Letter To My Albino

Letter To My Albino
Khawatir


__ADS_3

Setelah hampir sebulan lebih Bimo tidak masuk kuliah, akhirnya hari ini dia pun masuk kuliah kembali.


Seperti biasa, Bimo menunggu Ela dan Ado di gazebo. Sampai pukul 08.00 Bimo tidak melihat kehadiran Ela atau pun Ado.


Tidak lama kemudian bunyi knalpot yang tidak asing terdengar, suara motor Ado pun datang meski parkiran kampus.


Tetapi hari ini dia hanya sendiri dan tidak bersama Ela, mungkin saja Ela sedang membawa kendaraannya sendiri.


Ado pun datang menghampiri Bimo yang sedang duduk di gazebo itu dan berkata, "Ela belum sampai?" tanya Ado.


Bimo sedikit heran tetapi sperti pikiran Bimo tadi mungkin Ela membawa kendaraan sendiri. "Belum, tumben lo sendiri?"


"Iya Ela nyuruh duluan aja, jadi yaudah saya duluan."


"Oh gitu, lagi pengen bawa kendaraan sendiri kali tuh sih Ela."


"Mungkin."


"Dahalah gua ke kelas duluan ya, gua mau nanya-nanya tugas, dah lama gua masuk kan hehehehe," jelas Bimo kemudian pergi meninggalkan Ado di gazebo.


Sampai kelas di mulai pun Ela tidak kunjung datang, rasa khawatir Ado pun mulai muncul selama kelas berlangsung.


'Ela kamu kemana sih? Kelas udah mulai ini,' ucap Ado dalam hatinya.


Mata Ado hanya bisa memandang ke arah jendela, siapa tau Ela datang terlambat.


Tidak lama kemudian seseorang datang mengetuk pintu ruangan. Ado sudah senang karena wanita yang ia tunggu dari tadi pun akhirnya datang juga.


"Masuk," ucap dosen.


"Permisi," ucap seseorang itu membuka pintu.


"Suaranya beda sama Ela," gumam Ado.


"Iya? Kamu bukan anak fakultas ini kan?" tanya dosen.


"Iya pak, saya bukan anak fakultas DKV tapi saya anak ibu saya pak hehehe," ledek mahasiswa itu.


"Kau ini! ada apa?"


"Hehehehe, saya ingin mengantarkan surat Ela D'nais ren," ucap mahasiswa itu membaca nama Ela dengan penuh percaya diri walaupun salah.


"Ela D'naisy Rain? Bahasa inggris hujan aja kamu gak bisa gimana toh."


"Ya orang aku bukan orang ingres tapi aku nih orang jowo loh pak."


"Haish kamu ini, sudah sudah sana. Terimakasih suratnya."


"Iyo pak sami-sami, hehehe"


'Surat dari Ela? Ela kenapa? Dia sakit lagi? Atau cidera otaknya kambuh lagi?' pertanyaan demi pertanyaan pun seketika memenuhi isi kepalanya.

__ADS_1


Entah mengapa matakuliah hari ini cukup banyak, membuat Ado tidak konsentrasi dan waktu pun seperti berjalan sangat lambat. "Apa iya jam itu mati?" gumam Ado kesal.


Tidak lama kemudian kelas pun selesai dan Ado langsung menuju gazebo tempat berkumpul. Ado memberikan kabar ke Bimo kalau, "Setelah kelas selesai langsung ke gazebo ya, ada yang mau di bicarakan penting!"


Bimo hanya melihat dari notifnya saja dan saat kelasnya selesai Bimo langsung menghampiri Ado di gazebo. Hanya Ado yang berada di gazebo saat itu.


Bimo tetap berfikir positif, 'Mungkin Ela lagi di kantin kali ya. Tapi kenapa Ado mau ngobrol sama gua penting?' batin Bimo.


"Ada apa?" tanya Bimo sembari menaruh tas di meja.


"Ela mana?" tanya Bimo lagi.


" Itu yang mau saya bahas Mo," ucap Ado dengan raut wajah panik.


"Maksudnya?"


"Ela gak masuk kuliah hari ini, handphone nya gak aktif, bahkan dia tadi ngirim surat ke dosen," jelas Ado.


"Terus isi suratnya?" tanya Bimo sambil mengecek handphone nya.


"Sakit, kata dosen gitu."


"Sakit? Yaudah kita ke rumah Ela sekarang," ajak Bimo dengan raut wajah khawatir.


Ado dan Bimo pun berlari ke parkiran kampus, mereka akan pergi bersama ke sana namun mereka harus menunggu seseorang dulu baru bisa berangkat menjenguk Ela.


"Tunggu Do, tunggu sebentar," tahan Bimo.


"Kenapa?"


5 menit kemudian, Ryca datang membawa bingkisan untuk Ela. Mereka pun berangkat bersama ke rumah Ela.


Rasa khawatir yang ada di dalam diri Bimo dan Ado semakin kuat karena Ela benar-benar tidak mengaktifkan handphonenya.


Bahkan Ryca yang dari tadi menghubungi Ela pun juga tidak mendapatkan jawaban. " Ela kamu dimana sih?" gumam Ryca.


20 menit perjalanan mereka ke rumah Ela, akhirnya mereka sampai juga. Gerbang dan pintu rumahnya tertutup rapat, entah ada orang atau tidak di dalam rumah Ela yang pasti Ado memencet bel dari tadi.


"OH ASTAGA SIAPA SEEH? GANGGU GUA ISTIRAHAT AJA TAU GAK?!" sahut seseorang dari dalam rumah.


Grek...


Ela membuka pintu rumahnya, dengan raut wajah kesal karena dirinya sedang membaca komik terbaru harus di ganggu oleh orang-orang asing yang sedang memainkan bel rumahnya.


Walau berteriak dan raut wajahnya seperti kesal, Ela tetap fokus pada komik yang ada di tangannya.


Mereka bertiga melihat hal tersebut hanya terheran-heran saja dan akhirnya Bimo memutuskan untuk memainkan bel rumahnya kembali.


Ting... ting.... ting...


"OY ASTAGA JANGAN MAININ BEL RUMAH! GAK LIAT APA GUA BERDIRI DISINJ DARI TADI?" ucap Ela mulai kesal.

__ADS_1


Ting... ting.... ting...


"WOY! DENGER GAK GUA BILA..." ucapan Ela pun terpotong kala ia harus merelakan fokusnya ke komik tersebut di aliran ke orang-orang yang jahil.


"Eh ahahahaha astaga kalian toh, tunggu sebentar," ucap Ela malu malu.


Grek..


Ela pun membuka gerbang rumahnya dan merka pun masuk sembari membawa motornya.


"Galak bener ya mba Ela kita ini," ledek Ryca.


"Ya gitu, pantes anak kecil gak ada yang mau deketin," ledek Bimo lagi."


"Eh astaga, jangan sembarangan ngomong. Tanya nih sama Ado, ada anak kecil yang deket sama gua walau pun cuma satu," tegas Ela.


"Cuma satu ahahahaha, karena yang lain gak kuat mentalnya hahahaha sedangkan satu itu udah kebal."


"Ish lo ini Mo," bugh, Ela memukul pundak Bimo.


"Ayoklah masuk," ajak Ela.


...~•~[ Di dalam Rumah Ela ]~•~...


Rumah yang sangat besar bernuansa Eropa klasik di padu dengan rak buku-buku yang beragam membuat suasana di dalam rumah ini hidup.


"Kamu sendirian La?" tanya Ado.


"Iya, Mamah lagi ke rumah nenek sedangkan kak Anir udah berangkat kerja," jelas Ela.


"Oh, papa Roy belum pulang tah?" tanya Bimo.


"Belum, baru geh seminggu yang lalu dia berangkat udah di suruh pulang aja."


"Ahahaha gua kira kan udah lama,"


"Oh iya La, ini ada buah tangan untukmu," ucap Ryca.


Ela mengambil bingkisan dari Ryca tersebut dan menaruhnya di dalam piring oral berwarna cream.


Ado, Bimo dan Ryca menunggu di depan ruang keluarga (Sepertinya) karena disini hanya ada sebuah karet bulu dan televisi yang cukup besar tergantung di dinding.


" Foto kamu masih kecil lucu banget ya La," ucap Ryca mengambil bingkai foto.


"Ahahaha mana ada, itu dekil banget terus jelek lagi hehehe."


"Jelek dari mana cakep gini ya kan Re," ucap Ado ikut memperhatikan foto di bingkai tersebut.


"Gua mau komen La sama rumah lo," ucap Bimo.


"Apa?" tanya Ela.

__ADS_1


"Rumah lo udah rapih dari ujung ke ujung. Tapi..."


Bersambung...


__ADS_2