Letter To My Albino

Letter To My Albino
Kala Hujan Turun


__ADS_3

'Jadi gua selama ini salah orang ya? gua malah ada di pihak yang salah dan gua baru sadar, gua bener-bener jahat wajar kalau Ela gak ngeliat gua dan wajar kalau nanti Gea tau kejadian ini terus dia benci sama gua.' batin Riky sembari menatap konyol dirinya sendiri di balik kaca gelap.


"Gua bakal bantuin Ado kali ini."


"Tapi kenapa Eja jahat sama Ado ya? oh iya, waktu itu juga cuma Eja sendiri yang gak ke tangkap. Seharusnya dia ada di belakang gua tapi kenapa dia bisa gak kena tangkap?" gumam Riky memapah dagunya di meja.


Dreet.. dreet.. dreet


Notif handphone Riky berbunyi seketika lamunannya pun bubar. Riky mengambil handphone sembari mengecek notif dari siapa.


"Nomor tidak dikenal? tumben siapa ya," gumam Riky mengecek kembali nomor itu.


Tapi tetap saja tidak ada nama dari nomor tak dikenal itu. Baru saja Riky ingin menekan lambang telfon, tiba-tiba saja nomor tak dikenal itu mengajukan panggilan.


Riky pun mulai mengangkat telfon itu tetapi ia tidak berbicara sama sekali.


"Temuin gua di taman sejarah Bandung sekarang! gua tunggu 30 menit dari sekarang ya, ada yang mau gua omongin penting."


"Gua pake baju warna navy, celana hitam," lanjut penelfon tak di kenal itu kemudian mematikan handphonenya.


'Dari suaranya kayak cewe, apa mungkin Ela?' batinnya.


Tanpa pikir panjang Riky meninggalkan kantornya dan pergi menuju Taman Sejarah Bandung.


Hanya butuh 10 menit untuk Riky sampai disini tepat waktu. Sesampainya di taman, Riky mencari orang itu dan kebetulan tempat ini lumayan sepi hanya ada beberapa pelajar saja.


"Baju navy celana hitam," gumamnya sambil mengingat perkataan orang tadi di telfon.


Riky sedikit ragu dengan orang yang ada di depannya itu, tetapi perlahan ia mendekatinya.


"Sudah sampai?" ucap orang itu.


'Bener ini,' batin Riky.


"Duduklah, gua gak makan orang kok."


...~•~[Di Rumah Ado]~•~...


Ado masih termenung di meja dekat jendela sembari memapah dagunya menatap mega mendung bak ingin hujan.


"Kenapa sih kamu Do? dari tadi kok ibu perhatiin ngelamun mulu," ucap sang Ibu menghampiri Ado.


"Ela bu," ucap Ado singkat.


"Kenapa Ela?"


"Hari ini pertanyaan Ela bener-bener random banget bahkan dia tiba-tiba bilang 'Do, Janji ya kamu gak bakal ninggalin saya.' Kayak aneh gitu gak sih bu?" jelas Ado.


"Enggak, gak aneh kok. Ela ngomong kayak gitu supaya apa coba?" tanya ibunya lagi.


"Apa?"


"Supaya perasaannya gak di gantung sama kamu gitu, bisa jadi Ela mulai suka sama kamu." ucap sang Ibu dengan tenang.


"Enggak mungkinlah bu, kalau iya Ela suka sama Valdo, gak mungkin tadi dia turin dari motor cuma bilang 'makasih ya Do.' Terus dia lari masuk ke dalam rumahnya, kayak gak biasa gitu bu," jelas Ado lagi.

__ADS_1


"Tadi dari mana coba Ibu mau tau?"


"Dari panti umma Lisa."


"Gak dari tempat lain kah? kamu gak ngobrol sama orang lain kah?"


"Enggak kok, bu..." ucapan Ado terpotong karena pikirannya sendiri.


Ado masih memikirkan apa kesalahannya dan ada penyebab Ela bisa diam, 5 menit keheningan terjadi tak lama kemudian.


"Oh iya, astaga aku tadi ketemu Gea di panti dan kebetulan aku ngobrol lama sama Gea, bahkan sampe pulang aku baru sama Ela lagi dan udahnya pulang."


Ado menemukan inti masalah yang terjadi, ibunya pun hanya menepuk pundak Ado dan kembali ke ruang tamu.


Puk...


"Dasar anak muda," gumam Ibu Ado berjalan menuju pintu.


'Emang wanita sulit di mengerti ya,' batin Ado sembari tersenyum menatap mega mendung yang akhirnya mengeluarkan rintikkan air.


...~•~[Rumah Ela]~•~...


'Astaga.... kenapa jantung gua gak bisa diem sih dari tadi?' ucap Ela dalam hatinya.


"Aaarrrght," teriak Ela di tutupi dengan bantal di wajahnya.


'Rivaldooo Youkuteeeeeee,' teriak Ela dalam hati.


Entah apa yang membuat Ela sampai berguling-guling di kasurnya, seperti orang yang sedang kasmaran.


Untung saja teriakan Ela itu tidak sampai lantai bawah, dan hanya Ela sendiri saja yang bisa mendengarnya.


Ting...


Ela terdiam menatap ponsel yang ada di sampingnya, Ela tidak mengecek sampai ia rasa notif itu penting.


Ting...


'Kayak penting deh, coba liat lah,' batin Ela seraya mengambil ponsel yang ada di sampingnya itu.


"HAH?!" pekiknya.


'Duh Ado lagi, buka gak ya? duh Maluuuu,' batin Ela.


"Heeeeeemmm, huuuuuu," Ela menarik nafas panjang.


...~•~[Pov chat]~•~...


Ado: " Ela?"


Ela : "iya kenapa Do?"


Ado : " besok ke kampus bareng ya."


Ela : "gak usah Do, gua mau bawa motor sendiri."

__ADS_1


Ado : "tumben?"


Ela : "Hmm, habis kelas selesai gua mau pergi ke tempat kak Anir."


Ado : "oh gitu yaudah deh."


Ado : "Aku tunggu ya nanti di kampus, jangan dateng telat besok kelas pagi kita."


Ela : "siap pak bos."


Sore ini mereka berdua asing mengobrol melalui chatt saja diiringi rintik hujan yang sangat deras.


Aroma hujan yang khas membuat hati Ela tenang. Ela membawa ponselnya turun dari ranjang berukuran sedang itu menuju meja kayu berwarna navy dekat jendela.


"Aku menyukai aroma mu, seperti aku mulai menaruh rasa padanya. Entah mengapa hanya kau yang bisa membuat hati ku jujur dengan perasaanku sendiri," gumam Ela menatap hujan yang turun menabrakan diri ke semua benda yang ada di Bumi.


Seperti namanya Rain, hanya bisa jujur kala hujan datang menyapa. Entah itu dari aroma khasnya atau pun suara gemericik air yang jatuh ke Bumi.


...~•~[Taman Sejarah Bandung]~•~...


10 menit sebelum hujan.


"Lo siapa?"


"Kita pindah ke tempat lain dulu, disini sebentar lagi hujan."


Perempuan itu pergi mencari tempat yang aman dari hujan, diikuti langkah kaki Riky.


"Duduklah,"


Perempuan itu memilih meja bundar yang berada di depan kios makanan. Perempuan itu sepertinya cantik, sayang wajahnya tertutup oleh kacamata hitam berbentuk bulat.


Riky duduk di depannya dengan penuh tatapan tajam. Perempuan itu pun membuka kacamatanya, membuat Riky bergumam dalam hatinya, 'Sudah ku katakan apa tadi, dia benar-benar cantik.'


"Lo kenal gua?" tanya Riky bersikap dingin.


"Iya, lo Riky Jaya anak pemilik toko roti yang cukup berpengaruh di sini."


"Ada perlu apa?" tanya Riky dengan tegas.


"Lo ini sok dingin, gua benci lo yang sekarang."


Ucapan perempuan itu seketika membuat Riky mematung dan bertanya-tanya.


"Maksudnya?"


"Lo lupa sama gua?"


"Huh.. udah gua duga sih. Valdo pun sama lupa sama gua, jadi wajarlah kalau lo juga ngelupain gua," lanjutnya lagi diiringi nafas berat.


Riky hanya mengerutkan keningnya saja dan menatap tajam perempuan itu. 'Siapa dia? mengapa ia bisa kenal dengan Valdo?' batinnya.


"Riky.. Riky.."


Bersambung...

__ADS_1


..."Kala gemericik air turun kebumi, aku tidak bisa lari. Aku hanya diam berdiri menyambut setiap air yang jatuh ke Bumi membasahi seluruh darsa, berharap kegundahan hilang dan sirna."...


...- Aku si pecinta hujan...


__ADS_2