Letter To My Albino

Letter To My Albino
Lukisan Indah Untuknya


__ADS_3

Hati Ela seperti terkoyak, melihat kejadian yang cukup brutal itu. Ia tidak menyangka ada kakak yang jahat seperti Eja.


"Ado," panggil Ela bernada lirih.


"Tenang aja Ado pasti baik-baik kok Rain," ucap kak Anir sembari mengusap kepala sang Adik.


...----------------...


Sreek.. ~ membuka sebuah kertas.


"Aku tau kamu menunggu, maafkan aku jika aku menghilang tanpa sebab."


Puk.. puk.. puk..


"Sudah tidak perlu khawatir ini semua akan berjalan baik, kau akan sehat dan semuanya akan kembali seperti semula," ucap wanita paruh baya menghampirinya.


"Benar, kau jangan terlalu memikirkan yang tidak perlu kau fikirkan ingat itu," seorang dokter wanita paruh baya menghampiri mereka.


"Iya aku faham."


...----------------...


"Eja salah umma, Eja bener-bener jahat. Maafin kesalahan Eja ya umma. Semoga Valdo juga memafkan Eja," ucap Eja saat duduk bersama umma di teras depan.


Puk..puk..puk..


"Kamu tidak ada masalah dengan umma. Jadi untuk apa kamu meminta maaf ke umma? Umma hanya ingin ikatan persaudaraan kalian menyatu kembali seperti dulu."


"Sebelum kamu membenci Valdo begitu dalam," lanjut umma lagi.


"Alasan Eja membenci Valdo gak masuk akal sebenarnya tapi itulah hal yang terlintas di fikiran Eja kala itu."


"Sampai akhirnya Eja mendapatkan sebuah petir menyambar diri ini, barulah aku sadar kalau yang aku punya di dunia ini hanya Valdo," lanjut Eja kembali.


"Sudah, sudah, kita tunggu saja dia. Barulah kamu mengeluarkan semua keluhan yang ada di hatimu itu ke hadapannya."


Ucap umma sembari mengusap-usap punggung Eja. 'Semoga ini bisa menjadi obat, bagi luka di hati mu ya Ja,' batin umma.


...----------------...


Setelah hari dimana Ela mengetahui kebenaran atas apa yang terjadi, Ela hanya bisa berdiam diri di kamar selama dua hari.


Menggambar lagi sebuah komik yang tertunda, karena ia harus mengulang semua ceritanya dari awal.


Bahkan saat Papa dan Mamanya mengajak pergi ke rumah sahabat papa yan berada di Surabaya, Ela menolak dan Ela lebih ingin berada di kamarnya.


Sreeek.. ~ robekan kertas yang baru saja Ela tuangkan tinta hitam di atasnya.


"Kenapa?" tanya kak Anir mengintip dari pintu.


"Aku kesel.. Aku harus bagaimana? Aku udah ada ide tapi gak tau alur ceritanya!" jelas Ela ke kak Anir.


"Sini biar kakak bantu."


Kak Anir mengambil sebuah pensil yang ada di tangan sang adik dan juga kertas gambar di depannya.


Kak Anir mulai membuat sketsa seperti gambar seseorang tapi Ela belum tau siapa yang akan kakaknya buat.


20 menit kemudian,


Tek.. ~ menaruh kertas gambar di hadapan sang Adik.


"Cepet amat?" tanya Ela tidak percaya.


"Kakak lagi pengen gambar makanya cepet, coba liat siapa tau ide kamu langsung ngalir lagi."

__ADS_1


Ela melihat isi gambaran sang kakak, begitu rapih dan bersih serta ada sebuah tulisan yang membuat Ela langsung terhanyut dalam 2 kata itu.


"My Albino"


"Gimana?" tanya kak Anir.


"Iya kak, ini yang aku mau, makasih kak udah bantu aku."


Kak Anir hanya bisa tersenyum saja saat melihat sang adik memancarkan wajah berbinar serta matanya penuh dengan semangat kembali.


Srek.. gresst.. tek.. shhh..


Puk..puk..puk..


1 jam kemudian..


"Dah selesai," ucap Ela menggambar tokoh utama dalam komiknya.


"Tapi baru tokoh utamanya aja, tapi kayaknya seru deh ini kalo di jadiin lukisan. aku buat lukisan aja kali ya dulu,"


Grek..


Ela pun keluar kamar berlari ke gudang tempat ia menyimpan kanvas berbagai ukuran.


"Udah selesai yah?" tanya kak Anir yang sedang berada di meja makan.


"Belum, aku baru buat sketsa."


"Lama amat? biasanya geh sebentar."


"Aku mau ngelukis dulu, baru nanti lanjutin komiknya."


"Niat amat sih kamu? Kamu suka ya sama Valdo?" tanya kak menebak.


"E-enggak."


"Apaan sih, gak taulah kak Anir aku buru-buru."


Ela pun berlari kembali menuju kamarnya, sembari membawa kanvas berukuran sedang.


Srook..


Ela mencari kuas dan beberapa cat air yang ia miliki. "Nah ini, ada di atas lemari toh."


Walau pun Ela mengambil cat air yang ada di atas lemari ini menggunakan sebuah kursi, tetapi Ela tetap menjinjit untuk dapat meraihnnya.


"Aish susah banget sih, as..ta.. ga," ucap Ela seperti kesusahan.


"Nah akhirnya."


Bruk.. (Melemparkan ke atas kasur)


Hachu.. hachu.. hachu..


"Dasar debu syialan!" gumam Ela sembari mengucak hidangnya.


Hachu.. hachu.. hachu..


"Hmm kan kumat lagi sinus nya," gumam Kak Anir sembari makan opor ayam.


Tek..


"Alhamdulillah masih lengkap," ucap Ela saat melihat isi catnya masih lengkap dan masih rapih tersusun.


"Ayok kita mulai."

__ADS_1


Ela mulai membuat sketsa di kanvasnya, menaruh warna dasar sebagai awalnya. Sembari menunggu kering cat di kanvas ini, Ela turun menemui sang kakak.


"Udah makan tah kak?" tanya Ela.


"Lah ya tadi itu apa?" tanya kak Anir kembali.


"Eh iya deng hahahaha, aku makan ya," ucap Ela mengambil piring.


"Tidur sana," jawab Kak Anir santai.


"Ish apaan sih."


Ela pun makan siang di teman sang kakak yang sedang asyik menonton film layar lebar yang sudah tayang di televisi analog.


"Nonton itu di bioskop, Nonton kok di rumah. Nunggu lebaran lagi," ledek Ela.


"Nonton itu berdua, Nonton kok sendiri, jones ya hahaha," ledek kak anir balik.


"Kakak tuh yang jones aku mah enggak. Aku mah ada Valdo."


"Hmm, katanya gak suka. Sekarang bilang suka, aneh! Makhluk aneh tau gak kamu itu."


"Apasih kak Aniiirrr!"


"Kamu gak bisa ngadu sama mamah hahahaha," tawa Kak Anir puas.


Setelah perdebatan yang cukup panjang, Ela menuju ke teras luar rumah sembari meregangkan badannya yang hampir kaku karena duduk seharian.


"Badan.. gu..e dah... lama banget gak gerak."


"Huh... pemandangannya bagus banget ya, sepi gak ada suara anak-anak berisik, gak ada suara motor dan gak ada suara abang pa-"


"Paket!"


"Eh? Ada paket? Kan masih lebaran mas, Emang gak libur tah?" tanya Ela mengintip dari atas pagar.


"Enggak neng, ini ada paket."


"Untuk saha kang?"


"Untuk neng Rein," ucap kang paket membacakan nama penerima paket.


"Rein? Nama saya bukan Rein kang."


"Tapi ini perumahan indah kan? blok A nomor 100?" tanya kang paket lagi.


"Iya bener kang," ucap kak Anir menghampiri.


Grekk..


Kak Anir membukakan pintu dan mengambil paket tersebut. Sepertinya paket ini sudah di bayaran jadi hanya mengambilnya saja.


"Ini, untuk Rein."


Kak Anir menyerahkan paketnya, "Untuk aku tah?" tanya ku mengekori kak Anir masuk ke dalam rumah.


"Ya buka aja, kalo emang punya kamu alhamdulillah kalo buka ya balikin ke pengirimnya."


"Tapi gak ada nama pengirimnya."


"Udah buka aja sana, bawa ke kamar kamu aa mau nonton film lop in paris lagi."


Ela membawa paket itu ke dalam kamarnya, tetapi ia tidak membukanya dan lebih memilih melanjutkan lukisan yang masih tertunda tadi.


Bersambung...

__ADS_1


..."Kata ilmuwan sesuatu yang kamu tumpahkan di atas kanvas putih merupakan isi hati yang kamu miliki saat ini."...


...- Anonim...


__ADS_2