5 pesan.
Pesan ke tiga dari Anton hanya berjumlah 3 pesan, pesan ke empat dari Gea berjumlah 100 pesan, pesan ke lima dari nomor tidak di kenal berjumlah 50 pesan dan yang terakhir Riky berjumlah 50 pesan.
"Apaan sih mereka kok spam gini?" gumam Ela.
Ela membuka pesan dari kak Anir terlebih dahulu. Kak Anir hanya memberitahu kalau ia akan pergi perjalanan bisnis ke daerah Sulawesi.
"Iya hati-hati ya kak, nanti bawain oleh-oleh jangan lupa." Ela membalas pesan kak Anir.
Setelahnya ia baru membuka pesan dari Anton, Anton hanya bertanya, "Kalian sudah sampai? Kalau sudah kasih tau lagi ya! Hati-hati kalian bertiga."
__ADS_1
"Sudah sudah sampai, kami sekarang akan ke Bandung." Ela menjawab pesan Anton.
"Alhamdulilah," jawab Anton lagi dengan cepat.
Setelahnya membalas kedua pesan yang menurutnya penting, barulah Ela membuka pesan dari Gea. Ela membacanya secara pelan-pelan apa isi di dalamnya.
Pov chat
"Elaaaa!"
"Woi lo kemana? Telfon gua gak di angkat?!"
"Ela gua mau kasih berita penting."
"Valdo! Valdo ada di Panti Asuhan umma sekarang, mending lo cepetan ke sana kalo gak Eja nanti."
"Udah pokoknya lo kesana tuh ada si Eja juga noh di panti! Hati-hati ya kalo ketemu sama Eja.:
"Besok gua jam satu baru sampe sana, karena gua dapet tiket pesawat di jam 9."
'Hah seriusan Valdo ada disini?' tanya Ela dalam hatinya.
"Seriusan lo Valdo ada disini?" tanya Ela.
"Iya La, gua di kasih tau sama si Riky tadi siang."
"Yaudah makasih ya Ge, nanti gua kesana."
"Lo lagi dimana emangnya?" tanya Gea
"Gua lagi di jalan, baru balik dari Lampung gua."
"Oalah yaudah Hati-hati ya."
"Akhirnya yang di tunggu-tunggu kembali juga," gumam Ela sembari tersenyum.
Rasa penasaran dan tak sabar seketika menyelimuti tubuh Ela. Pertanyaan-Pertanyaan yang mungkin sudah hilang, kembali lagi menyelimuti fikirannya.
'Tunggu aku ya!'
~•~[Panti Asuhan Umma Lisa ]~•~
"Teh Ela kemana sih? Aku kangen juga sama teh Ela," ucap Ruli kecil sembari memasang wajah cemberut.
"Dia lagi pergi sama temannya mungkin sebentar lagi dia akan kesini," ucap Valdo meyakinkan Ruli kecil.
Ruli hanya bisa menganguk-anggukan kepalanya sembari memainkan robot yang ada di tangannya.
...~•~●~•~...
"Haih! Jakarta macet banget sih?" ucap Ela sudah tidak sabar.
"Ya gini, namanya juga Jakarta. Kalo gak mau gak macet nanti pas libur panjang," ucap Raffa.
"Huh, gimana nanti gua balik ke Amerika kalo macet kayak gini?" tanya Rial sembari menyilangkan tangannya di dada.
3 jam kemudian.
Mobil Raffa sudah berhasil bergerak dan melaju dengan kecepatan sedang.
Tepat pukul 21.00, Raffa dan Rial sampai di kediaman Ela. Raffa dan Rial beristirahat di sini sembari bercerita banyak tentang festival tuping yang mereka kunjungi.
"Seru banget tante, asli." Rial bercerita begitu seru.
__ADS_1
Sedangkan Ela masih berdiri di depan kamarnya sembari menarik nafas begitu dalam, lalu membuka pintu kamarnya.
Grek ....
"Assalamualaikum, aku pulang."
Hemmm.
"Wanginya masih sama dan wajahmu juga tidak berubah masih sama dan akan tetap sama," guman Ela saat melihat lukisan wajah Valdo.
"Gua pengen cepat-cepet ketemu sama lo Do."
"Sayang, Rial sama Raffa udah mau pulang nih," teriak mamah Nia dar bawah tangga.
"Iya Mah aku turun."
...~•~●~•~...
"Hati-hati ya."
"Iya, bye Ela see you next time ya!"
"Bye, hati-hati ya disana."
"Oke, besok gua berangkat see you Ela."
Pertemuan yang singkat namun bermakna besar bagi mereka, apalagi bagi Ela.
Ia tidak tahu kapan mereka kembali lagi bersama seperti kemarin, tetapi yang pasti mereka sudah membuat sebuah kenangan indah saat bersama.
"Mau makan apa sayang mamah?" tanya mama Nia.
"Gak usah mah, aku gak udah kenyang."
"Yakin?"
"Iya Mah yakin."
Entah mengapa rasa kenyang dan rasa tak nafsu makan berjalan seimbang saat ia memikirkan seseorang yang ia kagumi.
Mungkin kiprah manusia seperti itu walau hanya sebagian.
Bruk!
Ela membandingkan tubuhnya ke kasur, menatap plapon rumah yang begitu cantik diiringi sinar cahaya terang.
"Wahai tuan, Kapan kau kembali? Wahai tuan mengapa kau tak memberi tahu diri ini saat kau tiba di sini?"
"Wahai cahaya yang menyinari kegelapan, Apa kau bisa memberikan kabar ke tuan ku? Tolong bilang padanya aku ingin berjumpa."
"Aku ingin bercerita, bercengkrama dan bersama selamanya."
"Wahai pemilik hati ini. Bisakah kau sampaikan padanya bahwa aku akan jujur dengan diri ku sendiri. Aku sadar selama ini aku telah menyukainya, laki-laki pertama yang pernah ku temui saat kecil dulu."
Bak seorang penyair, Ela mengucapkan menolong puitis yang ia sampaikan pada benda-benda di kamarnya.
Mungkin itu adalah cara pengungkapan hatinya, tetapi mungkin saja hanya sebuah kata kosong yang ingin ia tuliskan dalam sebuah bukunya.
"Hey paus putih! Andai saja kau hidup. Aku akan menyuruhmu untuk menyampaikan salam ke Valdo sekarang!" ucap Ela sembari memukuli bonekanya itu.
'First time gua suka yang namanya boneka, mana masih wangi lagi. Wanginya pun sama, sama seperti yang pernah aku cium.'
Bersambung ....
__ADS_1