
...POV BIMO...
Bimo sedang berada di rumahnya, berada di tempat biasa bersantai, menikmati secangkir kopi hangat dan sepiring roti buatan bundanya.
'Huh ... andai Ela gak anggap gua hanya kakak, mungkin gua berani ungkapan rasa ini lebih cepat.'
'Tapi sayang, gua gak ada keberanian untuk ungkapin hal ini. Rasanya aneh bahkan di luar dugaan. Ela yang susah bergaul dengan laki-laki lain, tetapi malah bertemu dengan sosok yang dapat menjadi sandaran untuknya.'
'Sedangkan gua? Hanya sebagai kakak pengganti di kala kakak asli tidak ada di sampingnya.'
'Apa kali ini tugas saya akan selesai? Selesai melepaskan diri sebagai penjaganya?'
Perumpamaan dan pengungkapan yang di hatinya membuat Bimo berlarut dalam kegalauan.
"Mikirin apa sih Mo?" tanya bunda.
"Eh bunda enggak mikirin apa-apa kok bunda."
"Yakin?"
"Iya bunda ku sayang."
"Ryca sama Ela kemana? Kok gak keliatan," tanya bunda heran.
"Ryca lagi balik ke Australia bun, bantuin mbaknya sama ibunya disana."
"Kalau Ela, lagi pergi kayaknya ke tempat tantenya."
"Oalah, kirain kalian berantem."
"Enggak kok bun, kita cuma lagi nyari kesibukan masing-masing aja."
"Oalah yaudah kalau gitu bunda tinggal ya ke dalam, mau bantuin bibi."
"Oke bunda."
Pandangan jauh menatap mega putih bak domba sednag berbaris. "Awan," gumam Bimo.
'Selain suka hujan, Ela juga suka awan. Kenapa gua tiba-tiba mikirin tuh anak ya?' tanya Bimo pada dirinya sendiri.
"Huh ... abis kuliah gua mau ke Amerika lah, cari beasiswa disana sekalian hiling." Bimo mengungkapkan satu impian.
Flasback on.
Saat jaman SMP. Bimo, Ryca, Ela, Anton dan Cila sering bermain bersama di rumah Bimo.
Mengukir canda tawa bahkan lukisan yang mereka buat masih tertempel di dinding tempat Bimo bersandar saat ini.
"Maen yuk!" ajak Anton.
"Maen kemana? Duit jajan aku udah abis." Cila melirik kantong seragamnya.
"Iya aku juga," sahut Ela.
"Udah Ke rumah gua aja yuk, kita makan tekwan di rumah. Biasanya bunda masak tekwan, mau gak?" tawaran Bimo dengan senang hati.
"Gass."
"Hayuk!"
__ADS_1
Bahkan canda tawa serta obrolan ringan sepanjang jalan pun masih terekam jelas dalam memori Bimo.
"Ih awannya bagus ya."
"Iya bener, kayak bentuk apa gitu."
"Waktu itu aku pernah motret awan kayak bentuk muka nenek sihir tau," sahut Ryca.
"Kapan Re?" tanya Anton.
"Waktu pas pergi ke rumah nenek."
"Mana coba liat fotonya."
"Gak di bawa. Adanya di rumah."
"Hmm pasti bohong."
"Ih mana ada, kalo gak percaya sudah."
Perdebatan antara Anton dan Ryca pun terjadi. Sedangkan Bimo hanya melirik ke arah Ela saat ia sedang menatap awan begitu takjub.
'Sesuka itu dia sama awan?' tanya Bimo dalam hatinya.
Bahkan setiap kali mereka bersama Bimo diam-diam melirik Ela tanpa ada yang tau. Tetapi Cila pernah memergoki Bimo curi pandang ke Ela.
Tetapi Cila tidak ingin memberi tahu sampai suatu kejadian mereka tidak bersama lagi. (ada di part 16 'Hujan')
Tetapi tidak ada yang tau sama sekali kalau Bimo menyukai Ela lebih dari sekedar teman atau adik kakak.
Bahkan saat setelah kelulusan, Bimo mendapat kabar kalau Ela harus sekolah di Lampung membuat dirinya kesepian, bahkan tidak bergairah untuk hidup.
Saat kelas pertama di SMA, Anton dan Bimo masih tetap satu kelas yang sama.
"Gak apa-apa. "
"Yakin?"
"Iya Ton."
"Hmm yaudah kalo gitu gua balik duluan ya. Takut nyokap nyariin."
"Okey."
Dan Bimo pun kembali menatap langit cerah namun wajah Bimo malah terlihat mendung.
'Ela apa kabar ya disana? Apa dia punya cowo disana?' batin Bimo bertanya-tanya.
"Gua rela nolak dan ngejauh dari para geng atau cewe-cewe famous biar gua bisa selalu deket sama lo La. Tapi kayaknya lo lupa sama gua deh," gumam Bimo.
"Gua hanya bisa berdoa, semoga lo gak masuk ptn yang ada di Lampung dan balik ke Bandung kuliah sama gua." Bimo berdoa dalam hatinya.
Bahkan setelah lulus SMA, Bimo mencari tau keadaan Ela disana melalui teman-temannya yang tinggal tidak jauh dari sekolah SMA Ela.
Mengecek nama-nama tiap PTN yang ada di Bandar Lampung, namun namanya tidak ada dan akhirnya salah satu teman lama mereka menelfon Bimo kalau dia bertemu Ela di sebuah kampus swasta terkenal disini.
"Dia ada disini Mo, sama kakaknya."
"Demi apa lo?"
__ADS_1
"Nih gua fotoin ya," ucap temannya lalu mengirimkan sebuah gambar ke Bimo.
'Yes! Akhirnya bisa ketemu Ela lagi. Gua harus ke sana sekarang pokoknya.' Bimo bersiap dan pergi ke tempat yang ingin ia tuju.
15 menit kemudian, Bimo menitipkan motornya di sebuah Cafe milik kawannya dan pergi berjalan kaki seolah-olah Bimo tak sengaja bertemu lagi dengan Ela. (ada di part 7 Flasback)
Pertemuan kembali pun di mulai setelah 3 tahun mereka berpisah dan setiap hari itulah Bimo berusaha mendekati Ela.
Namun sayang, pertemanan yang sudah di jalin lama hanya sebatas kakak adik dan malah orang baru yaitu Valdo yang lebih akrab dengan Ela. Layaknya sahabat dari kecil.
Malah mendapatkan perhatian dari Ela lebih, mungkin saja dia menyukainya, mungkin saja mereka saling suka.
Flasback off.
"Gua kalah telak sama Valdo. Hehehe dasar Bimo gak jentel lu," ledek Bimo pada dirinya sendiri.
Setelah merenung, duduk sembari menatap kursi, Bimo melirik ke arah sebuah lukisan berlatar hitam.
Sidik tangan mereka berlima masih tersimpan rapih dan tergantung cantik di rumah Bimo.
"Andai kita dapat berkumpul lagi. Semua, semua. Kalian berlima, Ela, Ryca, Anton dan Cila," ucap Bimo berdoa.
"Huh .... udahlah biarin aja, Gua mau pergi dari segala sesuatu yang menyakitkan. Termasuk ekspetasi gua yang terlalu tinggi, hahahaha. " Bimo meledek dirinya sendiri lagi.
Tidak lama kemudian telfon dari Ryca pun masuk.
Tring... tring ... tring ....
Pov telfon.
Ryca: "Halo Bimo, apa kabar?"
Bimo: "Baik, kapan lo balik?"
Ryca: "Besok balik kok, nanti tolong jemput aku ya di Bandara."
Bimo: "Okey siap."
Ryca: "Mau aku bawain buah tangan gak?"
Bimo: "Maulah gak nolak malah."
Ryca: "Yaudah nanti aku bawain ya, tapi jemput aku jangan lupa Okey."
Bimo: "Okey Ryca ku. BTW jam berapa besok?"
Ryca: "Malem paling sampe Indo."
Bimo: "Oalah, yaudah telfon aja ya kalau sudah sampai."
Ryca: "Iya okey."
Obrolan ringan pun terjadi di antara mereka berdua. Walau hanya sebatas telfon saja tetapi Bimo merasa senang.
Ryca yang di anggap teman biasa malah memunculkan reaksi lebih dari teman. 'Apa Ryca suka sama gua? Enggak. Jangan berekspresi terlalu tinggi lagi ya Mo!'
Membantah pikirannya sembari memastikan agar dirinya tidak terlalurut dalam sebuah harapan.
...POV BIMO Selesai....
__ADS_1
Bersambung ....