Letter To My Albino

Letter To My Albino
Kanker Melanoma


__ADS_3

Umma mengusap pundak Ela sembari memberikan semangat untuk Ela.


"Dia pasti sebentar lagi kembali dengan keadaan sembuh. Pasti itu sudah pasti," ucap umma menenangkan hati Ela.


Ela hanya mengiyakan saja perkataan umma itu dan Ela pun memberanikan dirinya untuk bertanya sesuatu yang masih mengganjal di fikirannya.


"Umma?"


"Iya?" jawab umma menatap Ela.


"Apa Ado mengidap penanykit kanker kulit melanoma ya?" tanya Ela sembari menunduk memainkan tangannya.


"Kau sudah tau ya, pasti karena kau membaca artikel id Internet kan?"


Ela menganggukan kepalanya lagi dan memandang wajah umma dengan raut wajah penuh ke khawatiran.


"Iya, Valdo mengidap penyakit kanker melanoma dan itu sudah kami ketahui sejak Ado masih kecil."


"Kalau boleh tau Ado sudah memasuki stadium berapa umma?" tanya Ela bernada khawatir.


"Dulu saat masih kecil, penyakit Valdo baru memasuki stadium awal jadi kami masih bisa mencegahnya," jelas umma lagi.


Umma pun menjelaskan bagaimana dirinya bisa tau kalau Valdo terkena kanker kulit melanoma itu.


Flasback on


September 2006


Oby berlari mengetuk ruangan umma sehabis dirinya bermain.


Tok..tok..tok...


"Umma, umma," teriak Oby dari balik pintu.


"Umma, umma," teriakan lagi dari Ryca.


"Iya sayang ada apa," jawab umma membuka pintu.


Grek..


"Ada apa sayang?" tanya umma memandang anak-anaknya.


"Itu, Valdo," jawab Ryca panik.


"Valdo kenapa?"


"Valdo umma, badan Valdo merah-merah," jawab Oby.


"Terus dimana dia sekarang?" tanya umma.


"Itu umma ada di lapangan," tunjuk Ryca ke lapangan belakang panti.


Umma langsung menuju ke sana, menemui Valdo yang sedang duduk di teras belakang panti sembari mengatasi tubuhnya.


"Kenapa sayang?" tanya umma ke Valdo.


"Umma," lirih Valdo.


Umma pun langsung membawanya ke puskesmas terdekat dan anak-anak panti lainnya di titipkan ke adik umma.


Sesampainya di puskesmas,


Valdo akan di rujukan ke rumah sakit untuk memaksa lebih lanjut karena di kulitnya terdapat bercak yang tidak wajar.


Seperti bercak cokelat kecil di lingkaran kulitnya yang terbakar.


Sehari setelah mendapatkan rujukan dari puskesmas, Umma dan Valdo kembali pun menuju ke rumah sakit terdekat.


Tidak, rumah sakit ini cukup jauh dari panti. Tetapi tidak apa-apa demi mengetahui penyakit Valdo.


Setelah di rumah sakit selama 3 jam, Valdo dan umma pun mendapatkan hasil diagnosis dari dokter.

__ADS_1


"Ini adalah hasil diagnosis, saya akan bacakan." ucap dokter.


Dilihat secara umum, Valdo mengidap Kanker kulit melanoma. kulit orang dengan albinisme akan mudah terbakar karena kurangnya melanin. Oleh sebab itu, risiko mereka terkena kanker kulit sangat tinggi.


Makanya, penting bagi orang dengan penyakit albino untuk menggunakan tabir surya yang mengandung minimal SPF 30 setiap saat.


Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit ini meliputi:


Berkulit putih.


Memiliki riwayat terbakar sinar matahari.


Paparan sinar ultraviolet (UV) yang berlebihan.


Tinggal dekat dengan garis khatulistiwa atau di ketinggian yang lebih.


Sistem kekebalan tubuh melemah.


Begitulah penjelasan dari dokter kulit yang menangani Valdo saat di rumah sakit ini.


"Apakah ada cara untuk menyembuhkan penyakitnya?" tanya umma yang terlihat khawatir.


"Ada beberapa jenis cara menyembuhkan kanker kulit melanoma, yakni:


Operasi Imunoterapi


Terapi target dengan obat


Kemoterapi


dan Terapi radiasi."


"Kalau boleh tau Rivaldo sudah memasuki tahap stadium berapa ya dok?"


"Untuk itu, Valdo masih ada di tahap stadium 0.


Melanoma dikelompokkan ke dalam beberapa tahapan atau yang biasa dikenal sebagai stadium:


Stadium 0: Melanoma hanya ada di lapisan atas kulit (epidermis). 


Stadium 2: Ada fitur yang menunjukkan risiko kekambuhan yang lebih tinggi, tapi tidak ada bukti penyebaran.


Stadium 3: Melanoma telah menyebar ke kelenjar getah bening terdekat atau kulit di dekatnya.


Stadium 4: Melanoma telah menyebar ke kelenjar getah bening atau kulit yang lebih jauh atau telah menyebar ke organ dalam."


"Untunglah Valdo secepatnya di bawa karena kita bisa mencegahnya segini mungkin," ucap dokter lagi.


Perasaan kalut menyelimuti umma, karena jika Valdo sampai di tahap lanjut. Mereka tidak punya biaya untuk mengobatinya.


Bahkan panti saja belum memiliki donatur tetap, karena panti ini baru di buka oleh umma dan adiknya setahun yang lalu.


'Umma pasti khawatir banget deh sama aku,' batin Valdo.


"Umma tenang aja, aku pasti baik-baik aja kok, aku janji. Aku gak akan ngerepotin umma lagi," ucap Valdo saat melihat umma.


Mendengar ucapan Valdo yang begitu tulus membuat hati umma tersentuh dan umma membatin, 'Valdo pasti kuat dan pasti bisa melewati semua ini.'


Flasback off .


"Jadi kita doakan saja Valdo cepat kembali ya," ucap umma lagi.


"Iya umma."


Tepat pukul 21.00


Ela dan teman-temannya berpamitan untuk pulang. Selama di perjalanan Ela pun sudah mulai bercengkrama kembali bersama temannya.


Sesampainya di rumah Ela,


"Makasih ya Mo," ucap Ela.

__ADS_1


"Iya sama-sama."


"Hati ya Mo jaga kawan gua, jangan sampe luka ya," ledek Bimo.


"Ahahaha iya iya Ela."


...~•~[ Dalam Rumah Ela ]~•~...


"Assalamualaikum aku pulang."


"Waalaikumsalam sayang," sambut mama.


"Tumben lama banget," sahut kak Anir.


"Ahahaha iya tadi ngobrol dulu sama umma Lisa."


"Emang kamu kenal sama pemilik pantinya?" tanya mama.


"Iya Mah, pemilik panti itu yang ngurusin Ado dulu pas masih kecil."


"Oalah, pantesan. Jadi kamu pernah ke panti itu dong?"


"Iya, aku sering kesana sama Valdo, sama Riky, sama Gea juga kadang."


"Gea?" gumam kak Anir.


"Yaudah mah, Kak aku mau ke kamar dulu ya."


"Iya sayang."


Ela berjalan kembali ke kamarnya dengan wajah lesu kembali. Walau hatinya sedikit tenang dan fikirannya pun sudah tidak berat lagi.


Tetapi dirinya masih terasa hampa, senyuman yang ia ukir di wajahnya itu hanyalah sebuah tipuan saja.


Bruk..


Ela membanting tubuhnya ke atas kasur berwarna navy senada dengan cat baru dinding kamarnya.


"Haaah," Ela menghembuskan nafas dengan kasar.


'Semoga harapan gua kali ini terkabul do,' batin Ela memandang AC kamarnya.


Ela memandang kosong kamarnya dari ranjang selama beberapa menit. Tidak lama kemudian Ela pun beranjak turun menuju meja belajarnya.


Sreek.. (membuka laci meja)


Ela mengambil buku berwarna putih navy dan membukanya kembali. 'Buku ini adalah buku pertama yang di berikan oleh kakak saat ulang tahunku yang ke 4.'


'Aku tau karena aku melihat tulisan aku sendiri disini,' ucap Ela dalam batinnya.


"Dear Hujan,


Aku menyukaimu karena wangi yang kau buat dan syarat yang menenangkan hati, wahai hujan bisakah kau mendengar permintaan ku?


Hujan...


Aku bahagia sekali karena aku mendapatkanbuku ini tepat di ulang tahunku yang ke 4. Apa kau tau hujan? Aku mendapatkannya dari kakak ku yang paling hebat siapa lagi kalau bukan kak Anir."


Ela membacakan tulisan di halaman awal buku itu, sembari tersenyum manis.


Bersambung...


________________________


Info Autor.


Bagaimana bab ini? Membosankan tidak?


Mohon maaf jika membosankan, karena bab ini membahas penyakit yang di derita Valdo atau Ado.


Jika tidak suka skip bab aja gak apa-apa kok hehehe.

__ADS_1


Oh iya ada yang baru juga loh!


Pesawat Kertas untuk Kyeri - novel terbaru aku, mampir ya kalau ada waktu.


__ADS_2