Letter To My Albino

Letter To My Albino
Kisah Hari Ini


__ADS_3

Ado dan Ela langsung menuju ke taman belakang, tempat bisa mereka kumpul.


sesampainya di taman belakang, betapa terkejutnya Ado melihat sosok yang sudah lama tidak pernah bertemu dengannya lagi.


"Ryca?"


Ryca menoleh kearah suara yang memanggilnya itu, Ryca pun terkejut sembari tersenyum lebar.


"Aih ini Rivaldo ya? astaga udah lama banget aku gak ketemu sama kamu," sapaan hangat dari Ryca.


"Iya, udah lama banget." jawab Ado.


Bimo dan Ela hanya bisa saling menatap satu sama lain, pertanyaan yang sama pun muncul dalam benak mereka berdua.


Bimo yang begitu penasaran langsung melontarkan pertanyaan ke mereka berdua, "Kalian kenal?"


Ryca dan Ado reflek menjawab "iya" secara bersamaan. Ryca pun mulai menjelaskan bagaimana mereka bisa mengenal satu sama lain.


"Jadi dulu itu, aku pernah tinggal di Panti Asuhan yang sama sama Ado. walaupun gak lama aku sering banget main sama Ado dan beberapa anak Panti lainnya."


"Bukannya dulu lo tinggal di daerah Mata Air ya?" tanya Ela.


"Iya, itu ps sudah SD. terus pas aku masih kecil tuh aku sering banget di titipin ke Panti umma Lisa sampe SD kelas 2 baru aku dan keluarga pindah ke perumahan yang sekarang aku tempatin." jelas Ryca panjang lebar.


Mendengar penjelasan dari Ryca, Ela dan Bimo hanya menganggukan kepala saja, karena mereka baru tau tentang hal itu.


"Keadaan kamu gimana sekarang Val? dia masih gangguin kamu?" tanya Ryca.


Ela sepertinya paham kemana tujuan Ryca bertanya itu diiringi raut dahinya yang mengerut. Ado hanya menjawab, "sudah enggak kok."


"Siapa emang yang gangguin lo Do?" sahut Bimo sembari memakan kue coklat.


"Ada, 2 cowo yang gangguin Ado dulu tuh tapi siapa ya namanya lupa aku." jawab Ryca sembari memikirkan nama orangnya.


"Pasti gara-gara lo unik gini kan?" serangan tanya dari Ela.


"Iya, bener itu. Tapi yang satu itu kalau gak salah karna cemburu." jelas Ryca.


Ado hanya diam saja, tidak menjawab sedikit ucapan mereka. Ado sepertinya sedang memikirkan sesuatu tapi pikirannya kali ini tidak bisa di tebak oleh Ela.


kilas balik on


Ryca tumbuh dan berkembang di dua tempat, rumahnya dan juga Panti Umma Lisa. Ryca pernah melihat betapa kejamnya Riky saat merundung Ado.

__ADS_1


Padahal bisa di bilang usia mereka masih sangat muda, namun tingkahnya seperti anak remaja.


Ryca hanya bisa melihat kelakuan Riky dari balik pohon besar. dia ingin sekali menolong Ado tapi dirinya belum begitu kuat untuk melawan Riky.


Ado mendapatkan hantaman keras yang mendarat di pipinya, baretan-baretan yang cukup banyak di tangannya dan juga lemparan bola lumpur yang mendarat di bajunya.


Ado hanya bisa diam, tidak melawan dan tidak menangis. Setelah Riky pergi barulah Ryca mendekati Ado dan menolongnya.


"Rivaldo baju sekolah kamu kotor, gimana besok sekolahnya? nanti Umma marah gak ya?" tanya Ryca panik.


"Aku gak apa-apa kok ca, ini Cuma kotoran biasa. nanti kita cuci di air keran depan Masjid yuk." ajak Ado diiringi anggukan semangat dari Ryca.


Sesampainya di depan keran, Ado dan Ryca mulai menggosok- gosokkan bajunya namun sayang, bukan membersihkan malah baju Ado semakin kotor.


"Yah... gimana ini Rivaldo?" tanya Ryca semakin menjadi paniknya.


"Udah gak apa-apa kita pulang aja yuk." jawab Ado dengan santai.


Ado menarik tangan Ryca untuk kembali ke panti. Selama perjalanan, Ryca merasakan tanggan Ado gemetaran dan tidak lama kemudian Ryca memiliki sebuah ide.


"Tunggu disini dulu Val," ucap Ryca kemudian lari ke arah belakang lagi.


Lima menit kemudian, Ryca datang dengan baju yang kotor sama seperti milik Ado dan Ryca pun berkata yang membuat hati Ado sedikit bergetar.


"Kalau nanti Umma marahin kamu, aku bisa bilang 'kalau yang ngajak main ke lumpur itu aku' dan kita bakalan di marahin bareng-bareng kan hehehe."


Dari kejadian itu, Ado berusaha melawan Riky dan Ryca pun selalu membantunya.


"Oh iya gimana badan lo sekarang? udah enakan?" tanya Bimo mendadak.


"udah kok, malah lebih baik sekarang hehehe."


"Emangnya Rivaldo kenapa?" tanya Ryca.


"Biasalah kerjaan anak laki," jawaban Ado dengan santai itu, membuat Ela tersedak jus yang baru saja dia minum.


"Hahahaha santai bro," ledek Bimo.


...~•~[ Kediaman Riky]~•~...


Riky masih memandang kotak kecil berwarna coklat di atas mejanya. Riky belum membuka kotak itu, bahkan dirinya hanya menatap kotak itu saja sembari bertanya-tanya dalam pikirannya.


'Apa ini bener-bener untuk gua? Dimana Gea sekarang? Apa selama ini gua sejahat itu? Gua bener-bener berdosa sama Ado, padahal selama 15 tahun ini semua hanya kesalah pahaman saja. Gua harap Ela gak benci sama kelakuan gua ke Ado dan gua harap Gea gak tau sama kelakuan gua selama ini.' Batin Riky.

__ADS_1


...~•~[ Bandara ]~•~...


Seseorang akhirnya sampai di Bandara dan sekarang ia sedang berdiri menunggu taksi yang sudah di pesannya tadi.


'Akhirnya aku kembali lagi ke kota ini,' Suara batin seseorang itu sembari tersenyum manis.


30 menit seseorang itu menempuh perjalanan ke tempat yang ingin ia kunjungi dan seseorang di tempat itu, "Assalamualaikum, aku pulang."


Suara lembut itu disambut hangat oleh umma, matanya terbelalak diiringi air mata yang mulai membendung.


...~•~●~•~...


Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa hari sudah semakin gelap. Ado dan Ela memutuskan untuk pulang dari rumah Bimo.


Sedangkan Ryca memutuskan untuk tetap di berasa disana karena permintaan dari Bunda Bimo.


Selama perjalanan, Ado dan Ela membahas beberapa hal yang unik setiap perjalanan mereka.


Bahkan mereka juga membahas sepasang anak kecil yang ada di pinggir jalan, Seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.


"Kayaknya itu lagi ngambek deh sih cewenya La," Ucap Ado diiringi senyum miris.


"Mana? mana?" tanya Ela mencari tujuan dari ucapan Ado.


"Itu di pinggir jalan deket tiang lampu," tunjuk Ado.


"Ih astaga," ucap Ela yang merasa geli dengan tingkah anak kecil jaman sekarang.


Saat kendaraan mereka mulai mendekati sepasang anak kecil itu, Ela meneriaki mereka berdua dengan lantang. "ADEK CINTA TAK SELAMANYA INDAH DEK! BELAJAR DULU KASIAN EMAK LO!"


Sepasang anak kecil itu hanya bisa diam sembari menggerutu. Ado hanya menggelengkan kepalanya saja dan berkata, "Ela, Ela."


"Gua tuh geram banget loh sama anak kecil jaman sekarang. Meresahkan banget, kayak seolah-olah cinta di atas segalanya dan ngelupain yang namanya pelajaran. pantes aja ya Bumi ini semakin lama semakin tua dan semakin gak sehat lagi." Ela mengomel panjang lebar.


"Udah biarin aja La, lagian juga mereka yang mau kayak gitu."


Ucapan Bimo tersebut langsung di pungkas oleh Ela.


"Gak boleh di biarin aja dong Do. Mereka tuh generasi penerus bangsa, masa iya generasi penerus bangsa rusak. mau jadi apa negara kita? kalo rata-rata anak yang masih di bawah umur memulai hubungan tetapi udah melewati batas."


"Masa iya kita harus mewajarkan anak di bawah umur hamil di luar nikah? masa iya kita mewajarkan sepasang kekasih tidur bareng dalam kondisi belum ada ikatan yang sah?" lanjut Ela diiringi pertanyaan yang masuk akal.


"Iya juga ya, kayaknya kamu cocok jadi kritikus deh La. pemikiran kamu keren banget." ucap Ado penuh dengan pujian.

__ADS_1


"Ih enggak, gua tuh pengen jadi komikus terkenal. Cukup kak Anir aja yang kerja di tempat-tempatnya para jas berdasi hitam." ucap Ela kesal.


Bersambung...


__ADS_2