
Ela masih tercenang kala mendengar ucapan "Kanker" ia sudah melihat cukup banyak artikel yang membahas tenang albinisme dan ia hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Ado.
Setelah pulang dari rumah sakit, Ela pun pulang dengan motor kesayangan dengan kecepatan sangat pelan. Ela berharap hujan turun saat ini juga dan ia pun berharap ingatannya segera kembali.
Ela juga melewati jalan yang sama seperti Ado waktu itu. Berharap Ado ada di depan rumahnya, tetapi masih kosong, rumah Ado masih kosong dan gelap.
Doa Ela pun terkabulkan, hujan turun secara tiba-tiba dan cukup deras. Ela tidak ingin berteduh karena dia ingin mencoba mengingat kembali kejadian dulu saat masih kecil.
Walau dokter melarang Ela untuk memikirkan yang tidak perlu difikir, tetapi Ela masih saja melakukannya.
Hiks... hiks... hiks..
"Adooo, lo dimana?" tanya Ela di tengah hujan deras ini.
"Gua gak suka lo tiba-tiba ngilang gini aja Do, tanpa kabar. Siapa yang gangguin lo? Sini biar gua hajar dia. Siapa yang mau ngelenyapin lo? Sini biar gua yang hadapan," ucap Ela.
Orang-orang yang lewat di depannya hanya bisa terheran-heran saja. Mereka mengira kalau Ela mengalami gangguan jiwa berbicara sendiri di tengah hujan sembari tersenyum.
Padahal Ela sedang menangis, tetapi.. "Sudahlah biarkan saja orang mau berkata apa!" gumam Ela.
Air mata Ela terus menerus menjadi dan ia pun melanjutkan perjalanannya kembali kerumah.
Sesampainya di rumah, Kak Anir membukakan pintu gerbang. Kak Anir tau kalau Ela pasti menerjang hujan dan tidak akan berhenti.
Setelah menaruh motornya di dalam sebuah garasi, Ela langsung berlari memeluk sang kakak dalam keadaan basah.
Ela tidak menghiraukannya dan Ela pun menangis sejadi-jadinya di pelukan sang kakak.
Kak Anir kebingungan kala itu, tidak seperti biasanya Ela menangis di tengah hujan. Biasanya ketika hujan, Ela pasti selalu tersenyum bahkan di penuhi tawa.
Tetapi kali ini berbeda sekali. Kak Anir mengira kalau moodnya sedang berantakan tetapi pikiran sang kakaknya itu salah.
Ela menangis bukan karena mood yang sedang berantakan. Tetapi Ela menangis karena Ado, Ado tiba-tiba saja menghilang membuat Ela khawatir.
"Kenapa Rain?" tanya kak Anir mengelus pundak sang adik.
"Hiks... Ado a," jawab Ela dengan suara serak.
"Ado kenapa?"
"Huaaaaaaaa hiks... hiks... huaaaaa kak Anir," tangis Ela semakin menjadi membuat kakaknya kebingungan.
"Udah yuk kita masuk dulu. Nanti kita sambung lagi nangisnya ya," ajak kak Anir menuntun sang adik masuk.
Mama yang sedang berada di taman belakang pun kebingungan melihat Ela menangis di saat hujan turun.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya mama tanpa suara, hanya gerakan mulut saja. Seperti isyarat ke Kak Anir.
Kak Anir hanya menjawab dengan jari telujuk menempel di bibirnya dan mama pun memahami itu.
Kak Anir menyuruh Ela untuk bebersih dahulu baru ia boleh bercerita lagi setelah bersih-bersih dan kak Anir akan menunggu di ruang kerjanya.
20 menit kemudian,
Ela datang ke tempat kerja sang kakak. Ela pun duduk di sebuah sofa sembari mantap sang kakak dengan tatapan pupy eyes membuat siapa saja luluh.
"Kenapa? Ado kenapa?"
"Hiks... A-ado... Huaaa," belum selesai bercerita Ela menangis kembali.
"Coba jangan nangis dulu gitu kalo mau cerita," ucap kak Anir.
"Sabar, nangis dulu sebentar," jawab Ela di tengah-tengah tangisannya.
Kak Anir hanya menunggu saja sang adik berhenti menangis. 5 menit kemudian, Ela sudah tenang dan sudah bisa bercerita tanpa menangis lagi.
"Jadi?" tanya kak Anir.
"Ado masa ngilang kak!" ucap Ela, kemudian ia menjelaskan semuanya ke kakak Anir.
"Kakak bisa bantu aku kan? Cari tau siapa Eja itu?" tanya Ela.
"Iya, kakak akan bantu mencari tahu."
"Katanya dia juga ada di kampusku. Apa kakak tidak bisa menyuruh anak buah kakak atau teman kakak mencari info tentang Eja di kampus?" tanya Ela.
Kak Anir tidak menyangka kalau Eja juga ada di kampus yang sama dengan Adik tercintanya ini.
Dengan penuh pertimbangan tinggi, Kak Anir menuruti kemauan Ela dan akan meminta temannya yang bekerja disana mencari tahu data terperinci dari Eja.
"Hachu," Ela mulai bersin karena kedinginan.
"Kan, ambil selimut itu. Udah tau abis ke hujanan juga bukannya pakai baju tebel ini malah pakai baju tipis, Aneh!" kak Anir mengomeli adiknya.
Ela hanya bisa tersenyum pahit saja dan kembali ke kamarnya sembari mantap kosong langit-langit kamarnya itu.
"Ado lo kemana sih? Tapi La ini kan baru sehari ya, coba kita tunggu sampai besok atau beberapa hari kedepan. Siapa tau..."
2 bulan kemudian,
"Ado gak balik. Ado ngilang, Adooooo," gumam Ela di kamarnya.
__ADS_1
...~•~[ Panti Asuhan umma Lisa]~•~...
Gea dan Riky sedang membantu umma untuk mengumpulkan strategi untuk menangkap Eja. Karena Riky punya segala bukti tentang kelakuan Eja selama ini.
Mulai dari rencana ingin menjatuhkan Valdo satu tahun lalu dan semua bisnis-bisnis gelap yang ia lakukan hingga memiliki perusahaan yang sedang berkembang.
"Gua tau Ja, kalau gua dulu hanyalah marionatte lo dulu. Tapi sekarang gua udah bebas dan gua bakal membela yang benar," gumam Riky saat duduk di taman belakang.
"Kak Gea?" panggil anak kecil bertubuh gembil.
"Iya sayang? Ada apa?" tanya Gea menyambut anak kecil itu.
"Teh Ela kemana? Aku kangen banget sama teteh Ela sama Aa Valdo juga," jelas anak itu.
Gea tidak bisa menjawab dimana keberadaan Ado. Tapi Gea hanya menjawab," Teh Ela lagi kuliah. Jadi Teh Ela gak bisa di ganggu sementara waktu ya."
Sembari memasang wajah lesu, Ruli kecil hanya bisa menganggukan kepala saja.
...~•~[ Kampus ]~•~...
"Sikap Ela udah 2 bulan ini beda banget ya Mo," jelas Ryca.
"Iya, gak kayak biasanya. Ado juga gak keliatan dimana lah dia ini?" tanya Bimo mencari Ado.
"Apa jangan-jangan mereka lagi berantem kali ya Mo makanya mereka gak mau kesini," Ryca menebak.
Masuk akal mungkin ucapan Ryca itu. Tetapi sejak kapan Ado dan Ela bertengkar? Sepertinya tidak mungkin hal itu terjadi.
...~•~[ Rumah Ela ]~•~...
Ting...
Bunyi ponsel seseorang yang berada di ruangan cukup megah ini. Siapa lagi kalau bukan kak Anir.
"Saya sudah mendapatkan informasi yang anda mau secara lengkap."
"Kirimkan," jawaban singkat dari kakak Anir.
"Dia juga terlibat kasus yang sama kayak kita Nir," ucap teman kak Anir.
Bersambung...
..."Jangankan kabar darimu, mungkin aroma tubuhmu saat datang saja membuatku paham kalau kau ada di sana."...
...- Nat...
__ADS_1