Letter To My Albino

Letter To My Albino
Secarik Kabar


__ADS_3

Selama perjalanan ke rumah Oby, Kak Anir dan juga Ela selalu menggandeng san adik dan sekali-sekali kak Anir merangkul adiknya.


"Hoam, Rumahnya yang mana sih kak?" tanya Ela penasaran.


"Itu yang cet warna hijau di depan," tunjuk kak Anir ke 2 rumah berwarna yang sama.


"Lah itu ada 2 yang cet hijau, rumah temen kaka yang mananya?" tanya Ela lagi.


" Pager cream itu loh."


"Oalah."


Sesampainya di rumah Oby,


"Assalamualaikum," sapa kak Anir depan pintu Oby.


"Waalaikumsalam," suara jawaban dari dalam rumah.


Grek..


Seseorang membuka pintu rumahnya dan keluar menyambut Kak Anir dan Ela yang baru saja datang disana.


"Wah kawan apa kabar? Minal ‘aaidiin wal faaiziin," ucap Oby sembari memeluk kak Anir.


'Lah? Bukannya ini temannya Ado ya? Oby? Oh jadi Oby temannya kak Anir juga?' ucap Ela dalam hatinya.


"Ela ya?" tanya Oby membuyarkan lamunan Ela.


"I-iya hehehe, halo," sapa Ela sembari membungkukan badannya sedikit.


"Kalian kenal?" tanya kak Anir heran.


"Iya, ini Oby temannya Ado. Satu kampus juga sama aku kak," jelas Ela.


"Oalah pantesan."


"Jadi ini adek lo ya? Pantes hahaha," ucap Oby memperhatikan Ela.


"Ayok masuk-masuk," ajak Oby.


...~•~[ Rumah Oby ]~•~...


Walaupun halaman rumahnya tidak lebar seperti rumah nenek Ela, tetapi rumah ini sangat sejuk dan menenangkan.


"Rumah baru ya ini?" tanya kak Anir.


"Iya, Rumah yang di depan Masjid di wakafin sama baba, jadi ya kita semua pindah kesini."


"Terus lo kuliah gimana? Ngekos?"


"Iya tapi ngontrak di belakang kampus soalnya lebih murah hehehe,"


Kak Anir dan Oby sedang berbincang hangat sedangkan Ela seperti biasa makan makanan yang menurutnya unik dan tidak ada di rumahnya.


"Enak tau kak ini, gak ada di rumah," ucap Ela sembari berbisik kala Oby sedang membuatkan sirup untuk mereka berdua.


"Ish kamu ini."


Tak.. ~ membuka tutup toples.


"Tuh kan bener apa kata aku, kacang asin. Hmm enak," ucap Ela senang memakan kacang tersebut.


Kak Anir hanya menggelengkan kepala saja sembari membuang nafas kasar.

__ADS_1


"Makanin loh Nir, kayak apa aja," sahut Oby membawakan jus.


"Astaga repot-repot, makasih ya bi," menaruh air minum ke depan Ela.


Ela hanya menikmati satu makanan yang ia pegang itu saja, sembari mengoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri.


Ela tidak sengaja menengok ke arah kiri tepatnya di meja sudut. Terdapat dua bingkai foto semasa Oby kecil.


Sepertinya bingkai pertama adalah foto Oby saat memenangkan lomba 17 Agustus bersama kak Anir dan teman-teman lainnya.


Sedangkan di bingkai kedua terdapat 2 foto. Pertama foto Oby bersama anak kecil bertubuh putih dan foto ke dua adalah foto mereka saat bersama di panti.


_______________________________


2005 Juli



_______________________________


'Itu foto waktu Ado kecil tah?' tanya Ela dalam hatinya.


Tiba-tiba saja raut wajah mendung Ela terlihat menunduk dan Ela juga meletakkan makanan yang ada di tangannya ke meja dengan lesu.


'Lo dimana sih Do?' tanya Ela dalam hatinya.


"Sebentar lagi dia pulang kok La, tunggu aja," sahut Oby.


Seketika itu pula Ela langsung menatap Oby yang sedang tersenyum lebar dan pertanyaan pun memenuhi isi kepalanya lagi.


"Itu foto saya dan Valdo saat masih kecil kalau tidak salah sekitar umur 6 tahun," jelas Oby.


Kak Anir tadi nya tidak mengerti apa tujuan Oby dan kemana arah ia berbicara. Saat mendengar nama Valdo, sudah bisa di pastikan kalau Oby sedang membicarakan Valdo atau Ado yang sedang menghilang.


"Ini adalah foto pertama saya dengan Valdo. Kalau tidak salah foto ini di ambil tepat di hari ulang tahun Valdo yang ke 6," jelas Oby.


Ela mengambil bingkai yang ada di tangan Oby sembari memperhatikannya dengan begitu jelas, suara hati kecil Ela pun berbicara seketika, 'Ganteng ya.'


"Kayaknya Ado gak kriting kayak gini deh," ucap Ela memperhatikan dengan seksama.


"Iya, waktu itu adik umma nyoba buka salon yang jadi bahan percobaan adalah kami," jelas Oby.


"Emang Valdo kemana?" tanya kak Anir.


"Dia ngilang entah kemana kak," jawab Ela bernada lirih.


"Dia ada, sebentar lagi dia akan pulang tapi belum tau kapannya."


"Lo tau Ado kenapa bi?" tanya Ela penasaran.


Mungkin tingkat penasaran Ela kali ini sangat tinggi bahkan menuju di level paling atas.


"Enggak, saya gak tau Valdo kenapa tapi yang pasti dia bilang sebentar lagi pulang."


"Dia juga bilang kalo nanti ketemu sama kamu tolong sampaikan jangan khawatir dia baik-baik saja dan simpan pertanyaanmu nanti setelah saya kembali."


"Begitulah yang Valdo sampaikan ke saya," ucap Oby membacakan surat yang ia tulis itu merupakan pesan dari Valdo.


Srek.. ~ Ela mengambil surat.


"Kapan? Ado kenapa? Keadaannya bagaimana?" tanya Ela sembari bergumam.


"Simpen pertanyaan itu sampai dia kembali."

__ADS_1


"Iya, iya tau. Gua simpen ya Bi kertasnya."


"Simpenlah tapi itu tulisan saya."


"Gak apa-apa, yang penting isinya dari Ado sendiri."


Raut wajah Ela pun kembali ke seperti semula, cerah tapi tidak terlalu silau hanya ada semburat senyum sedikit menarik di ujung pipinya.


Pukul 16.00,


Ela dan kak Anir kembali ke rumah nenek karena mereka akan pulang kerumah sebentar lagi.


"Bi makasih banyak ya atas semua hidangannya."


"Makasih juga atas informasinya ya Bi," ucap Ela di balik badan sang kakak.


Selama perjalanan pulang ke rumah nenek, kak Anir memberikan sedikit informasi yang ia dapat tentang Eja.


"Aa udah dapet info tentang Eja."


"Apa? Info kayak mana?" tanya Ela mulai penasaran kembali.


"Nanti kita omongin di rumah. Nanti aa kasih tau sesuatu penting ke kamu."


" Hmm, Aa mah kayak gak tau aku loh! udah tau aku ini anaknya penasaran malah nunggu nanti malem pas pulang. Ada geh nanti kebayang-bayang sampe besok," tutur Ela sedikit kesal.


"Iya nanti pas sampe rumah kita bahas, kalau ada waktunya."


"Kan lah ih males aku mah sama kakak!"


Kak Anir hanya tersenyum saja melihat tingkah Ela yang masih seperti anak kecil. Kak Anir juga tidak menyangka bahwa adiknya ini benar-benar anak yang nekat.


Mengapa nekat? Karena Ela benar-benar ingin tau dan ingin mengingat siapa saja yang pernah ia temui dulu saat masih kecil.


"Dasar anak kecil," ledek kak Anir.


"Anak kecil, anak kecil mana ada!"


Kak Anir mengacak-acak jilbabnya hingga berantakan membuat Ela marah dan berlari secepatnya menuju rumah nenek.


Tak.. tak.. tak.. ~ langkah kaki memasuki rumah.


"Mamah! kak Anir tuh jahat," Ela mengadu.


"Mengadu saja terus hingga semua menggaduh," ucap kak Anir meledek.


"Anir," ucap papa.


"Hehehe, mamah, mamah, mamah. Dasar tukang ngadu," ledek kak Anir lagi.


"Tuh kan mah."


"Teh Ela sama kak Anir berantem terus loh aku pusing jadinya. Mau main intajam aja aku sampe gak bisa," sahut keponakan kecil yang imut dari ruang keluarga.


"Dih masi kecil kamu tuh jangan suka maen, maen instajram. Nanti matamu rusak loh, kayak hantu wewe gombel," ledek Ela.


Mama Nia, papah Roy, Bibi, Paman dan nenek hanya bisa menggelengkan kepala saja. Karena sifat mereka bertiga sama persis 11 12.


Bersambung...


..."Tiada yang lebih indah selain kabar darimu."...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2