
Mata Ela seketika membulat, terpampang jelas diagnosa dokter kalau dirinya pernah mengalami cidera otak.
"A-apa artinya aku juga mengalami amnesia? T-tapi kenapa tidak ada yang pernah bilang?" tanya Ela ke dirinya sendiri.
Tiiiiit.....
'Wah mengapa pohon itu sangat condong ke bawah?'
'Sudah ayok cepat, hujan semakin lebat.'
'RAIN! RAIN JANGAN PERGI KESANA!'
'RAINNNNNN!'
"Hah... hah.. hah.. suara itu lagi, apa sebenarnya yang terjadi? Sial kepalaku sakit, sakit sekali."
Bruk...
Ela pingsan di dalam kamarnya, tidak ada yang tahu karena saat itu rumah sedang kosong. Hanya Ela seorang diri di rumahnya, saat mama Nia pulang pun dia tidak menyadari bahwa anak bungsunya sedang pingsan.
Mama Nia mengira Ela hanya sedang tertidur sembari membaca komik, sampai akhirnya kak Anir lah yang menyadari bahwa adik sematawayang nya ini pingsan.
"Aku pulang,"
"Wah selamat datang aa Anir" sapa Mama Nia
"Rain mana mah?" tanya Kak Anir
"Sepertinya sedang istirahat di kamarnya, tumben sekali adikmu itu tidur siang."
"Tidur siang? Sejak kapan Rain suka tidur siang," tanya kak Anir heran.
Dari kecil Rain atau Ela tidak suka tidur siang, dari pada tidur siang Ela lebih baik membaca komik-komik miliknya dan membuat tiruan karakter yang ada di komik tersebut.
Tetapi hari ini Ela tidur siang sangat aneh bukan? Kak Anir pun bergegas ke kamar adiknya tersebut. Kak Anir menampar pipinya yang mulus dengan teknik, tetapi Ela tidak merespon.
Saat melihat sebuah buku di tangnnya, Kak Anir pun terkejut dan Ia pun berteriak ke memanggil mama Nia.
"Mah, Mamah!" teriak kak Anir dari dalam kamar.
"Ada apa sayang?" jawab mamah sembari menghampiri.
"Mah, Rain gak istirahat tidur siang. Rain pingsan Mah!" jelas Kak Anir.
"Apa?" jawab mama terkejut.
"Coba liat ini, jangan-jangan Rain berusaha untuk mengingat sesuatu. Sekatang kita harus bawa dia ke dokter,"
"Astaga, i-iya. Angkat adikmu ke mobil, mama akan menyiapkan mobil sekarang."
Dengan sigap mamah Nia langsung menuju mobilnya dan memanaskan mobilnya lagi. Kak Anir pun mengangkat tubuh mungil Rain ke dalam mobil.
__ADS_1
...~•~●~•~...
Sesampainya di rumah sakit, Ela langsung di periksa oleh dokter yang biasa mengurus Ela dulu saat masih sering cek up. Cukup lama pemeriksaan kali ini, rasa khawatir pun menyelimuti mereka kembali.
"Aw," rintih Ela sembari membangunkan badannya untuk duduk.
"Eeeh," tangannya hampir saja terpeset karena posisinya sekarang berada di rumah sakit bukan di rumahnya.
"Hah Rumah Sakit?"
"Kamu sudah sadar Rain," ucap dokter membawa suntikan.
"Dokter, saya kenapa?"
"Kamu hanya kelelahan, jangan memikirkan sesuatu yang tidak terlalu penting, itu akan membuat otak mu menjadi keram. Hati-hati ya lain kali, " jelas dokter.
"I-iya dok."
Tek ... (Menaruh suntikan)
"Saya akan memanggilkan keluarga mu, tunggu seben-" ucapan dan langkah kaki dokter itu terhenti kala Ela menahan jas dokter itu.
"Ada apa Rain?"
"Aku boleh bertanya?" tanya Ela dengan wajah tertunduk.
"Iya boleh silahkan,"
"Aku tidak bisa menjelaskannya, karena ini perintah dari orang tuamu."
"Bohong! Dokter menyuruhku untuk tidak berfikir yang tidak perlu aku fikrkan, tetapi suara-suara itu dan gambaran-gambaran abstrak itu selalu menghantui aku. Apa Dokter tidak kasihan juga dengan ku? Aku mohon tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi," pinta Ela lagi dengan suara sedikit serak.
"Baiklah-baiklah, tapi setelah ini kau tidak boleh berfikir keras atas hal itu," perintah dokter.
Ela menganggukan kepalanya sembari menyeka air mata yang masih mengalir. Ia pun duduk di kasur rumah sakit sembari mendengarkan dokter bercerita.
Dulu saat kau masih sekitar 6 tahunan, kau dibawa ke rumah sakit ini bersama kakak mu. Tubuhmu di lumuri darah segar, kami pun para tenaga medis langsung melakukan pertolongan pertama.
Tubuh mungil mu itu langsung di larikan ke ruang ICU karena kau sudah dalam kondisi koma. Aku menghampiri kakak mu, pandangannya kosong seperti syok dan trauma.
Aku menghampirinya dan bertanya tetapi ia hanya menangis saja. Kakakmu memeluk tubuhku dengan sangat erat dan saat kakak mu sudah tenang, ia menceritakan semuanya kepadaku.
Kakakmu memberi tahu, kalau kau menolong anak laki-laki yang sedang berada di bawah pohon yang sudah mau roboh. Kau berlari untuk menyelamatkan anak itu, tetapi malah dirimu yang menjadi korban.
Setelah kami berhasil melakukan pertolongan pertama di ICU, kau dilarikan ke rumah sakit terkenal di Jakarta tetapi mereka menolak karena rumah sakit itu sedang penuh karena beberapa masalah.
Akhirnya orangtua mu memutuskan untuk membawa kamu ke Rumah Sakit terkenal di Singapur. Sampai setahun lebih kalian disana dan cidera otak yang kamu alami cukup parah.
Sehingga kau mengalami amnesia, butuh waktu lama para medis di Singapur memulihkan ingatanmu karena kau sama sekali tidak mengenali dirimu, dan keluarga mu.
Setelah setahun kau dan orang tua mu disana, kalian akhirnya kembali ke Indonesia. Dan itulah tugasku untuk mengembalikan ingatan mu.
__ADS_1
Tetapi aku hanya bisa membantu sedikit, aku hanya bisa membantu mu mengingat kakak mu, nenek mu dan juga kakek mu. Selebihnya kau tidak mengingat siapapun.
"Begitulah cerita yang sebenarnya."
Ela hanya terdiam kala mendengar cerita singkat dari dokter itu. Dirinya kesal karena tidak bisa mengingat siapa dan apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Dokter itu hanya memeluk Ela dan berkata lagi, "kau akan mendapatkan ingatannmu kembali walau tidak sepenuhnya, jangan terlalu kecewa dengan dirimu sendiri ya."
Setelah di rasa Ela sedikit tenang, Dokter pun memanggil keluarga Ela yang masih menunggu Ela di ruang tunggu.
"Bagaimana dokter keadaan Ela? Rain?" tanya mamah Nia.
"Dia sudah membaik, hanya saja dia terlalu keras dalam berfikir. Itu dia sudah sadar sekarang."
Mama Nia langsung memeluk putri tercintanya itu, sembari menangis dan meminta maaf. Ela pun memeluk sang mamah tercinta dan ia juga berpura-pura seperti tidak tau apa-apa.
"Dia tidak perlu di rawat, hanya saja dia harus beristirahat dulu selama dua hari. Nanti akan aku buat kan surat untukmu."
"Terimakasih dokter," ucap mama Nia dan kak Anir.
...~•~[ Di perjalanan pulang ]~•~...
Ela hanya menatap jendela dengan tatapan kosong sembari memikirkan apa yang di katakan dokter tadi.
"Tapi mengapa kakak atau orangtua ku tidak pernah memberi tahuku?"
"Karena itu adalah hal yang menyakitkan untuk di ingat lagi dan semua yang dilakukan orangtua mu itu sudah benar. Sekarang hanya kau yang harus berfikir dewasa,"
"Tidak semua hal harus kau ingat dan tidak semua hal harus kau cari tau. Mengerti kan apa maksud ku? Jadi jangan membenci keluargamu karangan mereka tidak memberitahukan yang sebenarnya kepadamu," lanjut dokter itu lagi.
'Iya benar, aku hanya perlu mengingat sekadarnya dan mencari tahu yang penting untuk hidup ku.' ucap Ela dalam hatinya sembari tersenyum.
"Mamah, kak Anir makasih ya," ucap Ela secara tiba-tiba memecahkan keheningan.
"Ahahaha ada apa nih bilang makasih?" ledek kaka Anir.
"Tumben, kamu mau apa emangnya?" tanya mamah
"Ih apa sih aku kan cuma..." ucapannya terpotong sendiri oleh fikirannya.
'Oh iya, gua kan orangnya random banget ya. Pertanyaan apa-apa pun yang ada di pikiran gua bisa gua keluarin secara tiba-tiba hehehe.'
"Mau apa?" tanya kak Anir lagi.
"Aku mau beli komik baru hehehe,"
Bersambung...
..."Benar, tidak semua perlu kau cari tahu dan tidak semua hal kau harus tahu."...
...- Anata...
__ADS_1